
"Kurang Ajar!!!" Teriak sebuah suara yang penuh dengan kemurkaan. Laki-laki itu menghampiri Zayn yang masih terduduk di lantai panggung. Ia menduduki perut Zayn dan mulai melayangkan bogem bertubi-tubi pada wajah Zayn.
"Aaaaa" Teriakan semua orang merasa takut sekaligus terkejut dengan serangan tiba-tiba tersebut. Tak terkecuali Tasya, yang jelas-jelas kejadian tersebut ada di depan matanya.
"Atta!!!" Pekik Tasya berlari ke arah mereka dan mencoba menghentikan laki-laki yang tengah membab* buta itu.
"B*******!!! Kurang ajar! berani-beraninya Lo merayu milik gue, hah!! Rasakan ini!!"
Buagghhhh Bughhh
Pukulan kerasa mendarat sempurna di kedua sisi wajahnya, membuat wajah Zayn tak lagi berbentuk. Darah dan memar tercetak jelas di sana.
"Tidak Ata!!!" Pekik Tasya sekuat tenaga, tapi sama sekali tak di dengar oleh keduanya. Pergerakan Zayn sudah di kunci hingga ia tak bisa melawan.
"Hentikan... Daniel!!!" Pekik Tasya lagi, kali ini ia mencoba memegang lengan laki-laki yang menghajar kekasihnya berharap jika calon tunangannya itu menghentikan aksi gilanya.
Iya, laki-laki tersebut adalah Daniel Wirasena Abrraham pemilik hotel tempat Herold Grup mengadakan acara Family gethring sekaligus calon tunangan Tasya.
Tontonan yang seru sebenarnya, dimana terjadi perseteruan antara kekasih dan calon tunangan. Namun, sayangnya ini bukan lah sebuah acara lawakan. Ini adalah kenyataan yang menegangkan.
Keamanan menghampiri perseteruan keduanya, namun tak ada yang bisa menghentikan kemarahan Daniel. Daniel sosok yang mempunyai tempramen cenderung tak stabil itu memiliki kekuatan yang berlipat-lipat lebih besar saat dia marah. Seperti saat ini contohnya tiga orang keamanan tak bisa menghentikannya.
"Daniel!! Stop!!" Pekik Tasya menarik tangan kanan Daniel yang sudah terkepal. Namun, karena sedang di landa api kemarahan, Daniel seolah menjadi tuli ia tak peduli pada teriakan Tasya. Hingga akhirnya...
Brukkk
"Akhhhhhh" Ringkihan suara Tasya seketika menyadarkannya. Ia melihat Tasya yang terduduk di lantai dan di lengan bajunya terdapat bercak darah.
Tasya mengaduh menutup luka jahitan yang sepertinya terlepas karena benturan tadi. Seketika kemarahan nya berubah menjadi panik, kala darah seolah tak berhenti mengalir.
"Tasya!! kamu kenapa?" tanyanya panik dan segera menghampiri Tasya. Zayn sudah terkapar lemas, walau begitu ia tetap beranjak menghampiri Tasya. Sakit yang di rasa seolah tak ada apa-apanya, justru wajah kesakitan Tasya lah yang paling menyakitinya.
"Sya.. Kamu ngga apa-apa kan?" Ujar nya khawatir.
"Minggir Lo!! dia tunangan gue, Lo bukan siapa-siapa! jadi ngga usah sok peduli!!" Sentak Daniel. Saat melihat Zayn, emosinya seketika muncul kembali.
"Lo itu baru calon tunangannya!! belum tentu dia mau sama cowok kasar kayak elo!!" Sentak Zayn tak mau kalah. Daniel yang mendengar ucapan seperti itu pun seketika ingin melayangkan kembali bogeman nya pada wajah Zayn yang sudah tak berbentuk itu.
"Kalian bisa berhenti dulu ngga sih? Tasya itu butuh pertolongan, bukan ngeliat kalian ribut lagi" Ujar Nakula yang begitu berani. Padahal dia adalah laki-laki yang tak pernah mau ikut campur urusan orang lain. Tapi, saat melihat sahabatnya yang berada dalam masalah dia tak bisa tinggal diam saja.
"Kalau kalian mau berantem, silahkan.. Sekalian jangan berhenti kalau belum ada yang mati!" Tambahnya lagi kemudian menggendong tubuh Tasya yang sudah lemah ala bridal style. Tasya yang masih harus banyak istirahat selepas kejadian siang tadi, pun kehilangan kesadarannya karena benturan yang sebenarnya tak keras itu.
"Ini semua itu gara-gara Lo!! Kalau saja Lo bisa tahan emosi Lo itu... Tasya ngga akan terluka! Jika terjadi sesuatu dengannya gue pastiin Lo ngga akan baik-baik saja!!!" Ancam Zayn pada Daniel. Sedangkan yang di ancam justru terlihat tersenyum penuh ejekan, seolah ancaman Zayn sama sekali tidak ada artinya.
"Lo ngancem gue?.. Cih! Lo ngaca kalau mau ngancem! Muka bonyok ngga bisa melawan gitu mau ngajak gue duel? Sekali tinju gue rasa tulang-tulang Lo bakalan patah!" Cibirnya.
"Dan cowok lembek kayak Lo... Ngga pantes berada di samping Tasya!!" Tambahnya lagi menatap tajam Zayn yang sudah mengepal kan tangannya erat, hingga otot-otot di tangannya tampak menyembul.
"Kalian mau sampai kapan, main tatap tatapan seperti itu?" Ujar Abi yang sudah jengah melihat perseteruan dua orang laki-laki itu hanya karena masalah sepele. Masalah wanita, itu lah sebabnya Abi sama sekali tak berminat untuk mempunyai kekasih apalagi istri, Merepotkan!. Walau kedua orang tuanya selalu mendesaknya untuk segera menikah, tapi Abi tetap teguh pendiriannya.
"Zayn dan tuan Daniel kita selesaikan masalah ini di dalam! dan Rico tolong kamu urus kekacauan yang mereka buat. Untuk pengumuman pemenang akan kami email kan ke grup resmi perusahaan" Ujarnya tak terbantahkan. Jika boleh mengeluh jujur dia sangat malu dengan kelakuan dua laki-laki di belakangnya. Hanya karena seorang wanita bisa membuat mereka berantakan seperti ini. Belum lagi aksi mereka yang menjadi tontonan banyak orang.
"Tapi, tuan... Tasya-"
"Tasya sudah ada yang mengurus. Tidak usah berlagak peduli kalau karena kelakuan kalian lah yang membuat Tasya seperti itu!" Ucap Abi tegas. Ia bahkan sama sekali tidak menghentikan langkahnya untuk sekedar menjawab pertanyaan Zayn.
Akhirnya Abi dan dua orang yang terlibat perseteruan tadi, melangkah menuju ke ruangan di mana di daun pintunya terdapat tulisan "meeting room" padahal Zayn baru saja keluar dari dalam sana siang tadi, tapi sekarang ia yang harus mengahadapi interogasi dari Abi.
Berbeda dengan Zayn yang tertunduk lesu karena memikirkan Tasya dan juga nasibnya, Daniel justru terlihat tenang. Ia seolah tak merasa bersalah atas apa yang baru saja terjadi.
Di tempat lain.. Tepatnya di kamar tempat Tasya dan Disty menginap, seorang dokter tengah menjahit ulang luka yang kembali terbuka karena benturan keras tadi di atas panggung. Kesadaran Tasya sudah menghilang tak lama setelah di gendong oleh Nakula.
"Sebenarnya tadi saya tidak mengizinkan Nona Tasya ini untuk pulang, tapi tetap saja dia memaksa dan apa yang saya khawatir kan terjadi. Untungnya, tak terjadi hal yang serius pada lukanya" Ucap dokter yang tadi sempat menangani Tasya.
"Terimakasih dokter" ucap Disty dan Nakula serentak.
"Saya hanya membalut ulang lukanya. Ingatkan dia agar lukanya jangan dulu terkena air jika belum kering. Ganti perbannya tiap hari, ya" Ucap dokter lagi.
"Baik, dokter"
"Kalau begitu saya permisi"
"Mari saya antar, dok" ujar Nakula dan hanya di balas anggukan kepala oleh dokter tersebut.
Cukup lama Disty memperhatikan lekat wajah Tasya, ia kemudian beranjak ke arah kamar mandi. Saat keluar, ternyata Nakula telah kembali. Ia duduk di tepi ranjang sambil memainkan ponsel di tangannya.
"Lo udah balik lagi aja?" Ujar Disty yang sudah mendudukkan dirinya di atas kasurnya.
"Hem.. Baru aja kok" Ujarnya tanpa mengalihkan perhatiannya dari ponsel pintarnya.
"Terus ngapain Lo di sini? Ngga mungkin cuma mau nebeng nge-game kan?" Tanya Disty ketus. Dia agak terganggu saat orang lain ada di dalam kamarnya, apalagi itu adalah seorang laki-laki dan mereka hanya berdua di dalam satu ruangan, kamar pula. Walau mereka bertiga, anggap saja Tasya tak ada karena sedang tak sadarkan diri.
"Ck, gue kan sebagai teman yang baik mau nungguin Tasya siuman dulu lah. Lo ngga usah gr!" Ujar Nakula tak kalah ketus, membuat Disty mencebikan bibirnya kesal.
"Masalahnya Lo ngganggu pemandangan, tau ngga?"
"Ngga tahu dan ngga mau tahu!"
"Lo tuh ya ngeselin banget!!" ujar Disty sambil melemparkan guling ke arah Nakula.
"Woi!! Ah elah.. ngga bisa benget liat temen seneng gitu ya" gerutu Nakula karena lemparan guling tadi tepat mengenai wajahnya, dan sedikit menyenggol tangannya hingga ponsel yang sedari tadi di pegang nya jatuh.
Perdebatan mereka terhenti karena bunyi dering ponsel.
"Berisik, Nakul. Angkat dulu gih" Keluh Disty karena merasa terganggu oleh suara ponsel yang tak mau berhenti berbunyi.
"Bukan punya gue, nih liat hp gue mati! kan Lo yang buat hp gue ngga bernyawa kayak gini" Keluh Nakula meratapi nasib ponselnya yang sudah retak itu.
"Waelah.. Terus punya siapa? Apa punya Tasya?" gumamnya kemudian beranjak ke sisi ranjang milik Tasya. Ia menggeledah tas yang ada di atas nakas dan terlihat lah ponsel yang sedari tadi berbunyi itu.
"Wah benar.. punya ntu bocah rupanya" Nakula yang penasaran pun ikut bergeser hingga ke samping Disty membuat perempuan itu risih.
"Apaan sih Lo, jauhan sono!"
"Ya elah gue juga penasaran siapa yang nelpon Tasya"
"Ngga tau, nama kontaknya... ATM berjalan ? Siapa nih? jangan-jangan pacar Tasya yang lainnya? wah gila sih nih bocah diam-diam membanjirkan, Auhhhh" pekik Disty saat sebuah sentilan mendarat sempurna di keningnya.
"Membanjirkan, Lo pungut kata-kata itu dari mana?"
Kringgg
Ponsel Tasya kembali berbunyi dan nama kontak yang sama tertera di layar benda persegi tersebut. Bertepatan dengan itu pintu kamar mereka di gedor dengan tak sabar.
"Wah siapa tuh? itu tamu apa orang lagi ngajak tauran? Ribut banget!"
"Dah lo buka gih!"
"Ogah ah, ntar pas gue buka terus yang nongol bogeman gimana? bisa habis pipi mulus gue nanti"
"Ya elah pipi penuh dengan dempul juga, ngga bakal lecet pasti nanti pipi Lo. Yang ada bogeman nya nanti malah yang bakal membal" Sahut Nakula enteng membuat tanduk di kepala Disty bermunculan
Pletak
"Aduh... ko Lo nyambit kepala gue sih?" Keluh Nakula.
"Tasya..."
Ujar sebuah suara dari luar kamar membuat keduanya terdiam dan saling pandang.
.
.
.
.
.
.
Bersambung....