I Love You, My Secretary

I Love You, My Secretary
Bab 94



Hari demi hari berganti begitu cepat, tak terasa kini akhir pekan sudah ada di depan mata. Tasya sore ini sedang membereskan berkas-berkas yang berserakan di mejanya. Tak terasa sudah tiga minggu lamanya waktu yang terbuang dari empat minggu yang di berikan oleh keluarganya untuk Zayn.


Kekhawatiran mulai nampak di wajah Tasya, bagaimana jika Zayn tak bisa memenuhi syarat itu? Namun, Zayn tampaknya tak terlalu khawatir karena ia sama sekali tak terlihat gusar.


Tiingg..


Saat sedang sibuk membereskan berkas yang akan di serahkan pada Zayn, ponselnya berbunyi menandakan ada satu pesan masuk. Tasya pun membukanya.


"Waktu kalian tinggal tujuh hari. Apa kalian akan menyerah? Nenek akan sangat senang mendengarnya." Tulisan di pesan tersebut membuat Tasya menghela nafasnya kasar. Pesan yang tak lain dari neneknya itu memang sudah seperti alarm untuknya. Hampir tiap hari ia menerima pesan serupa. Neneknya begitu percaya diri jika Zayn memang akan gagal.


"Bagaimana jika syaratnya di ganti saja, Nek? Cukup ibu kandungnya saja yang datang bersama ayah tirinya. Boleh ya?" Akhirnya setelah beberapa kali pesan sang nenek di abaikan kini Tasya mencoba melakukan negosiasi, dan tentu saja pesan tersebut langsung berubah menjadi sebuah panggilan.


"Kenapa? Apa kamu baru saja mengaku kalah?" Terdengar suara sang nenek dari sebrang telpon seperti tengah meledek Tasya.


"Bukan begitu, kalau sudah ada salah satunya kenapa harus mencari semuanya? Padahal kita semua tahu kalau mereka tak lagi bersama. Jadi Tasya rasa itu hanya lah sia-sia."


"Tidak bisa! Apa kamu tahu? Menurut tetua di keluarga kita.. Menikahkan keturunan kami dengan seseorang yang terlahir dari orang tua yang berpisah atau hanya tinggal salah satunya saja sudah sangat di tentang apa lagi yang tak jelas asal usulnya seperti dia! Ikuti apa yang sudah menjadi kesepakatan kita di awal atau tidak sama sekali!" Tegas sang nenek membuat Tasya frustasi.


Rasanya Tasya ingin sekali kabur dan memulai lembaran baru tanpa sang nenek yang mata duitan itu. Tapi, Tasya tak bisa melakukannya karena sang mama masih bersama mereka.


Andai saja keluarganya tak terlalu bergantung dengan nenek Anita waktu dulu mungkin tak akan seperti ini. Ayahnya sebagai kepala keluarga justru sama sekali tak bisa tegas, dari sejak kecil ayahnya adalah sosok yang penurut. Tak pernah sekali pun ayah Tasya mengecewakan nenek Anita. Berbeda dengan sang paman yang tak lain adalah ayah dari Rizky yang bisa dengan berani mementang nenek Anita hingga ia bisa berdiri sendiri tanpa uluran tangan nenek Anita.


"Satu lagi, jika minggu depan kalian gagal.. Maka hari itu juga Daniel akan menjemputmu!"


"Tapi, nek.."


"Tidak ada tapi-tapian. Perjanjian tetaplah perjanjian, suka tidak suka kamu tak bisa menolak lagi!"


Tut


Panggilan pun terputus menyisakan kekesalan yang tak bisa Tasya keluarkan. Neneknya itu jika sudah punya keinginan pasti apa pun akan di lakukannya dan kini Tasya lah yang jadi korban dari obsesinya menjadi orang terkaya di desanya.


"Kenapa kamu terlihat kesal, yank? Siapa yang tadi menelfonmu?" Entah sejak kapan Zayn sudah ada di ruangan Tasya dan suaranya yang tiba-tiba muncul itu membuat Tasya tersentak dan mendengus kesal.


"Kamu itu kebiasaan! Masuk ke ruangan orang lain tidak pernah ketuk pintu dulu!" Gerutu Tasya dan Zayn hanya terkekeh melihat wajah terkejut Tasya.


"Orang lain apa sih, yank? Aku kan pacar kamu, calon suami kamu," sahut Zayn enteng. "Lagi pula kamu sibuk sekali dengan ponsel mu jadi tak menyadari kehadiran kekasihmu yang tampan ini." Lanjutnya lagi membuat Tasya memutar bola matanya malas mendengar kenarsisan Zayn.


"Ya terserahlah! Aku mau pulang!" Ketusnya kemudian melenggang keluar dari ruangan meninggalkan Zayn sendiri.


"Punya pacar satu ngga ada romantis-romantisnya blabar pisan!" keluhnya kemudian menyusul Tasya yang hampir mencapai lift. "Apa sebaiknya aku punya dua kekasih ya? Jadi kalo yang satu ngga mau romantis masih ada yang lainnya. Kalo yang satu lagi marah bisa lari ke yang lainnya. Wah asik juga kayanya." Gumam Zayn lagi dengan entengnya, tak sadar di depan sana Tasya sudah siap hendak menerkamnya mendengar ucapan Zayn tadi. Karena Tasya berada dua langkah di depan Zayn jadi ia masih bisa mendengar apa yang Zayn katakan.


"Oh mau punya pacar lagi!" Sahut Tasya menghentikan langkahnya dan berbalik badan menatap Zayn dengan horor sedangkan Zayn yang melihat itu menelan salivanya dengan susah payah. Sepertinya dia telah membangunkan singa yang sedang terlelap.


"Ehehehe.. Kita pulang yuk, yank!" ujar Zayn sambil cengengesan dan memalingkan wajahnya saat melewati Tasya.


"Awas aja kalau berani macam-macam!" Ketus Tasya lagi


Tasya yang masih terpikirkan nasib hubungan mereka minggu depan pun menjadi lebih pendiam selama dalam perjalanan dan hal itu menarik perhatian Zayn. Bukannya Zayn tak tahu, dia jelas mendengar apa yang Tasya katakan di telpon tadi, namun Zayn mencoba untuk membuat Tasya tak terbebani dengan apa yang sedang Zayn perjuangkan. Cukup Tasya terima hasilnya, apapun itu.


"Yank, besok malam apa kamu ada waktu? Kita piknik yuk, di tepi danau," ajak Zayn.


"Gimana kalo sore aja? Aku takut sering maen di danau malem-malem nanti penunggu di sana naksir aku lagi." Ucap Tasya dan tentu saja langsung Zayn setujui. "Atta.. Tentang ayahmu, apa kau sudah menemukannya?" akhirnya pertanyaan yang sedari tadi Tasya tahan terlontar juga.


"Sudah, kamu tenang saja. Sekarang aku bukan lagi yang dulu. Sekarang aku sudah bisa menyewa orang untuk mencari keberadaannya, aku juga dapat bala bantuan dari Ayah tiriku dan juga dari Abi. Kamu tenang saja, aku janji sebelum minggu ini kami akan datang ke rumahmu. Jadi jangan khawatir ya." Jelasnya panjang lebar tak lupa ia juga mengelus lembut pipi Tasya tanpa mengurangi kosentrasi dalam menyetirnya.


"Apa kau yakin, Ta?" Tentu saja Tasya masih ragu.


"Ya tentu saja! Tak perlu risau, oke?"


Tak terasa mereka sudah tiba di kostan Tasya dan mereka pun berpisah.


***


Di tempat lain, Reyvan Nakula Febrianto atau yang biasa orang-orang sapa Ray, alias Nakula baru saja selesai melakuakan klarifikasi via akun medsosnya terkait menghilangnya Nakula dari dunia hiburan selama satu tahun.


Berprofesi sebagai aktris tentu saja Nakula harus membangun kembali nama baiknya. Karena selama menghilang rupanya banyak berita tak enak yang berseliweran tentang dirinya.


Sebenarnya Nakula sudah tak ingin lagi terjun ke dunia Enertaiment karena apapun tentang kita akan menjadi konsumsi public dan itu tak Nakula sukai.


"Aku sudah melakukan apa yang kalian mau! Jadi sesuai dengan kesepakatan minggu depan, kalian harus menikahkan aku dengan wanita pilihanku." Ucap Nakula tegas saat dirinya sudah duduk di sofa yang ada dalam ruangan Rizla, kakak kandungnya.


"Tentu saja! Apapun untukmu, Rey. Maafkan kakak yang mungkin selama ini sudah memaksa mu sampai akhirnya kamu memilih kabur dan meninggalkan kakak sendirian." Sahut Rizla menyesal. Karena ambisinya untuk mengalahkan saingan bisnisnya, Rizla memanfaatkan adiknya sendiri mendekati banyak produser guna melambungkan karirnya yang mana hal itu tentu saja membuat nama managemen yang di pimpin Rizla makin di kenal.


"Aku akan memaafkan mu jika aku dan Disty sudah menjadi sepasang suami istri." Ucap Nakula tak terbantahkan.


.


.


.


.


.


Bersambung...


...----------------...


🤗 akhirnya bisa up juga.. ada yang kangen ngga nih sama si Tasya?