I Love You, My Secretary

I Love You, My Secretary
Bab 57



"Loh.. Cellin"


"Hiks.. Zayn.." Ternyata wanita itu adalah Cellin. Cellina Wilson, ia adalah teman kuliah Zayn.


"Elo kenapa di sini?" Tanya Zayn bingung sama bingungnya dengan Tasya, entah kenapa Tasya merasakan perasaan yang tak enak saat melihat wanita ini.


"Zayn... Hiks.." Cellin tak menjawab, ia terlihat sangat berantakan. Tanpa di duga-duga tiba-tiba Cellin beranjak dari duduknya dan..


Greeppp


Ia memeluk Zayn erat. Cellin menangis terisak di pelukan laki-laki yang tak lagi jomblo itu. Bahkan di depan wanitanya sendiri. Tentu hal ini mengejutkan tak hanya untuk Zayn tapi juga dengan Tasya.


Zayn ingin berontak tapi melihat Cellin yang berantakan membuatnya tak tega. Ia pun membiarkan Cellin mengeluarkan kesedihan nya, bahkan ia mengusap pundak Cellin untuk menenangkan wanita itu.


Zayn tak sadar jika tindakan nya itu membuat kobaran api kecemburuan di dalam diri Tasya membuncah. Untungnya, Tasya bukanlah tipe wanita yang suka meledek-ledakkan emosi nya tak tahu tempat. Ia lebih memilih menyelesaikan nya berdua. Tapi, hal itu tak berlaku untuk Rizky. Itu lain lagi ceritanya.


"Elo kenapa? Cerita sama gue!" Bujuk Zayn lagi namun lagi-lagi Cellin hanya terisak di pelukan Zayn.


"Ya udah kalo Lo belum bisa cerita. Menangis lah, sampai Lo tenang" Ujarnya lagi. Dan benar Zayn memang membiarkan bajunya basah oleh air mata Cellin.


Lima belas menit kemudian..


"Huuu... Ma.. Maaf Zayn, bajumu basah terkena ingusku" Ujar Cellin saat ia sudah jauh lebih tenang. Ia melepaskan pelukannya dan memandang sekilas Tasya yang berdiri mematutkan wajahnya di belakang punggung Zayn.


"it's okay.. Lo udah mendingan?" Ujar Zayn khawatir dan di balas anggukan kepala oleh Cellin tak lupa ia memberikan senyuman. Senyuman penuh arti dan hanya dia yang tahu artinya.


"Lo kenapa ada di sini? Ini udah larut loh"


"Hiks... Gue.. Gue baru aja kena begal.. Mobil dan semua barang-barang gue di bawa mereka" Cellin mulai kembali terisak, hingga membuat Zayn mengiba.


"Ya ampun! Ya udah ayo gue anter Lo pulang" Ucapan Zayn membuat Tasya mendelikkan matanya. Kenapa Zayn tak meminta izin padanya? Bahkan Zayn seperti melupakan kehadirannya, dan hal itu membuat Tasya bertambah kesal.


"Apa boleh?" Ujar Cellin ragu sambil melirik ke arah Tasya. Zayn yang mengerti arah pandang Cellin pun meminta izin pada Tasya. Tapi, karena Tasya sudah terlanjur kesal ia hanya menjawab singkat dan masuk ke mobil terlebih dahulu.


Arah tujuan yang berlawanan, mau tak mau Zayn mengantarkan terlebih dahulu Tasya karena kosan kekasihnya itu adalah tujuan mereka tadinya. Tasya tak banyak berbicara. Ia pun malah duduk di kursi belakang. Sengaja ia tak ingin melihat wajah Zayn, karena itu melukai hati nya.


"Yank, aku anterin Cellin dulu ya. Kamu langsung tidur jagan begadang.. Love you" Ujar Zayn sebelum turun. Tasya melirik sedikit kemudian mengangguk.


"Hemm.. Makasih" Hanya itu dan ia segera keluar dari dalam mobil yang tiba-tiba membuatnya sesak. Sebenarnya ia kesal dan cemburu pastinya. Entah kenapa perasaan ya mengatakan ada sesuatu dengan perempuan bernama Cellin itu. Ia melihat bagaimana cara Cellin memandang Zayn dan dirinya itu jauh sekali berbeda. Namun, Tasya tak tahu apa itu.


Ia pun bergegas membersihkan badan nya yang terasa gatal, karena sempat berbaring di atas rumput pun hatinya yang memanas ingin ia redam dengan air dingin.


Selesai dengan ritual mandinya, Tasya tak bisa tidur. Ia memikirkan apa yang terjadi dengan dua anak manusia dalam mobil. Ia ingin menghubungi Zayn, tapi hatinya masih kesal. Kalau di biarkan dia yang resah.


Akhirnya Tasya memutusakan untuk memakan cemilan. Hal yang biasa di lakukan nya saat sedang gundah seperti saat ini.


Sedangkan di dalam mobil, Zayn dan Cellin terlihat berbincang hangat. Sesekali terlihat tawa di wajah keduanya. Entah apa yang mereka ceritakan tapi, sepertinya mereka sudah cukup akrab.


"Jadi, kenapa elo bawa mobil sendiri?" Tanya Zayn.


"Mau bagaimana lagi, asisten gue lagi sakit. Jadi ya.. Terpaksa gue kerja sendiri"


"Ouh.. Tapi ini kan udah larut. Kok elo berani banget sih?" Tanyanya lagi.


"Perempuan itu harus berani dong. Biar ngga di tindas seenaknya sama kaum kalian"


"Maksud nya kaum kalian itu apa? Sorry ya gue ini tipe cowok yang sangat menghormati perempuan" Ujar Zayn tampak tak terima hingga membuat Cellin terkekeh.


"Iya, iya gue percaya Lo orang baik.. Jadi anterin gue ke apartemen aja yah, Zayn"


"Loh, Lo ngga tinggal di mansion?" Tanya Zayn bingung. Setahunya Cellin ini adalah anak tunggal dari keluarga Wilson orang terkaya nomor empat di negara ini. Tak mungkin kan jika dia tak punya rumah mewah. Dulu pun Zayn beberapa kali pernah mampir ke sana.


"Ya masih, cuma ini kan udah larut. Apartemen gue lebih dekat dari pada ke mansion" Jelas Cellin yang hanya di angguki kepala oleh Zayn.


Beberapa saat kemudian mobil yang mereka tumpangi sudah terparkir sempurna di basmen gedung apartemen yang di tinggali Cellin.


Zayn sebenarnya ingin langsung pulang, mengingat tubuhnya yang sudah sangat lelah, tapi ia tak enak hati menolak tawaran Cellin untuk sekedar minum kopi di apartemen nya. Jadi, di sinilah ia berada.


"Zayn, kopinya di minum dulu. Aku mandi sebentar ya? Badanku rasanya lengket"


Cellin melenggang meninggalkan Zayn sendirian setelah mendapatkan anggukan kepala dari Zayn. Dalam hatinya ia menyesalkan keputusan nya.


"Kalau tahu di tinggal gini, mendingan gue tadi langsung pulang. Mandi terus tidur, beuhhh baru ngebayangin doang udah terasa nyamannya."


Zayn menyeruput sedikit kopi hitam yang di buat langsung oleh Cellin. Tak seenak buatan Tasya tapi masih bisa di terima.


"Tasya? Ya ampun!! gue ampe lupa ngabarin dia. Duh mana tadi mukanya lecek banget lagi, pasti dia ngambek nih!" Gumanya sambil mengotak-atik ponselnya mencari nama kontak yang dia cari.


Baru saja ingin menekan tombol panggil, Cellin sudah keluar dengan memakai baju tidur berbahan satin tipis, hingga membuat Zayn bisa dengan jelas melihat pembungkus aset berharga nya.


Sesaat Zayn tertegun dengan pemandangan itu, tapi tak lama ia segera menundukkan pandangannya. Bisa bahaya kalau sampai lama-lama melihat pemandangan haram begitu. Ia pun laki-laki normal, siapa yang tak suka di suguhi pemandangan seperti itu, namun rupanya iman Zayn masih kuat. Ia segera meneguk habis kopi nya. Tak di pedulikan panas yang terasa membakar lidahnya, yang jelas ia ingin segera pulang.


Saat Cellina duduk di sampingnya, tercium harum parfum yang wanginya entah kenapa membuat Zayn jadi panas dingin.


"Loh, kopinya sudah habis? Gue kelamaan ya?" Tanya Cellin ia kini merubah suaranya menjadi selembut mungkin. Senatural mungkin.


"Ngga kok, gue pulang ya?" Ujar Zayn. Berada di dekat Cellin sungguh membuat perasaannya makin aneh. Ia mulai merasa nafasnya sesak, jantungnya pun berdebar tak karuan. Hawa panas menjalar ke seluruh tubuhnya. Entah perasaan macam apa ini, ia pun baru pertama mengalaminya.


"Apa yang terjadi, apa gue kena serangan jantung? Rasanya panas sekali, jantung ini.. Ughh kenapa berdebar tak menentu" Gumamnya dalam hati.


"Lo yakin pulang sekarang? Tubuh Lo kok bergetar gitu? Muka Lo juga merah, Lo sakit?" Tanya Cellin, tanpa di minta punggung tangannya sudah menyentuh kening Zayn, hingga membuat pemuda itu tersentak.


"Ngga panas" Gumannya saat merasa suhu tubuh Zayn masih normal.


"Gue ngga apa-apa. Gue pulang dulu" Ujar Zayn ia bergegas bangkit dari duduknya. Namun, pandangan yang semakin buram, membuatnya tak melihat sisi meja hingga akhirnya dia tersandung dan jatuh.


Brukkkk..


"Zayn!! Ya ampun, elo ngga apa-apa. Elo nginep aja di sini ya? Kayaknya elo ngga baik-baik aja deh" Ujar Celin berusaha membantu Zayn berdiri, namun Zayn mencoba menepisnya. Perasaan ini membuat Zayn hampir hilang akal.


"Akh... Kenapa gue ingin menerkamnya?" Batin Zayn saat melihat Cellin mendekat.


"Ayo" Celin memegang lengan Zayn bermaksud untuk membantunya berdiri, namun dengan. sisa kewarasan nya Zayn menepis uluran tangan itu. Karena terlalu kuat, Cellin yang sedang membungkuk pun tidak bisa menahan beban badannya, hingga...


Bruuukkkkk...


Cellin jatuh tepat di atas tubuh Zayn hingga membuat tubuh mereka kini berhimpitan. Zayn merasakan sesuatu seperti jeli menekan dadanya, dan hal itu membuat Zayn menjadi semakin menggila.


"Maafkan aku, sayang..." gumam Zayn dalam hatinya.


.


.


.


.


.


Bersambung...


...----------------...


😱 Astaga Zayn, masa gitu doang lemes sih.. Payah lu ah...


😵 Nucha tolong... Gue kena serangan jantung kayaknya...


😒 Lebay lu..


Holla hello Readers tercintah ❤️❤️❤️ jangan lupa lemparin Nucha jempol, bunga sama kopinya ya..


Happy reading all ❤️❤️❤️