I Love You, My Secretary

I Love You, My Secretary
Bab 72



D tempat lain, Abi sudah sangat lelah dan juga kesal. Satu jam sudah ia menunggu Tasya tapi gadis itu sama sekali tak menampakan batang hidungnya. Jangankan batang hidung bahkan bentuk kentut gadis itu pun tak terlihat.


"Haish kemana sebenarnya gadis gila itu?" Gerutu Abi yang sudah lelah menunggu sedari tadi di dalam mobil. Ini adalah kali pertama ia di buat menunggu oleh seseorang dan parahnya lagi orang yang membuatnya membuang waktu berharga nya adalah seorang Anastasya Putri yang bahkan sama sekali tak pernah terbayangkan olehnya.


Sedangkan Rico, pria itu sudah terlelap sejak tadi dengan posisi kepala yang ia sembunyikan di balik lengan yang ia tumpu kan di atas stir mobil, karena merasa bosan di tambah lagi ia merasa lelah dan ingin segera merebahkan dirinya di atas kasurnya yang nyaman. Tapi ia hanyalah seorang bawahan, jadi Rico tak punya keberanian untuk membantah perintah bosnya.


"Rico.. Apa kau punya usul? Apa sebaiknya kita tunggu sampai besok saja?" Tanya Abi masih fokus memandangi pagar di samping mobilnya sambil memutar-mutar kan ponsel yang mati di tangannya. Dia masih tak menyadari jika Rico sudah tertidur.


"Aku benar-benar kesal sekarang. Akan ku buat perhitungan dengannya nanti, lihat saja!!" Ucap Abi masih dengan nada yang memancarkan kekesalan.


"Rico.. Atur supaya gadis itu lembur selama tiga bulan!!"


"Rico.." Abi mengrenyitkan dahinya karena sama sekali tak mendapat kan jawaban dari asistennya itu. Ia pun mengalihkan pandangannya ke depan untuk melihat apa yang di lakukan oleh Rico hingga ia tak menganggapi segala keluh kesahnya.


Dan kekesalannya pun bertambah saat melihat asistennya itu malah asik tidur di depan sana. Ternyata sedari tadi ia berbicara sendiri.


"Ku rasa bukan cuma gadis itu yang akan lembur tapi kau juga. Beraninya kau tertidur saat aku tengah kesal!!" Geram Abi, ia kemudian menendang kursi yang di duduki oleh asisten nya itu.


Bughhh


Rico yang merasakan sentakan mendadak pun terkejut bukan kepalang, ia sampai gelagepan dan menggerakkan tubuhnya dengan tak beraturan. Menggerakkan kepalanya ke kanan dan kiri, mencoba mengumpulkan kesadarannya.


Seketika itu juga ia tersentak, saat tak sengaja Rico melihat raut wajah atasannya dari pantulan di spion tengah. Raut wajah yang terasa horor bagi Rico tengah menatapnya dengan lekat.


Rico menelan salivanya dengan susah payah dan menengok kan kepalanya ke belakang dengan perlahan, bak film horor saat pemainnya di hadapkan dengan sesosok hantu.


"Ku rasa setelah ini, kau harus membereskan baju-baju mu. Sudah lama kau tak mengunjungi Boy dan Lovely kan? Mereka pasti belum gosok gigi.. Kira-kira sudah punya anak berapa mereka, dan enaknya berapa lama kau akan menjadi kacung mereka ya?" Tukas Abi datar membuat Rico panik.


Jelas saja Rico panik, Boy dan Lovely adalah sepasang Harimau Sumatera peliharaan keluarga Herold. Walau namanya di pelihara tapi keluarga Herold sengaja membuat kedua harimau itu tetap menjadi liar layaknya sifat asli mereka. Agar jika suatu saat nanti mereka harus di lepas kan bisa bertahan di habitat aslinya.


Menjadi kacung dari mereka artinya Rico harus melayani kedua binatang itu. Mulai dari memberikan mereka makan, membersihkan kandang bahkan memandikan mereka. Dan Rico sudah pernah merasakan hal itu selama tiga hari.


"Apa katanya, menggosok gigi kedua bintang itu? Bisa-bisa bukannya menggosok gigi dengan sikat gigi tapi mereka malah menggosokkan gigi nya dengan tulang-tulang ku.. Hiiihhh" Gumam Rico dalam hatinya.


Tiga hari mungkin terdengar enteng, tapi pada kenyataannya baru satu jam saja berhadapan dengan kedua binatang buas itu sudah sangat menyiksa. Tidak di cakar saja itu sudah untung.


Membayangkan hal itu membuat Rico begidig ngeri. "Ehehe tuan, hmm bagaimana kalau kita pulang saja dulu. Biar besok saja kita urus masalah Tasya. Ini sudah malam kan tuan!" Ujar Rico mencoba membuat tuannya tak lagi marah.


"Kita?!!" Ulang Abi sembari mendelik tajam,. buru-buru Rico meralat ucapannya.


"Ma... Maksudnya saya, tuan. Saya akan urus untuk anda. Sebelum pagi sudah saya pastikan ponsel anda sudah ada atas nakas" Tukas Rico gugup.


"Bawa aku pulang sekarang!" Rico langsung menjalankan mobil Abi saat mendengar perintah atasannya. Jangan sampai ia menyenggol kembali atasannya itu atau ia benar-benar akan berakhir di kandang macan.


"Tu.. Tuan.. Mengenai ucapan tuan barusan... Itu hanya bercanda kan, tuan? Saya mohon jangan kirim saya ke sana lagi!" Pinta Rico memelas tapi tak di hiraukan sama sekali oleh Abi. Ia terus memandang pemandangan dari luar jendela mobilnya.


Selang beberapa menit setelah Abi pergi dari tempat Tasya, sebuah motor terparkir di depan bangunan tersebut. Dia adalah Zayn, karena Zayn sudah sering berkunjung jadi para penghuni kos di sana sudah hafal dengan wajah pemuda itu. Jadi, Zayn tak perlu repot-repot untuk meminta izin pada pemilik kos untuk sekedar berkunjung.


Kini, Zayn sudah berjalan di tangga menuju kamar kekasih nya. Tapi, di tengah tangga ia bertemu dengan Sarah yang kebetulan hendak turun untuk membuang sampah. Sarah sedikit mengrenyitkan alisnya melihat kedatangan kekasih tetangga nya itu.


"Zayn? Apa Lo datang buat ketemu Tasya?" Tanya Sarah dan di balas anggukan kepala oleh Zayn.


"Iya, apa dia ada di atas?" Zayn hanya terpaut dua tahun lebih tua dari Sarah jadi meraka tak terlalu formal karena sudah lumayan sering berpapasan seperti sekarang.


"Kayaknya dia ngga pulang deh, kamarnya masih gelap!" Jelas Sarah membuat Zayn termenung.


Banyak pertanyaan di benaknya terutama dengan sikap Tasya yang mengacuhkan nya. Walau belum ada sehari tapi dengan Tasya tak berada di tempatnya, membuat Zayn semakin yakin jika Tasya sedang tak baik-baik saja.


Jika sudah begini, Zayn yakin sekarang pasti Tasya sedang ada di kediaman Rizky. Karena hanya di sana tempat Tasya biasa berbagi keluh kesah.


Zayn pun segera pergi dari sana setelah mengucapkan terimakasih pada Sarah. Lalu melajukan kendaraannya ke kosan Rizky. Walau ia tak tahu dimana kamar nya berada, paling tidak dia tahu gedung tempat tinggal sepupu kekasihnya itu.


Di tempat lain, Tasya sedang menunggu Rizky untuk mengantarkan nya ke Apartemen Abi. Ia yakin pasti atasannya itu ada di sana. Jadi untuk mencari aman lebih baik Tasya mengantarkannya sendiri ke tempat Abi sekaligus untuk menanyakan beberapa hal yang menganggu pikirannya sejak tadi.


Beberapa saat kemudian Rizky sudah kembali, tapi karena ia terlihat lelah belum lagi ia harus masuk pagi esok hari jadi Rizky dengan tegas menolak permintaan Tasya.


"Lo pergi sendiri aja lah.." Ujar Rizky saat Tasya menghadang jalannya. Bahkan Rizky belum sempat untuk duduk, tapi Tasya sudah lebih dulu menodongnya dengan permintaan tersebut.


Dengan wajah yang cemberut Tasya pun mengambil helm nya yang tergantung di dinding samping Tv. Ia kemudian turun ke parkiran dan melajukan motor sport itu dengan kecepatan sedang membelah ramainya jalan walau sudah malam.


Tak lama kemudian ia sudah sampai dengan selamat di parkiran Apartemen Abi.


"Semoga tuan Abi ada di atas, bukan di rumah orang tuanya" gumam Tasya sebelum masuk. Ia menuju resepsionis untuk bertanya apa Abi sudah kembali atau belum. Dan beruntung nya orang yang Tasya cari memang baru saja terlihat naik.


Karena Tasya pernah tinggal di sana jadi resepsionis itu tahu jika Tasya salah satu karyawan tuan Abi. Jadi, tak perlu memberikan laporan pada Abi.


Tasya kini sudah berada depan pintu apartemen Abi, tiba-tiba ia merasa gugup.


"Semoga saja dia ngga bakal makan gue. Harusnya sing ngga ya.. Ini kan cuma masalah sepele, wajar kan jika gue juga bikin salah? Gue kan manusia masih idup lagi" Gumam Tasya menenangkan dirinya kembali.


Tok.. Tok.. tok..


Akhirnya setelah cukup tenang ia pun memberanikan dirinya untuk mengetuk pintu tersebut. Tak lucukan, sudah jauh-jauh datang tapi malah mundur kembali hanya karena gugup. Tasya tak sadar karena kegugupan itu, ia sampai lupa jika ada bel yang lebih praktis.


Sekali ketukan tak ada tanda-tanda jika pintu akan di buka, demikian juga ketukan ke dua dan tiga. Hingga Tasya pun hilang kesabaran.


Brak.. Brak.. Brak...


Dug.. Dug..


Akhirnya ia menggedor pintu tersebut dengan kasar bahkan ia juga menendang pintu tersebut, bak seorang penagih hutang. Karena kerusuhan itu beberapa penghuni unit lain keluar karena merasa terganggu.


Sedangkan sang empunya apartemen masih asik di bawah guyuran shower. Tepat saat Tasya menendang pintu apartemen nya, Abi keluar dari kamar mandi. Merasa heran siapa yang bertamu di malam-malam begini dan lebih parahnya lagi orang itu memanggil Abi dengan cara seperti mau mengajak tauran.


Abi pun keluar dan hendak membuka pintu tersebut dengan masih mengenakan handuk yang hanya melilit di pinggangnya. Memamerkan da da bidang dan juga perutnya yang berbentuk kotak-kotak bak roti sobek itu. Berfikir jika yang datang adalah Rico mungkin tertinggal sesuatu ia tampak acuh dengan penampilan nya saat ini yang pasti membuat wanita-wanita yang melihat nya tak bisa berkedip.


Ia berjalan sambil tangannya tak berhenti menggosokkan handuk kecil ke rambutnya untuk membatunya mengeringkan rambut yang masih basah.


Tasya meminta maaf pada penghuni unit yang sudah keluar itu atas kelakuannya. Tepat saat orang-orang sudah kembali ke apartemen mereka masing-masing, pintu apartemen Abi terbuka.


Ceklek...


Tasya pun segera mengalihkan pandangannya pada sosok yang membuat pintu tersebut dan ia mematung saat melihat pemandangan indah itu terpampang nyata di depan matanya. Begitu juga dengan Abi, ia tertegun beberapa saat ketika menyadari yang sedari tadi menggedor pintu apartemen nya adalah seorang wanita dan bukan Asisten nya.


"Aakkkhhhhhhh" Teriak Tasya sekuat tenaga dan reflek menutup wajahnya dengan kedua tangan nya. Namun, Tasya masih bisa melihat Abi dari sela-sela jarinya yang tak menutup dengan sempurna. Abi yang mendengar teriakan Tasya pun tersadar dan ikut berteriak sebelum akhirnya menutup kembali pintu tersebut dengan kasar tepat di depan wajah Tasya.


Brakkkk


Tasya tersentak kaget sampai memundurkan satu langkahnya. Ia mengelus da da nya yang terkejut buka main.


"Huh.. Apa itu tadi? Apa gue baru aja liat Hulk? gue inget Hulk punya perut kaya tuan Abi.. Jangan-jangan... Dia jelmaan manusia hijau itu?" Gumam Tasya begidig ngeri dengan pemikiran nya sendiri.


.


.


.


.


.


.


Bersambung....


...****************...


Holla hello Readers tercintah ❤️❤️❤️❤️ jangan lupa lemparin Nucha jempol sama gifnya yah..


Terimakasih yang sudah berkenan mampir dan selalu mengikuti kisah Tasya ini, Lophe you phlen ❤️🤗🤗🤗


Happy reading all ❤️🤗🤗