
Tasya memandangi ponsel yang sudah menggelap dengan pandangan yang memancarkan kekecewaan. Harapan jika Zayn akan jujur, pupus. Tak tahu apa sebabnya Zayn menyembunyikan tentang pertemuan nya dengan wanita itu. Wanita yang jelas-jelas sudah Tasya peringati untuk tak dekat dengannya. Tapi, yang anehnya kenapa Cellin selalu ada di sekitar Zayn. Apa wanita itu sebenarnya sengaja menguntit Zayn?
Kini yang ada dalam benak Tasya hanya kemungkinan-kemungkinan negatif antara keduanya. Jelas-jelas ia melihat ada pancaran tak biasa dari mata Cellin saat memandang Zayn. Tapi, entah Zayn tak tahu atau pura-pura tak tahu Tasya pun tak mengerti. Yang jelas Zayn masih saja menanggapi wanita itu.
Tasya meraih kembali lembar foto yang membuat dadanya sesak. Ia mengamati foto tersebut dengan seksama berharap jika itu adalah editan. Namun, gambar di sana terasa nyata. Jelas ini adalah asli.
"Baiklah akan aku berikan kamu satu kali kesempatan lagi. Jika kamu mempermainkan kepercayaan ku lagi... Jangan salahkan aku jika yang terjadi selanjutnya adalah hal yang tak bisa kamu duga.. Zayn" Gumam Tasya.
Ia menyimpan foto tersebut dalam lacinya. Biarlah masalah ini sampai di sini. Ia tak ingin repot untuk teriak-teriak meminta penjelasan sedangkan Zayn sendiri tak ingin menjelaskan apa-apa. Sesimple itu memang prinsip dalam hubungan Tasya.
Karena sejatinya Tasya adalah tipe wanita yang cuek dan malas berdebat. Lagi pula hanya masalah kecil ia tak ingin memperbesar nya, biarlah masalah yang kecil menjadi tambah mengecil dan kemudian menghilang.
Tasya kemudian beranjak hendak ke toilet untuk membasuh mukanya agar terlihat lebih segar. Ia juga berharap jika kepalanya yang terasa mengepulkan asap itu kembali mendingin bersama guyuran air di wajahnya.
"Dia ngga akan sadar!!" Sebuah suara menghentikan gerakan tangannya yang ingin membuka pintu toilet tersebut. Ia mendengar samar-samar suara seorang perempuan yang sangat ia kenal.
"Ya, tenang saja!" Tasya mulai mendorong perlahan pintu tersebut hingga ia bisa melihat sosok Disty yang sedang memandangi pantulan dirinya sendiri di depan cermin sambil menelfon seseorang. Entah siapa tapi terlihat sangat serius.
"Lo ngga usah ngraguin gue seperti itu!. Gue bisa jamin semua akan sesuai dengan apa yang Lo mau. Dan Lo lah yang pada akhirnya akan menang" Ujar Disty lagi. Ia tak sadar jika saat ini di toilet tersebut tidak hanya dirinya seorang. Tasya sudah melangkah masuk dan berada di depan pintu yang sudah tertutup.
"Hm" Panggilan pun berakhir dan Disty langsung menyimpan ponselnya ke tas yang ia letakan di sampingnya.
Posisi nya yang menunduk membuat Disty tak sadar jika Tasya sudah ada di belakang nya dan saat Disty ingin mencuci tangan, pandangan Tasya dan dirinya bertemu di depan cermin hingga membuat Disty terperanjat nyaris terjatuh karena begitu terkejut.
"Astaga.. Lo ngagetin gue tahu ngga! untung aja jantung gue ngga melompat keluar" Keluh Disty sambil mengelus dadanya yang berdebar tak karuan, kemudian membalikkan badannya menatap nyalang Tasya yang sudah memandangnya dengan tatapan dinginnya.
Disty tak mau kalah, ia memicingkan matanya menatap Tasya dengan sebal, Karena Tasya tiba-tiba ada di belakang nya tanpa suara.
"Kenapa sekaget itu? Lo sembunyiin sesuatu dari gue?" Tanya Tasya datar ia pun menatap manik mata Disty dengan lekat hingga membuat Disty di landa gugup seketika. Wajahnya terlihat pias dan terlihat dahinya yang mulai berkeringat. Semua itu tak lepas dari pandangan Tasya.
"A.. Apa an sih Lo! ngga jelas banget" Ujar Disty dan kembali membalikkan badannya untuk cuci tangan. Tasya tersenyum di balik punggung Disty.
"Jawab! Lo nyembunyiin sesuatu dari gue?" Tanya Tasya lagi. Entah kenapa sejak awal Tasya merasa ada yang aneh dengan temannya ini dan semuanya terlihat jelas saat mereka kembali dari pantai Batu Karas waktu itu. Itulah sebabnya Tasya tak terlalu terbuka dengan Disty hanya berteman sewajarnya saja.
"Denger ya nyonya Zayn Pranata!! Gue ngga ada nyembunyiin apapun dari elo! dan gue ngga ngerti apa yang Lo maksud. Jadi... lebih baik ayo kita ke kantin buat makan siang" gerutu Disty kemudian melangkah keluar dengan menghentak-hentakan kakinya saat melangkah. Kesal karena di tuduh yang tidak-tidak. Padahal dia datang ke lantai itu untuk mengajak Tasya makan siang bersama di luar kantor. Tapi, Tasya malah menyambut nya seperti seseorang yang sedang ketahuan mencuri.
Disty terus melangkah meninggalkan Tasya tanpa melihat kembali ke belakang nya. Tanpa di sadari oleh Tasya, Disty menghela nafas panjang dan mengelus kembali dadanya, seolah merasakan kelegaan.
Begitu juga sebaliknya, tanpa di sadari oleh Disty, Tasya yang berada di belakang punggung menyunggingkan sebuah senyuman. Senyum yang penuh arti.
"Gue mungkin terlihat polos.. Tapi, jangan anggap gue ngga tahu apa yang Lo sembunyiin.. Adisty Nahrendra" Gumam Tasya yang juga sudah berjalan mengikuti langkah kaki Disty yang sudah berjalan jauh di depannya.
****
Di lain tempat, tepatnya di sebuah mobil mewah Abi duduk sambil menatap sebuah I-pad di tangannya dengan serius. Rico sedang konsentrasi menyetir hingga keheningan menyelimuti suasana di dalam mobil tersebut.
"Menurut mu... Seperti apa reaksi yang di berikan kak Zayn saat bertemu dengan mamah nanti, Co?" Tanya Abi tiba-tiba tanpa mengalihkan perhatian nya dari iPad nya.
Tak bisa di pungkiri walau ia senang, tapi ketakutan akan penolakan itu pasti ada. Apalagi memang ini sudah terlalu lama dari saat terakhir sang mamah menitipkan kakaknya di kampung.
Abi yang tahu sedang di ledek oleh asisten nya itu pun mendecakkan lidahnya kesal. Lagi pula ia tak habis pikir dengan kakak tirinya itu. Padahal jelas-jelas wanita banyak di muka bumi ini tapi kenapa dia malah kecantol makhluk aneh seperti Tasya itu. Sampai sekarang Abi memang masih menganggap Tasya itu adalah makhluk yang aneh.
"Ck!! lagi pula apa yang di lihat olehnya dari manusia triplek seperti itu." Gerutu nya kesal. Abi mengalihkan pandangannya ke luar jendela sedangkan Rico terlihat terkekeh mendengar gerutuan bosnya.
Mobil berhenti, karena lampu lalu lintas berwarna merah. Abi masih mengalihkan perhatian nya ke luar jendela. Ia butuh pemandangan yang membuat matanya kembali cerah setelah sedari tadi terus memperhatikan ribuan angka dan juga huruf.
Pandangan Abi teralihkan pada sosok nenek yang kerepotan membawa banyak bawaanya. Nenek itu ingin menyebrang tapi karena kerepotan membawa barang-barang nya, nenek itu terlihat kebingungan.
Posisi mobil Abi ada di samping bahu jalan jadi dengan mudah Abi bisa melihat apa saja yang ada di samping jalan itu sendiri. Ia ingin keluar menolong Nenek itu, tapi rupanya ia kalah cepat dengan seorang gadis yang keluar dari mobil di depannya. Gadis itu membantu sang nenek dengan senyum yang begitu tulus hingga tanpa di sadari nya, Abi pun ikut tersenyum melihat hal itu.
"Gadis yang manis" gumamnya tanpa sadar.
"Saya manis, tuan?" Ujar Rico yang samar-samar mendengar ucapan bosnya itu. Abi tersentak mendengar suara Rico hingga membuat nya salah tingkah.
"Hais.. apa yang baru saja aku ucapakan? Menggelikan sekali memuji seorang gadis yang bahkan baru pertama kali aku melihatnya. Lebih parahnya lagi Rico mendengar nya. Ck!" Gerutu Abi dalam hati.
"Ehkem.. Aku bilang mungkin mamah nanti akan menangis, bukan manis!! kuping mu tak pernah di bersihkan ya!!" Ketus Abi mencoba menutupi rasa canggungnya. Sedangkan Rico, pria tak ambil pusing dengan ucapan bosnya itu. Sudah biasa bagi nya mendengar ucapan yang lebih pedas dari itu.
Tak lama kemudian, mobil kembali melaju karena lampu sudah berubah menjadi hijau. Begitu juga gadis yang tadi sempat di perhatian oleh Abi sudah menjalankan kembali mobilnya.
.
.
.
.
.
Bersambung...
...----------------...
😭 Abi please jangan pernah berpaling.. Dia ngga ada apa-apa nya di banding Nucha tau.. Kalo dia cuma bantu ngangkat belanjaan tuh nenek-nenek, Nucha bahkan bisa sekalian Gendong tuh nenek.
😝 ngga mau!! Nucha udah kadaluarsa waktunya di ganti!!
😡 Pengen ku sleding rasanya.
Holla hello Readers tercintah ❤️❤️❤️ jangan lupa lemparin Nucha jempol bunga sama kopinya ya..
Terimakasih yang udah mampir 🤗🤗 Lophe you phlen..
Happy reading all ❤️❤️❤️❤️