I Love You, My Secretary

I Love You, My Secretary
Bab 20



Di sebuah apartemen seorang lelaki sedang terlihat gusar. Ia berjalan mondar mandir di depan pintu menunggu "Inem" nya yang entah pergi kemana. Terhitung sudah lebih dari dua jam art penggantinya itu pergi.


Abi mengotak atik ponselnya untuk kesekian kali namun hasilnya nihil. Nomor yang ia hubungi lagi-lagi hanya suara oprator yang menjawab.


"Ck! kemana sih?" Gumamnya berusaha tenang. Tapi, sesaat kemudian ia menggigiti kuku telunjuknya menandakan jika ia sangat resah. Hal yang tidak pernah lagi Abi lakukan tapi, sekarang hanya karena gadis yang tidak tahu dari mana datangnya membuatnya merasakan kecemasan.


Bukan, bukan karena ada apa-apanya tapi, ia merasa jika terjadi sesuatu pada Inemnya itu semua karena ia yang sudah memintanya pergi ke pasar. Setidaknya seperti itulah yang di tanamkan Abi dalam fikirkannya.


"Awas aja Lo ya, dasar Inem" Geram Abi sembari menyugar rambutnya frustasi.


Sementara itu gadis yang di cemaskan Abi justru sedang berdebat dengan atasannya di kantor, Zayn.


"Ke sini aja" ketus Zayn masih fokus menyetir mobil, di sampingnya Tasya sedang memandang Zayn dengan tatapan jengahnya.


"Ngga ke jalan mekar sari pokoknya titik ngga pake tanda tanya" sahut Tasya tak kalah ketus.


Sedari tadi Tasya dan Zayn sedang berdebat tentang kemana mereka akan membawa Lucky. Zayn ingin segera membawa anak malang itu ke klinik terdekat agar cepat mendapatkan penanganan tapi Tasya menolak karena ingin membawa Lucky ke klinik sepupunya dengan maksud supaya tak keluar uang.


Jika boleh jujur Tasya saat ini tidak membawa banyak uang karena itu dia kekeh ingin membawa Lucky ke tempat sepupunya.


"Sepasi Ngga menerima protes tanda seru" Sahut Zayn tak mau kalah.


Seketika wajah Tasya menjadi cemberut akut, ia memicingkan matanya ke arah Zayn merasa laki-laki di sampingnya ini sangat keras kepala. Ia tidak tahu saja ia justru lebih keras kepala.


"Ck!! gue kan maksudnya mau minta uang jajan. Ngga asik banget sih ni kulkas rusak" gerutu Tasya tanpa mengeluarkan suara.


"Pokoknya ke mekar sari, atau gue turun di sini!!" Ancaman Tasya ternyata berhasil membuat Zayn bungkam. Akhirnya ia pun mengalah yah mau bagaimana lagi perempuan di sampingnya ini tidak kenal kata kalah.


"Maaf Kakak cantik dan Abang ganteng, Lucky sudah sangat pucat. Bisa kita lebih cepat?" Tanya Zaki setelah menunggu cukup lama perdebatan orang dewasa itu. Sedari tadi Zaki ingin menyela tapi ia merasa tidak enak hati karena memotong ucapan orang dewasa.


"Ah Zayn ayo buruan!!!. Ngebut kek. Bawa mobil kaya bawa sepeda lelet banget sih!!!" Gerutu Tasya tak lagi menggunakan bahasa formal. Mendengar seorang gadis yang mengomentari cara dia mengemudi membuat mata Zayn melotot dengan sempurna untuk menjawab komentar pedas itu.


"Untung gue cinta" Batinnya.


"Zayn!!! buruan!!!" Pekiknya lagi.


"Ck!!! yang nyuruh gue bawa ke klinik yang ada di Pluto siapa? kan gue bilang yang Deket aja" Gerutu Zayn masih menahan gemas.


Beberapa menit kemudian rombongan mereka sudah memasuki halaman klinik yang tidak terlalu besar namun cukup ramai pasien.


Mereka di arahkan ke UGD oleh seorang suster yang menjaga. Semua orang berada di depan ruangan yang serba putih itu menunggu Lucky yang tengah di tangani oleh dokter.


Terlihat tiga anak jalanan itu menangis dan saling berpelukan seolah sedang memberikan kekuatan. Mereka ikut terluka melihat keadaan Lucky yang terluka parah seperti itu.


Tasya yang menyadari kecemasan anak-anak itu mencoba menyapa.


"Kalian adik kaka?" tanyanya.


Seorang anak yang rambutnya tampak keriting mengembang mengangkat kepalanya. Mata dan hidung yang memerah membuat perasaan Tasya mengiba.


"Apa Lucky akan baik-baik saja, kak?" tanya anak tersebut terdengar parau karena berusaha keras menahan tangisnya.


Dua anak lainya ikut mengangkat kepalanya, ingin mendengar jawaban dari Tasya.


"Tentu saja. Lucky itu adalah anak yang kuat, benarkan?" ujar Tasya sembari mengelus kepala anak yang berambut keriting itu dengan sayang.


Mendengar ucapan Tasya , ketiga anak tersebut mengangguk. Mereka bertiga kemudian berdoa di dalam hatinya masing-masing untuk kesembuhan saudaranya.


"Kalian tinggal di mana?" Tanya Tasya lagi.


"Kami tinggal di dalam gerbong kereta yang tidak lagi terpakai tak jauh dari tempat tadi kak." Zaki mulai menjelaskan.


"Kami tadinya adalah anak panti asuhan. Tapi, dua tahun yang lalu panti asuhan kami tergusur. Kami tinggal bersama ibu dan Bunda panti di jalanan. Tapi, ketika kami sedang mencari botol-botol plastik, kami tidak menyadari ternyata kami sudah jalan terlalu jauh dan kami tersesat. Sejak saat itu kami hidup di jalanan" Tutur Zaki membuat Tasya termenung.


Ia menyadari betapa Tuhan sangat baik padanya. Ia di kelilingi dengan orang-orang yang menyayangi nya. Makanan, pakaian, dan pendidikan ia dapatkan dengan mudah. Tapi, lihatlah anak-anak malang ini. Untuk sekedar makan nasi saja mereka harus mempertaruhkan nyawa mereka di jalan yang penuh dengan kendaran. Seberapa beruntung nya Tasya ia justru terus terusan mengeluh.


Zayn menyadari raut sendu dari wajah Tasya, ia menepuk pundak gadis itu membuat Tasya mendongakan wajahnya melihat Zayn yang berdiri di sampingnya sejak tadi. Tapi sungguh Tasya sama sekali tidak menyadari kehadiran laki-laki itu.


"Ck! bapak tub bisa bicara lebih santai dikit ngga sih?" Ujar Tasya cemberut.


"Bapak... Bapak... sejak kapan gue nikah sama ibu Lo!" ujar Zayn merasa tidak terima Tasya terus saja memanggilnya dengan sebutan 'bapak' padahal mereka kan sedang tidak berada di kantor.


"Ngga pernah sih, saya juga ngga mau punya bapak tiri yang dinginnya kaya bapak. Bisa masuk angin nanti saya" ujar Tasya menyampaikan penolakan nya berhasil membuat Zayn terdiam.


"apa gue sedingin itu?" gumamnya dalam hati.


Padahal Zayn pikir sejak kejadian di restoran waktu itu, hubungannya dengan Tasya bisa semakin baik. Ia bahkan sudah merencanakan akan mengungkapkan perasaannya nanti malam. Tapi, melihat ternyata Tasya yang masih saja ketus padanya bahkan sama sekali tidak tertarik dengannya membuat Zayn ragu untuk menjalankan rencananya itu.


"Ah ya ampun!!!" Pekik Tasya membuyarkan lamunan Zayn pun ketiga anak-anak manis itu yang sedang tertunduk lesu menanti pintu ruangan yang masih tertutup itu di buka.


"Admistrasi nya belum di urus!" ujarnya pelan karena mendapat tatapan maut dari pria dingin di samping nya.


Tasya hendak berdiri dari duduknya, belum sempat ia melangkah dari parkiran ia melihat sosok lelaki yang menyebalkan di matanya tapi, kehadiran nya di sini sangat di butuhkan seketika senyum di bibir Tasya mengembang sempurna kala melihat sepupunya baru saja kembali entah dari mana.


Tanpa Tasya sadari seorang pria di sampingnya menatap tajam ke arahnya merasa tidak terima senyuman yang teramat manis itu di tujukan pada orang lain. Entah siapa ia belum tahu.


Langkah kaki Tasya kembali tertahan kala pintu ruangan itu terbuka menampakkan seorang pria paruh baya memakai jas putih dan kacamata yang senantiasa bertengger di pangkal hidungnya keluar dari ruangan tersebut. Membuat perhatian Tasya, Zayn dan ketiga anak jalanan itu tertuju pada dokter tersebut.


Dokter mengatakan jika Lucky baik baik saja. Ia hanya membutuhkan donor darah karena ia kehilangan banyak sekali darah. Beruntungnya di klinik tersebut stok darah yang di butuhkan Lucky tersedia banyak jadi penanganan pun bisa di lakukan secepatnya. Lucky saat ini sedang tidak sadarkan diri karena pengaruh bius yang di suntikan dokter padanya.


Semua orang menghembuskan nafas lega mendengar penjelasan dokter tersebut.


Kini mereka sedang berada di ruang UGD. Dokter bilang lukanya tidak terlalu parah jadi Lucky bisa langsung di bawa pulang namun setelah kantung infusnya habis karena itu Lucky tidak di pindahkan ke ruang rawat.


"Saya keluar sebentar, pak. Tolong jaga anak-anak ya?" pinta Tasya.


Biaya administrasi sudah sepenuhnya Zayn tanggung, sesaat setelah dokter berlalu dari hadapan mereka.


"Mau kemana?" tanya Zayn, merasa tidak mau mereka berjauhan.


"Saya mau bertemu seseorang"


"Gue ikut.... Dan satu lagi... Jika di luar kantor panggil gue Zayn"


"Hm ya baiklah"


Setelah itu mereka berjalan bersisian ke arah meja resepsionis untuk mencari tahu dimana raungan Rizky praktek.


"Dokter Rizky saat ini masih di jam istirahat, nyonya" ujar suster yang berjaga di meja resepsionis itu.


"Kalau begitu dimana biasanya dia beristirahat? saya ada urusan pribadi dengannya"


Mendengar nama Rizky membuat Zayn menautkan alisnya. Merasa tidak asing dengan nama itu, tapi ia mencoba menyangkal. Mungkin kebetulan, batinnya.


"Terimakasih, sus" ujar Tasya ramah.


Awalnya sang suster ragu untuk memberi informasi keberadaan Rizky, namun Tasya tak kenal lelah untuk meyakinkannya hingga suster itu akhirnya mau mengatakan ruangan Rizky.


Tidak terlalu sulit menemukan ruangannya, karena klinik tersebut memang tidak terlalu besar. Tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu Tasya mendorong pintu tersebut dengan tergesa-gesa hingga membuat Rizky yang sedang meminum air setelah makan pun tersedak.


Uhuk .. Uhuk...


"Hai!!! Sepupu"


.


.


.


Bersambung....