I Love You, My Secretary

I Love You, My Secretary
Bab 42



Di sisi yang lain, sebuah mobil mewah tampak terparkir di parkiran khusus sebuah hotel. Hotel yang sudah di booking untuk tiga hari itu agaknya kedatangan tamu penting.


Seorang pria gagah nan rupawan turun dari mobil mewah tersebut. Dengan gaya sombongnya, ia berjalan lurus tanpa melihat kanan dan kirinya melewati pekerja hotel yang menundukkan kepala saat ia lewat di depan mereka.


Laki-laki itu memasuki lift khusus tamu VVIP, ia menekan tombol yang bertuliskan angka tertinggi di gedung tersebut.


Ting


Pintu lift terbuka mengantarkannya pada sebuah lantai yang hanya berisi empat kamar. Ia memasuki sebuah ruangan yang di daun pintunya terpampang sebuah tulisan "Presdir room".


Ya, sosok laki-laki tersebut adalah pemilik hotel yang di sewa Herold Grup. Laki-laki kaku, dingin, nan sombong itu duduk menghadap sebuah laptop yang menyala menampilkan sebuah gambar di mana acara lomba menyanyi itu sedang di langsungkan.


Di tangannya ia membaca sebuah dokumen dengan serius. Rautnya benar-benar menampakan hawa yang begitu dominan. Untung saja di ruangan tersebut hanya ada dia seorang.


"Anastasya" Gumamnya saat layar di laptopnya menampilkan sebuah gambar di mana Rico tengah memanggil Tasya untuk naik ke atas panggung. Sudut bibirnya terangkat membentuk sebuah senyuman yang hanya kepada beberapa orang ia tunjukan.


"Lo ngga akan bisa lepas dari jeratan yang gue buat. Lo akan menjadi milik gue... Hanya untuk gue!!" Ujarnya seraya tersenyum miring.


"408" lanjutnya sama sekali tak melepaskan senyuman di wajahnya. Namun, sesaat kemudian tangannya terkepal kuat kala melihat tayangan yang terpampang jelas di laptopnya.


"B********! Beraninya dia mengganggu milik gue!!"


Prangggg


Laptop yang sedari tadi di tatapnya kini sudah hancur berkeping-keping, karena sang empunya yang melemparkan benda tersebut sebagai pelampiasan emosi yang sekarang tengah memenuhi kepalanya.


Ia beranjak dengan tergesa-gesa menuju tempat di mana penyebab kemarahannya berasal.


Sedangkan di tempat yang berbeda tepatnya di atas panggung...


"Ekhm... Okeh Tarikkkk maszeehhh!!" Pekik Tasya membuat suara gendang mengalun merdu.


Beberapa orang tampak di buat menganga sedangkan beberapa orang lainnya terlihat mulai menggerakkan kepala mereka ke kiri dan kanan mengikuti alunan musik gendang yang di tabuh. Walau hanya dari suara recording namun, sensasinya masih berasa enak di dengar.


😅 Fix Tasya ini artis dangdut kamar mandi rupanya...


"Opo pancen wes nasibku...uuu" Suara Tasya menggema, menyanyikan sebuah lagu pop dut dari artis yang saat ini tengah naik daun.


"Nasib mu pie?" Terdengar sahutan dari sebagian penonton yang mungkin juga penyuka gender music ini. Tak terkecuali Disty dan Nakula pun turut meneriakkan kalimat serupa.


Gema suara penonton membuat kepercayaan diri Tasya meningkat. Tak apa kalau pun dia tak masuk tiga besar, setidaknya ia bisa membuktikan jika dirinya bukan lah pengecut seperti apa yang di gaungkan oleh Irma tadi.


"Kudu pisahkan Karo sliramu..uuu"


"Me sak ne..."


"Jare mu arep nompo opo anane, nanging nyatane trisna ku mbok sepeleke"


"Kudune koe ngerteni..iii"


"Ngerteni pie"


"Kabeh mung titipane Gusti.."


"Duh Gusti..."


"Senajan atiku ws bubrah, Kandeli nggoning ibadah, Gusti sing paringi berkah"


"Senajan balungan kere, ora kendo nyambut gawe. Senajan dalan ra alus, sing penting wani terus..."


HOAHOEEEEE...


Teriak para penonton serentak sambil menghentakkan kaki, pinggul, dan semua bergoyang bergembira. Begitu juga dengan Nakula dan Disty yang ada di atas panggung.


Nakula justru sengaja mengambil beberapa lembar pecahan lima ribuan dari dompetnya untuk saweran. Sembari mengajak dua sahabat wanitanya Nakula memberikan lembar demi lembar pecahan lima ribu tersebut membuat Tasya gemas.


"Haduh maszeh... masa cuma goceng" Ujar tasya di sela-sela ia menyanyi. Tasya juga berbicara menggunakan mikrofon hingga membuat beberapa orang tergelak.


"Di goyang maszeh.. Hobaahhh" Ujarnya lagi kala Nakula memberikan satu lembar uang berwarna merah.


"Ayo Sya goyang yang heboh..." Teriak Disty yang hanya bisa di dengar oleh Tasya dan Nakula.


Malam ini Tasya, Nakula, dan Disty benar-benar melepaskan beban yang mereka rasa. Mereka terlihat sangat menikmati alunan musik dan juga lagu yang di mainkan. Bahkan Tasya pun tak lagi memikirkan nilai yang akan ia dapatkan. Toh dangdut juga lagu, apa yang salah dengan yang ia nyanyikan. Walaupun dari semua peserta hanya dia yang membawakan lagu bergenre itu.


Tanpa di sangka pemilik perusahaan pun ikut bergabung bersama Tasya dan yang lainnya. Tentu hal ini membuat semua orang tercengang.


"opo pancen wes nasibku..uuu"


Abi menghampiri Tasya dan mulai mengeluarkan beberapa lembar uang berwarna merah. Hal itu membuat mata Tasya seketika berbinar. Satu lambar di terima Tasya, satu kali pula pinggulnya bergoyang. Bak biduan profesional hal itu ia lakukan di iringi sorakan dari penonton.


"Wah harus di abadikan ini sih" Gumam Rico dari samping panggung, saat melihat Abi yang dengan lincahnya bergoyang bersama biduan abal-abal tersebut. Hingga akhirnya lagu yang di bawakan Tasya habis dan ia berhasil mengantongi uang dari saweran Abi sebanyak satu juta rupiah.


"Lumayan.. ngga menang juga dah dapet duit buat modal beli cilok.. Hehehe" ucapnya saat sudah berada di bawah panggung. Ia tengah menghitung lembaran demi lembaran uang yang di dapatnya termasuk pecahan lima ribuan, sambil duduk mengangkat sebelah kaki dan meletakkannya di paha kaki satunya.


"Selain ****** ternyata dia juga cewek *******, ya?" ujar sebuah suara yang tadi siang sempat mengucapkan kata maaf itu. Yupz, siapa lagi kalau bukan Maya si ulat bulu. Tasya menghela nafasnya kasar, kala mendengar suara Maya yang tengah menyindirnya itu. Tanpa berniat menggubris ucapannya.


Maya yang di abaikan seperti itu, tentu saja tak terima dan hendak mengeluarkan kata-kata kasarnya. Namun sayang, umpatan yang ingin ia keluarkan harus tertahan di ujung lidahnya, karena suara Rico yang sedang mengambil alih panggung mengalihkan perhatiannya.


"Semua peserta telah menampilkan kebolehannya. Ada yang bernyanyi solo, ada pula yang tergabung dalam sebuah grup band. Apa pun itu beri tepuk tangan yang meriah untuk penampilan mereka yang luar biasa!!!" Seru Rico membuat gemuruh tepuk tangan kembali terdengar.


Inilah saat-saat mendebarkan bagi setiap peserta. Semua orang pasti menginginkan menjadi juara dan mendapatkan hadiah fantastis, yaitu kenaikan gaji tiga kali lipat untuk juara pertama selama satu tahun plus vocher dineer di restoran terkenal di Jakarta untuk tiga orang. Siapa yang tidak tergiur coba? Ya, hanya Tasya. Dia bahkan tak peduli siapa yang menang yang dia tahu dia hanya ingin menghibur dirinya sebelum bertemu dengan keluarganya esok hari. Tapi, siapa sangka dia justru menjadi salah satu peserta karena ulah jahil Disty.


"Baiklah... Sambil menunggu dewan juri yang tengah berdiskusi untuk menentukan sang juara tahun ini... Mari kita sambut penampilan spesial dari...


...


...


Zayn Pranata!!!"


Seru Rico di sambut gemuruh tepuk tangan dari penonton. Lampu seketika menjadi padam dan hanya menyorot dirinya, yang sudah duduk dengan cool di sebuah kursi dan juga sebuah gitar yang ia pegang.


Melihat sang kekasih hati yang dia cari-cari ternyata ada di atas panggung membuat Tasya terkejut. Ia pikir Zayn tak menghadiri acara malam ini, karena sedari sore tadi ia sama sekali tak melihat kekasihnya itu.


"Lagu ini saya persembahkan untuk seseorang yang teramat spesial di hidup saya... Anastasya Putri" Ujar Zayn menatap Tasya sendu penuh dengan cinta. Lampu kini hanya menyorot keduanya.


Jreennggg....


Zayn mulai memetik gitar dengan begitu syahdu, menghipnotis para penonton untuk ikut hanyut dalam suasana romantis yang ingin ia ciptakan.


"Heart beats fast


Colors and promises


How to be brave?


How can i love when i'm afraid to fall?


But watching you stand alone


One step closer


I have died every day waiting for you


Darling, don't be afraid


I have loved you for a thousand year


I'll love you for a thousand more


Time stands still


Beauty in all she is


I Will be brave


I Will not let anything take away


What's standing in front of me


Every breath


Every hour has come to this


One step closer...


Zayn beranjak dari tempat duduknya meletakan kembali gitar akustik yang sedari tadi ia mainkan di sandaran kursi yang ia duduki. Ia melangkah dengan mic yang di pegang di tangan kirinya, menghampiri Tasya yang senantiasa masih termenung di samping panggung.


Walau terlihat tengah termenung namun, sungguh lagu yang sedang di nyanyikan Zayn terasa sampai ke hatinya, ia tak kuasa untuk menahan air matanya. Air mata haru, air mata bahagia terjun bebas membasahi pipinya.


Cinta yang bertahun-tahun menanti akhirnya ia menemukan jalannya kembali. Tasya tak bisa berkata-kata, apalagi saat tangan hangat Zayn menggenggam tangannya dan membawanya ke tengah panggung. Sungguh Tasya terharu sekaligus malu. Ia tak menyangka Atta nya seberani ini sekarang.


I have died every day waiting for you


Zayn melanjutkan lagunya, dengan tangan kanan yang masih setia menggengam erat tangan Tasya, seolah tak membiarkan kekasihnya menjauh lagi sekaligus menunjukkan pada dunia bahwa penantian panjangnya akhirnya berbuah manis.


Cintanya yang berbalas.


Darling, don't be afraid


I have loved you for a thousand year


I'll love you for a thousand more


And all along i believed i would find you


Time has brought your heart to me


I have loved you for a thousand year


I'll love you for a thousand more


One step closer


One step closer


I have died every day waiting for you


Darling, don't be afraid


I have loved you for a thousand years


I'll love you for a thousand more


And all along i believed i would find you


Time has brought your heart to me


I have loved you for a thousand year


I'll love you for a thousand more


Jreennggg....


Lagu A thousand years yang di bawakan Zayn usai, di iringi tepuk tangan meriah dan sorak sorai penonton. Zayn masih setia menggengam tangan Tasya dan memandangnya penuh cinta hingga Tasya tersipu.


Tanpa di sangka-sangka, Zayn menjatuhkan dirinya berlutut di depan Tasya sembari tangan nya membuka sebuah kotak beludru berwarna merah.


"Aku memang bukan pria romantis, aku juga tidak punya apa-apa untuk di banggakan. Aku hanya pria yang sangat mencintaimu. Aku mencintaimu lebih dari yang bisa ku ucapkan, lebih dari yang bisa ku tunjukan. Anastasya Putri... Izinkan aku menepati janjiku.. Membahagiakan mu setiap hari, menghujanimu dengan cinta kasihku, Tasya....


Will you marry me???" Ujar Zayn.


Di hadapan semua orang ia ingin menunjukan keseriusan nya untuk meminang sang pujaan hati. Tasya yang tak menyangka bahwa Zayn akan mengucapkan kata yang begitu indah tak bisa berkata-kata, ia terlalu bahagia.


"Aku... Kamu mencontek kata-kata seperti itu dari mana?" Bukannya menjawab lamaran dari Zayn, Tasya justru menanyakan hal yang tak penting. Membawa raut tegang Zayn berubah mendung seketika. Menyadari hal itu buru-buru Tasya merubah ekspresi nya menjadi mode serius.


"Hehe... Aku bercanda.. Aku..."


Deg...


Deg..


Deg...


Jawaban menggantung dari Tasya membuat Zayn di landa rasa khawatir. Mungkin kah ia akan mendapatkan penolakan?


"Aku... Aku Be-"


Bughhhh


Belum selesai Tasya berucap, dari arah yang tidak terduga sebuah bogem mendarat sempurna di pipi Zayn. Zayn yang belum siap menerima serangan dadakan seperti itu langsung tersungkur. Kotak beludru yang berisi cincin itu seketika terlempar entah kemana.


"Kurang Ajar!!!!"


.


.


.


.


.


.


Bersambung...