I Love You, My Secretary

I Love You, My Secretary
Bab 98



Tasya pov


Hidup memang tak selamanya berjalan sesuai dengan rencana. Aku ingin berfikir bahwa akan ada pelangi setelah gerimis, namun melihat kenyataan yang ada ku rasa tak akan pelangi yang menyapa ku nantinya.


Plukk... Plukk...


Suara batu yang tengelam karena lemparan ku di danau tempat aku dan Zayn membuat janji. Sudah satu jam aku menunggunya di sini namun tanda-tanda kehadirannya sama sekali belum terlihat.


Aku mendongak melihat langit yang mulai gelap padahal hari masih pukul tiga sore. Hembusan angin terasa dingin menerpa kulitku.


Aku duduk berselonjor di tepi danau, sesekali melemparkan kerikil yang terjangkau oleh tanganku ke dalam danau. Aku telah menunggu Zayn lebih dari dua jam, dan satu jam yang lalu dia memberiku pesan jika sudah dalam perjalanan.


Zayn bilang ia semalam menginap di mansion tuan Herold jadi Zayn mengatakan jika dia akan sedikit terlambat karena jarak mansion tuan Herold ke danau ini cukup jauh, katanya.


Tapi dua jam, bukannya itu terlalu lama?


Sebenarnya kemana perginya, dia? Aku pun tak bisa menghubunginya, hanya suara operator yang menjawab panggilanku.


"Huft,"


Aku menghembuskan nafasku kasar kemudian meletakkan kedua tanganku di atas rumput di belakang punggung membuat tubuhku bertumpu pada telapak tangan. Aku mendongakkan kepalaku dan memejamkam mata menikmati hembusan angin yang ku rasa semakin kencang. Langit pun semakin menggelap, ku rasa hari akan turun hujan.


"Kemana dia? Apa dia baik-baik saja?" Gumamku mengedarkan pandanganku ke sekeliling tempat ini. Namun sepi, tak ada satu pun manusia yang berada di sini. Mungkin karena akan turun hujan jadi orang-orang mencari tempat berteduh.


Sambil menunggu aku mengingat kembali kisah cinta kami. Tak menyangka hampir satu bulan kami menjalin hubungan selangkah lebih dekat. Aku sangat nyaman berada di dekatnya, karena dia laki-laki yang pandai menjaga diri. Meski banyak sekali kesempatan, tak pernah sekali pun Zayn berbuat yang tidak-tidak terhadapku. Hanya satu kali dia mengecup bibir ku. Itu pun hanya sebuah kecupan tak lebih dan bahkan tak ada satu detik.


Namun, aku pun khawatir saat Disty memberi tahuku jika Celin dan Daniel bekerja sama untuk memisahkan kami. Apa benar seperti itu?.


Sekali lagi aku mencoba menghubungi nya namun lagi-lagi suara seorang perempuan yang menjawab.


Tik..


Tik..


Tik..


Aku mendongak melihat tetesan air yang jatuh ke bumi. Bukannya langsung meneduh, aku justru memejamkan mata dan menikmati tiap tetesan air hujan itu membasahi wajah dan tubuhku. Posisiku bahkan tak berubah masih duduk santai di atas rumput.


Drtttt...


Tiba-tiba ponselku bergetar menadakan ada sebuah pesan yang masuk. Buru-buru ku buka pesan itu saat tahu jika orang yang sedang ku tunggulah yang menghubungiku. Senyumanku mengembang saat hendak membukanya, namun senyuman itu seketika sirna saat Zayn mengirimiku sebuah foto dimana dia sedang tertidur sambil mengenggam tangan Celin. Ku rasa foto itu di ambil di rumah sakit. Dan aku berani jamin jika itu hanya akal-akalan Cellin namun tetap saja pemandangan itu membuat mataku terasa memanas.


Aku menscrol pesannya ke bawah dan jantungku terasa ngilu saat foto selanjutnya terbuka. Foto dimana mereka tengah berciuman, aku masih yakin itu masih akal-akalan Celin karena Zayn sama sekali tidak bergerak. Maksudku Zayn tak membuka matanya.


"Sya, ku rasa kekasihmu ini begitu nyaman berada di pelukanku. Buktinya dia tidak mau bangun," Tulis Celin dari ponsel Zayn. Air mataku tak bisa lagi di bendung. Sungguh ini sangat menyakitkan. Rasanya seperti di tusuk ribuan jarum, perih.


Aku percaya Zayn tak akan berkhianat tapi dalam keadaan tak sadarkan diri seperti itu apa pun bisa terjadi. Aku tergugu tak sanggup membayangkan apa yang terjadi selanjutnya.


Baru saja aku berbangga diri karena kekasihku begitu mengharagiku, namun detik selanjutnya justru kenyataan menyakitkkan yang ku dapat.


Ting...


Satu lagi pesan dari Celin mengunakan ponsel Zayn masuk, kali ini bukan pesan atau foto melainkan sebuah video. Aku tak sanggup untuk membukanya dan sama sekali tak ada niat untuk membukanya.


Aku tergugu di bawah guyuran air hujan yang perlahan namun pasti semakin deras mengugur bumi. Air mataku jatuh begitu deras bersama dengan derasnya air hujan.


"Tidak! Aku tahu Atta pasti tidak akan mau melakukan hal menjijikan seperti itu. Aku harus menyusul Atta sekarang juga sebelum apa yang ku takutkan benar-benar terjadi."


Aku menghapus kasar air mataku dan berjalan menuju jalan besar mencari kendaran yang lewat, tukang ojek, angkot, taxi atau apapun itu yang bisa mengantarakan ku menuju rumah sakit.


Dalam keadaan basah kuyup pandanganku tak begitu jelas karena air mata yang terus menggenang. Langkah ku pun terasa begitu berat, entah karena aku yang belum makan atau karena hati ini begitu sakit. Tubuhku rasanya begitu lemah.


Namun pada akhirnya, aku sampai di pinggir jalan menunggu tukang ojek yang ku pesan. Aku tak tahu dimana rumah sakit tempat mereka berada tapi aku pasti akan menemukannya.


Karena hujan begitu deras, susah sekali mendapatkan tukang ojek bahkan tak ada satu pun kendaraan yang lewat. Hanya aku satu-satunya manusia yang berdiri di tengah derasnya hujan.


Di sebrang jalan aku melihat ada sebuah halte maka ku putuskan untuk menduh terlebih dahulu. Meski perasaan ku tak menentu namun sebisa mungkin aku harus tetap tenang. Agar aku bisa berfikir dengan jernih langkah apa yang akan ku lakukan.


"Sebaiknya aku berteduh dulu," Gumamku sambil menenhan gigil yang mulai ku rasakan.


"Aku tak akan pernah memaafkan mu, seandainya kamu benar selingkuh dengannya, Atta. Aku begitu mempercayaimu maka jangan sekali-kali kau hancurkan kepercayaanku," Gumamku dalam hati, tak terasa air mata ku kembali mengalir.


Asik dengan lamunan, aku tak menyadari lampu kendaraan yang menyorot dan..


Ttttiiinnnnnnnn...


Bunyi nyaring dari kelakson memecah kesunyian dalam derasnya hujan. Membuatku reflek berteriak namun detik selanjutnya..


Brakk..


Aku merasakan tubuhku terpental, tak hanya itu seluruh tubuhku terasa sakit dan pandangan ku berkunang-kunang. Semakin lama pengelihatan ku menggelap, pendengaranku berdengung dan aku tak merasakan apa-apa lagi.


Gelap, semuanya gelap..


.


Tasya pov end


.


.


.


Bersambung...