I Love You, My Secretary

I Love You, My Secretary
Bab 33



Tasya POV


Alunan musik gitar yang di mainkan Nakula membuat ku benar-benar terpesona. Di balik kacamatanya ternyata ia menyimpan sebuah bakat yang memukau. Bukan hanya permainan gitarnya tapi juga suara yang begitu merdu.


Sayang sekali dia tidak ingin mengikuti lomba yang di adakan perusahaan malam besok, padahal aku yakin ia bisa masuk tiga besar.


Kami begitu menikmati suasana malam ini hingga lupa waktu. Jagung bakar kami pun sudah habis tapi, rasanya enggan untuk bangkit.


"Lagi... Lagi dong, Nakul" Pinta ku. Seperti orang udik yang bertemu dengan artis idolanya.


"Gue haus. Suara gue juga dah abis. Lagi-lagi Mulu lo, bayar kagak" keluhnya tapi aku tak peduli.


"Ho'oh.. Lo ngga kedinginan apa? ini tuh dah malem tau. Kita balik ke kamar aja, Yuk" Yah, malam memang semakin larut dan suasananya sudah semakin mendingin. Akhirnya kami pun beranjak menyetujui usul dari Disty, takut besok kesiangan.


Suasana di hotel sudah sepi, karena memang sudah hampir tengah malam apalagi tadi kami melakukan perjalanan jauh. Jadi, pasti orang-orang sudah mengistirahatkan badan.


Kami menuju lift yang akan mengantarkan kami pada lantai di mana kamar kami berada. Namun, dari kejauhan aku seperti melihat seseorang yang tak asing tengah berjalan hendak keluar.


"Eh, kayaknya lo keatas dulu deh, ya? Gue kebelet nih" Ucapku berdusta. Aku hanya tak ingin menjadi bahan ledekan jika mereka tahu aku akan menyusul orang itu yang tak lain adalah pak Zayn.


"Ya udah, Lo jangan lama-lama ya" Ucap Disty sebelum masuk ke dalam kotak besi bersama Nakula. Aku mengangguk untuk menjawab ucapannya. Setelah lift ini sudah membawa mereka ke atas, aku memutar langkah kembali ke luar hotel.


Aku cukup penasaran, kenapa dia tengah malam begini keluar dari kamar? Jadi, aku ingin menyusulnya. Tapi, karena mungkin terlalu lama menunggu dua orang itu tak terlihat, aku justru kehilangan jejak pak Zayn. Padahal, aku yakin tadi dia itu ke arah sini. Tapi, sekarang kemana?


Ku edarkan pandangan menyapu seluruh area halaman hotel tapi, sosoknya tak juga terlihat. Apa mungkin yang ku lihat tadi itu... Makhluk jadi-jadian? Seketika aku bergidik ngeri membayangkan hal tersebut.


"Ngga mungkin. Jangan mikirin yang aneh-aneh, Tasya! Nanti kalo nongol beneran gimana?" gumam ku sambil melangkahkan kaki ke arah pantai. Karena, jika dia keluar malam-malam seperti ini, kemungkinannya dia sedang susah tidur dan hal yang paling mungkin di lakukan adalah berjalan-jalan di pantai. Seperti yang sering ku tonton di sinetron-sinetron.


Hotel yang kami tempati kebetulan berhadapan langsung dengan laut, jadi tak perlu berjalan terlalu jauh dan sekarang aku sudah sampai di bibir pantai.


Ku edarkan lagi pandangan ku ke sisi kanan dan kiri hingga akhirnya, sosok yang ku cari pun terlihat. Ia tampak berdiri menghadap ke arah laut dan memejamkan matanya. Baju kemeja yang ia pakai terlihat berkibar karena tak di kancingnya.


Sesaat aku tertegun, dengan sosoknya yang terlihat menawan karena tersorot sinar lampu yang di pasang sepanjang jalan di sisi pantai. Tapi, sesaat kemudian aku merasa was-was. Takut jika yang ku lihat ini tak nyata, apalagi di sini tak ada orang satu pun.


Langkah ku menjadi ragu, antara ingin mendekat atau kembali saja. Hingga ia menyadari kehadiranku dan pandangan kami pun bertemu.


"Lo ngapain, liatin gue kaya gitu?" Suaranya yang terdengar ketus menjadi pertanda bahwa yang saat ini sedang berdiri itu benar-benar pak Zayn.


"Saya tadi liat bapak keluar, makannya saya ikutin. Siapa tahu bapak butuh temen ngobrol" ujarku yang sudah berdiri di sampingnya.


"Bapak sedang banyak pikiran, ya?" Tanyaku lagi tapi sepertinya ia enggan menjawab membuat suasana terasa canggung.


"Bapak-"


"Zayn" potongnya menegaskan kembali jika ia tak ingin di panggil formal seperti di kantor.


"Iya.. Iya, kenapa Lo di sini?"


"Lo sendiri?


Bukannya menjawab ia malah melempari ku pertanyaan lagi. Tentu saja karena aku penasaran.


"Berada di sini mengingatkan ku pada seseorang" Ujarnya setelah aku memberitahu nya jika aku melihat ia berjalan sendirian tadi.


Aku mengernyitkan dahi mendengar hal itu, seketika aku jadi teringat dengan fotoku yang berada di atas mejanya. Karena, saat itu aku sama sekali belum sempat untuk menanyakan hal ini.


"Apa seseorang itu saya kenal?" Pertanyaanku membuatnya reflek menoleh dan terlihat biasa saja seolah tak terkejut jika aku menanyakan hal ini.


"Lo liat bintang di atas? Cantik kan?" katanya sama sekali tak peduli dengan pertanyaanku.


"Jika gue di izinkan untuk jatuh cinta... Gue ingin seperti bintang. Selalu ada walau tak terlihat. Gue ingin menemani seseorang itu setiap waktu, setiap hari, dan selamanya" Tuturnya lumayan panjang dari pada biasanya ia bicara. Dan lagi ia terdengar tulus saat mengatakannya.


"Lo tahu, walau kami terpisah tapi perasaan ku tak akan pernah berubah" tambahnya.


"Lo mencintai seseorang?"


"Yah... bahkan rasanya lebih dalam dari yang Lo bayangkan. Gue mencintainya dan hanya padanya gue ingin bersama. Melangkah bersama menerjang gelombang bahkan badai yang datang untuk menjemput bahagia."


"Bersamanya... Ku labuhkan hatiku. Tak peduli seberapa keras orang lain ingin kami terpisah. Tapi, cinta... Akan selalu tahu kemana jalan ia pulang"


"Dan dia adalah rumahku, duniaku, cintaku, dan hidupku" Tukasnya dan aku melihat setetes air mata yang jatuh dari matanya. Terlihat sekali jika ia benar-benar mencintai gadis itu.


"Betapa beruntungnya gadis itu bisa di cintai sebegitu dalam olehmu. Dia pasti akan sangat bahagia. Tapi, Zayn... Bukankah sesuatu yang di paksakan itu tak baik? Kalau kau menggenggamnya terlalu erat ia pasti akan merasakan kesakitan. Jika memang dia bukan jodohmu mau Lo berjuang kaya apa juga ngga akan jadi milik Lo. Kita ngga akan tahu hari ini Lo sangat mencintainya bisa aja besok Lo akan sangat membencinya. Jadi, jangan terlalu berlebihan" Tuturku sok bijak padahal aku sendiri pun posisi nya sama dengan dia.


Mencintai seseorang melebihi apapun...


"Kalau kami tak berjodoh... Ya, tinggal jodohkan saja, apa susahnya?" ujarnya santai. Dia malah bercanda padahal suasananya sedang serius begini.


"Ngga lucu!!"


"Siapa juga yang melawak. Gue selalu berdoa, jika memang dia bukan jodohku gue meminta agar Tuhan mau menghilangkan rasa ini tapi, kenyataanya bukannya hilang justru rasanya semakin kuat. Hingga aku bingung untuk menjelaskannya... Walau bertahun-tahun kami tak bertemu tapi, saat takdir kembali mempertemukan kami, aku langsung bisa mengenalinya dari getaran tak biasa dalam dadaku. Bahkan hanya padanya dadaku mampu berdebar tak menentu... Dari dulu hingga sekarang" Ujarnya sambil menarik tanganku hingga membuatku terkesiap.


"Rasakan" Ujarnya lagi saat tanganku di letakkan di dadanya dan aku bisa merasakan irama jantungnya yang berdebar kencang. Tanpa sadar aku memejamkan mataku untuk mersakannya dan saat itu juga jantungku berdetak seirama dengnnya. Aku pun merasakan kan debaran aneh.


"Kau meraskannya?" Tanyanya membuatku reflek membuka mata dan mengangguk.


"Aku ingin menepati janjiku padanya... Untuk selalu membahagiakannya... Setiap hari"


Deg...


Sontak perkataannya itu membuatku terbelalak dan seketika air mataku menggenang di pelupuk mata sekuat tenaga aku menahannya agar tak keluar. Ku pandangi wajahnya yang terlihat sendu dan mencari kejujuran dalam matanya.


Kenapa... Kenapa rasanya sama, ketika 10 tahun yang lalu saat Atta juga mengatakan hal itu. Ini ngga mungkin kan? Tidak mungkin ZP itu...


Mataku terbelalak dan tanpa bisa di cegah lagi air mata ini mengalir deras di pipiku. Aku tutup mulutku dengan kedua tangan menahan isakan yang ingin keluar.


Dia.. Dia yang ku cari-cari ternyata berada dekat di depanku dan aku sama sekali tak mengenalinya? Tanganku terulur untuk menyentuh wajahnya. Wajah yang selalu ku rindukan. Tanpa sadar aku memeluknya dengan erat seolah takut ia akan kembali meninggalkan ku. Aku terisak di dadanya, menumpahkan segala kerinduan yang ada.


"Kamu... Jahat... Atta" ujarku di sela-sela Isak tangis yang tak mau berhenti.


"Maafkan aku, Sya!! Maaf... Maaf..." Ujarnya yang juga terisak.


"Kamu... Jahat... Kamu... Jahat..." Aku tak bisa berbicara hanya kata itu yang bisa ku keluarkan. Tak tahu harus mengucapkan apa lagi, biarlah air mata ini yang menjelaskan betapa aku bahagia menemukannya.


Atta ku, Atta ku yang berjanji akan membahagiakanku setiap hari... Ia telah kembali. Di saksikan bintang di langit, cinta yang terpisah selama bertahun-tahun akhirnya menemukan kembali jalan pulangnya.


.


.


.


.


Bersambung...