I Love You, My Secretary

I Love You, My Secretary
Bab 130



“Dokter! Dokter! Tolong kakak saya!” teriak Abi panik sedangkan Tasya sudah terisak di dalam dekapan Abi.


Beberapa perawat dan dokter berlari memasuki ruang ICU dimana Zayn di rawat. Tasya ingin sekali masuk dan melihat dari dekat kekasih hatinya, namun tak bisa ia lakukan. Jangankan melihat dari dekat bahkan melihat dari balik kaca pun tak bisa, karena perawat menutup tirai dinding tersebut.


“Atta baik-baik saja kan, tuan? Iya kan? Dia tak mungkin meninggalkan kami kan? Dia tak boleh meninggalkan kami begitu saja, dia tak boleh pergi! Katakan padaku, tuan! Dia akan bangun kan! Iya kan?” ucap Tasya terisak. Sungguh, hatinya sangat tak siap jika terjadi hal yang buruk pada Zayn.


Abi sungguh tak sanggup melihat wanita di pelukannya ini begitu rapuh. Ia pun merasakan kekhawatiran yang teramat sangat, apalagi beberapa hari yang lalu Zayn memang memberikan sebuah pertanda jika dirinya akan meninggalkan mereka semua.


Apa benar yang di ucapkan Zayn tempo hari adalah pertanda untuk hari ini?


“Kita berdo’a, semoga kakak kuat melawan kesakitannya, Nem. Apapun yang terjadi kedepannya, aku mohon jangan pernah berfikir jika kakak tidak mencintaimu. Ia sangat mencintaimu lebih dari yang kau tahu, jangan pernah membencinya jika dia tak bisa menepati janjinya padamu lagi.” Ujar Abi membuat Tasya reflek mendorong dada Abi melepaskan dirinya dari pelukan pemuda yang hatinya pun sama rapuhnya dengan Tasya.


“Maksud kamu bilang seperti itu apa, hah! Kamu bilang kalau Atta akan pergi untuk selamanya, begitu? Adik macam apa kamu, hah!” sarkas Tasya tak suka dengan ucapan Abi yang seolah-olah sudah pupus harapan. Meski dokter pun mengatakan demikian, tapi selagi kita masih bisa berusaha bukankah harapan akan selalu ada?


“Bukan seperti itu maksud ku, Nem. Hanya saja aku ingin kau tahu jika kakak tak akan suka melihatmu bersedih seperti saat ini, apalagi jika itu karena dirinya. Kakak pasti akan sangat sedih. Maksudku, apapun yang terjadi kau harus selalu bahagia, karena kebahagianmu adalah kebahagian kakak juga.” Ujar Abi mencoba menjelaskan apa yang ia maksud dengan bahasa yang sedikit halus meski harus berputar-putar.


Perdebatan keduanya terhenti saat pintu ruangan Zayn terbuka dan seorang dokter yang bertanggung jawab atas Zayn keluar sambil melepaskan maskernya.


“Bagaimana keadaan Atta, dok?” tanya Tasya antusias, harapan jelas terlihat dari matanya.


Sebuah senyuman tergambar diwajah sang dokter. “Alhamdulilah, tuan Zayn berhasil melewati masa kritisnya. Saat ini beliau sudah tersadar dan mencari kalian, nona Tasya dan juga tuan Abi.” Jelas sang dokter membuat Abi dan Tasya tersenyum lega, tak lupa mengucapkan rasa syukur mereka di dalam hati masing-masing karena do’a mereka di dengar oleh Tuhan.


“Jadi kami bisa masuk, dok?” tanya Abi kali ini pun tampak antusias tak seperti beberapa menit yang lalu.


“Tentu saja, silahkan. Tapi jangan lupa untuk menggunakan baju steril sebelum menemui pasien.” Ujar sang dokter lagi dan di angguki sekali oleh keduanya.


Jika biasanya Tasya akan bertingkah sedikit berlebhan pada Abi, kali ini ia masuk ke ruangan Zayn tak sekalipun menoleh pada Abi sekedar memberi tahu Abi jika dia sedang bahagia.


Abi paham dengan perubahan itu, dan ia mengambil kesimpulan jika Tasya kesal dengannya karena beberapa menit yang lalu, Abi mengatakan pada Tasya jika Zayn mungkin akan pergi untuk selamanya. Atau bisa jadi Tasya terlalu bahagia karena sang kekasih akhirnya kembali sadar dan Tasya melupakan kehadiran dirinya di samping Tasya.


Dua-duanya adalah kemungkinan yang menyakitkan untuk seorang yang mencintai dalam diam seperti dirinya. Meski begitu, Abi sangat pandai menutupi lukanya hingga tak ada yang menyadari dia sedang terluka hatinya, jika tak melihat langsung pada mata Abi.


Lagi pula ini sedikit aneh, kenapa dia merasa sakit, bukankah seharusnya Abi bahagia karena kakaknya bisa kembali berkumpul bersama mereka? Pun sebenarnya Abi memang sudah mengiklashkan Tasya untuk kakaknya.


“Ada apa dengan hatiku? Apa aku sebenarnya berharap kak Zayn benar-benar pergi? Atau aku terlalu terbawa suasana karena permintaannya beberapa hari yang lalu? Kau sungguh tak tahu diri, Bi!” gerutu Abi dalam hatinya.


Mereka berjalan dengan perlahan dan pelan seolah takut mengganggu Zayn, namun Zayn yang memang sudah teerjagadan sedang menunggu mereka menyadari kedatangan keduanya. Zayn pun membuka matanya dan melihat ke arah Abi dan Tasya. Sebuah senyuman tergambar di wajah pucatnya.


“Sayang..” lirih Tasya ketika sudah berada di sisi Zayn. Tasya juga menggenggam tangan Zayn sebagaimana yang Zayn lakukan padanya.


“Sasya..” ujar Zayn tak kalah lirih. Tasya sedikit tersentak karena Zayn memanggilnya dengan panggilan kesayangan Zayn untuknya dulu.


“Sasya, aku mencintaimu.. kau tahu. Tapi aku ingin meminta maaf padamu karena mungkin aku tak akan lagi bisa menemani hari-harimu ..”


“Aku akan pergi jauh.. Dia sudah datang.. Abi.” Zayn kemudian melirik ke arah Abi. Apa yang Zayn ucapkan sungguh membuat Abi dan Tasya tak menegerti. “Aku ingin meminta satu hal padamu dan tolong jangan menolaknya.” Lanjutnya lagi semakin membuat Abi bertanya-tanya.


“Kakak bilang apa sih? Dia siapa yang kakak maksud?”


“Tolong jaga Tasya, tolong jaga cinta kami. Aku tak bisa mempercayai siapun kecuali dirimu. Tolong aku, Bi..” lagi-lagi Zayn mengatakan hal yang sama.


“Kamu apa-apaan sih, Atta! Kamu pikir aku barang yang bisa kamu titipkan kesana kemari. Aku mencintaimu dan aku ingin hidup bersamamu, jika kau lupa itu, Atta!” potong Tasya tak terima.


Zayn tersenyum lemah dan nafasnya semakin tersenggal-senggal. “Aku tahu itu, sayang.. aku pun begitu.. tapi.. aku tak punya banyak waktu.. aku sudah melihatnya, Dia di sini!” ujar Zayn lagi.


“Apa sebenarnya yang kau inginkan Atta!”


“Menikahlah dengan Abi, Sya!” ujar Zayn meski dengan nada yang lemah tapi terdapat keseriusan di sana.


“Tidak! Aku hanya akan menikahimu, aku ingin bersama denganmu! Apa kau tak ingin melihat anak kita lahir dan tumbuh dewasa, Atta! Apa kau tak ingin membuatku bahagia lagi? Apa aku membebanimu? Apa aku..”


“Tidak!” sergah Zayn cepat meski dengan nafas yang tersenggal-senggal. Fisiknya belum siap jika dia harus banyak bicara.


“Mengertilah, sayang.. waktuku tak banyak. Aku bahkan sudah bisa melihat malaikat maut ku di sini. Dia memakai baju serba hitam dan membawa sabit, ada tanduk berwarna merah juga dikepalanya. Apa itu tandanya aku akan masuk ke dalam neraka?” ujar Zayn entah dia bercanda atau serius, tapi berhasil membuat Abi yang tadinya merasakan perasaan yang sulit di jelaskan, kini ia merasa geram dengan candaan Zayn yang menurutnya tak tepat. Namun, Abi tak mengatakan apapun karena ini adalah pembahasan dua pasangan kekasih yang akan melibatkan dirinya dalam kisah cinta mereka sebentar lagi.


“Ngaco! Kamu sudah bangun seperti ini terus mau kemana lagi? Kamu jangan mengada-ada!” ujar Tasya masih tak terima.


Zayn menghembuskan nafasanya pelan. Akan sulit meyakinkan Tasya karena itu ia beralih menatap Abi. “Tolong, untuk kali ini saja turuti permintaanku. Permintaan yang mungkin terakhir kalinya dariku..” ucapnya dengan nada yang serius.


Abi terdiam tak tahu harus mengatakan apa atau harus bersikap seperti apa, yang jelas dia masih mematung mencerna dan menimbang keputusan apa yang akan dia ambil. Zayn menatap Abi dengan penuh harap berbanding terbalik dengan apa yang Tasya lakukan. Gadis yang sebentar lagi akan menjadi ibu muda itu menatap Abi dengan tatapan iba berharap Abi akan menolak permintaan konyol dari Zayn.


Abi menghembuskan nafasnya pelan sebelum akhirnya satu kata keluar dari mulut Abi.


“Baiklah..”


.


.


.


.


.


Bersambung...