
Abidzar POV
"Semua persiapan untuk acara malam nanti, telah sembilan puluh sembilan persen. Tinggal menunggu malam pelaksanaan"
"Saya pun sudah mempripare para juri, dan sudah di pastikan mereka akan berlaku adil"
"Dan untuk peserta, seperti tahun-tahun sebelumnya semua Divisi mengajukan timnya masing-masing. Namun berdasarkan hasil evaluasi dari tahun lalu, untuk mempersingkat waktu kali ini puluhan peserta kami saring kembali dan hanya akan di isi oleh sepuluh peserta pertama yang mendaftar."
Tukas beberapa panitia yang sudah di tunjuk oleh Rico, yang tak lain adalah para pemegang saham di Herold Grup.
Saat ini aku tengah mengikuti rapat sebelum acara malam nanti, yang tentu saja rapat kali ini membahas acara tersebut. Tapi aku tak tahu kali ini aku tak terlalu fokus untuk menyimak presentasi dari beberapa pemegang saham. Suara mereka hanya terdengar samar-samar di telingaku, pandanganku pun kosong walau mataku tertuju ke depan dan melihat seseorang yang tengah berbicara di sana, namun aku benar-benar tak mendengar apa yang ia sampaikan.
Aku masih memikirkan hal itu. Sudah hampir tiga bulan sejak ku berikan asisten kepercayaan ku itu tugas ini, tapi Rico sama sekali tidak bisa memberikan apa yang ku mau. Tak seperti biasanya, apa sesulit itu untuk mencari apa yang ku inginkan?
Aku gelisah tapi tak tahu harus bagaimana. Gelar jenius dalam bidang bisnis tak berlaku untuk kasus ku yang satu ini. Aku bahkan kehilangan jejak kunci jawaban, seiring dengan hilangnya bukti yang di telan bumi membuat pencarian ku terhenti di sini dengan hasil yang jauh dari kata selesai.
Apa lagi yang harus aku lakukan? Aku benar-benar kehilangan arah sekarang!
"Tuan!" Sedikit guncangan pada lengan, membuatku tersentak. Aku mengalihkan pandanganku pada Rico yang ternyata sedari tadi ia bertanya padaku. Tapi sungguh aku sama sekali tak mendengarkan apa yang mereka katakan.
Aku tersenyum dan menyapu pandanganku pada semua orang tengah mantap ku penuh tanda tanya tak lupa aku pun meminta maaf atas ketidak sopanan ku. Ini adalah pertama kalinya aku tak mempedulikan jalannya sebuah rapat. Aku merasa tak enak dengan mereka, rasanya tak sopan jika mengabaikan orang yang sedang berbicara apalagi mereka-mereka lebih tua dariku. Aku di ajarkan ayahku, untuk menjadi pemimpin yang bertanggung jawab dan tegas namun bukan berarti aku menjadi pemimpin yang arogan.
Untuk menjadi seseorang yang di segani bukan berarti kita harus menjadi pribadi yang keraskan? Menurut ku bersikap dengan bersahaja dan memperlakukan pekerja dengan baik otomatis mereka akan melakukan hal yang sama padaku.
Namun bukan berarti aku menjadi sosok yang lemah. Aku tak akan mentolerir sikap karyawan ku yang bertindak semaunya apalagi yang hanya bisa merugikan perusahaan.
.
.
.
Satu jam kemudian kami keluar dari meeting room, baru berjalan beberapa langkah kami di buat heran dengan salah satu karyawan ku yang berlari dengan tergopoh-gopoh. Keringat di kening dan beberapa bagian tubuhnya menandakan bahwa ia telah bersusah payah untuk mencari ku.
"Hah.. Akhirnya... Saya.. Hah" Ucapnya saat sudah berada di depanku, ia berbicara dengan terengah-engah seperti itu membuatku mengiba padanya.
"Hei.. Tenang dulu! Tarik nafas lalu keluarkan perlahan. Kalau sudah merasa lebih baik, bicaralah. Ada apa?" Ucapku antara kasian dan juga penasaran. Sayangnya aku tak membawa air minum jadi aku tak bisa memberikannya yang tampak kelelahan itu.
"Maaf, tuan. Maaf menganggu waktu anda, tapi..."
"Tapi apa?" Potongku tak sabar, karena ia menjeda kata tapi nya itu terlalu lama seolah bingung untuk memilih kata yang tepat untuk di ucapkan padaku.
"Itu.. Anu.. dia... itu" Ucapnya tambah tak jelas membuat ku benar-benar kesal. Ia membuang waktu berharga ku dengan hanya ana anu saja.
"Kenapa dengan "anu"? anu mu mau di potong lagi?" ucapku kesal membuatnya reflek menutup bagian depan celananya dengan kedua tangan, kemudian memandangiku dengan wajah yang tegang ia menggeleng dengan sekuat tenaga. Ku lihat beberapa pemegang saham yang tadi sempat sedikit berbincang santai dengan ku tampak menahan senyumnya tak terkecuali Rico. Padahal kan aku hanya bercanda supaya ia tak terlalu tegang. Tapi agaknya aku menambah ketakutannya.
"Aish.. Tuan jangan menakutiku seperti itu! Itu, anu-"
"Astaga!! anumu itu tak selesai selesai juga?" Kali ini Rico yang menyerah ucapan karyawan ini. Agaknya ia pun sudah mulai kesal.
"Akh.. Pak Rico saya belum selesai jangan di potong dulu. Itu loh... Salah satu karyawati tadi.. Tenggelam di laut" Ucapnya membuat kami semua tersentak.
"Sekarang dia ada di rumah sakit, baru saja di bawa oleh ambulance. Saya tidak tahu persis kejadiannya, tapi menurut keterangan teman-teman... dia di dorong oleh Maya cs, tuan" Ujarnya membuat mataku terbelalak. Dia lagi dia lagi, padahal dia sudah mendapatkan kartu kuning dariku. Tapi ternyata mereka tak menyerah.
"Siapa sekarang korbannya?"
"Korbannya adalah... Sekertaris Pak Zayn yang baru" Tukasnya tanpa memberi tahu nama korban tersebut mungkin karena baru jadi tak banyak orang yang kenal. Tapi, aku tahu siapa yang dia maksud.
Seketika jantungku rasanya seperti tertikam sebuah pisau, ngilu. Dia gadis menyebalkan yang selalu berisik dan menganggu. Inem..
Tanpa peduli dengan orang-orang di sekitarku, aku berlari ke arah lift. Aku ingin segera menemui Inem-ku. Aku sangat khawatir dengan keadaannya, aku takut terjadi sesuatu dengannya.
Entah perasaan macam apa ini aku pun tak mengerti, sulit sekali di jelaskan. Yang pasti aku tak ingin ia terluka. Hal ini pula yang saat itu kurasakan ketika mendengar nya berada di rumah sakit. Saat itu aku benar-benar panik, sampai membuat keributan di UGD.
Awalnya ku kira ini bentuk dari sebuah rasa tanggung jawab, namun aku mulai menyadari ada yang lain saat aku tak lagi melihatnya. Yang pasti ini bukan cinta, terlalu cepat untuk menyimpulkan hal itu. Anggap saja ini sebuah bentuk kepedulian. Yah, anggap saja seperti itu.
.
.
.
Abidzar POV end
.
.
Sementara itu, di sebuah rumah yang tampak menyeramkan karena terbengkalai dan di tinggalkan penghuninya cukup lama. Seorang wanita dengan pakaian yang kurang bahan dan gaya yang sombong tengah duduk di kursi dalam sebuah ruangan yang tampak seperti kamar namun sangat menyeramkan.
Tumbuhan menjalar tumbuh subur di sana. Cat dinding yang sudah mengelupas dan bercampur dengan warna tanah benar-benar membuat bulu kuduk terasa meremang. Namun hal itu agaknya tidak berlaku untuk wanita ini,ia justru tengah tertawa terbahak bahak saat mendengar laporan dari seorang pria yang berjambang lebat, tubuhnya yang tinggi lagi kekar, tak lupa sebuah tato yang berbentuk seperti seekor serigala di lengan atas kirinya.
Di dalam ruangan tersebut juga ada sekitar lima orang pria yang memiliki tato serupa. Mereka senatiasa mematut wajahnya menatap laki-laki berwajah sangar itu. Sepertinya dia adalah pemimpin dari berandalan-brandalan tersebut.
"Aku sudah melakukan apa yang kau mau! Berikan aku imbalannya!!" Ucapnya datar dengan sorot mata yang tajam sontak membuat mulut wanita itu bungkam. Ia mengeluarkan sebuah amplop coklat yang begitu tebal dari dalam tasnya, dan memberikannya pada laki-laki berwajah sangar itu.
"Aku suka kerja kalian, tepat sasaran! Aku akan mencari kalian lagi suatu hari nanti!" Ujar wanita itu kemudian segera beranjak dari tempat menyeramkan dan pengap itu.
"Senang berbisnis dengan anda" Ujar si laki-laki berwajah sangar itu tanpa melihat lawan bicaranya, ia justru asik menghitung lembaran berwarna merah di dalam amplop coklat.
.
.
.
.
.
Bersambung....