
Sementara itu di perusahaan, Cellin sedang tertawa bahagia setelah mendapatkan kabar jika sahabatnya Daniel tidak jadi menikah dengan Tasya. Cellin bukan bahagia karena kembalinya Tasya pada Zayn, tapi ia sedang menertawakan Daniel karena nasibnya pun tak jauh berbeda dengan dirinya. Dan kini Daniel merasakan apa yang Cellin rasakan bahkan yang dirasakan Daniel lebih memalukan daripada hanya gagal tidur bersama.
"Hahaha... aduh perut gue sakit! Lo lucu banget sih, Niel? jadi lo gagal dapet apem dong? mending lo main sama donat aja lah, nggak usah aneh-aneh. hahaha," ucap Cellin menertawakan nasib sahabatnya.
Saat ini mereka sedang bertelepon ria karena Cellin ingin memastikan kebenaran kabar yang dia dengar pagi ini langsung pada Daniel.
"Berhenti menertawakan gue!" sahut Daniel tidak terima. "Daripada lo tertawa seperti itu tak ada manfaatnya, lebih baik bantu gue buat balas dendam sama mereka. Berani-beraninya mempermainkan seorang Daniel Wirasena Abraham. Mereka pikir, mereka siapa?" lanjut Daniel membuat tawa Cellin berhenti.
Cellin kembali dalam mode seriusnya karena ia pun ingin membalas dendam pada Tasya yang menurutnya selama ini Tasya menjadi pengganggu hubungannya dengan Zayn. Meskipun sekarang Cellin tidak lagi tertarik dengan Zayn tapi ia ingin memberikan pelajaran kepada dua sejoli itu.
"Emang lo udah punya rencana?"
Di seberang telpon Daniel menyeringai penuh arti.
"Tentu saja! kita bertemu di hotel besok!"
Sejenak Cellin terdiam, bertemu di hotel pasti bukan hanya sekedar bertemu apalagi berbicara serius. Diantara keduanya pasti akan ada sesuatu hal yang terjadi lebih. Tapi apa masalahnya? Toh mereka sudah pernah melakukannya, bukan?
"Baiklah,"
"Good girl. Akan aku kirimkan nomor dan nama hotelnya padamu." Ujar Daniel sebelum mengakhiri panggilan tersebut.
Keesokan harinya Cellin berjalan dengan anggun menuju sebuah kamar hotel yang berada di lantai paling atas gedung tersebut. Lantai yang hanya berisi beberapa kamar, diisi oleh kamar VVIP dengan fasilitas yang tak perlu di ragukan.
Dalam kamar tersebut berisi perabotan yang semuanya berkualitas terbaik dan desain yang mewah pastinya.
Cellin berdiri di depan salah satu pintu kamar yang ada di lantai tersebut dan mencocokan nomor kamar tersebut dengan yang ada di ponselnya. Setelah yakin, ia pun menekan bel yang ada di samping pintu. Tak lama kemudian seorang pria gagah membukakan pintu untuk Cellin.
Dan ya, pria tersebut adalah Daniel, mereka membuat janji di salah satu hotel milik keluarga pria itu dan kamar yang di datangi oleh Cellin adalah kamar pribadi milik Daniel di hotel tersebut. Maka tak heran jika fasilitas di kamar itu pun lebih istimewa dari kamar yang lainnya.
Namun seberapapun mewahnya kamar tersebut sama sekali tak menarik di mata Cellin.
"Nyampe juga lo," ujar Daniel sambil memberikan Cellin softdrink.
Cellin menerima minuman yang di sodorkan oleh Daniel tersebut dengan senang hati karena ia sendiri memang sedang haus. "Thank's," ucap Cellin sebelum meminumnya.
"Jadi, apa rencana lo sekarang?" Tanya Cellin yang sudah tidak sabar setelah menghabiskan setengah minumannya.
"Santai, Cel. Kita bisa bicarakan masalah ini setelah..." Daniel menggantungkan kalimatnya dan malah memindai penampilan Cellin dari ujung rambut sampai ujung kaki sambil tersenyum penuh arti. Cellin bukannya risih, justru ikut tersenyum karena mengerti dari arti tatapan sahabatnya.
Tanpa canggung atau malu, Cellin pun mendekati Daniel yang duduk di depannya. Ia balas menatap Daniel dengan tatapan yang sayu, karena dia pun meraskan perasaan yang sama. Tubuh dan wajah Daniel memang sangat menarik bagi wanita-wanita seperti Cellin maka dengan senang hati ia pun bersedia menjadi teman main Daniel siang ini.
Cellin kini sudah duduk di pangkuan Daniel dan menit selanjutnya penampilan mereka sudah sangat acak-acakan bahkan kini keduanya sama-sama tak mengenakan sehelai benang pun. Dan siang yang panas itu bertambah panas di dalam kamar yang AC nya senantiasa menyala tersebut.
Daniel yang sedang merasakan kekesalan yang luar biasa karena merasa di tipu oleh gadis lugu seperti Tasya melampiaskan kekesalannya pada permainan mereka. Daniel bermain dengan kasar dan brutal tapi Cellin menyukai hal itu.
Dua jam kemudian permainan mereka pun telah berakhir, keduanya sama-sama membersihakan diri di kamar mandi karena badan yang sama-sama basah oleh ketingat. Setelah selesai, keduanya kembali duduk di sofa.
"Jadi, apa?" Tanya Cellin tak sabar.
"Lo nggak ada rasa lagi memangnya sama tuh laki-laki?" Tanya Daniel.
"Nggak! Gue sebel sekarang sama tuh cowok. Dia ternyata introvent, masa gue dah pancing dia dua kali sama sekali nggak di respon! Kan ngeselin. Lo tahu sendiri gue seperti apa kan? Nggak mungkin gue mau sama cowok nggak normal kaya dia!" Ujar Cellin sambil meledek Zayn yang menurutnya tak normal sebagai seorang pria dewasa.
"Oke! Jadi lo nggak masalah kalau seandainya gue kirim dia ke neraka kan?"
Sejenak Cellin terdiam mendengar rencana gila Daniel, namun detik selanjutnya dia tersenyum. "Lo nekat, Niel!"
"Kenapa enggak? Kita liat apa yang bakal gue lakukan pada mereka. Gue pastikan dia tidak akan pernah melupakan hadiah sepesial dari gue ini!" Seru Daniel sambil menyeringai begitu juga dengan Cellin yang sudah mengerti apa yang akan Daniel lakukan, karena mereka memang satu pemikiran dan karena hal itu mereka bisa berteman baik.
-Jadi, kalau ada yang bisa menebak apa yang akan di lakukan Daniel, berarti kalian satu frekuensi dengan mereka.. hahaha-
Padahal jika diteliti ke belakang, sudah 6 bulan penjualan produk perusahaannya memang mengalami penurunan. Tapi biasanya hanya sekitar 5 sampai 10% dan Cellin masih menganggap itu wajar. Tapi angka 40 ini benar-benar membuatnya tak bisa menganggap masalah kali ini biasa.
"kalian sebenarnya kerja atau tidur, hah! Bagaimana bisa penjualan kita menurun sampai sebanyak ini?!" sembur Cellin pada peserta meeting kali ini yang tak lain adalah seluruh staf markettingnya.
"Maaf, nona. Tapi para konsumen kita beralih pada produk dari perusahaan baru itu. Mereka menganggap jika produk yang kita dan mereka jual mempunyai kualitas yang sama tapi harga di sana jauh lebih murah dari yang kita tawarkan," jelas pria yang rambutnya sudah memutih tersebut. Dia adalah kepala bagian marketing perusahannya.
"Perusahaan baru? Maksudnya perusahaan White itu?"
"Iya, Nona. Tak hanya itu, mereka juga sudah mengambil beberapa klien setia kita dan yang lebih parahnya lagi mereka mengeluarkan produk yang sama dengan yang baru saja kita produksi!" jelas sang manager membuat wajah Cellin memerah karena marah.
"Sial! Apa itu artinya ada penghianat di sini? Bagaimana bisa produk itu sama persis dengan produk kita? Sialan!" Maki Cellin kesal karena merasa ada yang mensabotase perusahaannya. Dan karena produk tersebut sedang dalam tahap produksi itu artinya perusahaannya akan mengalami kerugian dan cerobohnya Cellin, justru menanamkan modal sangat besar pada produk tersebut karena merasa akan mendapatkan keutungan yang sangat besar.
"Brengsek!!"
"Tenang, Nona. Kita fikirkan jalan keluarnya sama-sama!" ujar sang asisten karena melihat nonanya akan lepas kendali.
"Apa? Apa yang bisa kita lakukan? apa kita harus menggunakan cara yang licik seperti biasanya?" tanya Cellin tampak frustasi.
Semua orang di ruangan itu saling pandang hingga kemudian salah seorang dari mereka angkat bicara.
"Kita tidak bisa mengirimkan seseorang untuk membobol data perusahaan tersebut, nona!" ujar salah satu karyawan Cellin membuat dia mengrenyitkan dahinya tak mengerti.
"Kenapa? Bukankah itu hanya perusahaan cabang?" ya, perusahaan saingan Cellin memang hanya perusahaan cabang namun sangat meresahkan baginya.
"Karena mereka adalah orang-orang yang kuat, Nona. Bahkan tak ada yang bisa menyentuh mereka meskipun hanya seujung kuku!" jelasnya semakin membuat Cellin tak mengerti.
"Maksudmu itu apa? Coba kau bilang yang jelas jangan setengah-setengah!!" bentak Cellin lagi.
"Jadi perusahaan itu adalah anak dari perusahaan White, di mana yang kita tahu jika perusahaan tersebut adalah perusahaan terbesar ketiga di dunia yang usahanya sudah menggurita. Perusahaan tersebut bergerak di banyak bidang salah satunya adalah kebutuhan pokok seperti perusahaan kita. Dan perusahaan tersebut mempunyai sistem keamanan terbaik karena berada di bawah pantauan pemilik perusahaan langsung, yaitu tuan...
Rayyan Eagle White!" Jelas karyawan tersebut membuat Cellin diam-diam menelan salivanya dengan susah payah.
Siapa yang tak kenal dengan nama yang begitu berpengaruh di dunia bisnis, tapi Cellin tak menyangka jika saingannya adalah orang hebat tersebut. Bahkan membayangkan untuk berurusan dengan orang itu pun tidak, sekarang justru dia harus melawan Rayyan?
"Apa yang harus gue lakukan sekarang?" gumam Cellin dalam hatinya. Ia takut, tapi jika tak bertindak maka perusahannya pasti akan gulung tikar. Bagaimana nasib dirinya setelah ini?
.
.
.
.
.
.
Bersambung...
...----------------...
😍 wah mamas burung elang putih ikut setor muka nih man teman.. Siapa yang udah mampir di cerita ku yang sebelah, angkat kaki🦶, eh maksudnya angkat tangan!! ☝
Jangan lupa pantengin cerita Mamas Burung Elang putih sama si Jeselyn juga di "LOVE YOU WITH HATE" yah man teman..
Lophe you banyak-banyak buat kalian❤❤❤