I Love You, My Secretary

I Love You, My Secretary
Bab 48



Zayn menatap sebuah buku usang yang ia temukan di dalam kotak tersebut. Di sisi-sisi buku itu tampak sudah keropos karena di makan rayap. Ia membuka lembar demi lembar buku itu di samping jendela untuk mendapatkan sedikit cahaya. Di sana tertulis curahan hati ibunya, ada beberapa lembar foto dan ia juga menemukan sebuah kalung liontin berbentuk oval dengan tulisan namanya di belakang liontin itu.


Tapi, Zayn lebih tertarik untuk mengetahui isi buku itu. Ia mulai membaca di lembar pertama.


Ibu Lusi POV


*Hari ini, kebahagian akhirnya aku rasakan. Setelah ujian demi ujian kami lalui. Aku dan suamiku tercinta Zack resmi menyandang status suami istri. Kehidupan rumah tangga kami sangat harmonis. Aku bahkan tidak bisa jauh darinya walau hanya satu jam.


*Suatu hari, suamiku pulang membawa sebuah kabar bahwa ia harus pergi mengudara kembali ke sebuah daerah. Suami ku adalah seorang pilot, dan aku harus siap jika hal seperti ini terjadi. Walau berat tapi aku harus melepaskannya, a*ku selalu berdo'a untuk keselamatannya.


Hari-hari ku terasa hampa tanpa kehadirannya. Aku yang teramat bergantung padanya pun kebingungan kala menit demi menit ku lalui.


Satu bulan kemudian ia pulang membawakan ku sebuah kalung yang indah. Aku bahagia sekali, tapi bukan karena hadiah yang ia berikan. Aku bahagia karena akhirnya aku kembali bisa memeluk nya.


Dan itu berlaku hingga usia pernikahan kami memasuki tahun pertama. Hari itu ia berpamitan seperti biasa, dan entah kenapa aku seolah sangat berat melepasnya kali ini.


Tak lama setelah kepergiannya dari rumah, hujan turun dengan lebatnya, angin bertiup kencang dan gemuruh suara Guntur terdengar saling bersahutan. Pada saat itu, perasaan ku resah namun aku mencoba untuk berfikiran positif. Kembali ku langitkan doa yang sama ketika aku sedang menghadap-Nya, memohon keselamatan untuk suamiku.


Keesokan harinya, aku mendapatkan kabar bahwa pesawat yang di bawa suami ku jatuh. Yang lebih membuatku histeris baik awak maupun penumpang tidak ada yang di temukan selamat, termasuk suamiku. Betapa hati ini hancur saat mendengar hal itu.


Aku berlari mencari di mana wajah suamiku yang menenangkan. Aku berharap ini mimpi, tapi fakta di hadapan ku adalah sebuah kenyataan.


Suamiku.. kekasihku.. belahan jiwaku meninggal kan aku sendiri.. Aku tergugu di samping jenazahnya hingga semuanya menjadi gelap dan aku tak ingat lagi.


Saat terbangun, suamiku sudah di kebumian. Betapa hancurnya hati ini kala aku tak sempat mencium wajahnya untuk terakhir kali.


Dokter masuk ke ruangan di mana aku dirawat, namun bukan untuk mengobati ia justru memberi ku kabar yang menyakitkan. Aku kehilangan suamiku.. Aku pun kehilangan separuh jiwanya yang ternyata sedang tumbuh di rahim ku saat itu. Aku tidak bisa mengatakan seberapa hancur nya aku saat itu.


Beberapa hari setelah itu, aku di jemput oleh adik pertama ku, Lisa namanya. Ia membawa ku ke rumah nya namun, aku menolak. Aku memutuskan untuk mengasingkan diriku di sebuah daerah terpencil. Desa X di daerah Pangandaran menjadi tujuanku.


Dari sinilah semuanya berawal....


Satu tahun setelah kepindahan ku, aku tidak ingin membuka hati pada siapa pun. Aku lebih suka hidup menyendiri dengan segala keterbatasannya. Gubug reot adalah satu-satunya harta yang ku punya. Aku bekerja serabutan. Kadang aku membantu petani memanen atau menanam tanaman padi, kadang aku juga mencari keong sawah untuk ku jual pada peternak bebek dan di tukar telur bebek.


Aku bangun subuh untuk menimba air di rumah tetangga, setelah itu aku akan memasak sarapan menggunakan tungku kayu bakar, setelah itu aku akan mencari apa saja yang bisa dijadikan uang. Seperti itulah keseharian ku.


Suatu hari, adik bungsuku datang dengan membawa sebuah kabar buruk dan juga baik sekaligus. Kabar buruknya, dia yang dulu meminta izin padaku untuk menikah dengan laki-laki pujaannya, namun sayang tepat satu hari sebelum akad calon mempelai pria mengabarkan bahwa ia membatalkan pernikahan yang tinggal menghitung jam itu. Adikku akhirnya menikah dengan laki-laki yang katanya sahabatnya.


Entah apa yang terjadi, mereka ingin berpisah dan pada saat itu adikku sedang mengandung dan ia juga mempunyai anak laki-laki dari hasil pernikahan itu. Seorang anak laki-laki yang manis dan juga penurut Zayn Pranata namanya. Adikku menitipkan nya padaku tepat saat Atta berusia dua tahun. Sejak saat itu, adikku tidak pernah kembali.


Kabar baiknya, karena hal itu aku pun kini hidup tak sendiri. Atta menghargai dan menghormati ku layaknya a ibu kandung nya sendiri. Walau aku tahu jauh di lubuk hatinya ia merindukan sosok orang tua kandung, namun Atta kecil sama sekali tidak pernah mengeluh. Aku sangat menyayanginya. Bisakah aku menganggap ini suatu anugerah? Sedangkan aku sendiri tidak tahu bagaimana nasib adikku. Bolehkah untuk kali ini saja aku egois?


Atta tumbuh dengan baik, ia anak yang cerdas baik dan sangat menyayangi ku. Bahkan saat dari sekolah menengah pertama ia sudah mendapatkan beasiswa. Dia sangat dewasa.


Suatu hari Atta mendapatkan kabar dari adikku, Lisa bahwa Atta bisa melanjutkan sekolahnya di Jakarta, dan aku pun mengizinkan. Tapi, di sinilah awal keegoisan ku....


Tepat saat Atta baru saja pergi, ada seorang pria yang mencarinya, dan aku sangat mengingat pria ini. Pria yang membuat adikku terpuruk, pria yang membuat adikku menderita. Dia adalah laki-laki yang meninggal kan adikku tepat saat berapa jam sebelum akad di mulai.


Ia bilang, adikku ada bersamanya.. dan sedang sakit ia sangat merindukan anaknya, Atta. Namun, aku tak serta-merta mempercayai nya hingga sebuah surat dan juga foto dirinya sedang berbaring di ranjang rumah sakit membungkam ku.


Aku yang sudah terlanjur menyayangi atta lebih dari hidupku mengatakan pada laki-laki ini jika yang dia cari sudah pergi ke kota, ia pun menitipkan ku sebuah kalung liontin giok berbentuk oval dan bertuliskan namanya di belakang.


.


.


.


Ibu Lusi POV end


Zayn membaca tulisan tangan ibunya berkali-kali, sebenarnya apa yang terjadi? Alasan apa yang mendasari ibu kandungnya sendiri tega menitipkannya pada orang lain. Walau itu adalah kakaknya sendiri, tapi bukankah itu waktu yang terlalu lama.


Jika di baca kembali, ibu kandung Zayn mulai mencari dirinya saat ia berusia depan belas tahun. Karena, pada saat itu Zayn tidak langsung melanjutkan pendidikannya. Ia sempat bekerja serabutan selama tiga tahun setelah lulus sekolah. Itu artinya enam belas tahun kemudian baru lah sang ibu mencarinya?


Sayangnya dalam tulisan tersebut baik nama pria yang mencarinya dan nama ibunya tak di sebutkan. Zayn pun selama ini tidak pernah menanyakan siapa nama ibunya itu.


Wajar kan anak usia dua tahun belum tahu nama orang tuanya? Begitu pun Zayn kecil. Tapi sekarang ia penasaran. Jauh di dalam lubuk hatinya, Zayn sangat merindukan sosok orang tua kandung. Namun, lagi-lagi egonya seolah menanamkan pada dirinya untuk membenci orang tua kandungnya itu. Apa pun alasannya!


.


.


.


Setelah cukup lama termenung, akhirnya Zayn memutuskan untuk kembali ke ibu kota, mengerikan juga jika sore hari di rumah tua seperti itu.


Menjelang pagi, Zayn sudah sampai di rumah bibinya. Ia hanya istirahat sebentar, setelah itu ia memulai kembali aktifitas monotonnya yaitu kerja, kerja, kerja dan kerja. Membosankan, tapi itu dulu sebelum sosok Tasya masuk kembali ke kehidupan nya. Ia bahkan sangat semangat untuk berangkat ke kantor sampai ia lupa menyapa paman dan bibinya yang sudah ada di meja makan menatapnya dengan heran.


"Zayn!!" Panggil bibi yang melihat keponakannya itu hendak keluar.


Zayn yang merasa di panggil dan baru menyadari ada orang lain selain dirinya pun menghentikan langkahnya dan berbalik untuk berpamitan pada paman dan bibinya.


.


.


.


.


.


.


Bersambung...


...----------------...


Holla hello Readers tercintah ❤️❤️❤️ Kirimin Ranucha jempol, kopi, sama bunganya donk.. Biar makin semangat ini. Ngga lemes Mulu...


Happy reading semuanya...