I Love You, My Secretary

I Love You, My Secretary
Bab 24



Haaaccciimmm


"Alhamdulillah"


Aku mengusal hidung yang terasa gatal, mungkin karena banyak debu yang beterbangan. Beberapa saat yang lalu aku sudah berada di ruanganku. Kembali sibuk dengan tumpukan berkas yang harus ku periksa sebelum di serahkan ke pak Zayn.


Sepanjang perjalanan tadi aku sempat mendengar beberapa karyawan yang berbisik-bisik. Tak terlalu jelas tapi aku yakin mereka tengah membicarakan ku.


"Eh, ada cewek sok tuh"


"eh iya. Bisa ya, ada orang ngga tau malu banget kaya dia"


"Pasti dia pakai sesuatu tuh. Makannya bos sampe bisa Deket sama dia?"


"maksud Lo susuk? atau jangan-jangan dia udah nawarin ************ lagi. Makannya bisa bareng Mulu"


Kurang lebih seperti itu yang ku dengar, walau samar tapi aku yakin memang seperti itu. Aku adalah perempuan yang tidak peduli dengan apa pun pendapat orang, ini kan hidupku untuk apa report-repot mengurusi mereka. Karena itu ku biarkan saja apa pun yang mereka katakan. Nanti jika cape juga berhenti sendiri. Selagi mereka tidak bermain fisik akan ku acuhkan.


Lain ceritanya jika ulahnya itu berimbas pada pekerjaan, seperti sebelumnya. Aku tidak bisa menjamin apa yang akan ku lakukan nantinya.


Aku tidak tahu kenapa mereka semua seolah memusuhiku. Entah di tempat lama atau di tempat baru selalu saja aku di jauhi. Padahal aku sama sekali tidak berlaku buruk.


Ting


Bunyi dari ponsel yang ada di atas meja mengalihkan perhatianku dari layar komputer yang menampilkan banyak angka dan juga huruf. Satu pesan masuk dari nomor yang tidak ku tahu.


Aku mengernyitkan dahi membuat garis halus cukup ketara di sana. Aku tidak tahu maksud dari pesan ini.


Ting


Bunyi dari pintu lift yang terbuka mengalihkan perhatianku dari ponsel. Ruangan yang di buat dari kaca membuatku bisa melihat siapa yang keluar dari sana.


Seorang OG tampak berjalan ke arahku, di tangannya aku melihat ia membawa setangai bunga mawar merah dan juga kotak yang entah isinya apa.


Tok... tok.. tok...


krieeettt


"Maaf, Bu. Ada paket untuk anda" Ujarnya.


"Dari siapa, mba?"


"Kata mas kurirnya, dari... Tunangan anda"


Tunangan? Apa itu laki-laki itu? dari mana dia tahu tempat aku bekerja? Apa jangan-jangan pesan yang tadi juga dari dia.. Kalau dari Feby tidak mungkin, kami saja baru bertemu dua kali itu juga belum sempat tukeran nomor ponsel. Atau dari Ayah?


Ah terlalu banyak berfikir membuat beban kerja otak jadi bertambah aku jadi pusing. Lagian masa bodo dia dapat dari mana, apa peduli ku?


"Terimakasih, mba" ucapku setelah menerima paket tersebut.


"Sama-sama, Bu. Kalau begitu saya permisi" Aku mengangguk untuk menjawab ucapannya tak lupa aku pun memberikan senyum ramah padanya.


"Selamat pagi menjelang siang, Baby... Satu tangkai mawar merah untukmu, tunanganku"


Hah.. Ternyata memang dia. Kenapa cuma satu tangkai? Nenek bilang dia ini anak orang kaya tapi ko modalnya minim banget ya? Apa menurutnya aku akan membuka hatiku hanya karena setangkai mawar? Yang benar saja!


Mana mempan kalau cuma kaya gini, mungkin akan ku pikirkan lagi jika yang ia berikan satu kartu berwarna hitam. Hihihi...


"Kenapa kamu senyum-senyum? Sawan yah?"


Aku terperanjat kaget kala mendengar suara berat milik pak Zayn yang sudah berdiri di depan mejaku. Sejak kapan dia ada di sini? Aku bahkan tidak menyadari kehadirannya.


"Malah bengong"


"Eh.. ekhm... Kenapa, pak? Ada yang bisa saya bantu?"


"Oh.. Tunangan" Singkatku.


"Kamu.. Terima?" tanyanya.


"Mau bagaimana lagi, dari pada saya nunggu yang ngga pasti. Lebih baik saya terima, yang jelas-jelas ada di depan mata. Jadi akan saya lepaskan saja dia yang entah di bagian bumi mana" Tukasku lesu. Menunggu itu melelahkan guys apalagi yang di tunggu ngga jelas bentuknya.


"Ngga boleh!!!" Sentak pak Zayn tiba-tiba membuatku terkejut bahkan hampir terjatuh dari tempat dudukku saking kagetnya.


"Eh.. Em.. Maksudnya.. Itu .. Em... bawakan saya berkas dari bagian keuangan sekarang. Mau saya kasih tuan Abi hari ini soalnya" Ucap pak Zayn nampak begitu gugup. Aku sampai mengerjapkan mata beberapa kali karena ucapannya yang tidak jelas. Lagian kenapa dia berteriak begitu?


Selesai memberikan apa yang pak Zayn minta aku kembali membuka ponsel. Karena tadi belum sempat untuk membalas pesan dari Daniel, yah kalau tidak salah namanya itu kan?


"Selamat pagi menjelang siang, Baby... bagaiman apa sudah kamu terima hadiah dariku? Jangan lupa pakai yah, nanti malam supir ku akan menjemputmu di Kosan. Jadi berdandanlah yang cantik, oke?" Tulisnya.


"Oke" Balasku.


Aku butuh bicara empat mata dengannya, untuk meluruskan kesalahpahaman ini. Aku tidak ingin nantinya dia terlalu berharap. Karena harapan ku hanya satu, semoga saja dia mau bekerjasama dengan ku untuk menolak perjodohan ini.


Aku sungguh belum siap jika harus membangun sebuah ikatan. Aku masih ingin sendiri. Kalaupun tadi aku bicara bersedia menerimanya itu hanya jawaban asalku. Tidak ada keinginan sama sekali untuk menerimanya.


Ku hembuskan nafas lelah. Karena sedang senggang, iseng aku membuka galeri di ponselku. Membuka sebuah folder yang ku beri judul "My 95" berisi foto-foto jadulku dan Rizky yang masih berwarna hitam putih beberapa nya.


Ku buka satu persatu, dari kami masih bayi sampai remaja ada di album ini. Senyuman terbit di wajah, kala melihat gambarku yang sedang menangis di sampingnya Rizky tampak cemberut. Aku ingat saat itu aku ingin sekali di gendong olehnya tapi Rizky menolak karena katanya aku manja dan cengeng. Ku buka lagi gambar berikutnya, di sana aku sedang berdiri di samping pohon dekat parit yang ada di kebun. Gambarnya hitam putih, di sana rambut panjang ku biarkan tergerai dan berayun indah di tiup angin. Lagi aku kembali tersenyum.


"Ah aku pernah semanis ini ternyata... Apa ini sunggu Anastasya Putri? Kau lucu sekali" Gumamku sambil terkekeh mengomentari foto diri sendiri.


Aku kembali menggeser ke foto berikutnya tapi tunggu dulu...


"Ini kan..."


Ku perbesar Foto itu, semakin ku perhatikan kenapa rasanya ini...


"Foto yang ada di... Meja pak Zayn?" Gumamku lagi saat mengingat jika fotonya sama. Iya aku yakin itu dia, tapi bagaimana bisa, kenapa pak Zayn punya fotoku dan lagi kenapa ia letakan di atas meja kerjanya? Apa sebenarnya kami saling kenal?


Ingatan ku benar-benar buruk. Bukan hanya sulit mengingat wajah seseorang wajah sendiri pun aku melupakannya? Hais.. Aku butuh konsultasi agaknya.


Tapi, itu tidak penting yang sekarang harus ku lakukan adalah mencari tahu kenapa dia bisa punya fotoku. Yah, aku harus bertanya sesuatu padanya!


.


.


.


"Sudah tiga puluh tahun berlalu, tapi sama sekali tidak ada yang berubah. Membiarkan kebencian terus bersarang dalam hatinya. Membiarkan ia hidup dalam kesunyian"


"Kini saatnya kebenaran terungkap. Dia berhak bahagia... Aku akan kembalikan yang memang seharusnya miliknya"


Seorang wanita tengah berdebat dengan batinnya. Ia memandangi gambar seorang wanita muda tampak tersenyum bergandengan bersama dua wanita lainnya. Ada perasaan yang sulit di jelaskan kala melihat potret tersebut.


Tes ..


Tanpa ia sadari, kembali air mata menetes begitu saja. Sakit kenangan itu membuat luka yang tak pernah mengering itu kembali terasa perih.


"Maaf kan aku.. Mbak yuk... "


.


.


.


Bersambung...