I Love You, My Secretary

I Love You, My Secretary
Bab 54



Di sepanjang perjalanan, Angel tak henti-hentinya merutuki kesalahan nya sendiri. Bagaimana bisa dia yang tadinya ingin mengerjai Rizky malah dirinya sendiri yang terjebak. Dan lebih gilanya lagi kini statusnya naik pangkat atau justru turun pangkat, menjadi pacar seorang Rizky Rahardian Pratama.


Hal yang sama sekali tidak Angel kira, dan hubungan seperti apa yang mereka jalani? Jelaskan jika keduanya tidak ada perasaan apapun? Lalu sekarang, pacaran?


"Hah Pacar? Heh! Gue ngga sudi ya punya pacar kayak Lo!" Ketus Angel. Saat ini mereka sedang dalam perjalanan menuju rumah sakit.


"Loh, kan Lo sendiri yang mau jadi pacar gue, dan lagi kan tadi Lo bilang.. Lo udah kasih semuanya ke gue? coba sekarang kasih tau gue apa yang udah Lo kasih?!"


Glek..


Tiba-tiba tenggorokan Angel rasanya seperti tercekat. Kini ia benar-benar masuk dalam perangkap nya sendiri. Sekarang apa yang harus dia lakukan? Ah.. Kabur! Ya dia harus kabur, Lagi pula Rizky mungkin hanya bercanda jadi tidak perlu di pikirkan. Angel mencoba menyemangati dirinya sendiri dengan pikiran pikiran positif.


Tapi, mungkin? Yah, mungkin satu kata yang belum pasti membuat Angel kembali gelisah Hingga tanpa di sadari nya kini mereka sudah sampai di parkiran rumah sakit.


Angel yang masih mematung tak menyadari jika motor yang di kendarai Rizky sudah terparkir sempurna bahkan mesin motor pun sudah ia matikan, tapi rupanya gadis cantik itu masih asik dalam lamunannya.


"Ya elah malah ngelamun! Pantesan dari tadi diem aja" Gumanya. Rizky turun dari motor dan mendekatkan wajahnya ke wajah Angel hingga jarak tinggal beberapa centi..


Fuhhhh


Fuuhhhhh...


Ia meniup kedua mata Angel sampai gadis itu tersadar dan mengerjapkan matanya beberapa kali. Saat kesadaran nya sudah kembali ia membelalakkan matanya karena wajah Rizky yang sangat dekat dengannya.


"Akhhhh" Teriaknya mengejutkan orang-orang yang kebetulan berada tak jauh dari mereka. Rizky yang sudah menduga akan seperti ini, ia hanya menutup telinga dan memejamkan matanya.


"Berisik!! Lo mau sampai kapan di sini? Turun!" Ketusnya saat Angel sudah jauh lebih tenang.


"Apa perlu gue gendong, Sayang?" Lanjutnya sambil mengedipkan sebelah kanan matanya, menggoda Angel yang sekarang sudah salah tingkah.


"Hah! Sa... Sayang?"


"Iyalah sekarang kita kan pacaran! Jadi kamu sayang ku, aku sayang mu!" Ujar Rizky lagi semakin suka menggoda Angel, kini wajah wanita itu sudah sangat merah. Malu dan juga geli. Sayang? Oh ayolah bahkan Rizky sama sekali tidak cocok mengucapkan kalimat semanis itu.


"Are you crazy?" Umpat Angel dan berlalu begitu saja dari hadapan Rizky yang sudah terbahak.


"Hahaha.. Lucunya pacar gue!"


"Pacar? seperti nya dia benar, aku memang sudah gila!" Rizky geleng-geleng kepala dengan pemikiran nya sendiri.


.


.


.


.


Di lain tempat, Daniel tengah memaki manager hotel yang menurutnya tidak becus dalam bekerja. Sejak hari kemarin ia selalu saja memaki setiap kesalahan yang di lakukan oleh karyawan nya, baik kesalahan kecil ataupun besar.


"Kau itu kerja atau tidur, Hah?!!" Sentaknya pada seorang manajer yang sedang berdiri kaku di hadapan nya.


"Mengurus satu hotel saja kau tidak bisa!!?"


"Mau ku pecat, hah!!" Sentaknya lagi. Terlihat Daniel benar-benar kesal saat melihat laporan bulanan yang di berikan oleh manager itu tidak sesuai dengan target. Padahal hanya meleset sedikit tapi Daniel sama sekali tidak mentolerir. Mood nya saat ini sedang tidak baik, dan ia hanya bisa melampiaskan kekesalannya pada orang-orang yang tidak bersalah.


Sejak kepulangan nya dari rumah nenek Tasya, moodnya sangat berantakan. Ia bahkan tidak bisa berfikir jernih.


"Nenek tua si al an" Umpatnya kala mengingat percakapan nya dengan nenek Anita, sesaat setelah penolakan Tasya terhadapnya.


Saat itu, Daniel menyusul nenek Anita ke kamarnya. Ia melayangkan protes tentang keputusan nenek tua itu. Menurutnya keputusan yang di ambil, menginjak-injak harga dirinya. Dimana ia hanya di jadikan ban serep, saat calon Tasya tak bisa memenuhi syarat yang di ajukan, maka saat itu baru ia di lirik.


Padahal, seharusnya ia yang menjadi pemenang. Sebab ada perjanjian tak tertulis yang mengharuskan mereka bersama, tapi sekarang...


"Arghhhhh... Zayn Pranata!!! Akan ku hancurkan kau sehancur-hancurnya!" Teriaknya lagi.


Rapat bulanan sudah sejak tadi selesai. Saat ini hanya ada dia dan juga asisten pribadinya, Dona.


"*Kau jangan salah faham.." Ucap nenek Anita padanya saat itu.


"Aku melakukan ini, karena sikap Tasya itu keras kepala. Apalagi jika berurusan dengan laki-laki bernama Atta. Dia tidak akan mendengar kan apa yang kita ucapkan. Satu-satunya cara untuk membungkamnya adalah dengan kenyataan bahwa ia sudah gagal untuk memenuhi syarat yang ku ajukan. Tenang saja! Tasya itu sangat menghormati orang tuanya. Ia tidak akan berbuat nekad menikah dengan Atta tanpa restu dari kami" Tuturnya menjelaskan rencananya.


"Tapi, nek. Kalau sampai laki-laki itu bisa membawa orang tua kandungnya bagaiaman?" Daniel terlihat cemas.


"Tidak akan! aku yakin itu. Kau hanya perlu pantau pergerakan dari Atta dan juga Tasya. Jangan sampai rencana ku gagal. Kau mengerti kan?" Daniel mengangguk lemah sebagai jawaban walau hatinya merasa tak rela.


Flashback off*.


Dona melihat sang atasan yang tampak frustasi pun mendekat. Ia mengusap lembut bahu kekar laki-laki itu, hingga membuat Daniel tersentak. Sesaat kemudian ia tersenyum memandang Asisten pribadinya yang hari ini tampak menggoda.


"Tuan terlihat sangat frustasi, ada apa hem... Apa saya melewatkan sesuatu?" Tanya Dona dengan suara yang di buat mendayu. Kini jari-jari lentik nya tak hanya mengusap bahu Daniel namun kini mulai mengusap pelan da da bidang yang masih berbalut jas.


Daniel menarik kasar tangan yang sedari tadi sudah menari-nari mengundang sesuatu yang tak seharusnya terjadi.


Karena kuatnya tarikan yang di lakukan oleh Daniel membuat tubuh Dona limbung dan berakhir terduduk di pangkuan atasannya itu. Tapi bukannya terkejut, Dona justru tersenyum. Inilah yang ia inginkan, hal ini pula yang membuatnya betah bekerja dengan Daniel. Selain pekerjaan yang menjanjikan ia juga mendapat kan pundi-pundi uang yang lebih dari cukup untuk menyokong kehidupannya.


"Kau semakin pandai menggoda, beb" Ujar Daniel menyeringai ia kini sudah menyapu habis bi bir merah menggoda asistennya dengan kasar. Ciri khas permainannya.


Sesaat kemudian baju yang mereka pakai sudah tampak kusut tak berbentuk, permainan semakin memanas. Hingga sebuah dering ponsel sedikit menganggu konsentrasi keduanya namun bukan berarti permainan terjeda. Daniel meraih ponselnya yang ada di meja, tanpa ragu ia menggeser icon warna hijau untuk mengangkat panggilan tersebut.


Ia tak menghentikan permainan, karena tahu orang yang menghubunginya tak terlalu penting untuknya. Setidaknya saat ini, entah nanti.


"Hallo, sshh" Ujarnya. Saat ini posisi Dona sedang berlutut di depan Daniel, dan laki-laki itu sedang tersenyum mendengar umpatan dari wanita di sebrang telpon.


"Lo gila, Niel.. elo ngangkat panggilan gue saat sedang bermain?"


"Hmm.. Salah sendiri! kenapa? Ja.. jangan telpon gue ka.. Ah.. Kalau ngga penting!" Suara Daniel benar-benar menganggu pendengaran wanita di sebarang sana. Tapi, yang anehnya wanita itu mau-mau saja mendengar nya.


"Ck!! Gue cuma mau tanya bagaimana keadaan tunangan Lo sekarang? apa dia syok mendapatkan hadiah kecil dari gue?" Ujar wanita itu. Daniel mengernyit, hadiah apa yang di maksud? Bukannya Tasya sama sekali tidak ada yang memberikannya sesuatu?.


"Maksud Lo apa?"


"Sayang banget ya, padahal gue pengen nya tuh ngasih hadiah tepat di jantungnya. Beruntungnya dia itu tunangan Lo, kalau itu orang lain mungkin gue ngga akan mikir dua kali" ucapan wanita itu membuat mata Daniel membulat ia bahkan reflek berdiri hingga membuat Dona terjengkang.


"Jadi.. Lo yang udah nyelakain Tasya? Gila.. Lo wanita tergila yang pernah gue kenal!!" Wanita di sebrang sana hanya terbahak mendengar ucapan Daniel.


"Terimakasih pujian mu.. Dalam hidup... kita harus berbuat hal gila untuk mendapatkan sesuatu, jadi tidak usah terkejut begitu."


"Tapi elo udah kelewat gila tau ngga! Kalau sampai Tasya kenapa-napa gimana! Apa lo pikirkan itu?"


"Makannya gue cuma menggores sedikit lengangnya. Elo tenang aja, mendingan nanti malam kita ke tempat biasa gimana?"


"Gue sibuk!! Dan gue ingetin Jangan pernah lagi menyentuh tunangan gue, Cellina Wilson!" Geram Daniel, kemudian mematikan sambungan telepon secara sepihak. Ia kemudian langsung membenahi pakaiannya yang berantakan dan pergi begitu saja meninggalkan Dona yang masih mematung.


"Gagal beli tas branded!!" Gumamnya lesu.


.


.


.


.


.


Bersambung...


......................


Holla hello Readers tercintah ❤️❤️❤️ Jangan lupa lemparkan Nucha jempol, bunga, sama kopinya yah.. Biar Nucha makin semangat ngetik ini...


Happy reading all ❤️❤️❤️