I Love You, My Secretary

I Love You, My Secretary
Bab 28



Waktu makan siang tiba, aku bersama pak Zayn kembali berjalan beriringan untuk menuju kantin di lantai dasar. Sesuai janjinya ia akan mentraktir ku minum sekalian makan siang. Dengan senang hati aku menerima tawarannya, kapan lagi kan bisa makan gratis.


Tiba di kantin ternyata sudah ramai para karyawan yang memenuhi meja. Ku edarkan pandangan mencari kira-kira ada yang masih kosong atau tidak. Hingga tanpa sengaja pandangan ku menangkap dua mahluk yang sedang menikmati makan siang mereka, aku tersenyum dan menghampiri mereka tanpa sadar aku malah menarik tangan pak Zayn untuk mengikutiku.


Mereka ternyata tak menyadari kehadiran ku, keduanya masih asik dengan makan siang masing-masing.


"Woy!!!! Pacaran Mulu" pekikku sembari memukul pelan meja yang masih kosong. sontak saja hal itu membuat Disty dan Nakula terkejut.


Disty bahkan sampai tersedak makanannya, sedangkan Nakula terlonjak nyaris terjungkal kebelakang saking terkejutnya. Sesaat kemudian pandangan mereka menatapku sinis. Aku hanya bisa tersenyum tanpa peduli dengan raut kesal mereka.


"Hehehe... Pis" Ucapku mengangkat jari telunjuk dan jari tengah membentuk huruf V ke arah mereka tak lupa aku juga memberikan senyum pasta gigiku padanya.


"Apaan sih Lo Sya, hampir aja jantung gue terjun bebas" gerutu Nakula sambil membetulkan letak kacamata yang sama sekali tidak bergeser. Sesekali ia juga mengusap dadanya.


"Untung gue makan makanan manis kali ini. Coba kalo tadi gue makan cabe, mau tanggung jawab Lo?" Disty pun tak mau kalah, ia juga memprotes kelakuanku.


Disty dan Nakula, dua teman baruku di sini. Mereka juga yang mau menerimaku apa adanya tak pernah menjudge apa yang aku lakukan, setidaknya tidak di depanku.


"Hehe sorry.. Kita gabung sini ya? yang lain penuh soalnya" ujarku tanpa menunggu jawaban mereka, aku sudah lebih dulu menarik kursi untuk ku juga pak Zayn.


Awalnya mereka terkejut karena aku membawa serta pak Zayn bersamaku, tapi tak ada yang mengeluarkan suara walau aku tahu mereka pasti ingin meledekku. Seperti biasanya.


Kebetulan meja yang Nakula dan Disty sekarang pilih adalah meja panjang dengan kapasitas enam orang. Jadi, aku tak perlu sungkan untuk ikut bergabung karena masih banyak kursi yang kosong di sampingnya.


Pak Zayn berdiri dan memilihkan menu makan siang untuk kami, seperti janjinya.


"Eh Sya, tumben kalian bareng?" Tanya Disty mulai kepo. Dia memang salah satu anggota Club rumpi di sini, wajar saja jiwa ke kepoannya akan muncul jika melihat hal-hal yang tidak biasa.


"Emang kenapa? kami kan emang selalu bersama... Di kantor"


"Iya sih, tapi tumben sekali Lo bisa bareng gitu waktu istirahat kayak gini apalagi mau-maunya pak Zayn bawa sendiri makanan buat kalian. Apa ada hal yang gue lewatkan?" Tanya Disty penuh selidik hingga membuatku tak bisa berkata-kata. Bingung mau jawab apa, takutnya nanti malah di bikin gosip yang enggak-enggak lagi.


"Udah sih Dis, Lo kepo deh. Itu urusan mereka Lo ngga berhak ikut campur" Nakula memang selalu bisa di andalkan. Tau saja aku tidak ingin menjawab.


"Tapikan aneh"


"Udahlah, buat apa juga Lo sibuk. Mending makanan Lo cepet abisin. Habis ini kita banyak kerjaan"


Akhirnya si ratu kepo berhenti mewawancarai ku. Tak lama setelah kami terdiam pak Zayn datang dengan nampan di tangannya. Ia membawakan ku es jeruk sesuai janjinya dan itu membuat mataku berbinar.


Aku menyambut dengan senang hati makanan dan minuman yang ia berikan. Setelah mengucapkan terimakasih aku mulai menyantap makan siang kami tanpa ada lagi yang berbicara.


"Gue duluan yah, Sya, pak" Ujar Nakula karena makanan di piringnya sudah kosong di susul Disty yang ikut pamitan pada kami.


Entah sengaja atau tidak mereka malah meninggalkanku berdua dengan pak Zayn.


Tak lama setelah Disty dan Nakula pergi kantin tiba-tiba heboh. Semua karyawan berdiri dan beberapa karyawati tampak berbisik sesekali mereka tersenyum. Membuat ku penasaran apa yang mereka lihat.


Dari kejauhan aku melihat pemilik perusahaan berjalan dengan penuh wibawa mengabaikan sapaan dari beberapa karyawannya. Ia berjalan menuju ke dalam kantin di ikuti oleh asisten Rico.


Pantas saja tiba-tiba kantin menjadi heboh, ternyata pemilik perusahaan mampir ke sini. Tentu sana ini menjadi hal langka, karena tak biasanya mereka mau menyempatkan diri sekedar duduk di sini bersama yang lain. Sebagai pemilik perusahaan tuan Abi lebih sering makan di luar, atau pun harus makan di perusahaan tentu ia akan menikmatinya di ruangannya yang luas.


Tuan Abi berjalan ke arah mejaku membuat aku dan pak Zayn sontak berdiri dan menundukkan kepala, tanda memberi hormat padanya.


"Kita gabung di sini, yah?" Ujarnya ketika sudah sampai di depan kami. Tentu saja tak ada alasan untuk menolak keinginannya, tapi hal ini justru membuat beberapa karyawati yang juga fans garis keras nya tuan Abi semakin memandang ku dengan sinis.


"Silahkan, tuan" Ujar pak Zayn sembari menarik kursi di sampingnya, tapi tuan Abi justru menarik sendiri kursi di sampingku membuat pak Zayn terlihat canggung.


Setelah tuan Abi duduk kami bertiga pun ikut duduk di meja yang sama dengannya. Rasanya canggung sekali padahal ini bukan kali pertama aku berhadapan dengan ketiga laki-laki ini. Tapi, sekarang rasanya lain. Aku seperti sedang duduk di dalam goa dan ada banyak mata merah yang sedang memperhatikan gerak-gerik ku.


"Rico, bawakan aku makanan yang ku bilang kemarin" Titahnya pada asisten Rico.


Dengan segera Asisten Rico berdiri dan membawakan apa yang di inginkan bosnya.


"Apa kabar mu, Nem?" Tanya tuan Abi membuatku menghembuskan nafas lelah. Sudah ku bilang berkali-kali tetap saja ia memanggil ku dengan sebutan itu.


"Tasya, tuan" Ujarku lemah.


Ia terkekeh namun tak peduli dengan Protesku. Akhirnya kami mengobrol singkat, lebih tepatnya basa basi. Hingga asisten Rico datang dengan nampan besar yang ia bawa dengan dua tangannya. Enatah apa isinya tak begitu terlihat.


Melihat itu tuan Abi berdiri untuk menyambut asistennya. Satu piring tuan Abi ambil sendiri dan aku cukup kaget dengan apa yang ia pesan.


"Ini untukmu, Nem. Sesuai janjiku waktu itu" Ucapnya sambil menyodorkanku sepiring makanan yaitu...


"Satu porsi sate kambing" Jelasnya...


"Satu porsi tongseng tulang kambing"


"Satu mangkuk sup kaki kambing"


"Satu mangkuk soto babat"


"Satu porsi iga bakar kambing"


"Satu sup buntut kambing"


"Tunggu dulu..." Sela ku kala ia ingin mengambil satu makanan lainnya dalam nampan yang di bawa asisten Rico.


Sumpah yah, semua makanan ini membuatku tercengang tak percaya. Ini seperti ia memotong satu ekor kambing untuk ku?


"Sejak kapan kambing punya buntut?" Ujarku bingung setahu ku sop buntut itu dari sapi, tapi ini kok?


"Ada... ini buktinya" Ujarnya enteng.


"Okeh lanjut... Terakhir... Kari kepala kambing... Taraaaa, semuanya buat Lo" Tambahnya sambil meletakan satu mangkuk besar kari kepala kambing yang ia sebutkan. Aku benar-benar di buat syok dengan yang di lakukan tuan Abi. Agaknya bukan cuma aku yang syok pak Zayn pun demikian. Ia bahkan sampai tak bisa berhenti menganga.


"Ih!!! Ya ampun, tuan! apa itu?" Ringisku menunjuk makanan yang terakhir ia sebutkan. Sumpah itu membuat selera makan ku menurun.


"Ini kari kepala kambing lah. Kamu ngga denger tadi aku bilang apa?" Ujarnya ketus.


"Astaga, tuan. Saya memang pencinta kepala. Tapi, itu cuma kepala ayam dan ikan, kalau kepala kambing. Ya ampun!!! Sama sekali tidak ada dalam benak saya untuk mencobanya apalagi itu... Itu tuan kasih saya kepala utuh? Gimana cara makannya, tuan? Dan lagi itu... Itu matanya bulet gitu, serasa kaya lagi makan mata sendiri nanti, tuan. Astaga yang benar saja" Gerutu ku benar-benar tak habis pikir dengan jalan pikiran tuan Abi. Ya kali, aku di suruh makan kepala kambing, utuh? Mungkin kalau d bagi dua masih bisa di terima. Tapi, ini? Ah... Entahlah aku ke habisan kata-kata.


"Aku tak peduli. Sesuai dengan apa yang kamu minta, aku sudah potong kan khusu untukmu satu ekor kambing" Ujarnya santai sungguh ingin rasanya ku jamabak rambut klimisnya itu kemudian ku benturkan ke sisi meja.


"Ya Allah, segini banyak siapa yang mau menghabiskannya, tuan? Bisa masuk rumah sakit nanti saya kalau makan ini semua" Gerutuku kesal.


"Aku tak peduli yang jelas mulai dari hari ini aku bebas memanggil mu... Inem" Ujarnya sembari terkekeh kecil membuat ketampanannya bertambah dan aku hampir oleng melihat senyumnya itu. Sungguh manis, tapi kalau melihat semangkuk besar itu...


"Ah!!! Tuan..."


"Sttt... Jangan lupa habiskan ya?" Ujarnya masih saja terkekeh dan malah melangkah kan kakinya meninggalkan ku dengan banyaknya olahan kambing.


Belum juga memakannya, aku sudah pusing duluan..


.


.


.


.


.


Bersambung...