I Love You, My Secretary

I Love You, My Secretary
Bab 122



Malam harinya Abi mendatangi sebuah klub yang terkenal di kawasan Jakarta, Beautiful Night Club. Ia menghampiri bartender dan memesan segelas Vodka. Rasanya hatinya benar-benar kacau dan dia tak mengerti harus dengan cara apa dia menghilangkan rasa sakitnya. Jadi malam ini dia putuskan untuk pergi ke klub tersebut, klub milik salah satu rekan bisnisnya.


"Sudah lama aku tidak pernah datang ke tempat seperti ini sendirian. Apalagi aku datang ke sini karena patah hati pada seorang gadis! Hah! inilah yang aku tak suka pada yang namanya cinta atau wanita mereka sangat merepotkan!" gerutu Abi saat ia sudah menebak gelas Vodka pertamanya.


Abidzar Akhriz Herold, seorang CEO muda perusahaan Herold Group pengusaha muda yang sukses dan terkenal kecerdasannya, saat ini sedang terlihat sangat kacau karena cinta pertamanya yang tak berpihak padanya. Lebih parahnya lagi, cinta pertamanya itu kelak akan menjadi kakak iparnya.


Bukankah dunia ini sangat kejam!


Dari pintu masuk terlihat seorang pria gagah dengan wajah yang amat rupawan dan tubuh yang atletis, berjalan dengan pesonanya yang membuat kaum hawa enggan berpaling. Mata Hazelnya memandang lurus ke depan.


Ia kemudian duduk di samping Abi membuat Abi yang sedang merasakan pusing tersebut, mengangkat kepalanya untuk melihat siapa yang duduk di sana. Abi mengacuhkan pria tersebut dan kembali menenggak minumannya.


"Tuan muda Herold sepertinya sedang terkena masalah yang cukup berat, hingga berakhir di tempat seperti ini." ledek pria tersebut membuat Abi berdecih.


Saat ini Abi sudah terlihat sedikit mabuk padahal dia baru minum 5 gelas. Maklum saja, dia kan memang bukan peminum, jika ad pertemuan bisnis Abi lebih memilih meminum Wine dan itu pun hanya satu gelas. Tapi, malam ini suasana hatinya benar-benar buruk hingga ia nekat ingin mabuk berhatap ketika sadar nanti sesak di dadanya menghilang.


“Ck! Kenapa kau kemari!” sahut Abi ketus, matanya mulai tak focus dan pria itu faham jika Abi sedang tak baik-baik saja maka ia pun mencegah Abi menenggak kembali minuman di gelasnya.


“Kau mabuk! Aku ingin berbicara dulu denganmu! Aku tak ingin mengulangi penjelasan ku nantinya jika kau tak sadar!” ucap pria itu dan Abi pun terdiam, entah ia mengerti atau sedang meraskan kepalanya yang sudah mulai terasa berputar.


“Baiklah! Aku sudah melakukan apa yang kau inginkan. perusahaan milik wanita yang bernama Cellin itu sekarang sedang kocar kacir mengatasi kekacauan yang ku buat! Aku sudah melunasi hutang ku, jadi jangan meminta hal yang aneh-aneh lagi padaku!


Kau itu merepotkan sekali! Jika Jhon tau apa yang ku lakukan pasti dia akan mengomel padaku 40 hari 40 malam, kau tahu! Pengusaha sukses sepertiku bisa-bisanya menjiplak produk saingannya yang bahkan tak ada seujung kuku pun denganku! kau benar-benar menghancurkan harga diriku!” gerutu pria itu.


“Benarkah? Kau memang sangat bisa ku andalkan tuan muda White! Baikalah ku anggap hutang mu lunas dan aku sangat berterimakasih padamu!” ujar Abi ternyata dia masih cukup sadar dan berbicara begitu lancar dan pastinya nyambung.


“Memang kau punya masalah apa dengan wanita itu? Apa dia yang membuatmu seperti ini?” tanya pria itu yang tak lain adalah Rayyan.


Abi terdiam, sejatinya menceritakan masalah pribadinya pada orang lain apalagi masalah hati bukan lah gaya seorang Abidzar. Tapi karena ia sedang berada di bawah pengaruh alcohol, dia pun menceritakan apa yang dia rasa hingga tampak kacau seperti ini.


Ya, memang benar perusahan Rayyan menjiplak produk dari perusahan Cellin. Karena Rayyan adalah seorang hacker maka membobol data sebuah perusahan atau data pribadi sekalipun bukanlah hal yang sulit. Dengan keahliannya tersebut Abi meminta bantuan pada Rayyan yang dahulu pernah mempunyai hutang nyawa saat Rayyan sedang dikejar oleh musuh bisnisnya. Ok! Kita skip saja tentang hal tersebut.


Abi sangat kesal karena Cellin yang selalu mengganggu kakaknya dan membuat Zayn melakukan hal di luar batas pada Tasya. Dan tentu saja Abi tak terima dua orang yang dia sayangi hancur bersama dalam satu waktu. Maka ia bertekad untuk menghancurkan Cellin. Hanya saja cara yang dia gunakan Abi terbilang halus dan cantik, sebab di memperalat orang lain untuk melakukan rencananya, seperti Rayyan ini contohnya.


“Jadi kau menyukai calon kakak iparmu sendiri? Ckckck! Malang sekali nasibmu!” ujar Rayyan merasa iba pada rekan bisnis sekaligus teman kuliahnya dulu.


Abi pun malam itu benar-benar meluapkan rasa kecewanya pada minuman berakohol di temani oleh Rayyan, Abi tumbang setelah menghabiskan 3 botol minuman.


“Yah, nggak bisa minum pake banyak gaya mau mabok. Untung ketemu sama aku, coba yang nemuin dia tante-tante girang! Nyusahin banget nih anak! Enaknya aku lempar kemana ya?” gumam Rayyan sambil mengetuk-ngetukkan jari telunjuk didagunya sambil menatap Abi yang sudah tak sadarkan diri.


(lempar ke sini aja, mas! Hihihi.. mas Burung Elang nongol lagi nih man teman mau minta di tengokin ke rumahnya, katanya. Jangan lupa mampir ya!🤭)


“Aggrrhhh, sial!” umpatnya saat otaknya merasa buntu.


“Gimana aku dapet pinjaman? Sedangkan aku nggak punya jaminan sama sekali! Robby juga kurang ajar sekali hanya mau menampung ibu. Ck!” Gerutunya lagi seolah tak ada habisnya untuk merutuki keadannya sekarang yang jauh dari kata mampu.


Bertepatan dengan itu, sang istri yang sudah bekerja pada salah satu warga diladang mereka pun sudah kembali dan melihat sang suami hanya mondar mandir tak jelas di depan pintu.


Sudah satu minggu suaminya itu melakukan hal tersebut, hanya bisa mondar mandir dan bingung tanpa melakukan satu usaha. Ibu Tasya pun sebenrnya bingung, suaminya itu punya hutang banyak dan waktu yang singkat tapi hanya seperti itu yang dia lakukan setiap harinya, apa dia pikir uang akan datang dari langit? Untungnya sang istri dulunya adalah pekerja keras jadi ia tak terlalu berharap pada sang suami.


“Mas!” sapa sang istri membuat ayah Alan yang sedang membelakangi ibu Tasya pun tersentak karena terkejut.


“Astaga, Da! Bisa tidak jangan mengejutkan mas seperti itu?” ucap Ayah Alan memicingkan matanya menatap sang istri sambil mengelus dadanya yang berdebar tak menentu.


“Apasih, mas? Ida kan Cuma manggil, pelan lagi! Lagian kamu ini kenapa sih mondar mandir mulu kerjaanya! Ida pusing liatnya tahu!” ketus sang istri yang ternyata bernama Farida.


–Yeay 🥳 akhirnya dapet wangsit juga buat namain nih emak-emak, hahaha-


“Ya jangan di liatin!” sahut Ayah Alan acuh.


Baru saja ibu Tasya ingin membalas ucapan suaminya, tiba-tiba pintu kontrakan mereka di ketuk seseorang. Tidak! Itu bukanlah sebuah ketukan, melainkan sebuah gedoran hingga pintu yang tampak rapuh itu seperti hendak roboh di buatnya. Ayah dan ibu Tasya pun terperanjat kaget dengan hal tersebut.


“Alan Hermawan! Bayar hutangmu sekarang juga!” ujar sebuah suara dari luar yang terdengar garang.


Ayah Alan meneguk ludahnya yang terasa mengental dengan susah payah. wajahnya kian pucat pasi menyadari jika yang bertamu tersebut adalah para anak buah tuan Wira.


“Ya Allah, mas! mereka sudah datang!” ujar ibu Tasya panik.


“Stt! Diam! Jangan banyak bicara nanti mereka dengar!” ujar Ayah Alan dengan berbisik. Dia sama sekali takberani untuk keluar atau sekedar menintip.


“Keluar atau kami dobrak!”


.


.


.


.


Bersambung…