
Matahari bersinar begitu cerah nya, membuat pagi ini terasa cukup terik. Zayn tampak berjalan dengan tergesa-gesa menuju ruangannya. Ia tampak tak sabar untuk bertemu dengan pujaan hati nya yang sejak semalam susah di hubungi. Bahkan saat ke tempat Rizky pun ia belum bisa bertemu dengan Tasya. Jadi, karena kerinduan yang mendalam itu Zayn akhirnya memutuskan untuk masuk kerja walau sebenarnya hari ini ia masih cuti.
Tiba di depan ruangan Tasya, seperti biasa Zayn tak mengetuk pintu terlebih dahulu. Apalagi ia berencana mengejutkan Tasya.
"Selamat pagi, Sa-" Ucapan Zayn terhenti karena ruangan itu ternyata kosong. Walau sedikit kecewa tapi Zayn tak putus asa. Ia akan menunggu Tasya dengan duduk di kursinya dan akan membelakangi pintu supaya nanti Tasya terkejut.
Zayn pun mendudukkan dirinya sambil senyum-senyum membayangkan wajah Tasya yang terkejut nantinya.
"Dia belum berangkat atau lagi di pantry ya?" Gumamnya pada diri sendiri.
Sambil menunggu, Zayn mengedarkan pandangannya melihat isi ruangan Tasya entah kenapa perhatian nya teralihkan pada sebuah laci di bawah meja. Zayn pun membuka nya.
"Kotak apa ini?" Gumamnya lagi saat melihat kotak kecil seukuran kotak jam tangan namun ia terbuat dari kayu dan di ukir dengan indahnya.
"Ini pasti kakeknya yang buat" Kakek Tasya dulunya adalah pengusaha mebel, namun sayang satu-satunya orang yang tak materialis dalam keluarga Tasya telah meninggal, saat Tasya masih duduk di bangku SMA dulu karena sebuah kecelakaan.
Zayn yang penasaran akhirnya membuka kotak tersebut dan senyum nya merekah saat melihat isi di dalam nya. "Kamu masih menyimpan nya, yank?"
Ingin rasanya saat ini Zayn melompat lompat untuk mengekspresikan jika dirinya sangat bahagia. Ia bahagia karena ternyata kekasihnya itu masih menyimpan sebuah benda yang ia buat khusus untuk Tasya. Ya, dalam kotak kecil itu Tasya menyimpan gelang pemberian dari Zayn. Karena sudah tak lagi muat dan takut akan rusak, jadi Tasya menyimpannya.
Rencananya benda itu akan Tasya kembalikan, karena dulu Zayn bilang supaya dirinya menjaga benda tersebut sampai Zayn kembali. Dan sekarang Zayn sudah kembali jadi akan ia kembalian nanti.
"Ternyata kamu memang benar mencintai ku, Sya. Seandainya jalan kita mulus pasti saat ini aku sudah mengikat mu dalam ikatan suci pernikahan" Tangan Zayn kemudian beralih pada sebuah map coklat. Menurutnya, jika Tasya menyimpan gelangnya dan di simpan di sini mungkin map itu juga berisi tentang dirinya.
Dengan senyum yang masih terukir indah di bibir nya, Zayn membuka map tersebut secara perlahan namun senyumnya luntur berganti dengan mata yang membola kala melihat apa yang ada di dalam nya.
"Ini... Siapa yang sudah mengirimkan foto ini?" Tanya Zayn panik. Ia sangat yakin diamnya Tasya pasti ada hubungannya dengan foto itu. Foto tentang dirinya dan Cellin.
"Pantas kemarin dia bertanya tentang wanita ini. Itu artinya... Tasya..Oh ****!! Kebohongan pertama ku. Dia pasti saat ini kecewa!" Zayn kemudian bergegas pergi dari ruangan Tasya sambil tangannya tak berhenti mengubungi Tasya namun nihil gadis itu tak menjawab panggilannya.
Sedangkan Tasya yang baru saja sampai, tengah mampir sebentar ke kantin untuk membeli sarapan. Hari ini, perutnya terasa perih padahal biasnya ia jarang sekali untuk sarapan tapi baik-baik saja.
Tasya melihat layar ponselnya, ia ingin mengangkat panggilan dari Zayn tapi hatinya terasa sakit saat mendengar suara laki-laki itu.
Saat Tasya masih mematung, ia tak sadar jika di sampingnya Disty sudah memperhatikannya sedari tadi. Disty yang kepo, menengok sedikit ke ponsel Tasya tertera nama Zayn di sana. Tapi, Tasya tak mengangkat panggilan tersebut. Disty tersenyum sangat tipis saat melihat hal tersebut.
"Ekhem.. Ayang mbeb nelpon kok di cuekin sih?" Ujar Disty tepat di samping telinga Tasya hingga membuatnya terperanjat. Ia menatap sinis ke arah Disty namun sesaat kemudian ia cengengesan sambil mengelus da danya sendiri.
"Lo ngagetin aja deh, sejak kapan Lo di sini?" Keluh Tasya dan di balas cengiran oleh Disty.
"Sejak telpon Lo bunyi. Kenapa telpon pak Zayn ngga Lo angkat? Kalian lagi berantem?" Tanya Disty mulai kepo. Tasya menelisik wajah Disty hendak buka mulut, tapi ia urungkan karena ponselnya kembali berdering dan panggilan yang sama tertera di sana.
"Holla hello" Sapanya saat panggilan terhubung. Dari sebrang telfon terdengar helaan nafas lega karena akhirnya panggilan nya di angkat juga.
"Ya ampun sayang!!! kamu dari mana aja sih dari kemarin aku telponin, aku ke kosan kamu juga ngga ada!" Keluh Zayn. Tasya melirik Disty sebelum menjawab pertanyaan Zayn. Karena ia yakin pasti suara Zayn terdengar hingga ke telinga Disty walau tak ia loud speaker.
"Kalau dugaan gue benar, harusnya dia akan melakukan pergerakan lebih sering dari pada biasanya tanpa dia sadari!" Ucap Tasya dalam hati. Ia teringat saat semalam bertanya pada Abi soal orang yang Tasya curigai sedang berusaha mengadu domba antara dirinya dan juga Zayn.
Flashback Tasya on..
Jantungku berdetak tak karuan, begitu juga dengan wajahku yang terasa memanas. Aku yakin pasti wajahku sudah memerah sekarang. Tapi, kenapa aku yang merasa malu? bukannya harusnya yang malu itu tuan Abi? Kan dia yang tak memakai pakaiannya bukan aku?
Lagi pula dia ada-ada saja masa buka pintu dengan busana seperti itu. Apa dia pikir kalau aku ini adalah seorang laki-laki?.
Aku kembali menunggu hingga setengah jam kemudian, tapi pintu ini tetap tak juga di buka. Sebenarnya apa yang sedang di lakukannya? Apa dia sedang memakai bedak dan lipstik?
Lima menit, sepuluh menit pun berlalu. Hilang sudah kesabaranku.
"Tuan Abi, buka pintunya!!!" Pekik ku lantang Semoga saja orang-orang tadi tak keluar lagi. Namun, hening lagi-lagi tak ada jawaban.
Aku mulai jengah. Aku rasa dia sengaja tak ingin menemui ku. Kalau begitu cara mendobrak pintu ku rasa tak efesien. Jadi aku harus menggunakan cara yang lain.
"Tuan!!! Lima menit pintu nya tak juga di buka!!!! Jangan salahkan saya ponsel anda akan terbang dari balkon lantai ini!!!!" Teriak ku lantang.
Dan benar saja tak sampai satu menit pintu pun terbuka menampakkan dirinya dengan penampilan yang lebih baik dari pada hanya sekedar handuk. Walau tubuh bagian atasnya masih terpampang nyata di depan mataku. Karena saat ini tuan Abi hanya mengenakan celana pendek rambutnya juga masih tampak acak-acakan dan sudah mengering.
Dia menatap ku sinis tapi aku justru terpana dengan dirinya, bukan karena bentuk badannya yang membuat iman ku lemah. Tapi, karena hampir satu jam dia belum juga selesai memakai baju.
"Tutup matamu atau akan ku congkel keluar bola mata mu itu!!" Hardik Tuan Abi membuat ku begidig ngeri. Sejak kapan pemikiran nya semengerikan ini?
"Kalau tak mau di lihat.. ya pakai baju nya, tuan. Gimana sih!" Gerutuku tak mau kalah. Malah dengan beraninya aku masuk begitu saja ke dalam apartemen nya karena jujur kaki ku sudah pegal dari tadi berdiri.
Tuan Abi menatapku tak percaya. Dia pasti syok karena hanya aku satu-satunya karyawannya yang seberani ini dengan tuan Abi. Bahkan Rico yang sudah mengikuti nya selama bertahun-tahun saja masih terlihat segan dengan nya.
"Ayo duduk dulu, tuan. Kenapa malah bengong di situ? Apa anda terpana dengan kecantikan saya?" Ujarku meledeknya sambil mengibaskan rambut panjangku ke belakang dengan dorongan tangan kiri. Berlagak sok cantik gitu maksudnya.
"Pih!!! Seekor B*bi bahkan jauh lebih cantik dan imut dari pada dirimu!!" Sarkas tuan Abi sambil berpura-pura membuang ludahnya ke samping. Ucapannya sungguh kejam, tapi aku tak sakit hati karena memang dia seperti itu. Jadi, aku tak ambil pusing.
Tuan Abi kemudian menutup pintunya, kemudian berjalan dan duduk di depan ku dengan gaya nya yang arogan. Tidak cocok sebenarnya, tapi termaafkan karena wajahnya yang tampan.
"Mana!" Ucapnya sambil menyodorkan tangannya padaku. Aku mengangkat alisku dan menggelengkan kepala melihat tuan Abi yang begitu sempurna berada tepat di depan mataku. Dia adalah definisi mahluk ciptaan Tuhan yang begitu sempurna.
Sungguh mataku tak bisa berpaling darinya, dan dia bertambah keren saat mengenakan kalung dengan tali hitam berbandul oval bening menjuntai sampai ke da danya. Tapi tunggu dulu... Bandul kalung itu kenapa bisa mirip dengan punya Zayn?..
Aku menatap lekat ke arah bandul itu, dan kemudian mengalihkan pandangan ku ke wajah Tuan Abi, menelisik wajah nya lalu beralih lagi ke kalungnya. Ku lakukan hal itu secara berulang.
Mungkin kah.. Mungkin kah.. Ibu Tuan Abi dan Zayn adalah orang yang sama?
.
.
.
.
.
Bersambung...
...----------------...
🙄 please deh Tasya, lu ngga usah norak gitu liat Abi ngga pakai baju. Dia emang lebih sempurna dari cowok Lo yang tukang bohong itu.
😍 Nucha jahat, di mataku kan Atta tersegalanya.
😒 Udah kena virus bucin emang susah..
Holla hello Readers tercintah ❤️❤️❤️ jangan lupa lemparin Nucha jempol sama giftnya ya.. Terimakasih yang udah setia ngikutin cerita Tasya dari awal sampai berada di sini 🤗🤗 Lophe you phlen ❤️❤️
Happy reading all ❤️❤️❤️