I Love You, My Secretary

I Love You, My Secretary
Bab 67



Di gedung Herold Grup masih di suasana pagi, Tasya berjalan memasuki gedung dengan tak bersemangat. Itu terjadi karena semalam Zayn tak mengizinkannya untuk ikut berpetualang mencari tahu jejak keberadaan orang tua kandungnya. Lebih tepatnya ibu kandungnya.


Mimik wajah yang Tasya tunjukan itu tak luput dari perhatian dua manusia yang juga baru saja sampai di gedung itu. Ya, siapa lagi jika bukan Nakula dan Disty. Mereka menghampiri Tasya yang berjalan di depannya hendak masuk ke dalam lift.


"Oi.. Sya!!" Seru Disty menyusul langkah lebar Nakula yang sudah selangkah di depannya.


Tasya yang merasa terpanggil pun berbalik badan dengan sama tak semangatnya. Ia hanya memandang sebentar kedua sahabatnya kemudian masuk ke dalam lift tanpa menunggu keduanya karena meraka memang sudah dekat.


"Malah di tinggal, nape muka Lo lecek gitu kaya duit dua rebuan di dalam dompet pas tanggal tua" Tanya Nakula saat sudah berada di dalam lift di susul Disty yang sudah menekan tombol hingga pintu lift tertutup.


Tasya menghembuskan nafas nya pelan. Benar-benar tak bersemangat. Disty kemudian menempelkan punggung tangan nya di kening Tasya walau ia harus sedikit menjijit.


"Ngga demam" gumamnya saat merasakan suhu tubuh Tasya yang normal. Tasya yang di perlakukan seperti itu mendecakkan lidahnya.


"Ck! Gue ngga sakit. Gue cuma lagi males aja." ujarnya lesu.


"Karena pak Zayn ngga masuk?" Tebak Nakula yang langsung mendapatkan tatapan kagum dari Tasya dan Disty.


"Wow!! ternyata Lo dukun ya" Ujar Disty takjub yang tentu saja langsung mendapat kan toyoran pelan di keningnya dari Nakula.


"Sembarang.. Hidup Tasya kan ngga jauh-jauh dari namanya Zayn Pranata. Noh tertulis jelas di jidatnya yang lebar" Tutur Nakula membuat Tasya mencebikan lagi bibirnya. Tak terpengaruh dengan ledekan yang di lontarkan oleh Nakula.


"Eh iya, pak Zayn belum masuk ya? Apa dia masih sakit?" Tanya Disty yang sebenarnya sudah penasaran dari kemarin tapi karena ia menjaga supaya rahasia nya tetap aman, ia berusaha menahan rasa penasaran nya. Begitu juga pagi ini. Ia sengaja tak langsung bertanya melainkan menunggu Seseorang yang memancing pembahasan itu terlebih dahulu.


"Dia baik-baik aja kok. Tapi, karena udah terlanjur cuti 3 hari jadi dia healing sendiri an gue ngga di ajak" Keluh Tasya akhirnya membuat kedua temannya mengangguk faham.


"Huaelah.. Tahu lah yang lagi bucin mah pengennya bareng terooss" Sindir Disty yang pastinya berasal dari lubuk hatinya yang paling dalam.


"Emang pergi kemana pak Zayn?" Tanya Nakula penasaran. Kalau tahu Zayn tak separah itu, Nakula pasti hanya izin satu hari.


"Ngga tahu gue, yang pasti itu ke daerah yyyy"-anggap saja itu adalah nama sebuah jalan, Nucha lagi males nulis alamat lengkap-


Percakapan mereka terhenti saat pintu lift sudah terbuka, ketiganya berpisah di lantai 8. Tasya masih harus naik lagi untuk bisa sampai di ruangan nya.


Tasya begitu serius dengan pekerjaannya hingga tak terasa waktu sudah menunjukkan waktu makan siang. Bertepatan dengan seorang OB yang mengetuk pintu ruangannya.


"Ini ada paket untuk, nona" Ujar ob tersebut menyerahkan sebuah amplop kepada Tasya.


"Dari siapa mba?" Tanyanya karena tidak ada tertera nama di sana.


"Ngga tahu, nona. Tadi pak satpam yang di bawah cuma ngasih tahu suruh kasihin ke nona Tasya. Saya permisi" Ujar nya.


"Ya, terimakasih" Ujar Tasya sambil meraih amplop tersebut. Ia yang penasaran pun tak menunggu waktu lama untuk membuka amplop tersebut.


Saat sudah terbuka, ia melihat sebuah gambar di sana lebih tepatnya adalah sebuah foto. Seketika itu juga dadanya terasa nyeri kala melihat foto yang begitu terlihat mesra.


Dimana ia melihat Zayn yang sekilas seperti tengah menc*um seorang wanita yang sangat Tasya kenal. Karena namanya sudah berada di list paling utama sebagai "ancaman" dalam hubungannya. Walau begitu Tasya tak ingin ambil kesimpulan sendiri. Ia tahu Zayn tak akan sebegitu dekatnya dengan wanita lain kecuali ada sesuatu yang terjadi.


"Aku harap kamu jujur, Ta" Ujarnya sambil menempelkan ponsel ke telinganya setelah menekan tombol panggil.


Tuuuttttt...


Tuttt......


Di lain tempat Zayn sedang menatap mobil Cellin yang semakin menjauh, hingga getaran di saku celananya membuat Zayn tersentak. Senyum di bi bir nya terlukis indah kala nama sang kekasih tertera di sana. Dengan semangat Zayn mengangkat panggilan tersebut.


"Hallo.. Sayang, apa kamu sudah merindukan aku?" Ujarnya saat panggilan sudah tersambung. Sedangkan Tasya yang mendengar ucapan Zayn hanya memutar kan bola matanya malas. Zayn memang senarsis itu. Walau sebenarnya tebakan Zayn itu benar, tapi Tasya tak mungkin jujur kan?


"Ngga usah GR. Gimana hasilnya? Kamu udah ke tempat itu belum?" Tasya sengaja tak langsung meminta klarifikasi dari foto tersebut, ia ingin dengan halus mengintrogasi Zayn hingga Zayn tak sadar kalau Tasya tahu apa yang sebenarnya Zayn sembunyikan.


"Udah, yank..Tapi hasilnya nihil. Rumah itu sudah sepuluh tahun ngga di tempati" Ujar Zayn lesu.


"Terus sekarang kamu mau kemana?"


"Mungkin ke toko perhiasan di sekitar sini. Karena dulu dia kan tinggal di daerah ini, jadi kemungkinan nya mereka membeli kalung itu di sini juga" Tutur Zayn menjelaskan tapi Tasya justru tak terlalu mendengarnya. Ia masih bingung cara memancing pembahasan yang menjurus ke foto itu.


"Oh, Jadi aku ganggu kamu ya? Kamu jangan lupa makan dulu ini udah siang" Ujar Tasya membuat senyum Zayn semakin merekah. Jarang sekali Tasya mengingatkannya tentang makan seperti itu.


"Wah.. Aku maunya makan kamu aja boleh ngga?" Gurau Zayn tentu saja mendapatkan penolakan keras dari Tasya.


"Boleh.. Boleh banget kalau kamu mau aku tuker tambah sama yang lain" Ujar Tasya kesal.


"Hehehe, jangan lah. Stok kaya aku gini cuma ada satu-satunya di dunia, ngga ada lagi" Ujar Zayn lagi.


"Kamu ngga ketemu sama Cellin kan Zayn?" Pertanyaan yang sedari tadi di tahan, akhirnya keluar juga. Tentu saja hal itu membuat Zayn tersentak ia bahkan sampai menengokkan kepalanya ke kanan dan kiri mencari sosok Tasya. Takutnya kekasih nya itu ada di sekitar nya. Karena tebakan Tasya tepat sekali.


"Dari mana dia tahu? Apa gue harus jujur? Tapi kan gue ngga ngapa-ngapain. Tapi kalo gue jujur bisa-bisa dia ngambek. Jelas-jelas semalam dia udah bilang kalau ngga suka sama Cellin" Gumam Zayn dalam hati.


Flashback Zayn On..


Semalam saat aku dan Tasya membongkar kembali kotak rahasia -Sebutan untuk kotak yang ku temukan di rumah ibu Lusi- Kami menemukan sebuah alamat di bagian belakang foto yang tak jelas rupanya ini.


Aku tentu saja bahagia, bukan karena akan bertemu dengan orang tua kandungku. Melainkan karena sebentar lagi tantangan dari keluarga Tasya akan segera aku tuntaskan tak ada lagi alasan mereka untuk menghalangi cinta kami.


Aku menghela nafasku terlebih dahulu sebelum menjawab nya. Bingung harus menjawab apa. Karena aku sendiri pun tak mengerti.


Saat itu, setelah aku keluar dari apartemen Cellin. Aku menahan dengan sangat hasrat yang tiba-tiba memuncak. Hal itu membuatku hilang akal. Hingga aku harus menahannya dengan sangat dan itu sangat menyiksa. Seluruh tubuhku rasanya memanas, kepala ku pusing, jantung ku berdebar tak karuan, nafasku pun rasanya tersengal-sengal.


Setiap melihat perempuan ketika berpapasan di sepanjang jalan menuju parkiran, rasanya aku ingin menarik mereka ke atas ranjangku. Tapi, aku bersyukur iman ku rupanya masih kuat. Aku tak senekat itu. Jadi untuk berjaga-jaga aku mencoba menetralkan debaran yang aneh ini di dalam mobil hingga tanpa sadar aku malah tertidur di dalamnya.


Satu hal yang aku simpulkan di kejadian itu adalah... Telah terjadi sesuatu pada tubuhku, dan untuk memastikan nya saat berada di rumah sakit aku meminta dokter untuk cek darah dan hasilnya tak ada yang aneh. Ini lah kenapa aku masih ragu pada Cellin. Aku yakin dia berbuat sesuatu pada ku, tapi kenapa tak bisa terdeteksi? Itulah yang saat ini masih menganggu fikiran ku.


"Zayn.." Sapa Tasya membuat ku tersentak dan menatapnya canggung.


"Aku ngga inget, yank! Seinget aku tuh, habis minum kopi buatan Cellin terus aku rasanya ngantuk banget. Jadi, aku putusin pulang dari pada tidur di apartemen nya kan?" Tasya membulatkan matanya menatapku seperti terkejut dengan apa yang baru saja aku jelaskan.


"Apa?!! Jadi kamu ngopi-ngopi cantik dulu bareng dia? Berdua?" Tanyanya dan ku jawab anggukan kepala karena memang seperti itu kenyataannya.


"Tapi cuma aku doang ko yang ngopi. Jadi namanya ngopi tampan bukan cantik" Imbuhku membuat Tasya mengerutkan dahinya. Sadar kalau Tasya bingung dengan penjelasan ku akhirnya aku memilih jujur dengannya. Karena menurutku kejujuran adalah tiang dalam sebuah hubungan, karena pondasinya adalah kepercayaan.


"Waktu itu aku di tinggal Cellin mandi jadi aku di suguhi nya kopi"


"APA!!! Mandi?!!" pekik Tasya kuat hingga membuatku terperanjat. Sepertinya aku salah bicara.


"I.. Iya.. Tapi, kita ngga ngapa-ngapain ko suer deh!!" Ujar ku gugup sambil mengangkat dua jari ku membentuk huruf V.


"Sekali lagi aku lihat kamu bareng sama wanita itu.. Jangan bicara lagi padaku!!" Tukas Tasya membuatku kalang kabut. Namun di sisi lain aku senang karena sudah jelas, bahkan sangat jelas kalau dia cemburu.


"Sayang.. Kamu cemburu?"


"Aku, cemburu? ngga lah.. buat apa juga aku cemburu. aku ngga suka aja, emang nya kenapa? ada yang salah? kamu ngga terima?" Tukasnya garang, masih saja mengelak padahal jelas-jelas dia cemburu. Kalau perempuan sedang marah lebih baik aku mengalah saja. Cari aman.


"Iya deh iya.. Aku janji ngga akan ketemu lagi sama dia." Ucapku mengalah dan dia melengos begitu saja keluar dari kamarku membuat ku menahan senyum.


Begini rasanya di cemburui.. Tidak terlalu buruk.


Flashback Zayn off


Zayn bingung sendiri harus menjawab apa karena sudah mendapatkan peringatan keras dari Tasya semalam. Ia ingin jujur tapi takut Tasya salah faham. Kalau tak jujur?


"Ngga apa-apa kali ya? Lagian kami juga ngga ngapa-ngapain. Dia cuma nolongin gue?" Gumam Zayn dalam hati.


"Zayn Pranata!!" Sentak Tasya yang kesal karena Zayn tak kunjung menjawab pertanyaan nya.


"Ah ya sayangku!! kenapa sih kamu udah ngga sabar ya?" Ujar Zayn malah berbicara yang tak jelas.


"Zayn aku lagi ngga mau bercanda ya!" Ujar Tasya datar. Sadar akan nada bicara Tasya yang mulai tak seperti biasanya buru-buru Zayn menjawab pertanyaan yang di lontarkan Tasya tadi.


"Soal Cellin, aku ngga ketemu dia kok yank. Kan aku lagi sibuk. Kenapa kamu tanya kayak gitu?"


"Baguslah.. Oke aku mau makan siang dulu. Kamu juga jangan lupa minum" Tutur Tasya langsung mengakhiri panggilannya menyisakan Zayn yang masih terheran-heran.


"Dia mau makan? kenapa cuma ngingetin gue minum bukannya makan?" Gumam Zayn menatap nanar layar ponselnya yang sudah menggelap.


Di ruangannya Tasya pun melakukan hal yang sama.


"Kebohongan pertama mu, Zayn" ujar Tasya.


.


.


.


.


.


Bersambung...


...----------------...


😒 Lu bilang kejujuran adalah tiang sebuah hubungan? terus ini apa? lu mau ngeruntuhin tuh tiang? Awas aja kalau tiang rumah Nucha yang jadi sasaran!!


😏 ngga gitu konsepnya, Nucha. Itu namanya Kebohongan demi kebaikan. Kebohongan demi kebaikan itu adalah atap sebuah hubungan 🤣🤣🤣


😒 ngeles Bae lu kayak bajaj


Holla hello Readers tercintah ❤️❤️❤️ jangan lupa lemparin Nucha jempol bunga sama kopinya ya..


Terimakasih yang udah mampir 🤗🤗


Happy reading all ❤️❤️❤️