
Abidzar POV
Suara bising dari musik yang terdengar riuh sungguh menganggu gendang telinga ku. Belum lagi bau menyengat dari berbagai minuman memabukkan. Aku heran kenapa rekan bisnis ku suka sekali menghabiskan waktunya di sini.
Aku bahkan sudah sangat risih meski baru beberapa menit di sini, apalagi dengan beberapa wanita dengan pakaian kurang bahan yang selalu menempel.
Hari ini aku kembali mendapatkan kontrak kerjasama dengan perusahaan asing. Untuk merayakan kerjasama tersebut, Mr. Wolf selaku CEO perusahaan Wolf Corp itu mengajak ku untuk sekedar minum di sebuah Club malam terkenal di Jakarta.
Aku memang tak menyukai tempat seperti ini namun bukan berarti aku tidak bisa minum. Aku hanya tidak ingin pergi ke tempat seperti ini karena aku memiliki kenangan yang cukup buruk di sini. Tapi, tentu saja aku tidak bisa menolak ajakan Mr. Wolf bukan? Dengan berat hati aku akhirnya menemani nya dengan di temani asisten nya dan asisten kepercayaan ku tentunya, Rico.
****
Pukul 1 dini hari akhirnya aku bisa keluar dari tempat menyebalkan ini. Awalnya Mr. Wolf tak mengizinkan ku untuk pulang , namun dengan alasan klasik akhirnya aku bisa terbebas dari nya.
Setelah menempuh perjalanan sekitar 1 jam, aku tiba di apartemen mewah ku. Tanpa mengganti pakaian atau sekedar cuci muka, aku sudah merebahkan diri di atas tempat tidur.
Hari ini sungguh sangat melelahkan belum lagi karena tadi sempat minum beberapa gelas, kepala ku terasa sangat berat. Tidak butuh waktu lama untuk ku bisa melanglang buana ke alam mimpi.
Keesokan harinya, aku terbangun karena mencium aroma masakan yang sangat harum. Aroma nya mampu membuat cacing di perut ku memberteriak ingin segera di beri asupan.
Dengan keadaan yang masih acak-acakan aku turun ke bawah mencari dari mana aroma lezat ini berasal.
Aku tinggal di sebuah apartemen mewah tak jauh dari kantor. Kedua orang tua ku awalnya melarang namun karena aku adalah anak kesayangan mereka, pada akhirnya tak ada yang bisa menghalangi keinginan ku. Karena aku adalah anak tunggal sedari kecil kedua orang tua ku terbiasa memanjakan ku hingga sekarang.
Aku berjalan ke arah dapur namun aku tak melihat asisten rumah tangga yang selama ini aku pekerjakan. Justru aku melihat seorang wanita yang sedang sibuk berkutat dengan berbagai alat masak di depan kompor. Ini dia, dari sini ternyata aroma lezat itu berasal.
Tapi, siapa dia? Seingat ku ART yang bekerja di sini tidak berani untuk menggunakan dapur ku. Setiap hari ia akan membersihkan seluruh bagian apartemen ini setelah itu ia akan pulang tanpa menyentuh atau bahkan berani menggunakan perabotan ku. Lalu dia ini siapa? atau jangan-jangan dia wanita yang mama dan papa kirim untuk di jodohkan dengan ku lagi? mengingat itu aku jadi malas.
Sedang asik menerka-nerka tiba-tiba wanita ini membalikkan badannya. Ia tampak terkejut dan hampir menjatuhkan piring yang berisi nasi goreng, begitu pula dengan ku. Aku pun tak kalah terkejutnya ketika melihat siapa ternyata dia.
"Akhhhhhh!! Ya ampun! My Jodoh, eh tuan bos maksudnya!" Pekiknya nampak bahagia.
Gadis aneh yang ku temui di Indoapril waktu itu ternyata. Bagaimana dia tak aneh, selalu saja menyebut ku jodohnya dan parahnya lagi dia justru bekerja di perusahaan ku.
Dan sekarang apalagi? kenapa dia malah ada di apartemen ku?
"Kenapa kamu ada di sini?" Seperti biasa aku selalu berkata ketus dengan nya. Bukan hanya dengannya saja sih, nada bicara ku memang seperti ini. Terdengar ketus padahal biasa saja, hanya pada rekan bisnis ku atau kolega-kolega papa aku akan berusaha ramah.
"Ini lah yang namanya kekuatan cinta, Tuan." ujarnya nyeleneh. Aku tanya apa dia justru jawab apa. Dia sama sekali tak segan padaku padahal ia tahu betul siapa aku tapi sikapnya seolah-olah tak ada takut-takut nya.
"Clk! Heh! saya tanya kenapa kamu ada di apartemen saya? kamu ngikutin saya ya?"
Berbicara dengan gadis ini memang membuat ku pusing tapi entah kenapa aku justru meladeninya.
Dia tak langsung menjawab justru dengan sengaja menarik kursi dan meletakkan piring yang sedari tadi ia pegang di meja makan. Tanpa di persilahkan atau meminta izin dengan entengnya dia duduk di kursi makan ku. Dasar karyawan minus akhlak!.
"Kemarin di kantor kan saya sudah bilang tuan, Kalau anda adalah jodoh saya. Anggap saja ini sebagai latihan jika kita sudah berumah tangga nantinya."
"Saya akan menyiapkan tuan sarapan setiap pagi dan tuan akan terbangun karena tak ada saya di sisi tuan. Kemudian tuan melihat saya sedang memasak dan memeluk saya dari belakang. Itu sangat romantis bukan?."
Tuturnya melantur, dan anehnya aku malah ikut membayangkan. Ck! aku menggeleng untuk mengusir bayangan aneh di kepala.
Berumah tangga dengannya? Itu tidak akan pernah terjadi!. Walaupun di dunia ini hanya ada dia satu-satunya wanita lebih baik aku melajang seumur hidup ku.
Tapi, kalau di lihat-lihat dia memang cantik. matanya bulat nampak selalu berbinar di hiasi bulu matanya yang lentik, alis yang melengkung indah tergambar alami tanpa embel-embel sulam atau apa lah itu namanya aku tak tahu. Hidungnya Bangir, bibirnya tipis berwarna merah jambu. Cantik apalagi ia tak memakai riasan yang berlebihan seperti wanita-wanita tadi malam yang mukanya penuh dengan make up.
Rambut panjangnya kini ia biarkan tergerai indah, setelah sebelumnya ia ikat karena berhadapan dengan kompor. Jika di lihat-lihat dia memang cantik menurutku, ia lebih cocok jadi model dari pada pekerja kantoran, soalnya postur tubuh nya tinggi, kulitnya juga putih. Aku yakin jika ia terjun ke dunia modeling pasti banyak produser yang berminat.
Prok...
Prok...
Prok...
Tepukan di depan wajah ku, menyadarkan ku dari lamunan. Ah aku terlihat bod*h di depannya sekarang. Bagaimana bisa aku justru ketahuan memperhatikannya.
"Tuan saya memang cantik, tapi jangan di pandangi seperti itu kan saya malu."
Ck!!
"Kenapa kamu di sini? dari tadi saya tanya tapi jawaban mu tak ada yang masuk akal!"
"Ouh iya! Saya menggantikan bude Tina di sini Tuan bos. beliau sedang di rawat di rumah sakit jadi tak bisa bekerja di sini untuk sementara waktu."
"Lalu pekerjaan mu bagaimana?"
"Ah itu, kan tempat ini dengan kantor tuan tak terlalu jauh jadi saya akan bekerja di sini sebelum dan sesudah bekerja. Ya tuan?"
Aku memicingkan mata menatapnya. Jika seperti itu bukankah dia nantinya akan kelelahan? belum lagi harus bolak balik dari tempatnya ke sini. Kalau dia kenapa-kenapa nantinya bagaimana?.
"Kenapa harus kamu?"
"karena hanya saya yang ia percaya. Keponakan nya tak bisa mengambil cuti karena perusahaan tempatnya bekerja sedang mengalami krisis. Jika dia libur bisa-bisa nanti ia kena PHK masal. Jadi bude minta tolong saya."
Aku kembali terdiam melirikkan mata ku ke samping.
"Baiklah-."
"Yey! Terimakasih Tuan bos!" pekiknya girang padahal aku belum selesai bicara.
"saya belum selesai ngomong, INEM!"
"Nama saya Tasya, tuan. Bukan Inem!" Ujarnya cemberut.
"Kamu boleh mengantikan Bi Tina tapi kamu harus tinggal di sini. Karena saya tak mau pekerjaan di kantor terganggu gara-gara kamu yang tak bisa mengatur waktu. Paham!" Tukas ku dan ia segera mengangguk untuk menyetujui nya.
Usai percakapan itu, aku menarik sepiring nasgor yang tak lagi panas karena terlalu lama di diamkan.
Suapan pertama berhasil masuk dengan sempurna ke dalam mulutku. Rasanya lumayan enak hingga tak terasa aku telah menghabiskan semua yang ada di piring.
Aku memang sedang lapar karena semalam tak sempat makan dan ketika pulang aku langsung tidur. Jadi wajar saja jika aku sedikit rakus walaupun masakannya bisa saja.
Karena hari ini adalah hari Minggu jadi aku hanya bekerja dari rumah dan itu pun hanya sebentar.
Selesai dengan sarapan pagi aku kembali ke kamar untuk mandi dan berganti pakaian. Biasanya Rico akan datang kemari untuk membahas beberapa hal yang sempat tertunda di hari Jum'at dan Sabtu.
Setelah berganti pakaian aku masuk ke ruang kerja yang terletak di samping kamar ku. Di sini lah biasanya aku habiskan waktu ku di temani secangkir kopi hitam kesukaan ku. Tapi, ngomong-ngomong tentang kopi, kenapa meja ku masih kosong?. Biasnya ketika aku masuk harum aromanya sudah menguar memenuhi ruangan, tapi sekarang kemana perginya?.
Ah Bi Tina pasti belum memberi tahu gadis aneh itu tentang kebiasaan ku. CK!
"Inem!!" Pekik ku lantang. Namun hening tak ada jawaban sama sekali. Kemana gadis itu?.
"Inem!"
"Inem! NEM! Inem!"
"Astaga gadis ini?! apa dia tuli? atau dia malah tidur?!"
Puas berteriak memanggilnya namun tak ada jawaban dengan terpaksa aku akhirnya mencarinya.
"INEM!!!"
"uhuk...uhuk...uhuk.."
Sentak ku ketika menemukannya tengah duduk santai di sofa ruang tamu sambil meminum minuman kaleng milik ku. Karena sentakan ku barusan membuat ia tersedak. Aku sebenarnya ingin tertawa ,tapi sekarang sedang dalam mode marah jadi ku tahan dulu.
Aku geram bukan kepalang, aku teriak-teriak dari tadi hingga tenggorokan ku rasanya sakit malah dia enak-enak di sini, di kira dia nyonya apa?.
.
.
.
Abidzar POV end
.
.
.
Bersambung...