I Love You, My Secretary

I Love You, My Secretary
Bab 120



Di kediaman Herold, Zayn berjalan memasuki mansion mewah tersebut dengan senyum yang senantiasa tersungging di bibirnya. Hari ini dia sangat bahagia karena semalam ia dan Tasya sudah membicarakan tentang kelanjutan hubungan mereka.


Flashback Zayn Pov


Sudah satu minggu aku kembali mendekatkan diri pada Tasya karena kejadian naas namun begitu nikmat malam itu, Tasya kini menjaga jarak dariku. Jadi aku harus berusaha lebih keras lagi supaya Tasya kembali melihat ketulusanku. Mulai dari memanjakan dan melayaninya dari hal yang kecil sampai besar.


Meski ia bilang aku mengganggunya tapi aku tak peduli, yang penting dia masih mau meresponku walau dengan mulutnya yang sering mengeluarkan kata penolakan, setidaknya itu lebih baik dari pada makian yang dia katakan padaku, kan? Tak apa, biar ku anggap itu sebagai bawaan bayi kami.


Hari ini seperti biasa aku pergi ke kostan Rizky untuk menemani Tasya. Orang bilang jika wanita hamil akan lebih manja, tapi anehnya Tasya hanya manja pada Rizky dan ketika melihatku dia justru selalu menampakan wajah yang penuh bermusuhan. Entah itu benar bawaan bayi kami atau memang Tasya sendiri yang sedang membalas dendam padaku.


"Selamat pagi, sayangku! Aku membuatkanmu sarapan, kita sarapan bareng yuk!" ujarku padanya sambil memperlihatkan kotak bekal yang ku bawa sejajar dengan wajahku ketika pintu baru saja Tasya buka, tak lupa senyum manis selalu ku berikan padanya.


Pagi ini Rizky tak ada di sini karena dia tugas jaga malam di rumah sakit dan sekitar jam 08.00 nanti dia baru pulang.


"Apa yang kau bawa?" Tanyanya tampak tertarik tapi wajahnya masih cemberut.


Aku tersenyum dan melangkah masuk meski belum ia persilahkan dan dia pun mengkoriku, hingga kami tiba di meja makan. Aku menarik kursi untuknya setelah memastikan dia duduk dengan nyaman, baru aku membuka kotak bekal yang kubawa.


Hari ini aku membuat nasi goreng kampung yang aku tambahkan daun mengkudu muda beberapa lembar. Entah kenapa aku ingin membuat menu ini, padahal selama aku tinggal bersama bibi tak pernah sekalipun Bibi membuatkan aku menu tersebut.


Harum aroma yang menggugah selera dari masakanku pun memenuhi atmosfer ruang makan yang sempit ini.


"Tara nasi goreng kampung, bumbu cinta ala chef Ata!" seruku memamerkan hasil karyaku padanya, membuat Tasya tersenyum merekah dengan mata yang berbinar seolah baru saja menemukan harta karun.


Dia memang segila itu dengan makanan, sebelum hamil pun dia selalu menyempatkan diri untuk memakan cemilan di sela-sela kesibukannya. Dan sekarang ada nyawa yang hidup dalam rahimnya membuat nafsu makannya meningkat drastis. Bisa ku hitung dia selalu kelaparan tiap jamnya. Di sinilah peran aku dan juga Rizky.


Memang benar tak ada salahnya dengan perubahan Tasya tapi tetap saja baik aku dan Rizky sama-sama khawatir, karena apa yang berlebihan itu tak baik bagi kita. Maka aku sengaja membatasi porsi makan Tasya.


Jika di awal kehamilan saja makanya sudah seperti orang kelaparan setelah berhari-hari tak makan, apa kabar nanti saat melahirkan? aku takut baik Tasya atau calon anak kami justru obesitas. Menurut Angel berat badan bayi lahir sehat antara 2500 gram sampai 4000 gram dan aku ingin baik Tasya dan anak kami selalu dalam keadaan sehat.


Beruntungnya Tasya bukanlah ibu hamil yang rewel, sejauh ini dia begitu menurut dengan kami. Ya, meski kadang ada kalanya dia juga keras kepala tapi itu tak sering. Dan yang lebih membuatku bangga pada calon anak kami adalah dia tak menyusahkan aku atau ibunya. Dia anteng di dalam sana dan tak membuat ibunya mengalami gejala morning sickness seperti ibu hamil pada umumnya. Betapa beruntungnya aku!


"Wah harum sekali! berikan aku piring!" serunya dan aku pun memberikan apa yang dia inginkan aku pun melakukan hal yang sama, kami makan dalam diam. Aku melihat Tasya makan dengan sangat lahap dia bahkan menghabiskan sarapannya tak sampai 10 menit. Aku tersenyum melihatnya, gemas sekali rasanya.


Ah, andai saja pemandangan ini bisa aku lihat setiap hari.


Setelah selesai makan, kami duduk di ruang tamu di mana di sana ada TV untuk mengusir rasa sepi.


"Ta," panggil Tasya membuatku mengalihkan atensiku padanya.


"Kenapa? kamu butuh sesuatu atau kamu menginginkan sesuatu, sayang?" Tanyaku lembut.


"Ya, aku.. aku ingin kerja!" katanya tiba-tiba membuatku mematung untuk sesaat namun aku kembali tersenyum padanya.


"Kerja? kerja apa?"


"Aku ingin jualan. Aku ingin punya uang sendiri, nggak mungkin kan aku selalu mengandalkan kalian? sedangkan kalian pun orang lain. Aku nggak mau dicap sebagai benalu, apalagi anakku pun nanti akan butuh biaya yang tidak sedikit." katanya lagi dan aku masih setia mendengarnya, menunggu hingga dia selesai berbicara.


"Rizky itu adikmu dan aku adalah kekasihmu! Bagian mana yang orang lain? Dan lagi.. dia ada karena kita, jangan pernah menganggap dia hanya anakmu. Biar aku yang memikirkan masalah biaya, tugasmu hanya bahagia. Paham!" sahutku lembut, tapi sebenarnya aku tak suka dengan ucapannya yang seperti tak mengakuiku sebagai ayah dari anak kami.


"Tapi kamu hanya kekasih, kita tidak tahu apa yang akan terjadi kedepannya. Mungkin suatu hari nanti kau akan menemukan seseorang yang akan mendampinginmu!" balasnya lagi dengan suara yang terdengar sedikit bergetar.


Apa dia sedang menahan tangis?


"Maka kita bisa langsung menikah!" Tukasku cepat tanpa berpikir, karena memang ini adalah keinginanku.


Selama ini aku tak pernah membahas pernikahan karena ku tegaskan sekali lagi, fokusku adalah membuat Tasya kembali menerima kehadiranku dan merasa nyaman, baru setelah itu aku akan menikahinya.


"Menikah? Sekarang? dalam keadaan hamil?" tanyanya dan aku segera mengangguk.


"Iya, kamu mau kan menikah denganku, Anastasya Putri?" Tanyaku. Kali ini aku genggam tangannya dan membawanya di depan dadaku berharap dia merasakan debaran di jantungku saat aku bersamanya.


"Menikah denganku? Apa karena kau merasa bertanggung jawab dengannya, Ta?" ucapnya sambil menunduk menatap perutnya yang masih rata.


"Kalau iya, kamu nggak usah khawatir aku sama sekali nggak mengharapkannya. Aku sadar bukan cuma dirimu yang bersalah tapi aku juga. Jadi jangan menjadikan kami sebagai bebanmu. Hiduplah dengan bahagia seperti sebelumnya." Lanjutnya lagi mulai melantur. Rizky bilang, sejak hamil Tasya memang sedikit overthinking jadi aku harus ekstra sabar menghadapinya.


"Bahagiaku adalah bersamamu, sayang. Impian terbesarku adalah menua bersamamu, melihat cucu-cucu kita yang saling bertengkar berebut mainan meramaikan rumah kita. Tidak ada yang bisa menggantikan hal itu meski ada atau tidak adanya dia sekarang, di sini!" ujarku sambil mengelus lembut perutnya yang tertutup dres bunga-bunga yang dia pakai hari ini. Kemudian kembali menatap Tasya penuh cinta.


"Aku beruntung dicintai olehmu, Atta. Tapi cintamu yang begitu besar ini membuatku takut," katanya membuatku mengenyitkan dahi bingung sekaligus khawatir jika nanti dia malah menolakku.


"Aku takut akan semakin dalam jatuh dalam lautan cintamu dan aku tak bisa kembali," ucapnya lagi semakin membuatku bingung dan tak mengerti.


Tasya malah menjeda ucapannya cukup lama, mengantungkan jawaban dari lamaranku tadi dan malah terus menatap lekat manik mataku.


"Kau tahu sendiri kan, aku tak bisa berenang. Kalau aku tenggelam bagaimana?" lanjutnya lagi membuatku gemas.


Bagaimana bisa dia bercanda saat sedang serius seperti ini? Ah, ini mengingatkanku pada saat di Pantai Batu Karas waktu itu. Aku pun sudah pernah melamarnya, tapi selalu dia jawab dengan candaan dan lebih mengesalkannya lagi aku malah mendapatkan bogeman dari kuda nil.


"Aku serius sayang!"


"Aku pun serius, Atta!" balasnya.


"Bagian mana yang serius? kamu selalu begitu!" keluhku pura-pura merajuk .


"Ini!" katanya sambil tersenyum membuatku bingung.


"Apa?!" ketusku hingga tiba-tiba ia mencondongkan badannya ke arahku da..


Cup..


Tasya mengacup singkat bibirku dan kali ini aku dibuat sport jantung olehnya.


Astaga! apa dia baru menciumku? Padahal kami jarang sekali melakukannya dan yang mengejutkan, Tasya lah yang mulai lebih dulu.


Aku masih mematung melihat wajahnya yang sudah memerah. Apa ini mimpi? Jika ia tolong jangan bangunkan aku ini terlalu indah!


"Yes! I do!" satu kalimat yang berhasil membuatku melayang, hingga rasanya aku ingin berteriak memberitahukan pada dunia jika Tasya bersedia menikah denganku.


"Sayang.. Bisa kau ucapkan sekali lagi?" pintaku dengan senyum yang mengembang sempurna. Tasya tersenyum malu-malu sambil menunduk dan jangan lupakan wajahnya yang senantiasa memerah.


"Aku bersedia menikah denganmu.. Zayn Pranata!" ucapnya lagi dan aku langsung memeluk kemudian mengecup ubun-ubunnya perkali-kali.


"Ya Allah.. terima kasih atas kebaikan-Mu pada hamba-Mu yang penuh dosa ini. Semoga Engkau pun meridhoi kami, agar bisa menggapai surga-Mu.. Amin!" doaku dalam hati.


Aku melepaskan pelukanku dan meraih dagu Tasya yang sedang menunduk dengan jari jempol dan telunjukku agar ia kembali melihatku. Aku mengunci pandangannya dan perlahan mendekatkan wajahku padanya. Ia tak menolak justru menutup matanya dan aku tak akan menyianyiakan kesempatan emas ini.


Aku pun ikut memejamkan mata, namun baru saja bibir ini hendak mendarat di bibirnya, tiba-tiba..


Pletakkk..


Aku merasa ada sebuah pukulan ringan di kepala bagian belakangku. Memang tak sakit tapi cukup mengejutkan.


"Jaga batasan lo!" disusul sebuah suara yang begitu kukenal membuatku nendecakkan lidah kesal.


Tasya yang mukanya sudah memerah pun lari masuk ke dalam kamar dan membanting pintu untuk menutupnya.


"Ah elah, lo ganggu banget sih! tinggal dikit lagi padahal!" Keluhku pada Rizky.


"Syukurin! sembarangan mau nyolong-nolong mulu. Nggak inget, noh! di perut Tasya udah ada nyawa, gara-gara lo yang suka banget nyicil itu?" Semburnya padaku dan aku hanya bisa mencebikkan bibirku karena apa yang dia ucapkan adalah benar.


Flashback Zayn pov end


.


.


.


.


.


Bersambung....