I Love You, My Secretary

I Love You, My Secretary
Bab 106



Zayn pov


Aku tahu setiap makhluk hidup pasti tak luput dari yang namanya salah. Tapi, kesalahan ku kali ini benar-benar tak bisa termaafkan. Bagaimana bisa aku melakukan hal yang begitu bejad pada kekasihku sendiri? Aku sungguh tak ingin melakukan hal itu, tapi entah bagaimana ceritanya hati nurani ku sama sekali tak goyah kala melihat air matanya.


Arrgghhhhh...


Mengingat hal itu membuatku benar-benar kesal. Aku benci diriku sendiri, aku benci dengan perbuatanku yang seperti binatang. Mau seperti apapun aku mencoba membela diri memang aku yang salah karena itu aku tak ingin menjelaskan apa-apa. Yang aku inginkan hanya permintaan maaf dan berharap Tasya mau menerima pertanggung jawaban dari ku.


Tapi, yang jadi masalahnya sekarang Tasya sama sekali tak bisa ku hubungi. Kostan nya pun kosong, tetangganya bilang pagi-pagi sekali dia sudah pergi sambil membawa barang-barangnya. Aku pun sudah ke kostan Rizky tapi keadaanya sama. Dia tak ada di sana.


"Kemana lagi aku harus cari kamu sih, sayang? Kamu itu sebenarnya kemana?" lirihku yang sekarang sedang ada di dalam mobil. Aku sudah berkeliling Kota Jakarta dari tadi pagi, tapi sampai matahari terbenam batang hidung Tasya sama sekali tak terlihat.


"Aku tahu kamu marah, tapi sayang nggak bisa kah kamu kasih aku kesempatan sekali lagi untuk menebus semua salahku?"


"Arrgggg, sial! Harusnya gue nggak nemuin cewek rubah sepertinya di tempat terkutuk itu. Jika saja gue nggak datang pasti semua ini nggak akan pernah terjadi. Sayang.. Aku mohon kembali!" Air mataku luruh begitu saja saat kejadian malam kemarin kembali terngiang di dalam kepalaku. Tolong jangan katakan aku laki-laki yang cengeng, karena sugguh rasanya itu sangat sakit. Meski aku laki-laki tapi rasa sakit ini begitu menyakiti perasaanku, namun rasa penyesalan lebih mendominasi diriku saat ini.


Tuhan, aku sangat menyesal. Aku tahu kini aku adalah hamba-Mu yang hina, tapi aku mohon izinkan lah aku untuk dapat menebus salahku. Aku ingin bertanggung jawab padanya, tapi kenapa dia menghindar dariku? Apa sebegitu kecewanya dia padaku hingga tak lagi sudi menampakkan dirinya di depanku?.


"Arrrrggggghhhhh! Cellin, Daniel kalian Brengs*k!"


Aku menginjak kembali pedal gas membuat mobilku kembali melaju. Tujuanku kali ini bukan untuk berkeliling, tapi untuk menemui Daniel aku ingin sekali mematakan lehernya itu.


Flashback on


Pagi itu setelah dari rumah orang tua Tasya, aku kembali ke Jakarta. Rencananya ingin langsung menemui Celin, tapi aku mendapatkan telfon dari kantor jika ada beberapa meeting dengan klien kami yang beberapa kali sempat tertunda. Maka dengan berat hati hari ini aku harus bekerja.


Sebelumnya, aku mampir ke rumah bibi untuk sekedar mandi dan berganti pakaian. Karena jika aku pulang ke apartemen, jarak nya terlalu jauh dengan kantor. Selain itu juga, karena aku belum menemukan bukti yang ku janjikan pada Tasya, jadi sebebarnya aku sedikit takut untuk pulang.


Setelah seharian bekerja, pukul tujuh malam aku tiba di sebuah club tempat Celin memintaku datang. Awalnya aku bingung karena kebiasaannya yang satu itu aku baru tahu. Namun karena niatku yang sudah bulat aku melangkahkan kaki dengan begitu percaya diri ke banguan itu.


Begitu aku masuk, langsung di sambut dengan dentuman musik yang memekakan telinga dan juga bau alkohol yang begitu menyengat. Untuk pertama kalinya aku menginjakkan kaki ku di sini.


"Nggak salah Cellin minta gue dateng ke sini?" Sambil mencari keberadaan wanita yang ku cari sesekali aku mengibas-ibaskan tangan di depan hidung. Meski tak perpengaruh menghalau aroma yang membuatku pusing tapi tetap saja tanganku bergerak dengan sendirinya.


Cukup lama aku mengedarakan pandanganku, akhirnya wanita yang ku cari-cari terlihat juga. Ia sedang duduk di depan meja menunggu bartender menyajikan minumannya.


Semakin aku mendekatinya, semakin membuatku ternganga tak percaya. Orang yang selama ini ku kira baik, ternyata sekarang menampakkan wajah aslinya. Celin tampak setengah mabuk begitu aku duduk di dekatnya. Awalnya Cellin tampak terkejut namun sesaat kemudian ia tersenyum.


"Hallo Zayn.. Kamu di sini? Apa kalian bertengkar? Apa kamu sekarang sedang sedih, lalu mencari pelarian ke tempat ini?" Katanya sambil sesekali mengelus dada ku. Dia tahu sekali aku memang ingin mengelus dada melihat kelakuannya. Ku rasa dia memang mabuk, jelas-jelas dia yang memintaku menemuinya di sini tadi pagi.


"Gue ngga mau basa-basi, apa maksud lo kirim foto yang seperti itu? Kenapa lo lancang nyentuh gue?" tanyaku dengan datar. Awalnya aku memang masih menyangkalnya, karena selama ini aku mengenal Cellin sebagai sosok wanita yang baik dan cerdas. Maka akan sangat mustahil dia melakukan hal gila seperti itu, tapi melihat sisi lain dari seorang Celin malam ini, ku rasa memang apa yang di katakan Tasya itu benar.


"Hahaha.." Dia malah tertawa seolah pertanyaan ku adalah lelucon untuknya. Namun, sesaay kemudian wajahnya kembali mendatar dan mentapku dengan dalam. "Kamu bodoh, Zayn!" Kecamnya padaku.


"Kamu laki-laki terbodoh yang pernah aku kenal. Apa matamu itu katarak? Kamu lihat dari sudut mana kekasihmu itu? Cih! Aku bahkan ngga sudi menyebut dia kekasihmu. Jika kamu memang tidak tertarik denganku, setidaknya kamu bisa memilih wanita yang lebih baik dan lebih tinggi derajatanya dari dia!" aku masih terdiam mendengar semua kata-katanya. Orang bilang jika seseorang berbicara dalam keadaan mabuk, mereka mengatakan yang sebenarnya.


"Wanita yang sudah mempunyai pasangan malah kamu kejar-kejar!" Ia menjeda ucapannya dengan meminum kembali segelas mimuman yang baru saja di suguhkan oleh bartender. Sekilas minuman itu tak berwarna, entah apa namanya aku tak begitu paham.


"Lo di sini?" tanya seseorang yang menepuk pundakku membuatku menoleh ke samping dan ketika tahu rivalku lah yang menyapa, aku langsung membuang muka dan mengacuhkannya.


"Lo lagi ngomong sama dia? Dia itu lagi mabok, mana bisa lo wawancarai kayak gitu," Ucap Daniel meski aku mengacuhkannya dia masih saja mengajakku bicara malah dia duduk di sampingku.


"Beri dia Wine," katanya lagi pada bartender sambil menunjukku.


"Gue nggak minum!"


"Jadi, lo mau tahu tentang foto yang ada di ponsel Tasya?" aku mengrenyit mendengar ucapannya. Dari mana dia tahu maksud dari tujuanku menemui Cellin yang sudah terlihat sangat mabuk.


"Itu semua memang idenya dia. Lo tau, dia sengaja ngasih lo obat tidur di air mineral yang lo minum. Pada saat itu lah dia melancarkan semua rencananya. Dan betapa bod*hnya lo yang mau aja di tipu dengan trik yang sama berulang kali oleh dia. Ck.. Ck.. Ck.."


"Maksud lo apa?" tanya ku sinis. Aku masih tak percaya Celin selicik itu. Dia adalah gadis yang baik, aku yakin itu. Tapi, jika aku kembali flashback ke beberapa kejadian dengannya memang terlalu kebetulan.


"Kan lo emang beg*, ada seorang wanita yang mengejar-ngejar lo saja sampe lo nggak sadar." jelasnya lagi membuatku termenung. Benarkah yang mereka katakan jika Cellin melakukan hal sampai sejauh ini karena alasan cinta? Rasanya begitu mustahil.


"Dia berbahaya, hati-hati!" Daniel bangkit dan menepuk pundakku tiga kali sebelum pergi. Sedangkan aku masih termenung, tapi bukan memikirkan fakta yang baru saja ku ketahui tentang Cellin namun aku merasa aneh pada diriku.


Aku merasa darahku seperti mendidih, panas, jantungku berdebar tak karuan nafasku pun kiqn sesak. Apa sebenarnya yang terjadi? Aku pernah merasakan perasaan seperti ini saat mengantar Cellin ke apartemennya waktu itu, hanya saja kali ini aku merasa perasaan ini lebih besar.


Aku hendak keluar dari tempat itu, tapi Cellin mencekal tanganku dan dengan lancangnya langsung menerkam bib*rku. Ck! Wanita ini sungguh bahaya, dia sama sekali tak malu melakukan hal seperti ini di tengah keramaian.


Aku ingin melepaskan pangutannya tapi semakin aku memberontak dia justru semakin berani. Entah kenapa tubuhku sama sekali tak bisa ku kendalikan. Aku marah, aku kesal dan merasa ilfil sekaligus padanya tapi tubuhku menginginkan lebih.


Tanpa sadar aku pun membalas pangutannya tapi dia malah melepaakannya. Ku pikir dia akan berhenti tapi di luar dugaan dia menarik tanganku dan berjalan ke lantai atas, dia membawaku ke sebuah kamar yang di sediakan pihak club.


Aku rasa aku semakin gil*, karena begitu pintu tertutup aku justru menyerang Cellin lebih dulu. Tanpa sempat berfikir tanganku sudah mendarat di dua gundukannya yang membusung. Tapi, begitu ci*manku turun ke lehernya tiba-tiba sebuah kalimat terasa menggema di dalam kepalaku hingga menyadarkan ku dari tindakan yang salah ini.


..."Atta.. Kau bilang akan membuatku bahagia setiap hari. Jangan pernah merusak kepercayaanku, atau aku akan melakukan suatu hal yang sama sekali tidak terfikirkan olehmu!"...


Suara Tasya mengema di dalam kepalaku, membuatku seketika tersadar. Aku reflek mendorong Cellin hingga ia terjatuh di lantai.


"Ahhh, sshh. Zayn kamu kok dorong aku sih," Cellin terdengar mengeluh namun masih dengan nada yang di buat mendayu. Sungguh aku merasa muak melihat wajahnya yang ternyata berkepala dua itu.


Tanpa mengatakan apapun aku segera pergi dari tempat itu. Masih ku dengar teriakan Cellin di dalam sana, tapi aku tak peduli.


"Zayn!! Brengs*k! Kembali! Zayn!!"


Aku bergegas mengendarai mobil karena ingin segera menemui Tasya. Aku ingin meminta maaf padanya untuk semua hal yang terjadi hari ini. Meski perasaan ini belum sepenuhnya hilang tapi aku bersyukur sekarang sudah lebih baik.


Aku pun sampai di apartemen dan mendapati dirinya sedang bermain ponsel, langsung saja aku memeluknya dan menci*m keningnya namun tiba-tiba gairah yang sempat hilang kini bangkit kembali dan ku rasa saat ini semakin parah.


Sekuat tenaga aku menahannya, tapi dengan bisikan "Lakukan saja, dengan begitu kamu bisa menikahinya kan? Tidak ada yang bisa menghalangi dirimu lagi," Dan pada akhirnya malam itu pun terjadi.


Tanpa aku sadari, malam itu adalah kali terakhir aku melihatnya dan kenyataan pahit harus aku terima.


Flashback off


.


.


.


.


.


Bersambung...