I Love You, My Secretary

I Love You, My Secretary
Bab 124



Hari demi hari berlalu, akhirnya hari dimana Zayn dan Tasya akan mengikat janji suci mereka pun sudah berada di depan mata. Esok adalah hari yang mereka tunggu-tunggu selama bertahun-tahun.


Sebuah hotel yang juga milik keluarga Herold menjadi tempat untuk resepsi pernikahan mereka besok malam. Sedangkan untuk akad, Zayn dan Tasya memilih sebuah masjid yang tak jauh dari kediaman bibi Zayn. Masjid pertama yang Zayn singgahi saat ia tiba di Jakarta.


Tasya dan Rizky kini di boyong ke kediaman bibi Zayn, sedangkan Zayn sendiri berada di mansion bersama ibu kandungnya.


“Malam ini kau tidur sendiri di sini ya, nak. Besok baru boleh sekamar dengan kang masmu itu.” Ucap bibi Zayn dengan sedikit menggoda calon keponakan menantunya, saat mengantarkan Tasya ke kamar Zayn.


Tasya tersipu mendengar ledekan bibi Lisa. “Bibi membuatku malu,” ujarnya dengan pipi yang merona.


“Kau lucu sekali!” ujar bibi Lisa lagi menarik lembut satu pipi Tasya yang masih merona.


Tiba-tiba paman Zayn datang dan mengajak sang istri untuk istirahat dan berhenti mengoda Tasya.


Setelah kepergian paman dan bibi Zayn, Tasya berjalan menuju tempat tidur dan duduk di tepi ranjang. Ia menatap tempat tidur tersebut dan mengusap pelan permukannya. Tasya kemudian beralih menuju laci dimana Zayn biasa menyimpan barang-barang pribadinya.


“Sayangku.. aku liat barang-barangmu, ya!” ujar Tasya lirih setelah mendapatkan sebuah kotak yang dulu pernah Zayn tunjukan padanya.


“Iya ambil aja!” gumamnya lagi dengan suara yang dalam seolah Zayn lah yang menjawab.


“Makasih, sayang.. hihihi!” Tasya jadi terkikik sendiri mendengar ucapan absurdnya.


Tasya kemudian membuka kotak tersebut yang ternyata isinya telah berganti dengan foto-fotonya.


“Woah.. kau memang pengagum rahasiaku, Ta!” ucapnya lagi.


“Lihatlah, nak! Ayahmu sangat sweet kan? Dia selalu menunggu ibu, meski tak tahu apa yang akan terjadi kedepannya.” Kini ia berbicara pada bayinya yang masih ada di dalam rahimnya.


“Semoga tak akan ada hal yang menghalangi kami bersatu.”


“Seandainya mamah dan ayah berada di sini pasti kebahagian ku teramat lengkap. Ayah, maafkan Tasya yang sudah mengecewakan kalian, tapi Tasya sangat menyayangi kalian lebih dari yang kalian tahu.” gumam Tasya sendu mengingat ia besok akan berganti status menjadi seorang istri, namun orang tua yang ia impikan akan mengantar dirinya sampai di hadapan sang suami justru kini tak mau mengakuinya lagi sebagai seorang anak.


“Ngapain, lo?” Tasya tersentak kaget saat tiba-tiba mendengar suara Rizky di belakangnya.


Tasya memicingkan matanya menatap kesal pada Rizky yang mengejutkannya. Untung saja jantungnya masih aman di tempatnya tak bergeser sedikitpun karena merasa terkejut.


“Bisa nggak sih kalau masuk kamar orang itu ketuk pintu dulu. lo kaya jin botol tau nggak, tiba-tiba nongol gitu!” omel Tasya membuat Rizky terkekeh. Rasanya sudah sangat lama tak mendengar ocehan Tasya karena kejahilannya. Kini ia yakin Tasya bahagia dengan pilihannya.


Mungkin..


“Lagian lo serius banget sih!” ujar Rizky yang juga ikut duduk di samping Tasya dan melihat apa yang sedang Tasya pegang. Ia tersenyum melihat banyaknya foto Tasya di sana.


“Besok gue akan menjadi istri Zayn, itu artinya gue harus menghormatinya dan mengabdikan diriku padanya kan?” tanya Tasya tiba-tiba.


“Sejatinya pernikahan bukan hanya tentang hormat menghormati atau melayani dan di layani, ia juga akan menjadi ibadah yang terpanjang dimana banyak pahala yang bisa lo raih di dalamnya. Lo bisa tanya-tanya tentang pernikahan sama ustadz atau sama orang tua jangan sama gue! gue masih polos, nggak ngerti apa-apa!" tukas Rizky.


“Ish, gue serius, Ucup!” sahut Tasya kesal sendiri dengan jawaban Rizky, tapi memang benar sih. Tapikan bukan itu yang ingin Tasya katakan, dia itu ingin curhat.


“Ayah masih hidup dan sehat. Bukankah pernikahaan ini tidak sah jika tidak langsung di walikan oleh Ayah? Gue benar kan?”


“Maksudnya lo pengen mereka dateng, gitu?” tebak Rizky dan langsung diangguki Tasya.


“Gue anak satu-satunya mereka, impian terbesar gue adalah berjalan menuju pelaminan di antar oleh Mamah dan di sambut oleh Ayah. Ayah menjabat tangan Atta dan menyerahkan tanggung jawab atas gue langsung tanpa di walikan. Gue anak perempan, wajar kan kalau gue pengen kayak gitu?”


Rizky memeluk Tasya untuk memberikan sepupunya itu semangat. Memang tak salah, apa yang di inginkan Tasya adalah hal yang wajar. Ia akan menapaki jalan yang baru dan panjang dengan pria yang InsyaAllah menjadi jodohnya di dunia dan akhiratnya kelak. Tapi orang tua yang dia harapkan akan memberinya nasihat supaya menjadi istri yang baik justru saat ini tak sama sekali menghubungi Tasya. Bahkan berkali-kali Tasya menghubungi orang tuanya selalu di rijek, pesan pun hanya di baca tapi tak dibalas.


“Jangan sedih ya, masih ada paman dan bibi kan? Lebih baik lo istirahat karena besok akan menjadi hari yang panjang.”


“Nggak nyangka lo udah mau jadi milik orang, Sya. Padahal baru kemarin lo ngrengek minta gue gendong.” Lirih Rizky mengingat kembali masa kecil mereka.


“Good Night, manja!” Rizky mengecup lembut kening Tasya dengan penuh kasih sayang. Kemudian ia beralih keperut Tasya yang sudah sedikit membuncit.


“Good Night, kesayangan Uncle!” ia juga mendaratkan kecupan di sana.


Setelah itu Rizky keluar dari kamar Zayn dan menuju kamar yang berada di depan kamar Zayn, itu adalah kamar Aldo.


Di kamar yang lain, Zayn pun merasakan kegelisaan yang sama. Entah kenapa perasaanya menjadi resah dan khawatir. Tiba-tiba ia merasakan perasaan yang kurang enak, entah apa. Tapi sepertinya ia melupakan sesuatu.


“Kenapa dadaku terus berdebar?” keluhnya sambil menyentuh dadanya dan merasakan degup jantungnya yang sangat terasa membuat dadanya sesak dan nafasnya mulai memburu.


Zayn terduduk di pinggir tempat tidur dan mengatur pernafasannya agar menjadi lebih tenang. Tepat saat itu pintu kamarnya pun di ketuk seseorang dan tak lama pintu pun terbuka menampakkan ibunya yang menatap Zayn dengan senyuman yang tak pernah luntur dari wajah ayunya meski kerutan sudah terlihat jelas di sudut mata dan atas bibirnya.


“Kau belum tidur, Nak?” tanyanya dan di jawab gelengan kepala oleh Zayn.


Ibu Zayn pun mengghampiri anaknya dan duduk di sampingnya. ”Kau merasa gugup?” terka ibu Zayn dan itu sangat tepat.


“Sedikit,” kilah Zayn.


“Gugup saat akan menikah itu wajar, nak. Tak apa, kau tak perlu khawatir. Ibu hanya ingin mengatakan padamu, jadilah laki-laki yang bertanggung jawab, jangan pernah sekalipun menyakiti hati istrimu apalagi sampai melukai fisiknya. jika kau marah, jangan jadikan istrimu pelampiasan. Bimbing dia dengan cintamu. Karena tindak tanduk isrimu tergantung darimu. Kau mengerti, nak?” Ujar ibu Zayn dan di anguki olehnya.


Zayn kemudian berhambur ke pelukan ibunya. “Terimakasih, bu. Zayn pasti akan selalu mengingat nasihat ibu. Zayn sayang ibu.”


***


Di tempat lain, keadaan ruangan yang remang-remang dan sunyi membuat beberapa pria dengan leluasa berdiskusi. Salah satu dari lima pria itu duduk dengan gaya yang arogan sembari mendengarkan bawahannya berbicara.


“Jadi seperti itu, bos. Saya sudah mengawasi gerak gerik mereka selama hampir satu bulan dan besok adalah kesempatan emas menjalankan rencana kita.” lapor salah satu pria yang mempunyai postur tubuh yang tinggi namun kurus dan mempunyai rambut kriting.


Orang yang di panggil bos itu mengangguk dan mengetuk-ngetukkan jarinya di atas meja. “Apa semuanya sudah siap?”


“Sudah, bos! Kami sudah mendapatkan satu kambing hitam dan rencana kita akan di mulai dari Masjid. Bagaimana?” jelas yang lain.


“Bagus! Aku ingin pernikahaan mereka bukan hanya batal tapi juga hancur. Jadikan besok adalah hari yang paling sulit mereka lupakan!” ujar sang bos sambil menyeringai.


“Tentu, bos!”


“Oh ya, pastikan semuanya berjalan lancar dan aku ingin kau kirimkan Zayn ke neraka saat itu juga. Pastikan waktunya kalian set secara bersamaan, supaya tidak ada yang curiga dan menganggap jika apa yang terjadi padanya adalah kecelakan. Atau apapun itu, yang pasti jangan pernah libatkan namaku!” tukas sang bos lagi dan di angguki oleh mereka tanda mengerti.


Setelah selesai rapat, satu persatu dari mereka pun membubarkan diri dan menyisakan sang bos di sana yang masih betah duduk sambil tak henti-hentinya tersenyum smirk.


“Tunggu hadiah dariku, sayang! Kau pasti sangat menyukainya! hahahahaha!”


.


.


.


.


Bersambung….