
Malam semakin larut, angin pun semakin bertiup kencang membuat gigil tubuh yang di terjangnya. Walau terasa begitu dingin namun, hal itu seolah tak berlaku untuk seorang gadis cantik yang tengah terduduk di pasir pantai, malam ini.
Ia menengadahkan wajahnya melihat taburan bintang di langit yang terlihat berkilau di tengah gelapnya malam. Ia meletakan tangan di atas pasir yang berada belakang punggungnya, bertumpu pada kedua tangannya. Sesekali terlihat gadis itu menutup matanya seolah menikmati deburan ombak. Kadang ia juga menengok ke kanan dan kirinya, menunggu seseorang.
"Mana sih mereka?" gumamnya sambil sesekali memandang ranting-ranting kayu yang sudah ia cari di sekitar pantai.
Karena kesal, Ia pun menumpuk ranting-ranting itu membentuk sebuah Piramida kecil, kemudian menyalakan api dari pemantik yang ia bawa. Cukup sulit menyalakan apinya, karena angin yang berhembus selalu memadamkanya.
"Ah elah... Susah amat sih" keluhnya.
Crek... Crek .. Crek..
"Ck! jari lentik gue udah kapalan gini, tetep aja ngga mau nyala"
"Awas aja kalau mereka ngga dateng! gue kutuk jadi batu!"
Crek... Crek.. crek...
Tasya tak patah semangat, walau bibirnya tak berhenti menggerutu tapi tangannya pun tak berhenti untuk menyalakan pemantik itu. Hingga akhirnya perjuangan panjangnya tak sia-sia.
Wussss
"Akhirnya..." Gumamnya tersenyum melihat api yang menyala di atas ranting-ranting kayu yang ia susun, membuat tempat yang semula gelap mulai terang. Kehangatan juga di rasa gadis cantik itu.
Iya, gadis itu adalah Tasya. Seperti rencananya tadi, ia dan dua sahabatnya itu ingin menikmati suasana malam di bibir pantai sambil memakan jagung bakar. Namun, yang di tunggu tak kunjung datang.
"Permisi.. Nona, apa anda liat teman saya?" Tanya sebuah suara dari balik punggung Tasya. Tasya tak langsung menoleh ia justru asik memasukan beberapa ranting lagi ke dalam api unggun yang ia buat, membuat api cepat menyambar ranting tersebut karena di bantu tiupan angin.-
Perlahan ia menoleh, tersenyum penuh misteri menatap dua mahluk yang menatapnya dengan cengiran kuda menghiasi wajah mereka.
"Mencari teman?" Gumamnya sambil menggosok kan jari telunjuk kanan di dagunya. Ia menatap laki-laki dan perempuan di depannya dari atas ke bawah sambil sesekali terlihat menganggukkan kepalanya. Entah apa yang di fikiran gadis itu. Namun tak lama kemudian,
"Pergi saja sana kalian!!!" Pekik Tasya kesal membuat dua manusia itu terlonjak kaget, tak lama kemudian mereka tampak tersenyum canggung.
"Hehehe... Sorry, Sya. Kita tadi nyari Rendra dulu, nih pinjem gitarnya" Ujar Nakula sambil mengangkat gitar yang sedari tadi ia pegang sejajar dengan wajahnya.
Tasya mendenguskan nafasnya kasar, kemudian berbalik memunggungi mereka. Ia merasa kesal karena, sudah menunggu mereka hampir satu jam.
Disty dan Nakula yang melihat hal itu, langsung duduk mengelilingi api unggun yang tak berhenti berayun karena di tiup angin.
Disty membuka paper bag yang sedari tadi ia pegang, kemudian mengeluarkan beberapa jagung yang akan mereka bakar.
"Jangan ngambek ya! Nih gue bakarin deh buat lo" Ujar Disty sambil mengoleskan bumbu pada permukaan jagung walau tak ada jawaban dari Tasya.
"Heh!! Bantuin jangan bengong aja lo!!" Sentak Disty pada Nakula yang sedari tadi tengah memperhatikannya membuat laki-laki itu tersentak kemudian mengusap pelan dadanya karena terkejut.
Tanpa di minta dua kali, Nakula mengambil jagung yang sudah di oles bumbu itu kemudian membakarnya di atas api yang masih menyala-nyala. Hal itu tentu saja membuat Tasya menghela nafasnya pelan.
"Kalian ngga pernah bakar jagung, ya?" Ucap Tasya dan di balas gelengan kepala dari keduanya.
Tanpa berbicara, Tasya kemudian menumpuk kembali ranting-ranting pohon membentuk Piramida, kemudian ia letakan beberapa potongan ranting yang sudah terbakar setengah di tengahnya hingga api unggun ke dua itu menyala.
Beberapa saat setelahnya, harum aroma jagung bakar mulai tercium membuat perut mereka kembali merasa lapar.
"Hmmm... Wangi banget" Gumam Nakula sambil memejamkan matanya menghirup dalam aroma lezat itu.
"Cacing di perut gue dah pada demo lagi nih"
"Katanya mau bakarin punya gue, tapi ujung-ujungnya gue malah bakar sendiri" Sindiran dari Tasya membuat Disty tersenyum manis berharap Tasya tak memperpanjang hal ini.
"Sya, kalo ngga salah lo kan tinggal di daerah sini. Jauh ngga rumah Lo?" Tanya Nakula dengan mata yang masih fokus pada jagung miliknya.
"Hmmm... Kalo ke rumah gue masih jauh. Kalau pun deket, ogah sih gue ngajak kalian mampir. Bisa abis beras Bonyok gue" Tutur Tasya yang sudah tahu niat Nakula bertanya demikian.
"Huaelah... Pelit banget lo. Emang di kira kita mau minta sumbangan apa?" Ucap Disty sambil meniup jagungnya yang sudah matang.
"Lo mah bukan minta sumbangan, tapi... Suka ngerampok makanan orang" Cicit Tasya acuh yang berhasil membuat Disty mendengus kesal.
"Lo kalo ngomong suka bener Sya. Gue nih jadi korban mulu, apalagi tanggal tua kaya gini. wah, bisa abis isi kulkas lo di gasak dia" Nakula tampak menambah kekesalan Disty hingga membuat gadis itu reflek melemparkan kuas yang tadi digunakannya untuk mengoles bumbu jagung mereka ke arah Nakula.
"Lo kalo ada dendam ngga usah buka-buka kartu, ngapa! Kan gue ngga bisa modusin Tasya kalau kayak gini ceritanya"
"Eh... Sya lo mau ikut lomba besok malam ngga?" Ucap Disty lagi menatap lekat ke arah Tasya. Karena Tasya karyawan baru tentu ia tak tahu jika setiap perusahaan mengadakan acara Family gethring seperti saat ini, akan ada sebuah acara seperti lomba menyanyi, bermain musik, dance, atau stand up. Tapi, khusus tahun ini hanya ada lomba menyanyi bebas dan hadiah yang di tawarkan pun tak main-main.
Maka tak jarang tiap karyawan berebut untuk mengikuti acara tersebut. Namun, karena terlalu banyak biasanya panitia yang sudah di pilih langsung oleh asisten Rico akan menunjuk tiap divisi untuk mengirimkan satu perwakilannya saja. Begitu juga dengan acara tahun ini.
"Hmm.. Males gue, suara pas-pasan kayak gini takut di lempar tomat sama telor. Apalagi Lo tahu kan Heathers gue banyak" Ujar Tasya dan di angguki oleh Disty dan Nakula.
"Ya udahlah, mending nyanyi di sini kalo emang Lo ngga pede" Ujar Nakula mulai memetik gitar yang sudah sedari tadi ia pangku itu.
Jreennggg
"Tolong.... Katakan pada dirinya.... Lagu, ini ku tuliskan untuknya... Namanya slalu ku sebut dalam do'a, hingga ku mampu... Ucap maukah denganku... Hooouuuooo" Alunan musik dari gitar yang di mainkan Nakula pun suara dari laki-laki itu membuat dua gadis di depannya terpesona.
Tasya tak menyangka di balik style culun laki-laki itu ternyata menyimpan sebuah pesona tersendiri, dan pesona Nakula terpancar saat ia sedang bernyanyi seperti saat ini. Bahkan Disty yang memang sudah tahu pun selalu terpesona saat Nakula mulai bermain alat musik dan menyanyi.
"Woaaaahhh... Nakul, suara Lo keren banget!!! Fix besok kita ikut tampil" Pekik Tasya girang. Mendengar suara merdu dari Nakula seolah membakar semangat dan rasa percaya dirinya. Padahal ia tadi terdengar tak berminat karena memang biasanya ia hanya akan menjadi artis kamar mandi tak pernah tampil di depan umum.
"Ngga bisa!!! Kita beda divisi" Tukas Disty dan Nakula kompak membuat semangat Tasya yang sempat membara kembali padam.
.
.
.
.
Bersambung....