I Love You, My Secretary

I Love You, My Secretary
Bab 39



Menepi sebentar dari kisruhnya masalah yang Maya buat. Kita kembali melihat keadaan Rizky si sepupu ngga ada ahlak...


Happy reading...


...----------------...


Pagi yang cerah di hari weekend membuat dokter muda nan berbakat ini masih menggelung dirinya di balik selimut yang hangat. Tak seperti hari-hari biasanya yang mana ia akan di sibukkan dengan beragam pasien, hari ini ia sengaja mengambil cuti bulanannya. Ingin sekedar merefresh kan otak yang sudah mengepulkan asap, jadi hari ini ia akan bermalas-malasan di kasur kesayangannya.


Walau libur tapi ia sama sekali tak lepas tanggung jawab. Rizky masih menerima panggilan darurat baik itu dari rumah sakit atau dari klinik tempatnya bekerja. Tuntutan pekerjaan yang mengharuskan nya selalu siap kapan pun kadang membuat Rizky tak benar-benar menikmati hari liburnya, dan kali ini ia berharap tak akan ada hal darurat yang mengharuskan nya mengikhlaskan hari libur nya.


Sama seperti Tasya, Rizky pun menempati sebuah kosan khusus laki-laki. Bedanya kosan yang di tinggali Rizky lebih memiliki fasilitas lengkap. Ada ruang tamu yang menyambung dengan dapur dan juga ada dua kamar di sana. Kamar mandi pun ada di samping dapur jadi tak perlu repot untuk mengantri seperti di kosan Tasya.


Bahkan di kosan Rizky pun sudah di fasilitasi perabotan rumah tangga seperti kasur, kompor, sofa, tv dan yang lain sebagainya. Namun untuk kasur, ia hanya di berikan satu di kamar depan. Jadi, ia membeli kasurnya sendiri agar lebih nyaman.


Sebenarnya keluarga Rizky sudah mempunyai rumah sendiri di kawasan Jakarta, namun dengan alasan privasi Rizky memilih untuk tinggal terpisah dengan orang tuanya. Ia akan berkunjung di hari-hari tertentu, dan jika ada masalah mendesak.


Waktu menunjukan pukul sepuluh pagi saat Rizky sudah terduduk di pinggir tempat tidurnya.


"Pantesan peliharaan di perut gue dah pada demo" Gumamnya kala melihat jam yang terpasang di dinding kamarnya. Tepatnya di atas pintu.


Ia segera beranjak menuju kamar mandi yang ada di luar kamarnya, masih dengan mata yang terasa berat.


"Gini nih kalo kebanyakan tidur, mata rasanya berat banget buat di buka" keluh Rizky sambil mencuci mukanya sekalian juga gosok gigi. Yah, hanya seperti itu tanpa mau mandi atau yang semacamnya. Maklum hari Sabtu jadwalnya untuk menghemat air.


Setelah di rasa matanya sudah lebih segar, ia menuju kulkas untuk melihat bahan apa yang bisa ia gunakan untuk membuat sarapan pagi. Eh.. Siang ini maksudnya.


Spaghetti adalah menu yang ia pilih. Setelah masak ia membawanya ke depan sofa di mana ada televisi di sana. Kebiasaannya makan sambil menonton acara menarik yang di tayangkan di televisi.


"Tasya udah sarapan belum, ya?" Gumamnya kala suapan pertama berhasil ia telan. Saat makan seperti ini memang ia selalu mengingat Tasya. Semenjengkelkan apa pun sikap Tasya padanya, tapi tetap saja ia tak akan tega jika sampai Tasya kelaparan.


"Ah.. Gadis itu pasti masih tidur, atau mungkin tengah membaca novel sambil mengunyah keripik" Ujarnya lagi.


Setelah sarapan ia bersiap untuk melihat keadaan sepupunya itu. Sudah satu Minggu dia tak berkunjung ke kosan gadis pemalas itu kan. Sedikit rindu melihat wajah kesal Tasya. Baginya hal itu adalah hiburan yang paling menarik dari pada sekedar jalan-jalan di mall.


.


.


.


Tiba di kosan ia di sambut baik oleh ibu kos, seringnya Rizky menginap, jadi baik ibu maupun penghuni kosan yang lain sudah mengetahui tentang siapa Rizky.


Rizky berjalan dengan santai menaiki satu demi satu anak tangga yang mengantarkannya pada lantai di mana kamar Tasya berada.


Ceklek...


Gelap, saat Rizky sudah berhasil membuka pintu kamar Tasya, kegelapan yang pertama kali menyambutnya. Rizky mengedarkan pandangannya ke sekeliling dan menekan saklar lampu yang ada di samping pintu,hingga terlihatlah jelas kamar yang masih tertata rapih. Tak terlihat ada kehidupan di sini.


"Kemana nih bocah?"


"Pak dokter!" Sapa sebuah suara dari balik punggungnya membuat Rizky terlonjak kaget.


"Eh.. Mba sarah? Ngagetin aja" Ucap Rizky sambil mengelus dadanya yang berdebar karena terkejut.


Sarah yang menyapa dokter itu pun hanya bisa tersenyum lucu melihat reaksi Rizky. Jangan lupakan pipinya yang senantiasa merona kala bisa berbicara seperti ini dengan Rizky.


"Pak dokter, nyari Tasya ya?"


"Iya, kemana gadis pemalas itu?"


"Tasya pergi kemarin. Katanya Senin pagi baru pulang" Ucap Sarah menjelaskan seperti apa yang di ucapkan Tasya sebelum pergi.


"Kemana?" Ucap Rizky sedikit kesal karena Tasya sama sekali tak menghubungi nya. Padahal biasanya ia tak pernah absen untuk mengiriminya kegiatan harian gadis itu.


"Kalau itu saya kurang tahu, dok" Ucap Sarah tak sekalipun melepaskan senyuman malu-malu dari wajahnya.


Sarah memang menaruh rasa yang lebih pada sepupu tetangga kosannya itu. Namun, sekian purnama mereka sering bertemu tak sekalipun Rizky menunjukan tanda-tanda jika ia pun menyukai Sarah.


Rizky kemudian berlalu setelah mengucapkan terimakasih pada Sarah. Sesampainya di samping motornya ia mencoba menghubungi Tasya tapi tak di angkat. Ia pun memutuskan untuk kembali ke kosannya.


"Ntar aja deh gue telpon lagi" Gumamnya kemudian memasukkan kembali ponsel pada saku celana jeans panjang yang ia kenakan. Rizky kemudian menaiki motor sport kesayangannya tak lupa memasangkan helm full face untuk melindungi kepalanya.


Ia mengernyitkan dahinya, melihat penjual bubur ayam yang sepertinya sedang beradu argumen dengan seorang wanita. Awalnya ia merasa acuh namun saat wanita yang tadinya membelakangi jalanan itu mengedarkan pandangan ke sekeliling nya. Saat itu sebuah senyuman terbit di wajah Rizky yang tertutup oleh helm nya.


"Wah... Hiburan nih!" Gumamnya kemudian membelokkan motornya ke arah penjual bubur ayam tersebut.


Sampai di sisi gerobak itu, sayup-sayup ia mendengar suara dari Abang bubur ayam yang memang tengah berbicara dengan nada yang kurang santai.


"Ngga bisa gitu dong, neng. Harus bayar jangan abis kenyang terus kabur!" Ucap si Abang.


"Ngga kabur, bang! Ya ampun! tapi, dompet saya beneran hilang. Tempat Abang ini ngga aman, harusnya Abang tanggung jawab karena dompet saya hilang" Ucap wanita tersebut dengan raut paniknya.


Beberapa pembeli yang masih menikmati sarapan siang mereka, hanya menatap perdebatan tersebut tanpa berniat untuk menantu si wanita atau melerai perdebatan mereka.


"Yah, cantik-cantik tapi kang kibul. Hp neng aja deh sini jadi jaminan" Ucap si Abang lagi tak mau kalah.


"Ya elah bang, dari pada hp saya yang di sita mendingan kasih saya nomor rekening Abang aja. Saya transfer bayarannya!"


"Ngga bisa gitu, saya mau kes!!"


"Ya udah biarin saya ke ATM dulu!!"


"Ngga bisa, siapa yang tau kalau neng kabur, gimana?"


Dan perdebatan itu terus berlangsung hingga Rizky berada di samping mereka.


"Ada apa ini bang?" Tanyanya pada si Abang bubur ayam. Yang di tanya sontak saja langsung menengok ke arah Rizky.


"Ini loh Jang, neng cantik ini ngga mau bayar bubur yang udah di makannya. Malah mau kabur lagi" Gerutunya, Rizky menganggukkan kepalanya mendengar penjelasan si Abang.


Jangan tanya apa yang di lakukan si wanita tadi, yang jelas saat ini ia tengah menyembunyikan wajahnya di balik tas yang ia kenakan.


"Wah!! siapa ini?!!" Pekik Rizky penuh dengan mimik muka yang menyebalkan, saat mengalihkan pandangannya ke arah wanita itu.


"Dokter Obgyn termuda dan berbakat, keponakan pemilik rumah sakit terbesar di Jakarta tapi ngga mampu bayar semangkuk bubur ayam?!! Buahahahahah" Tawa Rizky pecah, menertawakan keadaan Angel. Ya, wanita yang mengaku kecopetan itu adalah Angel, perempuan yang hampir Rizky tabrak kemarin.


Bugh....


"Adaw..." Tawa Rizky yang tadinya menggelar berubah menjadi teriakan saat hantaman keras mengenai perutnya.


"Sukurin!! Jadi cowok ko lemes banget tuh bibir. Dari pada ngeledek gitu mendingan Lo bayarin tuh bubur gue!" Ujar Angel merasa puas berhasil memukulkan tas yang sedari tadi ia pegang pada perut Rizky hingga membuat laki-laki itu mengaduh kesakitan.


"Bang dia katanya mau bayarin bubur saya tuh, tagih aja sama dia ya?" Lanjutnya pada Abang bubur ayam kemudian ia berlalu begitu saja meninggalkan Rizky yang di buat melongo oleh tingkah Angel.


"Lah ko jadi gue? Woi!!! Balik Lo!!! ah elah, niat mau nyari hiburan malah apes gini" Gerutunya.


"Ujang ganteng, sekarang bayar tagihan punya neng pacar tadi" Todong si Abang.


"Dia bukan pacar saya bang, lagian sejak kapan nama saya jadi Ujang?"


"Saya ngga mau tau mau pacar kek, temen kek Adek atau bahkan istri sekali pun, pokoknya bayar sekarang. Dua puluh ribu!"


"Ya elah, timbang dua puluh rebu doang kagak sanggup dia. Ngakunya aja orang kaya! Dasar nyusahin aja jadi orang!" Gerutunya walau begitu tetap saja ia mengeluarkan selembar uang berwarna hijau dari dompetnya. Biar cepat kelar, toh hanya dua puluh ribu mah bukan nominal yang besar untuk seorang Rizky.


"Awas aja kalo ketemu lagi, gue pites juga tuh cewek!" ujarnya tak henti hentinya menggerutu sebelum akhirnya ia melanjutkan perjalanan menuju kosannya.


.


.


.


.


.


.


Bersambung....