
Zayn pov
Hari ini tepat tiga hari Tasya tak ada kabar dan juga tidak masuk kerja, aku begitu frustasi karena pasti sekarang dia tengah kecewa padaku. Aku sungguh tidak tahu kemana lagi harus ku cari dia. Aku sudah mendatangi kostannya, bertanya pada Rizky sudah bahkan aku sudah memeriksa sendiri di kostan Rizky, tapi jejak kehadiran Tasya tak ada.
Aku merebahkan diriku di kasur yang berukuran king size dengan nuansa kamar hitam dan coklat memandangi langit-langit, memikirkan kemana lagi aku harus mencarinya.
Sudah tiga hari aku tidak pulang ke rumah bibi dan memilih tinggal di apatremen pemberian ibu. Aku butuh menyendiri untuk tetap menjernihkan fikiranku.
Sesaat ingatanku kembali membawaku pada terakhir kali Tasya memberi kabar. Saat itu aku benar-benar melupakan janjiku padanya karena kejadian yang terjadi di tengah jalan. Sungguh yang terjadi itu bukan inginku. Aku ingin menjelaskan padanya tapi telfon dan chat ku sama sekali tak mendapatkan respon darinya, bahkan nomornya masih tak aktif. Yang lebih membuatku frustasi, keberadaan ayah tak juga kami temukan sedangkan waktu terus berjalan.
"Aku akan memeriksa sekali lagi kost Tasya. Semoga dia ada di sana," ucapku kemudian menyambar dompet dan kunci mobil. aku melajukan kendaraanku dengan perlahan sambil melihat ke luar jendela barangkali tak sengaja aku berpapasan dengan Tasya. Itu adalah kegiatanku selama 3 hari ini. Mau bagaimana lagi, aku sudah kehabisan akal untuk mencarinya.
Aku sempat bertanya pada kepala HRD, dia bilang Tasya izin untuk beberapa hari. Hanya itu yang bisa ia sampaikan, katanya. Sempat terfikirkan apa dia pulang kampung dan menikah dengan Kuda Niel, tapi rasanya tak mungkin kan keluarga Tasya tak ingkar janji begitu saja?
Aku takut sekali akan kehilangannya, sungguh. Tak bisa ku bayangkan apa yang akan terjadi jika usaha yang ku lakukan ini pada akhirnya akan sia-sia. Karena bagiku Tasya adalah nafasku, aku tak bisa hidup tanpanya. Membayangkan kemungkinan terburuk saja membuat dadaku terasa sesak.
Beberapa menit kemudian aku sudah sampai di kost Tasya, namun lagi-lagi hening.
"Kemana sebenarnya kamu, Yank?"
Apa aku harus meminta bantuan Abi untuk melacak keberadaan Tasya. Dengan kuasanya aku rasa bukan hal yang sulit untuk menemukan keberadaanya kan? Baiklah akan aku coba, semoga kali ini usahaku membuahkan hasil.
Beberapa menit kemudian aku sudah duduk berhadapan dengan Abi di sofa yang ada di ruangannya. "Mau minum apa, kak?" tanyanya membuka suara, karena sejak tadi kami hanya terdiam membiarkan kami larut dalam lamunan masing-masing.
"Soft Drink,"
"Tunggu sebentar," Abi berjalan ke arah kulkas dan mengambil minuman yang ku sebutkan.
"Aku tidak ingin basa basi, bisa kamu bantu aku untuk mencari Tasya? Aku harus meluruskan kesalah fahaman ini," tukas ku setelah dia kembali duduk. Abi sempat menatap ku sesaat namun kemudian ia acuh dan membuka kaleng minumnya dengan santai. Ia tampak tak terlalu penasaran apa yang terjadi, mungkin dia tak suka mencampuri urusan orang lain atau justru dia tahu sesuatu?
"Sebenarnya aku sudah berjanji untuk tak mengatakan ini, tapi kalian memang harus bicara. Jadi biar aku kasih klue saja," katanya menatap ku serius. "Ikuti Rizky, maka kakak akan tahu jawabannya." Lanjutnya lagi membuatku mengrenyit.
"Kamu tahu dimana keberadaanya? Kenapa kamu tak bilang, Bi? Aku hampir gila karena mencarinya tapi tak kunjung ku temukan," keluhku padanya.
"Kakak kan ngga nanya," singkatnya dan berhasil membuatku bungkam. Apa yang dia katakan memang benar, harusnya sejak kemarin aku menemui Abi mungkin tiga hari ini tidak akan terbuang sia-sia.
"Sudahlah, aku pergi dulu," Aku pun beranjak dari hadapannya tapi sebelum benar-bebar meninggalkan ruangan Abi mengatakan jika Tuan Herold kembali mengundangku ke mansionnya.
*****
Aku benar-benar menjadi penguntit hari ini, mengikuti segala kegiatan Rizky. Sejauh ini tak ada tanda-tanda yang mencurigakan. Sehabis makan siang dia akan bekerja sampai jam empat lalu aku melihatnya jalan dengan seorang gadis entah siapa.
Hingga menjelang malam setelah mengantar wanita itu pulang, aku maaih mengikuti kemana perginya dia. Meski aku tak yakin akan mendapatkan jawabannya hari ini tapi aku akan terus mengawasi dia hingga benar-benar pulang ke kostannya.
Di tengah perjalanan, aku sedikit heran karena Rizky mengambil jalan yang berbeda dengan jalan ke kostannya atau ke kostan Tasya. Rizky justru membelokkan kendarannya ke sebuah rumah sakit yang tak asing di ingatanku. Rumah sakit yang sama saat aku membawa Celin ke sini hari itu.
Perasaan ku mulai tak enak. Kenapa Rizky datang ke sini? Yang ku tahu dia itu hanya bekerja di rumah sakit milik keluarga Herold dan juga di sebuah klinik. Lalu, apa dia ada jadwal di sini juga atau jangan-jangan..
Tasya?
"Misih bitih. Ck! Lo lupa ingatan ya? Kan lo sendiri yang katanya mau jemput gue! Pake nanya!"
Deg..
Aku mematung di depan sebuah kamar rawat dimana Rizky baru saja masuk saat mendengar sebuah suara yang sudah beberapa hari ini ku rindukan. Suara itu, suara yang membuat jantungku kini berdebar tak menentu.
Tasya..
Dia ada di sini.. akhirnya aku menemukannya.
Aku mengembangkan senyuaman bahagia sekaligus lega meski aku belum masuk tapi aku yakin jika dia adalah Tasya.
Brak..
Aku membuka pintu dengan tiba-tiba membuat dua orang yang sedang beradu argumen itu terlonjak kaget, tapi aku tak peduli. Aku justru langsung berjalan ke arahnya dengan mata yang berkaca-kaca karena begitu bahagia akhirnya bisa menemukannya.
Aku memeluknya begitu erat saat sudah sampai di depannya seolah takut jika dia akan kembali meninggalkan ku. Aku takut dia pergi, aku sangat mencintainya.
"Maaf, sayang. Maafkan aku," Kata pertama yang ku keluarkan untuk Tasya masih dalam posisi yang memeluknya. Tapi aku merasa Tasya hanya diam mematung tanpa membalas kata maafku atau sekedar membalas pelukanku.
Perlahan aku melepaskan dekapanku dan menatapnya yang tertunduk. "Sayang.. Tolong maaf kan aku. Sungguh aku tak bermaksud-"
"Kenapa?" tanyanya datar menyela ucapanku, masih dalam posisi yang menunduk tak mau melihat wajahku. Jujur, ini pertama kalinya dia berbicara sedingin itu padaku dan membuatku mematung tak bisa mencerna maksud pertanyannya.
"Kenapa kamu ingkar?" Sekali lagi Tasya bertanya dengan nada yang begitu dingin, namun kali ini ia mengangkat wajahnya menatap ku dengan sendu dan aku melihat ada kekecewaan dalam matanya.
"Aku tak bermaksud untuk mengingkari janji, sayang. Sungguh! Semua yang terjadi itu di luar kuasaku. Aku menyusulmu ke sana tapi kamu sudah tidak ada. Aku-"
"Kenapa?" lagi-lagi Tasya menyela ucapanku. Sepertinya dia benar kecewa padaku. Aku menengok ke arah Rizky yang hanya diam di belakangku bermaksud untuk membantu menjelaskan pada Tasya.
"Jawab, Zayn!" Aku tersentak karena Tasya memanggil ku dengan nama depanku. Aku tahu itu artinya dia memang sedang marah. "Kenapa kamu lebih memilih menunggunya dari pada menemuiku?" pertanyaan Tasya membuatku mengrenyit bingung. Apa yang dia maksud? Tidak! Maksud ku, apa Tasya tahu kemana aku di hari itu?
"Sayang, maksud kamu apa?" Taysa menggeleng dan tersenyum getir kemudian memberikan ponselnya padaku. Awalnya aku tak mengerti maksudnya tapi sesaat kemudian mataku membola kala sebuah foto yang di tunjukan oleh Tasya. Jantungku rasanya ingin melompat keluar saat di dalam foto itu aku dan Celin.. Kami.. Berciuman?
.
.
.
.
.
Bersambung..