
Note : Ini adalah bab yang sama yah guys, jadi memang Nucha tadi ngga sengaja ngehapus bab ini. Jadi, Nucha post ulang lagi deh... Karena Nucha nulisnya dadakan kaya tahu bulat dan ngga di save dulu jadi tulisannya agak beda tapi intinya sama kok..
Maaf atas ketidak nyamanannya yah 🙏🙏 dan terimakasih atas dukungan nya.. 😊😊
Happy reading all ❤️❤️
Jangan lupa ☕💐🌹
...----------------...
Luka? Tidak ada seorang pun di dunia ini yang menginginkan sakitnya. Tapi, setiap makhluk hidup tak mungkin tak pernah merasakannya. Begitu juga dengan Zayn. Seorang pemuda yang terluka begitu dalam karena mereka yang harusnya membasuh duka dan air mata justru mereka lah yang paling dalam menorehkan luka itu sendiri.
Bukan hal yang mudah bagi Zayn kembali membuka hati untuk mereka yang di sebut orang tua. Sakit yang di rasakan nya masih sangat terasa. Ingin sekali ia lupakan dan berdamai dengan takdir tapi sangat sulit.
Zayn bahkan melupakan nama dan juga rupa dari orang tua kandungnya. Bukan tanpa sebab ia melakukan itu. Zayn berharap rasa sakitnya akan berangsur menghilang bersama dengan memory yang ia lupakan tentang mereka. Tapi kenyataan rupanya tak sesuai harapan. Nama dan rupa berhasil ia lupakan, tapi sakitnya masih amat terasa. Seolah luka yang masih mengangga dan basah.
Zayn menghela nafas panjang, ia melirik bibi Lisa dari sudut ekor matanya. Haruskah ia tanyakan sekarang? Tapi ia masih ragu, takut hatinya tak siap. Perasaan nya bahkan terusik kala kata "Ayah dan ibu" itu di sebut. Lalu sekarang ia harus mencari mereka.
Butuh waktu cukup lama bagi Zayn memantapkan hatinya. Ini bukan hal yang mudah untuknya. Tapi, ia pun harus mengesampingkan egonya demi bisa bersama sang pujaan hati.
Yah, lebih baik berjuang dari pada tidak sama sekali kan? Bagaimana pun hasilnya nanti yang penting ia sudah berusaha.
"Bi.." Sapanya membuat bibi Lisa yang sedang fokus pada ponsel mengganti pandangan nya pada keponakan kesayangan nya itu.
"Kenapa, nak? apa kamu butuh sesuatu?" Tanyanya setelah menyimpan ponselnya di atas nakas.
"Tidak, hanya saja... Aku ingin mendengar.. Sedikit.. kisah tentang..." Ucap Zayn penuh keraguan. Ia tak siap tapi ia pun harus melakukan ini. Zayn menghela nafas dalam-dalam, seolah berat sekali mengatakan kata selanjutnya. Sedangkan sang bibi menatap Zayn lekat, menanti apa yang di inginkan oleh keponakannya.
"Kisah apa, Zayn?" Tanyanya seolah tak sabar, karena Zayn malah terlihat melamun bukannya melanjutkan ucapannya.
"Ibu..." Lirih Zayn kemudian. Walau lirih tapi bibi Lisa masih dengan jelas bisa mendengar apa yang di ucapannya Zayn barusan.
Terkejut dan tak percaya dengan apa yang baru saja dia dengar. Mungkin kah Zayn baru saja terbentur sesuatu sebelum berakhir di tempat ini? Atau mungkin Zayn baru saja mendapatkan wangsit? karena menurut bibi Lisa Zayn akan selalu merasa sedih kala mendengar tentang orang tuanya. Jangankan mendengar cerita orang tua kandungnya, hanya menyebut kan kata "Ayah dan ibumu" Pun Zayn akan menghindar. Lalu sekarang kenapa tiba-tiba saja ia ingin mengetahui tentang orang tuanya?
Tapi dari pada bertanya kenapa, lebih baik ia menceritakan apa yang ingin Zayn dengar. Ia tak mau karena penasaran akan alasan yang mendasari perubahan Zayn ini malah membuat keponakan nya berubah pikiran.
Bibi Lisa tersenyum lembut, tak bisa di pungkiri ia sangat bahagia saat ini.
"Dia adik yang manis" ucap nya kembali menerawang jauh saat ia masih bersama dengan kakak dan adiknya.
Hidup tanpa ayah dan ibu sajak kecil, membuat hubungan persaudaraan antara, Lusi, Lisa dan ibu Zayn begitu erat. Hingga sebuah peristiwa yang mengharuskan mereka berpisah dan tak lagi bertukar kabar.
"Siapa nama.. Ayah dan ibuku? Seperti apa wajah mereka?" Pertanyaan Zayn membuat bibi Lisa tersentak tak percaya. Tapi, sesaat kemudian ia kembali tersenyum. Ia memaklumi jika keponakannya ini melupakan hal-hal tentang orang tuanya.
"Ibumu... Dia bernama Lenny. Lenny Agustina sedangkan Ayahmu dia bernama Baron. Tapi untuk wajah, bibi tak punya foto mereka dan lagi bibi terakhir bertemu dengan orang tua mu sepuluh atau lima belas tahun yang lalu. Jadi bibi pun ingat samar-samar." Mendengar penjelasan dari bibinya membuat Zayn menghembuskan nafas nya kasar.
Jadi, ia hanya mendapatkan sedikit informasi. Lalu dari mana di akan memulai pencarian? Sedangkan tempat tinggal dan wajahnya pun dia tak ingat.
"Tapi, bibi sempat dengar kalau Ayah dan ibuku sudah berpisah." Zayn menganggukkan kepalanya membenarkan ucapan sang bibi.
"Ya, tapi dia bukan ayah mu. Dia adalah cinta pertama ibumu dan sekarang bibi dengar mereka sudah menikah." Tutur bibi Lisa lagi hingga membuat Zayn mengernyit.
"Berarti sebelumnya bibi sempat bertemu dengan nya? Kanpan dan dimana?"
"Bibi tak ingat kapan tepatnya tapi..." Bibi Lisa menggosokkan jari telunjuk di dagunya tengah mencoba mengingat lagi kapan ia pernah bertemu dengan sang adik. Sedangkan Zayn dengan sabar menunggu bibi nya melanjutkan ucapannya itu.
"Waktu itu... Kami bertemu di sebuah rumah makan AB kalau tidak salah ingat... Saat itu ibumu menitipkan mu pada bibi. Ia tak berani menemuimu kala itu, entah karena apa ia tak mau terbuka. Tapi saat itu wajah ibumu sangat tegang, dia juga berbicara selalu dengan nada berbisik seolah takut terdengar oleh seseorang." Lanjutnya lagi, dan hal itu membuat Zayn kembali merasakan hatinya yang terasa sakit.
Di balik selimut, tangannya terkepal kuat untuk melampiaskan rasa kesal dan juga kecewanya. Ia kecewa karena merasa dirinya seperti tak di inginkan oleh ibu kandungnya sendiri, bahkan wanita yang di panggil nya ibu itu pun tak Sudi menemui nya.
Kembali matanya terasa memanas merasakan sakit yang teramat sangat di hatinya. Ia yakin sebentar lagi pasti akan ada cairan bening yang mencoba turun membasahi pipinya dari sudut matanya.
Tapi, belum sempat air matanya itu tumpah pintu kamar rawatnya di ketuk seseorang. Seorang dokter yang masih muda masuk ke kamarnya denga senyuman yang tak lepas dari bibir nya. Ia menatap Zayn dan juga bibi Lisa bergantian.
"Wah.. Coba lihat.. Siapa ini?" Ucapnya sambil mendekat ke arah Zayn.
"Selamat siang Tante, bagaimana keadaan nya sekarang?" Ujar dokter muda itu pada bibi Lisa. Ia bertanya keadaan Zayn pada bibi Lisa, karena sebentar nya ia malas untuk masuk ke ruangan itu.
"Sudah lebih baik, dok" Ujar bibi Lisa ia tampak bingung karena setahunya bukan dokter ini yang menangani anaknya.
"Ngga nyangka yah, pejuang cinta bisa tumbang juga" Ledeknya saat melihat Zayn yang bersandar dengan wajah pucat di ranjang pasien itu, walau sudah tak sepucat tadi.
Zayn yang mendengar ledekan seperti itu pun mencebikan bibirnya, malas sekali harus bertemu dengan dokter muda yang tak lain dan tak bukan adalah Rizky, sepupu Tasya.
"Kalian sudah saling kenal" Tanya bibi Lisa yang memperhatikan interaksi kedua pemuda itu. Rizky menatap bibi Lisa dan tersenyum ke arahnya, kemudian mengganti kembali pandangan nya pada Zayn yang sedang melipat kedua tangan nya di depan dada.
"Mengesalkan sih... Tapi itu benar" Tukas nya santai tapi berhasil membuat Zayn mendelikan matanya tampak tak terima. Karena, Rizky seperti tak ikhlas mengenal dirinya.
"Seandainya Lo bukan sepupu Tasya sudah gue lempar ke luar jendela." Gerutunya kesal da hanya di balas kekehan kecil oleh dokter muda itu.
"Sebelum Lo bisa lempar gue, Lo bakal lebih dulu gue suntik pingsan." Tukasnya masih santai.
"Ck!! Sudahlah mau apa Lo kesini? Mau periksa atau mau ngajak gue ribut? tapi dari pada ribut mending Lo cepetan periksa gue. Gue pengen pulang hari ini juga!" Ujar Zayn kesal tapi, Rizky enggan melakukan perintahnya ia datang ke sana hanya karena permintaan Tasya. Tadi pagi mereka sempat bertemu di Lobby. Tasya menitipkan Zayn pada nya sebelum pergi, jadi dengan sangat terpaksa Rizky akhirnya menengok keadaan Zayn..
Tapi memang Zayn sudah baik-baik saja, tak ada yang perlu di khawatirkan.
.
.
.
.
.
Bersambung...