I Love You, My Secretary

I Love You, My Secretary
Bab 19



Dor


Dor


Dor


"INEM...."


"Buka!!! Inem udah jam berapa ini?"


Sayup-sayup aku mendengar suara Tuan Abi. Aku rasa saat ini aku masih tidur. Tapi, kenapa suaranya terdengar jelas, seakan bertemu langsung masih kurang, ia juga memenuhi alam bawah sadarku? yang benar saja!


"INEM!!!!"


Bruk


"Akhhhh"


"Apa itu? ini bukan mimpi? oh ya ampun pinggangku"


"INEM... Kamu ngapain aja? jam segini rumah masih berantakan" Suara yang ku pikir itu mimpi ternyata nyata?


Masih ku dengar teriakannya dari balik pintu, dia itu sebenarnya mau bangunin aku atau mau ngajak ribut sih, berisik banget. Aku sampai terkejut hingga terjatuh dari tempat tidur.


"Apa sih... Rusuh banget.. emang sekarang jam berapa?" Gumam ku tanpa menjawab teriakan tuan Abi, nanti kalau cape juga berhenti sendiri.


Ku jangkau ponsel yang ada di atas nakas untuk melihat jam sambil tangan ku tak berhenti mengelus pinggang yang terasa nyeri. Saat menyalakan layar ponsel seketika mataku hampir saja keluar kala melihat angka yang ada di layar depan benda persegi tersebut.


"APA!!! JAM 8?? gawat.. gawat... jangan sampai gue kena sembur nih" Gerutu ku sambil berlari ke arah kamar mandi.


Sepuluh menit kemudian aku sudah berada di ruang tamu, berdiri kaku di hadapan Tuan Abi yang sedang menatap ku penuh intimidasi. Rasanya ruangan di sini menjadi panas, padahal AC senantiasa menyala.


"Kamu tau sekarang jam berapa?" tanyanya tenang tapi, sungguh aku merasa kegugupan yang luar biasa.


"Maaf tuan" Aku hanya bisa mengucap kata maaf, menyadari jika aku memang salah. Ini karena kebiasaan saat berada di kosan, aku sampai lupa sekarang ada di mana.


"Enak tidur di kasur yang empuk, ya?"


"padahal katanya orang kaya, tinggal nyalain robot pembersih. Tinggal klik beres deh, ribet banget" Gerutuku yang pasti hanya mampu ku ucapkan dalam hati.


Tidak mampu menjawab pertanyaan nya, aku hanya bisa menunduk tanpa menjawab. Rasanya aku seperti sedang di sidang karena ketahuan mencuri. Padahal aku kan hanya kesiangan lagi pula ini kan hari libur kenapa aku seolah takut sekali ya?


"Kenapa diam saja? Sekarang lakukan tugas mu!!" Ujarnya masih datar namun penuh tekanan.


"Baik, tuan" Aku segera berlalu dari hadapannya. Tidak nyaman berada di dekatnya dalam situasi seperti ini. Namun, baru beberapa langkah meninggalkannya ia kembali memanggilku membuat langkah ku terhenti.


"Sebelum mengerjakan hal yang lain, aku ingin sarapan dengan nasi liwet dan sambal cumi asin" Pintanya dan aku pun segera mengangguk menyanggupi permintaanya.


"Baik, tuan. Tapi, di kulkas tidak ada cumi asin" Ujarku apa adanya.


"Kamu lihat wajah ku?" Tanyanya dan aku mengangguk untuk menjawab pertanyaan nya


"Apa aku peduli? Cari sampai dapat!! aku ngga mau tau satu jam dari sekarang apa yang ku minta harus sudah ada di meja" Ujarnya ketus.


"Ya sudah, mana duitnya? biar saya cari di supermarket bawah"


"Eh siapa yang suruh kamu beli di supermarket?" Aku terdiam belum mengerti maksud nya.


"Beli di pasar!!" Aku terperangah mendengar jawaban nya. Tidak bisa di percaya dia memintaku untuk membuatkan menu nasi liwet hanya satu jam dan harus pergi ke pasar cuma buat beli cumi asin? Apa aku tidak salah dengar? Jarak dari sini ke pasar kan setengah jam, bagaimana bisa aku menyelesaikan pekerjaanku tepat waktu?


"Tapi, tuan"


"Tidak ada tapi-tapian, iya atau gaji mu bulan ini di kantor aku potong" Ancamnya dan berhasil membuat mulutku bungkam. Ini nih yang aku tidak suka, namanya bos ancamannya pasti kalau ngga pecat ya potong gaji.


"Ah tuan ancaman ngga asik, masa potong gaji sih sekali-kali ganti kek. Naik jabatan misalnya" Keluhku.


"Kerja aja ngga bener minta naik jabatan" cibirnya sambil memberi ku satu lembar uang seratus ribu. Ck ketahuan sekali pelitnya.


"Yah tidak naik jabatan di kantor naik jabatannya di sini gitu tuan. Jadi calon istri misal" Sahut ku asal sambil menerima uang yang ia sodorkan.


Mendengar ucapanku membuat Tuan Abi membulatkan matanya ke arah ku. Tak ingin lama-lama berdebat dengan bos yang selalu benar, aku segera turun ke lobby menunggu tukang ojek yang ku pesan saat berada di lift.


Sabtu yang melelahkan, padahal hari masih pagi. Biasanya Sabtu seperti ini aku masih menjelajah ke alam mimpi tapi sekarang... Huh aku malah berada di tengah pasar seperti ini. Bukan masalah yang besar sih sebenarnya, yang jadi masalah itu harus berdesak-desakan dengan banyak orang hanya untuk.... cumi asin!!!


Tak lama kemudian aku sudah berada di jalan pulang. Karena hanya membeli satu macam jadi aku tidak perlu berlama-lama di pasar. Begitu apa yang di inginkan telah ku dapatkan, aku langsung pulang.


Namun, hari ini sepertinya nasibku tidak terlalu baik. Baru setengah perjalanan ban sepeda motor yang aku tumpangi kempes karena terkena ranjau paku.


"Aduh... maaf banget, neng. Ban motor saya kempes. Neng naik yang lain aja ya?" Ujar mas ojeg terdengar tidak enak hati. Huft... Aku pun mengangguk karena hanya itu yang bisa ku lakukan. Ku rogoh tas kecil yang senantiasa kupakai mencari ponsel untuk memesan ojek yang lain tapi lagi-lagi aku kurang beruntung, ponsel ku tiba-tiba mati karena semalam aku lupa mencharge.


Huft...


"Si*l bener hari ini gue... Bisa ngga tepat waktu kalau kaya gini caranya..."


"Mana lagi... ngga ada angkot kah atau ojek lewat mungkin?"


"Jangan salahin aku yah bos kalau ngga tepat waktu. Siapa yang nyuruh pergi ke pasar padahal jelas-jelas di supermarket juga ada" Gerutu ku sambil celingak-celinguk barang kali ada kendaraan lewat. Kendaraan banyak sih tapi bukan transportasi umum.


Aku duduk di pagar pembatas yang ada di samping trotoar jalan memperhatikan kendaraan yang berlalu lalang. Sempat terfikir untuk aku jalan saja, tapi jaraknya terlalu jauh dan rasanya aku tak akan sanggup.


Sedang bingung mencari kendaraan di pinggir jalan, tiba-tiba dari arah samping kanan..


Ckitttt


Brakkkkkk


Terdengar suara decitan ban yang bergesekan dengan aspal dan sebuah sepeda motor terjatuh dan terseret cukup jauh dari lokasi kejadian.


Orang-orang yang sedang berjalan kaki berlarian menghampiri korban yang tergeletak bersimbah darah. Beberapa pengendara menghentikan kendaraan mereka. Ada yang membatu menyadarkan si pengendara ada juga yang malah mengabadikan kejadian ini.


Aku yang penasaran pun ikut bergabung di kerumunan orang-orang yang mengelilingi pengendara motor tersebut. Keadaanya parah, darah mengalir dari kepalanya karena si pengendara tidak menggunakan helm membuat kesadarannya menghilang. Aku meringis ngilu seolah aku pun merasakan kesakitannya.


"Ck, orang lain mah nonton bioskop.. lah gue malah nonton kecelakaan. Aneh!!" Gumamku dalam hati merasa lucu dengan kelakuanku. Beberapa orang menawarkan bantuan untuk membawa si pengendara ke rumah sakit dan yang lainnya membersihkan sisa kecelakaan tak lupa melaporkan kejadian ini ke pihak kepolisian.


Aku hendak pergi dari lokasi namun pandanganku melihat seorang anak yang sedang menangis di pinggir jalan. Penasaran aku pun menghampiri anak tersebut.


"Adek kenapa?" tanya ku saat sudah berada di depannya. Aku berjongkok di hadapan anak laki-laki ini. Ia menengadah menatapku namun tak menjawab ia masih menangis sesenggukan membuatku mengiba apalagi wajah nya yang terlihat lelah. Kemudian Ia membuka tangan yang sedari tadi memegang lututnya, memperlihatkan luka yang masih mengeluarkan banyak darah.


"Ya ampun... Kamu kenapa dek?" Ujarku Panik karena darahnya sungguh banyak hingga merembes ke kaki dan berakhir di jalanan yang ia duduki.


belum sempat menjawab pertanyaanku, tiga orang anak menghampiri kami dengan berlari.


"Lucky!!" Pekik salah satu di antara mereka. Mungkin mereka adalah teman anak yang terluka ini. Jika ku perhatikan mereka adalah anak jalanan yang mungkin sedang mencari nafkah di bawah lampu merah ini.


Anak-anak yang berjumlah tiga orang ini panik melihat temannya yang terluka parah.


"Kamu kenapa, Ky?" Tanya anak yang paling tinggi tapi juga paling kurus.


"Hiks ... Hiks ... Sakit.. Bang" Ujar si anak yang bernama Lucky.


"Adek-adek lebih baik kita bawa Adek ini ke klinik dulu aja. Dia banyak kehilangan darah" Ujarku mencoba memberi saran. Semua pandangan mereka mengarah padaku, seperti nya baru menyadari kehadiran ku.


"Kaka siapa?" Tanya seorang anak yang terlihat lebih dewasa.


"Kakak ngga sengaja liat Adek ini lagi nangis. Jadi ikut kakak yah, kita ke klinik aja" bujuk ku lagi, namun tak ada satu pun yang bersuara. aku tahu sih mereka pasti takut karena baru pertama bertemu. Aku pun meyakinkan mereka dan beruntung nya mereka mau mengerti walau masih terlihat mencurigaiku.


Aku kemudian berjalan ke sisi jalan mencoba mencari tumpangan. Satu mobil mengabaikan, dua mobil masih melewatiku begitu saja, tiga, empat, lima pun masih sama. Aku mulai menyerah namun ketika melihat anak-anak yang berharap besar padaku terlebih wajah Lucky yang sudah memucat membuat semangat di dadaku kembali. Walau bagaimanapun aku harus terus berusaha.


Akhirnya setelah sekian banyak kendaran yang menolak memberikan bantuannya, sebuah mobil berwarna hitam terlihat menepi namun aku merasa tak asing. Dan dugaan ku ternyata benar seorang laki-laki tinggi dan berwajah datar nan dingin bak kulkas rusak turun dari mobil tersebut.


"Kamu ngapain di sini?" Tanyanya. Biasanya jika melihat dia aku akan merasa kesal tapi sekarang aku bahagia sekali bisa melihatnya.


"Akh.... Pak Zayn!!!!" Pekikku bahagia.


.


.


.


.


Bersambung...