I Love You, My Secretary

I Love You, My Secretary
Bab 49



Susana pagi di Herold Grup masih sepi, hanya ada office boy yang berlalu lalang membersihkan tiap lantai di gedung ini. Rupanya Zayn memang datang terlalu pagi. Ia terlalu merindukan pujaan hati nya, sehari tidak bertemu dengan Tasya membuatnya gelisah.


Zayn melangkah menuju ruangannya dan membuka laptopnya ia membuka email yang masuk, dan satu email dari akun yang sangat Zayn kenal muncul di bagian atas. Segera ia buka email tersebut sambil tersenyum manis tapi seketika senyumnya luntur kala Tasya meminta izin untuk datang siang. Sia-sia sudah ia datang pagi!.


"Apa masalahnya serumit itu, lama sekali!" Gumanya. Pada dasarnya Zayn adalah sosok pekerja keras dan akan tenggelam dalam dunianya tanpa melihat ke sekeliling. Namun, satu bulan ini perhatian nya terpusat hanya pada satu orang, Anastasya Putri.


Begitu ia mendapat kan kabar dari pujaan hatinya bahwa ia akan datang siang nanti, Zayn langsung menyibukkan dirinya dengan segudang pekerjaan yang sudah menanti. Takut akan berlarut dalam kegundahan, Zayn memutuskan mengalihkan perhatiannya pada pekerjaan.


.


.


.


Di ruangan lainnya, dua orang sedang berada di dalam mode serius membahas sesuatu. Abi mendengar kan dengan serius apa saja yang di sampaikan oleh asisten nya itu.


"Jadi, dia juga ke sana? Apa kamu tahu seperti apa wajahnya? Kau tahu siapa nama lengkapnya?" Tanya Abi beruntun, seolah tak sabar menunggu hasil yang selama ini ia cari. Sayangnya, gelengan kepala dari Rico membuatnya lemas seketika. Dia yang mengira pencariannya sudah menemukan titik terang justru harus kembali di tampar oleh kenyataan, bahwa jalan yang ia tempuh masih sangat panjang.


"Orang-orang di sana... apa tidak ada yang tahu, Atau menunjukkan gambarnya?" Seolah tak puas Abi terus mendesak Rico agar memberinya lebih banyak informasi.


"Dia tidak menyapa orang di sana, tuan. Jadi tidak ada yang menyadari kedatangannya." Tukas Rico mengakhiri informasi nya.


Akhirnya Abi hanya bisa terdiam, mau memaksa pun tak mungkin. Setidaknya ia tahu bahwa kakaknya masih hidup dan tumbuh dengan baik. Setelah memberikan laporan, Rico pun berpamitan untuk kembali ke ruangannya.


Abi menyandarkan kepalanya di sofa memandang ke langit-langit ruangannya. Pikirannya melayang kepada ibunya yang pasti saat ini tengah sedih. Sudah lebih dari sepuluh tahun terakhir ini, ibunya selalu mengis kala malam. Sudah berbagai cara Abi dan sang Papa membujuk ibunya, tapi tetap saja kehilangan anak adalah hal yang paling menyakitkan. Apalagi kesan ibunya yang sudah jahat meninggalkan anaknya sendiri dan tidak pernah kembali, padahal di balik itu ada sebuah cerita yang cukup rumit.


"Bi" Sapa sebuah suara bariton yang amat Abi kenal. Seketika Abi yang sedang menutup matanya pun tersentak dan segera membenahi duduknya.


"Pah.. Papah di sini?" Ujarnya sambil beranjak untuk mencium tangan sang papah.


"Iya, papah sudah menunggu mu di luar lebih dari satu jam. Ternyata kamu malah melamun di sini" Abi hanya menggaruk tengkuknya yang tidak gatal itu, merasa salah tingkah.


"Duduk dulu, pah"


"Papah kira kamu sengaja membuat orang tua ini seperti patung."


"Ya ampun, pah! ini kan kantor papah, ya kali nunggu di persilahkan dulu"


"Kenapa kamu malah melamun di jam kerja. Jangan bilang kamu sedang memikirkan perempuan itu" Pertanyaan papah Abi, membuat Abi mengernyit heran. Perempuan mana yang papahnya ini maksud, sedang kan dia saja jomblo abadi dan belum pernah dekat dengan perempuan mana pun. Maksudnya dekat dalam artian duduk berdua dan membahas masalah pribadi.


"Maksud papah, perempuan yang mana?"


"Mamah mu bilang, kamu menyimpan seorang perempuan di apartemen mu? Benar begitu? Siapa dia? Apa dia kekasih mu? Sejak kapan kalian berhubungan, dan sudah sejauh mana?" pertanyaan beruntun dari Papah Abi sukses membuat mulut Abi mengangga lebar. Jadi dia yang di maksud. Astaga yang benar saja!


"Pah, dia itu hanya ART penganti. Sekarang dia juga sudah tidak bekerja di apartemen kok!"


"Jangan bohong kamu! Papah ngga pernah ngajarin kamu untuk merusak anak gadis loh, Bi. Kalau suka segera lamar jangan malah di bawa ke kamar!"


"Ya ampun, pah! Abi bersumpah, Abi sama dia itu ngga ada apa-apa. Dia karyawan Abi, dia juga udah punya tunangan kok!"


"Kamu serius?"


"Papah lebih percaya omongan orang?" Ujar Abi cemberut.


"Hei,!! orang lain itu ibumu!" Sarkas papah Abi merasa tersinggung dengan ucapan putranya sedangkan Abi tampak acuh, dia sudah kesal karena di tuduh yang tidak-tidak yang lebih parahnya ia malah di tuduh punya hubungan dengan Tasya, gadis yang berada di urutan pertama dalam list bukan calon istrinya. Membayangkannya saja sudah membuat nya begidig ngeri. Ternyata gerak gerik Abi tak luput dari pandangan papahnya.


"Kenapa kamu, sawan?"


"Ngga apa-apa.. Oh iya, Papah ada apa. Tumben nemuin Abi di sini?" Dari pada membahas tentang Tasya lebih baik ia mengalihkan pembahasan mereka. Karena jarang sekali Papahnya ini menemui Abi di kantor dan jam kerja pula. Biasanya Papahnya itu lebih suka menemuinya di apartemen atau akan memintanya untuk ke mansion utama.


"Jawab dengan jujur... Kamu masih mencari dia? Apa yang sudah kamu dapatkan?" Abi kembali menghela nafasnya pelan kala mengingat hasil pencariannya yang masih abu-abu.


"Tidak ada, yang jelas dia masih hidup" Ujarnya terdengar lemas. Papah Abi hanya tersenyum karena sudah tahu hasilnya, dia pun sama sudah mencari anak pertama mereka. Sayangnya, hingga kini selalu saja hasilnya nihil.


"Apa papah tidak tahu nama lengkap anak itu? Yang benar saja hanya mencari dengan nama panggilan"


"Ada, Mamah mu memberinya nama...


.


.


.


"Zayn Pranata? Zayn? Apa mungkin?"


.


.


.


.


Lain halnya dengan Abi, Zayn justru tengah sibuk-sibuknya mengerjakan beberapa dokumen yang berserakan di meja kerjanya. Ia bahkan sampai lupa waktu. Beginilah sosok Zayn sebelum bertemu dengan sosok Tasya.


Pukul Sebelas siang pintu ruangan Zayn di buka seseorang denagan perlahan, hanya sedikit yang penting cukup untuk mengintip. Seorang gadis tampak tersenyum manis kala melihat raut serius dari Zayn, ia membuka pintu itu dengan perlahan dan sangat pelan. Bahkan tidak ada bunyi sama sekali supaya orang yang ada di dalam sana tidak mengetahui keberadaan nya. Ia ingin mengejutkan Zayn, namun usahanya itu sia-sia sebab baru satu langkah Tasya memasuki ruangan, Zayn sudah lebih dulu mengalihkan pandangannya pada sosok gadis yang sudah menekuk wajahnya karena rencana yang sudah tersusun di kepalanya malah gagal.


"Kenapa kamu malah nengok sih!" Ucap Tasya kesal.


"Kenapa memangnya?" Kini Zayn hanya menatap Tasya seorang tidak lagi ada yang menarik saat pujaan hatinya sudah berada di depan matanya. Zayn memangku dagunya dengan kedua tangan yang saling bertautan dengan sikunya yang bertumpu pada meja. Sumpah demi apa pun, melihat kulkas rusaknya berpose seperti itu membuat Tasya terpana.


"Tiba-tiba, jantungku rasanya berdebar tak karuan. Aku tak tahu kenapa yang jelas perasaan ini datangnya dari balik pintu itu. Ternyata itu kamu. Sepertinya perasaan ku sudah terpaut dengan mu! Aku jadi tidak bisa melirik yang lainnya" Ucapan Zayn berhasil membuat pipi Tasya merona. Kenapa Zayn sang kulkas rusak bisa semanis ini?


"Wow!! Sehari ngga ketemu, kok kamu jadi tampan sih? Jangan-jangan aku salah masuk ruangan?" Ujarnya pura-pura bingung hingga membuat Zayn kesal.


"Jadi maksudmu selama ini aku tidak taman begitu?" Ujarnya berang dan melangkah mendekati Tasya. Jangan lupakan tatapannya yang tajam mengalahkan tajam nya silet.


"Ah.. Ehehe.. Aku hanya bercanda!" Melihat Zayn mendekat, mengingatakannya pada saat Zayn merengkuh pinggangnya. Untuk berjaga-jaga agar hal itu tidak terjadi lagi secepat kilat Tasya harus mengalihkan perhatian Zayn yang semakin mendekat. Untungnya ia sudah mengantisipasi hal seperti ini akan terjadi.


"Lihat!!! Aku membawakanmu makan siang! Ayo kita makan dulu. Aku yang memasaknya sendiri loh" Tanpa di perintahkan Tasya langsung membuka kotak bekal yang sengaja ia bawa di meja yang ada di ruangan Zayn. Melihat hal itu tentu saja Zayn langsung ikut duduk di samping Tasya. Ini pertama kalinya ia akan memakan makanan yang Tasya buat tentu saja ia sangat antusias.


"Kamu memasaknya nya sendiri? Di mana?" Seingat Zayn kosan Tasya tidak mempunyai kompor kalau pun ada itu di lantai satu dan dua. Di lantai tempat kamar Tasya berada tak ada kompor.


"Ini aku masak sendiri di kosan Iki. Semalam aku tidur di kosannya-"


Uhuk..


"Kamu.. kamu tidur di kosan pria?" Zayn yang baru saja memasukkan sesendok nasi dan lauk yang di bawakan Tasya ke dalam mulutnya, terkejut mendengar pengakuan Tasya hingga tersedak. Tiba-tiba dadanya memanas. Ia yang merasa memiliki hak atas gadis itu walau tidak sepenuhnya merasa cemburu meskipun ia tahu jika hal itu memang biasa antara keduanya. Tapi, tetap saja Zayn merasa kesal.


"Kenapa? Semalam aku sampai jam empat pagi dan kosan Iki lebih dekat dari pada kosan ku jadi aku sekalian istirahat di sana saja"


"Tapi, dia kan laki-laki dewasa, Sayang! Ya ampun!" Ujar Zayn gusar. Tasya memutar bola matanya merasa jengah dengan kelakuan Zayn. Cemburu yang tak mendasar!


"Dia sepupuku!!"


"Aku tahu.. Tapi.. Ah sudahlah. Jadi, bagaimana masalah mu dengan Kuda Nil itu?"


"Namanya Daniel, Sayangku!" Tahu Zayn yang sedang merajuk Tasya pun mengeluarkan kata-kata manis nya hingga membuat Zayn menjadi salah tingkah.


"Terserah!"


"Ekhem.. Sebenarnya..."


.


.


.


.


.


Bersambung....


...----------------...


Holla hello Readers tercintah ❤️❤️❤️❤️ Jangan lupa lemparkan jempol dan kembangnya, yah.. Berhamburan pun ngga apa-apa. Ranucha ikhlas kok.. Beneran deh!! Atau siram kopi juga boleh..


Happy reading ❤️❤️