I Love You, My Secretary

I Love You, My Secretary
Bab 82



Minggu pagi yang begitu cerah. Sinar mentari bahkan sudah menyinari bumi sejak tadi, tapi hangatnya mentari rupanya tak membuat gadis cantik yang masih bergelung di bawah selimut terusik. Tasya justru semakin nyenyak dan asik dengan mimpinya.


Prang..


Prang..


Gumprangggg ...


Bahkan suara ribut dari dapur pun tak membuatnya terusik sedikitpun. Tersangka yang membuat keributan tersebut sudah bersungut-sungut di dapur. Rizky benar-benar tak habis pikir dengan Tasya, matahari sudah tinggi di luar tapi gadis itu belum juga menampakkan tanda-tanda akan terbangun.


Rizky sengaja melemparkan piring legen milik ibunya yang terbuat dari seng supaya membuat suara gaduh. Bahkan ia juga melempar piring tersebut ke depan pintu kamar yang di tempati Tasya. Tapi rencananya gagal, Tasya sama sekali tidak terusik.


"Gila tuh cewek! tidur apa mam pus?! Piring emak gue dah pada penyok gini belum juga bangun!" Gerutu Rizky saat melihat Tasya dari ambang pintu sambil menenteng piring yang baru saja ia lempar.


"Gini nih istilah "Anggap saja rumah sendiri" yang di salah artikan. Ini namanya tamu ngga tau diri! udah masuk seenaknya, kelakuan juga seenaknya."


"Enaknya gue apain tuh cewek, ya?" ucapnya pelan sambil berjalan kembali ke arah dapur untuk meletakan piring nya kembali ke rak piring.


"Mau gue lempar panci tapi kok sayang, nanti gue ngga bisa masak. Mau gue guyur, nanti kasur gue yang basah. Mau gue kasih sambel di mulutnya yang kalo tidur ngga pernah mingkem itu, tapi cabe kan lagi mahal. Di apain ya?" Gumamnya lagi yang masih mematung di depan rak piring sambil mengetuk-ngetukkan jari telunjuk kanan di dagunya. Ia sedang memikirkan cara untuk membangunkan Tasya. Sesaat kemudian Rizky menjentikkan jarinya saat lampu di otaknya menyala.


"Ahaa!!!" Serunya dan berjalan menuju mesin cuci.


"Hoeeekkkk.. Nih aromanya bener-bener Amazing" Ujarnya sambil menutup hidung dan mulutnya. Tak ingin aroma yang mengganggu Indra penciuman itu masuk ke dalam hidungnya.


Ia membawa benda tersebut ke dalam kamar yang di tempati Tasya. Gadis itu benar-benar damai dalam tidurnya, membuat sang tuan rumah mendecakkan lidahnya kesal.


Sebenarnya bukan hal baru melihat Tasya yang malas seperti saat ini. Karena kebiasaan gadis itu saat sedang libur memang akan tidur lebih lama dari hari biasanya. Bukan hanya itu, kadang Tasya juga tak pernah mandi saat di hari libur. Kerjaannya hanya rebahan, makan, terus tidur. Padahal Rizky sudah sering memberikan nasihat untuk mengurangi kebiasaan buruk itu, tapi seperti biasanya ucapan Rizky hanya masuk ke telinga kiri dan keluar dari telinga kiri pula karena tak pernah sampai ke kepalanya.


Rizky pun sudah tak heran, dia hanya ingin menjahili sang kakak karena itu adalah hiburan nya.


Rizky mengayun-ayunkan sepatu yang kotornya melebihi bulu bebek sehabis berenang di lumpur itu ke depan hidung Tasya. Ia terkikik geli saat Tasya mulai bereaksi karena aroma yang keluar dari sepatu tersebut memang sangat menyengat.


Kemarin saat Rizky pulang dari Klinik, ia mampir ke sebuah warung tenda untuk makan malam. Saat akan pulang, kakinya terjerembab ke dalam selokan karena ia asik memandangi ponselnya. Kebetulan air di selokan itu berwarna hitam pekat, jadi sepatu dan ujung celananya basah.


Rizky sebenarnya berniat membuang sepatu tersebut, tapi belum sempat karena semalam ia langsung tertidur setelah membersihkan diri. Ia bahkan tak tahu saat Tasya datang. Ternyata sepatu itu masih ada gunanya juga.


"Makan nih sepatu rasa comberan!" ucapnya cukup keras sambil menyeringai jahil. Suara Rizky tersebut sontak saja membuat Tasya membuka matanya lebar-lebar dan pemandangan pertama yang tertangkap oleh matanya membuat Tasya terkejut dan reflek menampik sepatu tersebut ke samping.


Bughhh


"Aaaakkkhhhhhhh" Teriak Tasya dan Rizky bersamaan.


Tepat!! Sepatu yang sudah menghitam itu tepat mengenai wajah Rizky. Tentu saja Rizky yang belum siap itu sangat terkejut. Ia bahkan sampai terduduk di lantai dan Rizky juga berteriak begitu nyaring saking kagetnya. Apalagi kini aroma yang menyengat itu membekas di wajahnya.


Tadinya Tasya ingin sekali marah karena adiknya telah menganggu mimpi indahnya. Tapi begitu melihat ekspresi Rizky yang terduduk di lantai sambil menekuk wajahnya membuat Tasya menyemburkan tawanya.


"Oi, Ky!! ngapain lu di situ?" Ujar Tasya menahan tawanya.


"Nangkep kucing!! Gue jatuh, dodol!!" Ucap Rizky ketus sambil melempar Tasya dengan sepatu kotornya.


"Iiiyyuuhhh... Bau banget sih.. Hueekk" Keluh Tasya setelah berhasil berdiri sempurna untuk menghindari sepatu tersebut. Alhasil sepatu kotor itu mendarat di kasurnya.


"Loe dokter terjorok yang pernah gue temui" Cibir Tasya.


"Mandi sono! Badan Lo itu lebih bau dari tuh sepatu, tau ngga? Cewek kok joroknya nauzubillah." Ketus Rizky ia sudah memasukan sepatunya ke dalam kantong plastik hitam yang sudah ia sediakan di sakunya.


Tasya pun segera mengambil handuknya dan bergegas untuk mandi tanpa mau menimpali ucapan Rizky.


Lima menit kemudian Tasya sudah duduk manis di kursi makan, menunggu sarapan yang di buat oleh Rizky. Dan beberapa saat kemudian, sarapan pun sudah tersaji di hadapannya. Aroma dari omlet yang di buat Rizky pun memenuhi Indra penciuman Tasya membuat cacing-cacing di perutnya berteriak minta di isi.


"Hemm masakan Lo kelihatannya enak, Ky!" puji Tasya tapi Rizky sama sekali tak tersanjung dengan pujian itu. "Tapi lebih enak lagi kalau ada Hot Cappucino Coffee nih" Lanjut Tasya dengan menunjukan senyum pasta giginya, membuat Rizky mendecakkan lidahnya kesal.


"Lo udah di kasih jantung masih aja minta ginjal!!" Gerutu Rizky kesal, tapi meskipun begitu ia tetap memberikan apa yang Tasya mau.


Mereka pun kini sudah selesai sarapan dan tengah menikmati waktu santai nya di depan tv. Hari ini Rizky tugas jaga siang di klinik, jadi masih ada waktu untuk sedikit berbincang dengan Tasya.


Brak..


Brak..


Saat mereka tengah bersantai, pintu Kost Rizky di ketuk atau itu lebih cocok di sebut gedoran. Sontak gedoran itu membuat keduanya saling pandang menerka siapa yang bertamu.


Rizky pun berjalan menuju pintu hendak membukanya, di ikuti Tasya di belakang. Ia penasaran dengan tamu yang sepertinya sedang tergesa-gesa.


Cklek..


Pintu di buka oleh Rizky dan tamu tersebut dengan tidak sopannya menerobos masuk begitu saja, bahkan ia sempat menabrak bahu Rizky hingga membuatnya terhuyung mundur selangkah kebelakang. Tentu saja Rizky langsung mendecakkan lidahnya kesal.


Sedangkan tamu itu langsung menghampiri Tasya dan memeluknya.


"Sayang.... Aku menemukannya..." Pekik tamu itu riang, yang tak lain adalah Zayn. Ia datang ke kost Tasya tapi gadisnya tak ada di sana. Jadi Zayn menyusul Tasya ke kost an Rizky.


Zayn ingin memberi tahu Tasya jika ia telah menemukan ibu kandungnya dan menemukan petunjuk juga bala bantuan untuk menemukan keberadaan ayahnya yang ternyata masih menjadi buronan polisi karena kasus obat-obatan terlarang yang ayah Zayn geluti saat itu.


"Akhh.. Atta turunkan aku.. Aku pusing!" Keluh Tasya karena Zayn tak hanya memeluknya tapi ia juga membawa Tasya berputar di pelukannya. Adegan itu membuat Rizky yang melihat nya jengah.


"Sayang.. Aku menemukannya!!" Seru Zayn lagi saat sudah menurunkan Tasya. Ia beralih menangkup wajah gadisnya dan menatap mata Tasya dengan binar bahagianya. Tasya yang tidak mengerti pun hanya bisa mengrenyitkan dahinya bingung.


"Apa? menemukan apa?" Tanyanya.


"Ibu.. Ibuku.. Aku sudah menemukan ibuku... tadi malam aku tidur di pangkuannya ia menyanyikan ku lagu yang biasa ia nyanyikan saat aku masih kecil dia menyuapiku dia memelukku dia membawakan ku keluarga yang aku impikan dia membuatku menangis haru diam..."


"Hey Atta, bicaranya pelan-pelan!" Potong Tasya karena Zayn bercerita tanpa kenal tanda baca. Dia bercerita begitu antusias menandakan bahwa ia memang benar-benar bahagia.


"Ibuku, dia masih hidup sayang. Dan aku sudah bertemu dengannya." Ucap Zayn saat sudah berhasil mengatur kembali nafasnya.


Mendengar penuturan Zayn, Tasya pun tersenyum. Ia ikut bahagia dan pastinya ia tak perlu susah-susah untuk bercerita pada Zayn tentang hubungan antara Abi dan juga Zayn.


"Aku ikut bahagia, Ta. Semoga segera kamu bisa bertemu dengan ayahmu supaya masalah kita cepat selesai." Ucap Tasya dengan memberikan senyum manisnya.


"Aku pun berharap seperti itu!" Sahut Zayn ia memeluk kembali Tasya dan melabuhkan sebuah kecupan di kening Tasya hingga membuat Tasya mematung.


"Ekhem.. Hello!! di sini masih ada orang loh. Bukan nyamuk apalagi patung!" Ucap Rizky sewot karena sejak tadi ia seperti tidak terlihat. Rizky sengaja bersuara saat melihat Zayn mengecup singkat kening Tasya agar pasangan yang sedang bahagia itu tak kebablasan.


Sontak saja suara Rizky itu menyadarkan keduanya. Zayn reflek melepaskan dekapannya pada pinggang Tasya dan menggaruk tengkuknya yang tidak gatal sama sekali sambil tersenyum canggung. Sedangkan Tasya memalingkan wajahnya karena saat ini wajahnya sudah memerah.


"Nasib jomblo kalau diantara manusia bucin emang mengenaskan!" Keluh Rizky lagi dan berlalu dari ruang tamu hendak bersiap-siap untuk berangkat ke klinik karena waktu sudah siang.


.


.


.


.


.


.


Bersambung...


...----------------...


Holla hello Readers tercintah ❤️❤️❤️ jangan lupa lemparin Nucha jempol sama gifnya yah.. Terimakasih yang sudah berkenan mampir ke cerita receh Nucha ini.. Lophe you phlen ❤️🤗🤗🤗


Happy reading all ❤️❤️❤️