
Keesokan harinya di kantor, aku di panggil ke ruangan Tuan Abi. Entah ada hal apa yang ingin ia sampaikan. Tak biasanya aku di panggil ke ruangannya. Bahkan selama aku bekerja di sini, belum pernah aku di panggilnya.
Aku menekan lift di angka 19 tempat ruangannya berada. Sesampainya di sana, aku melihat beberapa ruangan, tidak banyak. Ada ruang tamu, ruang meeting, ruangan Asisten Rico, sekertaris, dan ruangan CEO pastinya.
Aku berjalan menuju pintu yang terdapat tulisan CEO di sana. Sekertaris tuan Abi menuntun ku masuk karena telah di tunggu olehnya.
Aku melangkah masuk setelah sekertaris nya meminta izin dari pemilik perusahaan. Aku melihat tiga orang yang kemarin tampak memasang wajah sedihnya dan tampilan yang acak-acakan. Mereka juga masih mengenakan pakaian yang semalam.
Tuan Abi bersama asisten Rico memasang wajah datarnya menatap ku. Dari sini aku tahu masalah apa yang menyebabkan aku dipanggil olehnya.
"Anda memanggil saya, tuan?" Tanya ku. Meski aku tahu apa yang akan mereka katakan tapi aku butuh pembenaran.
"Kamu pasti tahu kenapa saya panggil kan?" Ujarnya masih memasang wajah datar.
Tolonglah jangan sampai tuan Abi termakan akting wanita ini. Aku tak mau pengangguran lagi. Biasa langsung di nikahkan nenek mata duitan besok jika sampai aku tak punya pekerjaan.
"Maaf tuan, apa ini masalah saya yang mengunci mereka di toilet?" Ujarku jujur. Yah, karena mereka masih mengenakan pakaian yang kemarin aku menduga jika semalam mereka menginap di toilet. Pasti sangat menyenangkan tinggal di sana, aku jadi ingin tertawa.
"Jadi memang benar kamu yang menguncikan mereka? apa kamu tahu mereka hampir pingsan di sana In... ekem, maksudnya... Tasya" Ujar tuan Abi. Aku heran apa dia tak punya kerjaan lain kah kenapa masalah sepele seperti ini harus dia yang tangani langsung? kan ada asisten Rico? Atau...
Aku melirik ke arah tiga orang yang masih setia tertunduk. Entah apa yang sedang mereka lakukan aku tak yakin jika mereka sedang bersedih. Aku justru lebih yakin mereka pasti sengaja ingin mengadu yang tidak-tidak tentang ku pada tuan Abi, sekalian cari muka.
"Kenapa diam?" Tanya tuan Abi masih terdengar datar tapi tetap saja aku tahu dia sedang menahan kekesalannya.
"Hiks...hiks..hiks... Tuan.. Dia ini perempuan jahat, kami tidak tahu salah apa. Tiba-tiba dia menyerang Maya. Padahal Maya sedang cuci muka di toilet, tiba-tiba dia datang dan langsung menampar pipi Maya. Saya yang melihat sahabat saya di lakukan seperti itu tentu saja tidak terima. Tapi, dia justru menyerang saya dengan memelintir pergelangan tangan saya hingga memerah tuan. Saya bahkan masih merasakan sakitnya." ujar wanita berambut pendek yang sempat ku sandara waktu itu.
Cih! mereka ternya pandai sekali memutar balikan fakta. Sejak kapan aku melakukan hal seperti itu, justru aku yang seharusnya bertanya.
"Kamu tidak melakukan pembelaan?" Tanya tuan Abi lagi, mungkin ia juga penasaran kenapa aku hanya diam saja. Cukup bagus sih mungkin dia mau mendengarkan dari dua sudut pandang.
Aku menarik nafasku terlebih dahulu sebelum mulai angkat suara.
"Saya tidak punya bukti atau saksi, tuan. Jadi apa anda masih mau mendengarkan penjelasan saya? Jujur saja saya malas sekali untuk berbasa-basi saya tidak mau menjelaskan apa-apa karena saya juga korban di sini. Bahkan memar di wajah saya saja belum hilang. Saya hanya tegaskan saya tidak bersalah!" Ucapku tenang.
Aku memang tidak seratus persen salah karena mereka duluan yang memulai. Namun, aku juga tidak bisa mengelak jika memang salah telah membalas mereka. Masih beruntung ternyata mereka bisa bertahan tidak benar-benar pingsan, kalau iya bisa panjang urusannya.
"Tidak salah dari mana?! mata Lo itu buta ya?!! Jelas-jelas kami di sini terluka. Masih ngga mau ngaku lagi!!" Sentak seorang wanita yang memakai kacamata. Mukanya terlihat memerah pun matanya juga memancarkan tatapan yang siap perang denganku ternyata.
"Saya tidak mau bertele-tele, tuan. Jadi begini... Saat jam pulang kantor kemarin kebetulan saya pulang sedikit terlambat. Saat pulang kantor sudah sepi hanya tinggal beberapa orang yang masih duduk di meja mereka. Jadi saya pergi ke toilet sebentar tapi mereka menyerang saya. Bahkan lima tamparan-"
"Hei yang ada Lo tuh yang nampar Maya.
putar balikkan fakta lagi Lo. Jangan mentang-mentang Lo kenal tuan Abi jadi bisa seenaknya bertindak. Saya tidak terima, tuan!" Sentak si rambut pendek. Agaknya dia suka sekali berdebat.
"Lima tamparan mendarat sempurna di pipi saya, tuan" Lanjutku tanpa peduli protes dari mereka. Aku hanya menyampaikan apa yang sebenarnya.
"Jangan mengada-ada Lo. Yang ada Lo tuh yang udah nampar Maya. Lihat pipinya aja masih merah" Sela meraka lagi.
"kalian bisa diam tidak!" Tegas tuan Abi.
"Saya ada buktinya, tuan" Ujarku sambil mengotak atik ponsel untuk mencari foto wajahku saat kemarin.
"Lihat tuan! Bahkan keadaan ku lebih parah dari mereka. Dan juga kalian kalau mau menjebak aku sebagai tersangka di sini, harusnya buatlah buktinya tadi malam. Orang bod*h juga tau memar di pipi wanita itu masih baru, Sedangkan kejadiannya saja tadi malam." Ujarku sombong sambil menunjuk samping pelipisku sendiri untuk meledek mereka seolah mengucapkan kata "Pikir" namun tanpa suara.
"Ceritakan yang sebenarnya, atau nama kalian semua saya blacklist. Kamu juga!!" Tunjuk Tuan Abi padaku.
"Saya sudah bicara semuanya, tuan. Apalagi yang harus saya ucapkan? Saya merindukanmu, tuan. Apa harus seperti itu?" Semua orang tersentak mendengar ucapanku. Begitu juga tuan Abi yang melotot tak percaya ke arahku.
"Oh... Satu lagi" Ucapku membuat mereka yang sempat mengalihkan pandangannya dari ku, kembali menatap wajah ku.
"Alasan mereka melukai saya kemarin katanya saya di minta untuk mengundurkan diri dari sini, tuan. Juga di larang mendekati tuan karena katanya Maya ini calon istri anda. Benar begitu, tuan? Wah kalau benar saya cemburu loh, tuan" Ucapku membuat ketiga wanita ini terperangah tak percaya. Mungkin mereka terkejut karena aku berani mengatakan hal ini.
"Kalian bertiga akan saya beri SP 1. Rico urus mereka" Ujarnya kembali duduk setelah sebelumya berdiri di samping sofa dimana kami juga berdiri.
Kami keluar dari ruangan Tuan Abi dengan raut yang berbeda. Maya cs menatap ku penuh permusuhan berbeda denganku yang menatapnya penuh dengan senyuman. Senyuman penuh ejekan.
"Ini belum berakhir!!" Ujar Maya, kala melewatiku di susul dengan dua dayangnya. Aku mengedikan baju tak peduli dengan ancamannya.
"Lo jual gue beli" Ujarku.
"Siapa yang jualan?" Tanya sebuah suara yang ada di sampingku membuatku tersentak. Aku tak menyadari orang lain di sini.
"Pak Zayn" Gumamku sambil mengelus dada.
"Bapak kayak jin botol, tiba-tiba nongol. Bikin jantungan aja" Gerutuku namun tak dipedulikannya.
"Gimana di dalem. Masalah kemarin kan? Lo dapet teguran ngga dari bos?" Tanyanya sambil berjalan ke arah lift untuk kembali ke ruangan masing-masing.
"Aman terkendali. Tuan Abi cuma ngasih SP 1 ke Maya cs dan saya bebas dari tuduhan. Karena tuan Abi ternyata sudah melihat CCTV di depan toilet jadi tuan Abi cuma mau dengar kesaksian dari kami. Karena saya jujur jadi saya bebas" Ucapku menjelaskan dan pak Zayn hanya menganggukkan kepalanya beberapa kali.
"Baguslah"
"Kurang bagus juga sih sebenarnya, padahal saya inginnya tuh mereka membawa masalah ini ke jalur hukum"
"Loh kenapa? Bukannya bagus malah sudah selesai. Kalau saya jadi tuan Abi, sudah saya pecat mereka." Gerutu pak Zayn bersamaan dengan pintu lift yang terbuka, kami kembali melangkah beriringan.
"Iya padahal saya mau menuntut uang kompensasi tadinya. Lumayan kan 3 juta mah bisa buat beli es jeruk. hehehe" Ujarku membuat pak Zayn menghentikan langkahnya kemudian menatapku.
"Lo mau es jeruk aja pake jalur ribet kaya gitu? Kalo Lo mau gue traktir nanti di kantin, ngga usah berurusan sama trio ulet itu, ribet"
"Bapak beneran mau traktir saya?" Ujar ku menatapnya penuh harap.
"Iya"
"Asik.... sekalian sama cemilannya yah pak"
"Dih, malah nawar. Kalau Lo mau cemilannya juga boleh kok, asal Lo mau jadi pacar gue eh jadi istri gue maksudnya"
Sontak saja ucapannya berhasil membuat langkahku terhenti.
"Apa? Istri?"
.
.
.
.
Bersambung....