I Love You, My Secretary

I Love You, My Secretary
Bab 23



Hari berganti begitu cepat, tidak terasa saat ini sudah hari Senin lagi. Hari yang baru, semangat baru. Apalagi dompet kembali tebal ah tidak sia-sia kemarin mampir ke tempat kerja Adek ngga ada ahlak itu. Lumayan satu juta dua ratus ribu sudah di tangan bisa buat nyetok banyak cemilan dan uang ku utuh di rekening.


"Ah Tasya, kau sangat cerdas" Gumamku sambil menatap wajahku dari pantulan cermin.


Saat ini aku sudah kembali ke kosan, semalam Budhe sudah bilang kalau hari ini ia akan mulai kembali bekerja. Tentu saja aku sangat senang. Jadi hari ini mood ku benar-benar baik.


Setelah selesai bersiap aku membuka ponsel hendak memesan ojek, namun sebuah pesan masuk membuat ku semakin mengembangkan senyum.


"Jemputan gratis... yuhuuu" Gumamku. Aku berjalan dengan bersenandung lirih menuruni satu demi satu anak tangga hingga kini aku berada di samping sebuah mobil hitam.


Pak Zayn menyambut ku dengan wajah yang ia tekuk. Tidak tau kenapa, sepertinya ia sedang banyak pikiran aku tidak ingin ikut campur.


"Apa bapak sudah lama menunggu?"


"Hmm.. Masuk!" Ujarnya sambil tangannya membuka pintu mobil untuk ku. Ia bahkan melindungi kepala ku dengan tangannya ketika aku akan masuk, seolah takut akan terbentur. Mobil pun melaju dengan kecepatan sedang ikut berbaur dengan kendaraan yang lain.


Di tengah perjalanan terdengar bunyi estetik yang menggelitik gendang telingaku.


Kruyukkkkk... Kruyukkkkk...


Aku menoleh ke arah sumber suara yang ternyata berasal dari perut pak Zayn. Wajah pak Zayn memerah begitu juga dengan telinganya. Oh ya ampun lucu sekali.


"Bapak belum sarapan?"


"Ekhem... Itu.. Tadi belum sempat" Ujarnya terdengar gugup.


"Wah calon makan gratis nih. Tasya kau sangat beruntung hari ini..." Gumamku dalam hati sambil tersenyum.


"Ya udah kita sarapan dulu saja, pak" Ujarku, tentu saja aku tidak benar-benar menawarinya jika aku tak ingin ikut di bayari olehnya aku mana peduli.


"Iya, nanti saja di kantin.. Kamu sudah sarapan?" Tanyanya. Ini dia...


"Belum"


"Gimna kemarin anak-anak, pak? apa mereka senang? Mereka betah?" Tanyaku ketika mengingat anak-anak kemarin. Kemarin kan anak-anak di antar Pak Zayn ke tempat tinggal mereka yang baru. Kalau tidak salah dengar panti asuhan itu di buat khusus oleh keluarga tuan Abi untuk nyonya besar.


Aku pernah mendengar sedikit tentang panti asuhan tersebut, tapi aku tidak tahu nama panti asuhannya. Menurut cerita yang ku dengar dari Disty, panti asuhan tersebut di buatkan khusus untuk nyonya besar guna mengenang cintanya. Entah cinta yang mana aku tidak mengerti.


"Udah" Ujar pak Zayn menjawab pertanyaan ku sangat singkat membuat ku malas untuk bertanya lagi.


Hening karena setelah jawabannya itu aku benar-benar tidak lagi bertanya, Hanya Suara dari penyiar radio yang menginfokan lalu lintas pagi ini yang menemani perjalanan kami. Hingga tidak terasa kami sudah sampai di kantor.


Karena kami belum sarapan, pak Zayn mengarahkan ku ke kantin kantor dan memilih menu sarapan pagi ini.


Dua piring nasi goreng di bawa sendiri oleh pak Zayn, ia menyodorkan piring berisi nasi goreng tersebut ke depan ku.


"Makanlah... Jangan sampai Lo pingsan gara-gara ngga sarapan. Gue ngga mau kerjaan jadi berantakan gara-gara Lo. Gue juga yang susah!" ujarnya terdengar ketus. Sepertinya dia terlalu menganggap remeh fisik ku. Ya, ku akui sih memang aku lemah tapi melewatkan sarapan itu adalah hal yang biasa untuk ku.


"Bilang aja, ayo sarapan, biar Lo ngga sakit. Gitu aja sih pak, kan lebih simpel, iya kan? bapak khawatir kan sama saya? bapak naksir kan sama saya? Saya tau loh, pak. Ngga usah di-" Ucapanku terhenti kala satu sendok nasi goreng mendarat sempurna di dalam mulutku membuat mataku terbelalak menatap pria di depanku.


"Berisik banget" gerutunya kemudian menyantap makanannya dengan tenang tanpa menghiraukan aku lagi. Ia makan dengan sangat lahap, mungkin saja pak Zayn benar kelaparan. Melihatnya, membuat perutku pun ikut merasa lapar.


Kami makan dalam diam, membiarkan dentingan sendok dan garpu yang beradu dengan piring menjadi backsoun di antara kami.


Sedang asik menikmati makanan, aku tersentak kaget kala sebuah tisyu terasa menyentuh sudut bibirku. Aku mengangkat kepala melihat Pak Zayn yang sedang memperhatikan gerakan tangannya pada sudut bibirku. Merasa di perhatikan pak Zayn membalas tatapan ku, sesaat mata kami bertemu membuat gelenyer aneh terasa merambat di hati membuat perutku terasa mulas di sertai debaran tak biasa.


"Ehem... Lo makan berantakan... Kayak anak kecil!!" Ketusnya berhasil membuat wajahku terasa memanas.


Sebenarnya ada apa denganku? Tidak biasanya aku menjadi gugup. Jelas ini bukan kali pertama kami duduk bersama tapi semakin seringnya bersama terasa ada yang lain.


Aku hendak menjangkau botol air mineral yang ia beli tadi, namun pak Zayn lebih dulu mengambilnya ia membuka tutupnya. Setelah itu pak Zayn menyodorkan kembali air mineral tersebut kearah ku.


"Terimakasih" Ucapku kemudian langsung meneguk airnya hingga membuat perasaanku membaik.


.


.


.


Author POV


Pagi hari di dalam toilet wanita, tiga orang karyawan tengah berdiri di depan wastafel. Seorang wanita berambut panjang berwarna hitam pekat tengah memoles lipstik merah di bibir indahnya, ia mengenakan stelan blazer berwarna coklat ketat hingga menampakkan lekukan tubuh yang membuat kaum Adam terpesona.


Maya namanya, karyawan yang katanya tercantik di sana. Ia tengah berada di toilet bersama dua sahabat nya Sindy yang saat ini tengah mencuci tangan. Di sebelah nya ada Irma wanita berkacamata dan berambut pendek namun memiliki kulit yang begitu putih nan halus di banding dua temannya itu.


"Kalian tau karyawan baru itu ngga?" Tanya Sindy yang memang paling suka menggibah.


"Yang Sekertaris nya pak Zayn kan?" Irma ikut bersuara.


Siapa yang tidak kenal dengan karyawan baru yang langsung bisa satu mobil dengan bos mereka. Bukan hanya sekali, tapi sudah lebih dari tiga kali. Hal itu tentu membuat fans garis keras seorang Abidzar Akhriz Herold murka, tak terkecuali tiga orang ini.


"Gue kesel banget sama tuh cewek. Sok kecakepan banget. Dia pikir, dia itu siapa? Cakepan juga gue kemana-mana" Ujar Maya merasa tak terima dengan kedekatan Tasya dan Abi.


Sudah sejak lama Maya mengagumi sosok bos mereka itu, tapi jangankan naik mobil bareng, di lirik pun tidak. Karena itu ia menjadi sangat geram. Apa kurang nya dia sehingga sama sekali tidak di lihat Abi?


Cantik iya, sexy apalagi, Kompeten sudah pasti, terbukti dari beberapa tender yang pernah ia dapatkan. Tapi nyatanya itu semua sama sekali tidak membuat Abi tertarik.


"Liat saja kita akan kasih dia pelajaran berharga, bagaiman caranya menjaga sikap" Ujar Maya menyeringai dengan segala rencana yang ada di kepalanya, entah apa.


Kedua sahabatnya saling pandang, sesaat kemudian mereka ikut tersenyum.


.


.


.


Author POV end


.


.


.


Bersambung...