
Suasana sore hari di sebuah panti asuhan, tampak anak-anak sedang bermain bersama di taman yang di sediakan panti asuhan tersebut. Terlihat beberapa anak laki-laki sedang bermain bola. Anak perempuan tengah bermain boneka dan ada juga yang sedang masak-masakan.
Riuh suara canda dan tawa wajah-wajah polos mereka menjadi tanda betapa bahagianya mereka saat ini. Walau tak tersentuh oleh kasih sayang orang tua kandung, nyatanya mereka masih bisa tertawa bahagia.
Semua aktivitas itu tak luput dari perhatian seorang wanita yang sedang duduk termenung di teras panti asuhan tersebut. Di tangannya ia menggenggam sebuah syal hasil rajutannya. Ia akan selalu merasa tak baik-baik saja saat melihat syal tersebut.
Sekelebat kenangan-kenangan buruk di masa lalu kembali terbayang dalam lamunannya. Tanpa ia sadari satu tetes air matanya lolos membasahi pipinya. Satu tetes menjadi dua tetes, tiga tetes, hingga semakin deras air mata itu mengalir membuat pipi tirusnya menjadi basah.
Lagi-lagi ia tak bisa menahan kesedihannya kala mengingat kesalahannya di masa lalu. Penyesalan dan kehilangan terpancar jelas dalam sorot matanya.
"Kamu dimana, nak?" ucapnya lirih di tengah Isak tangisnya. Di ciuminya syal tersebut dengan segenap rasa sesal yang mungkin sudah terlambat.
Dari balik pintu, seorang pria berwajah blasteran mendengar tangisan wanita itu. Di usapnya dada yang terasa sesak setiap kali melihat wanita yang paling di cintainya itu begitu rapuh seperti itu.
Ia adalah tuan Robert. Robertino Herold, pemilik panti asuhan tersebut sekaligus suami dari wanita yang tengah terisak di teras panti asuhan sendirian. Wanita yang tak lain adalah Lenny Agustina Herold, nyonya dari keluarga Herold.
Sudah sejak dua puluh tahun, Nyonya Herold selalu terlihat murung dan terisak seperti itu. Sudah berbagai macam bujukan tuan Robert lakuakan, namun selalu tak ada hasilnya.
Abi sebagai anak pun tak luput selalu memberikan kasih sayang yang melimpah untuk sang mamah. Namun, hanya sedikit kemajuan yang di tujukan mamahnya.
Bahkan nyonya Lenny pun pernah masuk panti rehabiltasi jiwa di Singapura karena begitu depresi. Selama tiga tahun nyonya Lenny di rawat secara intensif. Memang belum sembuh total tapi lumayan ada kemajuan, hingga dokter pun mengizin kan nyonya Lenny untuk di rawat di rumah dengan catatan suasana hatinya harus senang.
Terkadang Nyonya Lenny akan terlihat baik-baik saja, namun ada kalanya ia pun akan merasa down seperti saat ini. Kehilangan anak laki-lakinya membuat nyonya Lenny selalu di hantui rasa bersalah.
Apa anaknya sudah makan? Apa anaknya sudah punya keluarga? apa anaknya baik-baik saja? Dan maih banyak pertanyaan lainnya yang selalu ada dalam benaknya.
Beruntung, Nyonya Lenny di kelilingi oleh orang-orang yang menyayanginya hingga ia bisa bertahan sejauh ini. Terlepas dari tahun-tahun terpuruknya, nyonya Lenny kini bisa kembali menujukan dirinya di depan publik.
Namun, tetap saja sesekali ia akan mengingat jagoan kecilnya. Jantung hatinya, dan separuh jiwanya. Dan saat Nyonya Lenny mengingat hal tersebut suasana hatinya akan memburuk dan di sini lah peranan Tuan Robert.
"Honey..." Sapa tuan Robert saat telah berdiri di samping istrinya, membuat Nyonya Lenny mengangkat kepalanya dan melihat sosok laki-laki yang tak pernah lelah menemaninya selama ini.
"Kenapa kau bersedih? Lihat lah cuaca yang tadinya panas terik sekarang menjadi gelap, karena bidadari di depanku menangis." Tutur Tuan Robert sambil mengusap air mata di pipi Istrinya penuh kasih sayang membuat senyum di bibir Nyonya Lenny terukir di wajahnya yang tirus.
"Robert, kau itu sudah tua! geli sekali rasanya mendengar rayuan mu itu." Ujar Nyonya Lenny yang sudah tak lagi menangis.
"Lagi pula ini sudah mau magrib, tentu saja gelap!! kau itu bagaimana." Gerutu nyonya Lenny dan hanya di balas kekehan oleh tuan Robert.
"Oh benarkah? aku tak memperhatikannya, karena di mataku hanya penuh oleh wajah cantikmu saja, honey." Gombal Tuan Robert berhasil mendapatkan hadiah cubitan manja dari sang istri.
"Aduh, honey.. kau suka sekali mencubit ku." Keluh Tuan Robert sambil mengusap pingangnya yang tak merasakan apa-apa walau baru saja di cubit istrinya. "Sekali-kali berilah aku satu kec*pan dari pada mencubit ku begitu" Sambungnya dan berhasil mendapatkan pelototan mata dari sang istri.
"Dasar tua-tua keladi." Gerutu nyonya Lenny. Walau begitu ia tetap memberikan apa yang suaminya itu minta.
Cup..
Satu kec*pan manis mendarat sempurna di pipi Tuan Robert membuat pria paruh baya itu tersenyum bahagia. Ia meraih kepala Nyonya Lenny dan membawanya bersandar di pundaknya yang masih kekar walau tak lagi muda.
"I love you, Hubby. Terimakasih sudah mau menemaniku hingga sejauh ini. Maafkan aku jika terkadang sikap ku merepotkan mu. Sejujurnya aku sudah ikhlas dengan apa yang terjadi di masa lalu, namun aku pun tak ingin menjadi manusia yang munafik. Ada secercah harapan dimana aku ingin bertemu dengan anakku. Walau itu adalah pertemuan pertama dan terakhir, tapi aku berharap tuhan mau memberiku kesempatan untuk meminta maaf padanya." Tutur nyonya Lenny.
Tuan Robert mengenggam tangan istrinya kemudian ia labuhkan kec*pan hangat di sana, Seolah memberikan energi positif pada istrinya.
****
Di gedung Herold grup, semua karyawan sudah meninggalkan gedung tersebut karena waktu sudah menunjukan pukul lima sore.
Tasya terlihat sedang mengemasi barang-barangnya, ia pun akan pulang karena tak ada pekerjaan yang mengharuskannya lembur. Tasya kemudian berjalan ke arah lift dan menekan tombol yang membawanya ke lantai dasar.
Gedung tersebut sudah benar-benar sepi, Tasya bahkan hanya sendirian di dalam lift. Tak lama kemudian pintu pun terbuka. Dengan kepala yang menunduk memperhatikan ponselnya, Tasya melangkahkan kakinya keluar gedung tersebut. Tapi karena ia tak memperhatikan jalan, Tasya tak menyadari ada dua orang yang juga berjalan di depannya.
Brukkk
pranggg
Tabrakan pun tak dapat di hindarkan, ponsel Tasya dan orang yang di tabraknya pun terjatuh. Sontak saja hal itu mengejutkan Tasya, ia mendongakkan kepalanya melihat siapa yang sudah menghalangi jalannya. Begitu juga dengan dua orang di depannya yang sama terkejutnya. Mereka membalikkan badannya dan saat pandangan mereka bertemu.
"Kamu lagi, kamu lagi. Kenapa suka sekali menabrak saya? Matamu itu di taruh dimana, hah!" Sentak laki-laki itu yang ternyata adalah Abidzard pada Tasya. Tasya pun terkejut saat menyadari jika lagi-lagi ia menabrak punggung Abi. Sedangkan laki-laki di sebelah Abidzar yang tak lain adalah Rico hanya diam menonton.
"Ah.. maaf tuan, saya tidak sengaja" ucap Tasya menunduk ia kemudian mengambil dua ponsel yang tergeletak di lantai dan bersebelahan, ia menyodorkan satu ponsel yang di ambilnya pada Abi.
"Maaf sekali lagi, tuan" Ujarnya dan dengan kasar Abi meraih ponsel yang di sodorkan Tasya sedangkan pandangannya mentap Tasya dengan sengit.
"Kalau punya mata itu di pake, jangan malah di kantongin!" Ujar Abi ketus. Tasya yang mendengar ucapan atasannya itu bukannya kesal atau tersinggung ia malah terlihat senyum-senyum tak jelas. Rasanya sudah lama sekali Tasya tak mendengar kata-kata ketus dari Abi, karena itu ia tersenyum-senyum seperti itu.
"Sepertinya dia sawan, tuan" Bisik Rico yang dari tadi hanya jadi penonton dan malah mendapatkan anggukkan kepala dari Abi.
"Sepertinya kau benar!"
"Saya bisa dengar tuan-tuan! enak saja sawan!" Gerutu Tasya sambil memanyunkan sedikit bibirnya.
"Terus kenapa kamu senyum-senyum ngga jelas gitu kalau bukan sawan? apa jangan-jangan kamu.. gila?" Abi menutup mulutnya seolah terkejut dengan ucapannya sendiri.
"Sembarangan!! Saya masih waras lah! Saya cuma nga nyangka bisa bertemu dengan tuan di sini" Ujar Tasya sambil cengengesan. "Tapi, kayaknya kita ngga jadi jodoh deh, tuan. Soalnya saya udah ngga jomblo. Jadi maaf ya" Sambungnya sambil memasang wajah yang terlihat menyesal membuat Abi dan Rico seketika menjadi mual.
"Emang beneran gila" Ujar keduanya kompak.
...----------------...
😍 Iya Nucha memang tergila-gila padamu, Bi. Hey itu yang tua-tua di belakang ngga usah sok ikut sweet-sweetan. Bikin Nucha ngiri aja tau ngga.
🧔 Apa sih Nucha berisik banget deh. Main yang jauh sono.. syuuhhhh
😒 Huaelah..Ni aki-aki, baru juga Nucha masukin dah songong bae.. Kasih kopi sini!!
Holla hello Readers tercintah❤❤❤ Jangan lupa lemaparin Nucha jempol, kopi, sama bunganya ya..
Terimakasih yang sudah mampir, ❤❤❤ Lophe you phlen
Happy reading All... ❤❤