
Bekerja tanpa harus berfikir dan memeras tenaga itu lah yang sedang di lakukan sosok pemuda dengan nama lengkap Daniel Wirasena Abraham. Daniel percaya mau sejauh apapun Tasya coba lari, nyatanya dia akan kembali di sampingnya. Terbukti meski Daniel tak melakukan apapun pernikahan dia dan Tasya akan di langsungkan minggu depan.
"Indahnya hidup," seru Daniel yang tak berhenti tersenyum. Ia berjalan dengan gagah memasuki sebuah gedung perkantoran untuk merayakan keberhasilannya. Berhasil menang dari Zayn.
Berbeda dengannya, Cellin justru terlihat uring-uringan karena upaya untuk menjebak Zayn malah gagal di tengah jalan. Padahal dia yakin betul bahwa Zayn sudah terpengaruh, tapi lagi-lagi Zayn pergi begitu saja. Kini, otaknya tak bisa di ajak kerja sama. ia tak bisa berfikir rencana apa lagi yang akan dia susun.
"Arrggg! Kenapa sulit sekali menaklukan elo sih!" gerutunya. Sia-sia dia mengungkap jati dirinya lebih awal kalau pada akhirnya dia gagal lagi. Kini, Zayn sudah tau dirinya yang sebenarnya. Setelah ini dia pasti akan sangat sulit untuk sekedar duduk bersama dengan pemuda itu.
"Si*l, gue kenapa ceroboh banget!" Cellin menyandarkan punggung di kursi kebesarannya merasa frustasi karena obsesi untuk memiliki Zayn benar-benar gagal. Dalam fikirannya Zayn pasti sudah bersama dengan Tasya.
"Karena lo bod*h!" Sebuah suara membuat Cellin mengalihkan atensinya pada sosok pria yang sedang tersenyum padanya seolah sedang mengejek. Pria yang tak lain adalah Daniel itu memamg sering keluar masuk kantor bahkan ruangan Cellin seenaknya.
Dengan malas Cellin bertanya pada Daniel. "Mau ngapain lo?"
"Gue kangen aja sama lo. Apa itu ngga boleh?" Sahut Daniel. Ia berjalan dengan santai kemudian duduk di sofa yang ada di ruangan Cellin.
"Ngga usah basa-basi, gue lagi sibuk!" Celetuk Cellin karena ia yakin pria itu paling hanya akan mengejeknya. Maka lebih baik dia mengusir saja pria yang mengaku temannya itu.
"Kenapa sih? Lo sibuk apa? Sibuk meratapi nasib ya?" Cellin menghembuskan nafasnya kesal. Seperti dugaannya dia memang mengejek Cellin.
"Bukan urusan, lo!"
"Kan gue dah pernah kasih tau. Lo tuh ngga usah repot-repot misahin mereka. Tapi, berkat lo makasih ya. Paling tidak gue dapat kue Apem bukan donat lagi," Ujar Daniel menyombongkan dirinya sendiri hingga membuat Cellin jengah.
"Percaya banget kalo dia masih apem," gumam Cellin pelan jadi Daniel tak mendengarnya. "BTW, lo bilang apa tadi? Apem? Bukannya tuh cewek masih lengket sama Zayn, yah?" Tanya Cellin bingung, karena sepengetahuannya Zayn dan Tasya itu makin lengket lalu kenapa Daniel mengaku sudah mendapatkan Tasya. Apem adalah istilah yang Daniel sematkan untuk Tasya. Ya, kalian tahu sendiri lah apa maksudnya.
"Makannya gue ke sini mau ngasih lo ini," Daniel menyodorkan undangan pernikahannya pada Cellin membuat wanita itu terkejut karena ini sungguh di luar dugaanya.
"What?! Gimana bisa?!" Tanyanya tak percaya.
"Bisa lah! karena Penulis ini tuh sayang banget sama gue. Makannya mau kemana jauhnya dia lari, pada akhirnya dia bakal kembali ke pelukan gue," Tambah besar kepala lah si Daniel melihat rekannya itu ternganga.
"BTW, lo ngga mau tuh deketin Zayn? Gue rasa dia lagi nangis di pojokan karena udah kalah dari gue,"
"Gimana caranya? Dia aja pasti sekarang udah ngga mau lagi ketemu gue!"
"Makannya gue bilang jangan terburu-buru. Tapi, gue akui sih dia hebat bisa nahan hasratnya dua kali. Kalo gue jadi dia pasti lo udah bunting," Daniel terkekeh dengan ucapannya sendiri. Bisa-bisanya dia memuji rivalnya sendiri.
"Ck! Dia itu ngga kaya elo. Tanpa di kasih obat juga lo udah Trun On cuma liat paha mulus," celetuk Cellin yang sudah sangat hafal tabiat Daniel. Meski itu benar tetap saja Daniel tak mau mengakui itu.
"Dah lah, gue mau pulang. Mau siap-siap menikmati Apem gue," setelah mengatakan hal itu, Daniel benar-benar pergi karena ada beberapa pekerjaan yang akan dia selesaikan sebelum Daniel mengambil cuti menikahnya.
"Ck! Gue tau lo ngga benar-benar cinta sama Tasya, tapi gue ngga mengerti kenapa lo menerima perjodohan itu begitu saja," Gumam Cellin menatap nanar pintu yang baru saja Daniel tutup.
****
Di tempat lain dua pemuda yang hatinya sama-sama di landa galau tengah berada di tempat yang sama hanya beda ruangan, setekah sebelumnya duduk bersama dan saling menguatkan. Tidak, maksudnya hanya Abi yang menguatkan Zayn. Abi tak tahu apa yang sedang ia rasakan pada hatinya sendiri, ada semacam perasaan sedih, kecewa, dan sakit.
"Sakit? Kenapa hatiku terasa sakit saat mengingat sekilas pernikahan gadis aneh itu? Tidak mungkin kan aku menyukainya?" Batin Abi sambil memperhatikan udangan milik Zayn karena saat ini Abi sedang ada di apartemen Zayn. Ia baru saja menenagkan Zayn, pria itu benar-benar terlihat kacau. Setelah Zayn berlalu menuju kamarnya, Abi masih terduduk di ruang tamu.
"Tidak! Perasaan ini mungkin karena melihat kakak yang kacau karena gadis itu. Ya, aku yakin ini pasti karena ikatan batin antara aku dan kakak, jadi aku juga bisa merasakan luka hatinya. Bagaiamana pun juga kami kan masih sedarah."
Berkali-kali Abi menyakinkan dirinya sendiri bahwa dia tak akan pernah jatuh pada pesona Tasya. Meski hatinya merasakan perasaan yang lain, tapi logikanya selalu saja menghianati hatinya.
Mau mengelak bagaimana pun juga, Abi tak akan pernah bisa menghindari jika di hatinya telah terukir nama Tasya. Sayangnya, dia selalu mengelak dan selalu berkata "Tidak mungkin, ini hanya..." selalu kata itu yang dia ucapkan untuk menepis rasa yang dengan lancangnya selalu membisikkan nama Tasya.
"Lebih baik aku menemani Kakak disini. Dia sangat terpukul dengan kenyataan ini," Gumamnya. Dari pada ia memikirkan nama itu yang mana membuat hatinya kian kuat mengumandangkan kata yang begitu dia hindari, lebih baik Abi fokus untuk membuat Kakaknya kembali bersemangat.
Di dalam kamar tepatnya di balkon kamarnya, Zayn kembali termenung sambil memandang langit sore yang berwarna jingga. Ia menutup matanya merasakan hembusan angin yang menerpa dirinya begitu lembut.
Masih teringat jelas di benaknya saat Tasya berjanji akan selalu ada di sampingnya apapun yang terjadi. Tapi, kini semuanya hanya tinggal kenangan.
Cintanya telah memilih, dia memilih mendampingi pria lain dan meninggalkannya dengan sejuta harapan yang terhempas begitu saja ke dasar jurang terdalam.
"*Cintaku telah pergi, pergi bersama separuh jiwaku. Harapan, penantian, dan perjuanganku rupanya harus berakhir seperti ini. Tak ada lagi yang tersisa selain impian yang sempat kita bangun kini hancur berkeping-keping.
Aku baru tahu jika cinta juga bisa menjadi luka. Ku pikir dia akan menjadi Takdirku, nyatanya dia hanya menjadi alasan aku terluka.
Meski begitu, entah kenapa hati ini masih saja berharap dia akan kembali. Justru dengan lancanganya perasaanku menyuruhku untuk tetap mengejarnya.
Bukankah ini gila? Jelas-jelas dia tak menginginkan ku, lalu untuk apa aku masih berharap? Bodoh*!" Gumam Zayn dalam lamunanya.
.
.
.
.
.
.
Bersambung...