I Love You, My Secretary

I Love You, My Secretary
Bab 119



"Gimana kalo lo usaha online shop aja, Sya? Sekarangkan teknologi makin canggih tuh. Orang-orang juga banyak yang nggak mau ribet, mereka banyak yang lebih suka belanja lewat online dari pada langsung ke toko," usul setelah sekian lama mereka terdiam. "Lo cukup jadi Droshipper aja, biar orang lain yang kemas dan kirim barangnya. Gimana oke kan? Lo nggak usah capek-capek bolak-balik jemput-kirim barang. Cukup duduk, rebahan, posting-posting cantik dapet duit deh." imbuhnya.


Tasya terdiam memikirkan usulan dari Rizky. Memang terlihat mudah tapi ia tak begitu tertarik, belum lagi jika barang yang dikirim tak sesuai dengan apa yang kostumernya inginkan. Ribet!


"Nggak! gue mau jualan kue aja, lebih banyak bergerak. Kan Lo yang bilang kita ibu hamil kayak gue harus banyak gerak. Jangan cuma rebahan aja," Putus Tasya akhirnya.


Tasya sangat suka ngemil dan dia juga suka berkreasi dengan aneka resep. Sejauh ini juga hasil dari karyanya tak pernah mengecewakan, maka ia akan mengembangkan hobinya tersebut menjadi ladang usaha. Tasya sangat optimis jika kue buatannya dapat diterima di pasaran.


"Apa lo yakin lo nggak akan kelelahan?" tanya Rizky lagi masih terdengar ia ragu dengan keputusan Tasya.


"Lelah itu pasti, tapi yang penting gue nyaman atau tidaknya kan dan gue yakin dengan pilihan gue!" Sahut Tasya dengan mata yang tampak berbinar ,hingga membuat Rizky tak kuasa untuk menolak.


"Terus lo udah punya modal? pertanyaan Rizky kali ini membuat Tasya yang tadinya berbinar senang menjadi tampak murung. Iya, dia tak memikirkan masalah modalnya tabungannya pun Kian menipis dan tak mencapai angka 10 juta dalam rekeningnya.


"Gue pinjem duit lo ya, nanti kalau gue udah sukses gue balikin deh," pintanya dan Rizky pun menghela nafasnya pasrah. Sudah ia duga, pasti ujung-ujungnya dia yang akan terkena imbasnya.


"Untung lo kakak gue satu-satunya," ujar Rizky. Dan Tasya pun langsung memeluk sepupunya itu dengan perasaan yang begitu bahagia.


Tasya sangat bersyukur, karena di masa-masa terpuruknya masih ada Rizky yang selalu membantunya dan tak pernah sekalipun menghakimi Tasya atas kesalahannya. Padahal menurut Tasya orang tuanya sendiri pun enggan menerima kehadirannya, tapi Rizky sekalipun tak berubah. Justru Rizky sekarang lebih posesif padanya dan Tasya bahagia diperlakukan seperti itu.


Di tempat lain, Ayah Alan sedang menelfon adik satu-satunya yang kata orang-orang sudah sukses di kota, tapi belum pernah sekalipun mereka pulang. Terakhir Ayah Robby dan istrinya pulang 5 tahun yang lalu dan pada saat itu mereka terlibat cekcok yang membuat Ayah Robby atau Ayah Rizky tak pernah menginjakkan kakinya lagi di rumah sang Ibu meski hari raya sekalipun.


"Halo! tumben telepon, Bang. Ada apa nih?" Tanya ayah Robby saat panggilan telepon tersebut terhubung dan langsung menyindir Ayah Alan, karena memang selama ini ayah Alan tak pernah menghubungi ayah Robby. Menurut ayah Alan, dia lebih tua maka ia wajib dihormati. Jika dia salah pun harusnya Ayah Robby lah yang lebih dulu menghubunginya atau meminta maaf. Tapi karena sekarang keadaannya berbeda, jadi mau tahu mau Ayah Alan harus menurunkan egonya


"Nggak usah basa-basi! Aku ingin meminjam uang padamu, aku sedang sangat membutuhkannya. Apa kau bisa membantuku?" tanya ayah Alan to the point, membuat Ayah Robby di seberang sana tercengang. Sungguh kakaknya ini tak ada sopan-sopannya dan juga tak tahu malu. Bukannya meminta maaf atau sekedar basa-basi bertanya kabar tapi justru dengan entengnya langsung mengatakan ingin meminjam uang. Tapi mau bagaimana lagi, memang seperti itu sifat dari kakak ayah Robby tersebut.


"Bukankah kau punya besan orang kaya? Kenapa harus meminta padaku?"


"Sudahlah, tak penting itu.. yang jelas kau harus membantuku!" Ayah Alan berkata lagi dengan sedikit paksaan.


"Memangnya berapa yang Abang butuhkan?"


"700 juta!" singkatnya tapi berhasil membuat Ayah Robby tersedak ludahnya sendiri.


Bagaimana dia mengatakan nominal sebesar itu dengan begitu entengnya? Pikir Ayah Robby.


"Apa 700 juta! kau sedang melindur atau bagaimana, bang?"


"Tidak!"


"Kau ingin meminjam uang atau ingin memeras ku, bang? Kau kan punya banyak tanah Kenapa tak kau jual saja sebagian!" ujar Ayah Robby geram dengan permintaan dari kakaknya itu.


Keluarga Rizky memang sudah tahu jika pernikahan Tasya batal dan hal itu sangat disetujui oleh ayah Robby dan istrinya. Tapi mereka tak tahu-menahu dengan isi perjanjian dari pernikahan tersebut.


"Apa! semuanya? Lalu ibu tinggal di mana, dan bagaimana dengan bagianku?"


"Karena itu aku meminjam uang padamu untuk mencari tempat tinggal yang baru dan merawat ibu,"


"Aku tidak ada uang sebanyak itu! Tapi aku yang akan merawat ibu. Biar Ibu tinggal di sini bersama kami!" putus Ayah Roby.


"Tapi bagaimana denganku? Jika minggu depan aku tak melunasi kekurangan denda itu, aku akan digelandang polisi. Ayolah Rob sesekali bantulah kami!"


"Aku hanya bisa memberimu 100 juta. Terserah mau kau terima atau tidak aku tidak akan memaksa. Mau atau tidak sama sekali!" tegas Ayah Robby membuat Ayah Alan terdiam. Pada akhirnya ia pun menerima tawaran dari adiknya itu, mau bagaimana lagi? Meski sangat kurang tapi setidaknya bisa dia pakai untuk menyewa tempat tinggal lebih dulu.


Orang-orang yang dulu meminjam pada nenek Anita pun sudah dilunasi semua dan para tetangga tak ada yang mau membantu keluarga nenek Anita maki hanya sekedar menawarkan tempat tinggal atau sepiring nasi. Karena keluarga nenek Anita terkenal sombong maka saat keluarga Tasya sedang terburuk seperti sekarang. Orang-orang bukannya merasa iba justru senang, karena sang lintah darat akhirnya mendapatkan karmanya apalagi karma itu datang melalui cucunya sendiri.


"Cuma dapat 100 juta! Cih! kaya dari mananya, memberi pinjaman 700 juta saja tidak bisa!" gerutu Ayah Alan saat panggilan sudah terputus. Sedangkan untuk nenek Anita, Ayah Robby akan menjemputnya besok pagi. Karena perjalanan dari kota ke desa tempat mereka tinggal cukup memakan waktu.


"Bagaimana, Mas?" tanya ibu Tasya pada suaminya.


"Masih kurang! Sekarang aku bingung dari mana lagi aku harus menutup kekurangan itu dan yang penting.. bagaimana caranya aku bisa mengambil kembali semua aset kita?" Keluh Ayah Alan.


"Jika saja Tasya tak berbuat macam-macam kita pasti sudah hidup tenang. Tidak jadi gelandangan seperti ini, ibu juga pasti masih sehat dan ceria seperti dulu!" lanjutnya lagi dan masih menyalahkan sang anak.


"Jika seandainya kau sadar diri mas, semua yang terjadi pada kita adalah keserakahanmu sendiri. Kau yang menjual anak kita, tapi kalau sendiri yang berteriak seolah dirimu adalah korbannya!" Gerutu Ibu Tasya yang hanya bisa ia keluhkan dalam hatinya.


Untuk sesaat mereka bertiga hanya bisa terdiam di depan rumah mereka sendiri. Bingung hendak kemana mereka sekarang, sedangkan rumah pun tak lagi punya.


Akhirnya malam ini mereka memutuskan untuk beristirahat di gubuk yang berada di ladang sayuran mereka. Beruntungnya ladang itu tak ada yang menjaga.


"Dulu aku yang melarang orang-orang untuk menggunakan Pondok ini sekedar berteduh dari teriknya matahari atau dari hujan deras, sekarang justru aku sendiri yang harus merasakan tidur di tempat kumuh seperti ini." keluh Ayah Alan lagi sebelum memejamkan matanya berharap ia bisa tertidur sekedar untuk mengisi tenaganya. Namun sepertinya harapan tak sesuai kenyataan, karena ternyata mereka saat ini di serbu oleh para nyamuk yang kelaparan.


"Astaga aku hanya ingin tidur sebentar pun tidak bisa!"


.


.


.


.


.


Bersambung....