
Zayn pov
"Bukan ini!"
"Terlalu kuno!"
"Norak sekali warnanya! Apa aku memang tidak punya baju layak pakaikah?" Keluhku kala aku tengah memilih kira-kira baju seperti apa yang harus ku pakai.
Malam ini aku akan menghadiri undangan pesta ulang tahun dari nyonya Herold. Ini adalah kali pertama beliau merayakan hari ulang tahunnya. Bukan rahasia lagi tentang penyakit yang diderita oleh nyonya herold. Kudengar penyakitnya itu sudah ia derita selama bertahun-tahun, selama itu pula keberadaan serta nama nyonya Herold sangat dijaga dan tak mudah di jangkau oleh publik. Bahkan wajah beliau saja tidak ada yang tau.
Aku bingung sekali kira-kira pakaian apa yang cocok untuk ku pakai. Saking bingungnya, aku sudah mengeluarkan hampir seluruh bajuku di dalam lemari. Kini, kamar yang semula rapih sudah mirip dengan kapal pecah.
Entah kenapa aku merasakan perasaan yang berdebar tak menentu. Biasanya perasaan seperti ini terjadi saat aku akan mengalami sesuatu hal yang entah itu baik atau buruk. Kuharap ini adalah sesuatu yang baik.
Saat sedang asyik memilih baju, pintu kamarku tiba-tiba terbuka Bibi menatapku dengan heran karena ini adalah kali pertama aku membuat kekacauan seperti ini. Aku adalah tipe laki-laki yang rapih, maka dari itu Bibi merasa heran melihat kamarku yang berantakan seperti saat ini.
"Apa yang terjadi di sini Zayn, apa sudah terjadi angin topan?" Tanyanya bingung membuatku menggaruk tengkukku yang jelas tak gatal. Aku menatapnya malu sambil menampilkan senyum pasta gigiku.
"Tidak, bi. Hanya saja malam ini Zayn akan menghadiri acara ulang tahun dari bos tempat Zayn bekerja. Tapi kenapa baju ini tidak ada yang terlihat cocok? Zayn bingung sekali." Keluhku.
Sebenarnya yang membuatku bingung adalah, Kenapa aku merasa ada yang janggal? jika memang ini adalah undangan ulang tahun Kenapa hanya orang-orang tertentu yang menghadiri acara ini? Okelah kalau alasannya untuk kenyamanan dari Nyonya Herold sendiri, tapi entah kenapa aku merasa ini satu kejanggalan.
Bagaimana ya menjelaskannya? Aku pun bingung hanya saja perasaanku merasakan yang lain. Intinya ini aneh. Aku bukanlah orang yang penting, lalu kenapa hanya aku yang diundang dan aku tak di perkenankan untuk membawa rekan. Kalau mereka tak menginginkan Tasya, aku bisa menggantinya dengan Aldo atau Bibiku kan atau siapapun itu tapi ini sama sekali tidak di perkenankan membawa parter. Aku sempat bertanya pada beberapa rekan kerjaku tentang undangan tersebut, tapi tak ada satu pun dari mereka yang mendapatkan undangan dari tuan Abi. Bukankah itu aneh?.
Sudahlah apapun itu aku tak berhak untuk curiga.
"Acara seperti apa itu?" Tanya bibi sambil memunguti satu persatu bajuku yang berceceran di lantai. Aneh sekali, padahal saat pertama berkencan dengan Tasya aku tak segerogi ini. Tapi hari ini entah apa yang terjadi denganku. Ini seperti buka lah diriku. Tapi... Memangnya kapan aku pernah benar-benar berkencan dengan Tasya?.
"Sepertinya ini acara yang formal, bi. Karena dalam undangan tak mencantumkan tema dari acara ini." Bibi menganggukkan keplanya saat mendengar penjelsaanku dan dengan sigap bibi memberikan ku sebuah jas biru tua dan kemeja biru muda. Tapi aku merasa ini tak cocok.
"Zayn akan melihat isi lemari Aldo, bi. Mungkin dia punya sesuatu yang bisa Zayn pakai." Ujarku dan bibi pun setuju. Akhirnya kami pindah ke kamar Aldo yang berada tepat di depan kamarku. Bibi mengikutiku karena takut aku akan membuat kamar anak kesayangannya seperti kamar ku.
Akhirnya aku menemukan baju yang kurasa tak terlalu memalukan jika di pakai olehku.
"Kamu ini mau ke acara pesta ulang tahun atau ke acara resepsi pernikahan?" Komentar bibi saat melihat ku yang keluar dari dalam kamar mengenakan baju batik. Aku pun terdiam, benar juga apa yang di ucapakan oleh bibi.
Setelah drama memilih baju yang teramat panjang, kini aku sudah tiba di sebuah gedung hotel milik Hefold Grup. Tempat yang di pilih untuk mengadakan acara malam ini. Aku berjalan dengan penuh keraguan sambil membawa paper bag kecil yang berisi kado untuk nyonya Herold. Aku sedikit bingung karena tak menemukan satu pun rekan kerjaku atau para pemegang saham yang berpapasan denganku.
"Bener ngga sih ini alamatnya?" Gumam ku bingung sambil mengedarkan pandanganku ke sekiling berharap ada seseorang yang ku kenal.
"Ada yang bisa saya bantu, tuan?" Tanya seorang petugas hotel padaku ramah. Mungkin karena melihat ku kebinguangan ia lebih dulu menyapaku tanpa menunggu aku yang bertanya.
"Hmm sebenarnya iya. Apa benar Tuan dan Nyonya Herold sedang mengadakan acaranya di sini?" Tanyaku dan ia melihatku dari atas sampai bawah entah apa yang di fikirkannya sekarang tentangku.
"Anda siapa ya?" Tanyanya setelah puas mengamatiku.
"Saya salah satu karyawannya." Ujarku dan menyodorkan undangan yang di berikan oleh asisten Rico kemarin pada pelayan ini. Ia terlihat mengangguk setelah membacanya.
"Acaranya ada di ballroom lantai dua." Ujarnya dan aku pun berterimakasih padanya sebelum pergi.
Tiba di ruangan yang dimaksud, aku dibuat terheran. karena di ballroom yang luas ini hanya ada beberapa orang yang berlalu Lalang. itu pun mereka menggunakan seragam yang sama.
Lalu di mana orang-orang? Ke mana para tamu undangan yang lain? Apa hanya akulah yang diundang? Lalu di mana si pemilik acara? berbagai pertanyaan mulai bermain di kepalaku. Ini benar-benar aneh, sungguh aneh.
Aku pun memutuskan untuk keluar dari ruangan yang luas ini tapi ketika aku hendak berbalik, seluruh lampu di ruangan yang luas ini tiba-tiba padam menyisakan gelap. Tidak mungkin kan Hotel sebesar ini mengalami gangguan listrik?.
Aku tak tahu siapa mereka dan apa maksud dari ini semua. Foto pun kemudian berganti dengan wanita itu tengah mengandung. Ia berpose dengan senyum bahagianya. Kini tampilan di layar mempilkan pemandangan yang mengharukan, dimana wanita tadi sudah melahirkan. Dan foto-foto wanita tadi terus bermunculan anehnya tak ada lagi sosok laki-laki yang bersanding dengan wanita itu di pelaminan tak lagi terlihat sejak foto hamilnya.
Aku terus memperhatikan wajah wanita itu terutama saat kebersamaannya dengan seorang anak kecil, mungkin itu anaknya. Mereka terlihat sangat bahagia. Tapi wajah sang bayi tak terlihat karena foto di ambil dari belakang si bayi.
Foto terus berganti, entah kenapa semakain aku perhatikan kepalaku tersa berdenyut nyeri, sakit sekali. Aku mengerang menahan sakit yang teramat di kepalaku. Rasa sakit ini membuatku tak bisa menopang berat tubuh ku sendiri, hingga aku terduduk di lantai. Aku melihat ruangan gelap ini terasa berputar. Aku mencengkram kepalaku dan menarik rambut ku dengan sekuat tenaga hingga kurasa beberapa helainya tercabut. Tapi itu sama sekali tak terasa sakit. Justru rasa sakitnya datang dari dalam kepalaku, ini terasa berdenyut sekali.
"Arrggghhh"
Aku terus mengerang, kilasan beberapa memory bermunculan di dalam kepalaku. Begitu cepat hingga aku tak bisa menangkap satu pun bayangan itu.
Di tengah rasa sakit ini tiba-tiba suara seorang wanita seperti menggema di telingaku. Ia mengatakan hal yang sama, atau ini adalah sebuah lagu. Rasanya menyakitkan mendengar suaranya tapi aku tak bisa berbohong suara ini begitu menenagkan.
*Ambilkan bulan, bu....
Ambilkan bulan, bu*...
"Arghhhhhhh" Ini sungguh menyakitkan. Tolong! Tolong siapa saja hentikan! Aku sangat kesakitan..
*Ambilkan bulan, bu....
Ambilkan bulan, bu*...
Aku semakin melemah, rasa menyakitkan di kepala dan hatiku menguasai diriku. Aku tak lagi bisa mendengar suara di sekelilingku. Aku pun tak mengerti kenapa ruangan gelap ini sepi sekali, tak ada kah manusia di sini?.
Tiba-tiba dalam kesakitanku, aku merasa kan sebuah pelukan. Seseorang mendekapku dari belakang. Ajaib! pelukan ini membuatku tenang dan kepalaku tak lagi merasa sakit. Lampu tiba-tiba menyala bersamaan dengan isakan dari balik pumggungku terdengar jelas di telingaku. Aku tak tahu dia siapa hingga suarnya berhasil membuatku mematung..
"Maaf... Maaf.. Maaf nak. Maafkan...
..
Ibu"
Deg..
Deg..
Deg..
Ibu?...
.
.
.
.
.
Berasambung...