
Beberapa jam sebelumnya...
Di kediaman Herold, Zayn dan Abi sedang berbincang masalah pekerjaan. Mereka terlihat masih canggung, maklum saja mereka terbiasa sebagai atasan dan bawahan tapi kini ada ikatan darah yang mengikat mereka.
"Baiklah, aku harus pergi sekarang," ujar Zayn setelah melihat jam di tangannya mengakhiri obrolan mereka.
"Kau mau kemana, kak? Kenapa tidak tinggal saja di sini?" Sahut Abi dan Zayn segera menggelengkan kepalanya.
"Tidak! Bagaimana dengan mu? Kenapa kau tak tinggal di sini?" Abi terlihat sedikit berfikir mendengar pertanyaan itu.
"Aku ingin mandiri," Zayn tersenyum mendengar jawaban Abi. "Aku pun begitu. Tapi terimakasih atas tawaran mu, mungkin lain kali akan ku fikirkan lagi. Aku pergi dulu," Zayn kemudian meninggalkan mansion Herold setelah berpamitan pada sang tuan rumah.
Dalam perjalanan Zayn menghubungi Tasya dan mengatakan jika ia akan sedikit terlambat, pada saat itu ia tak menghentikan mobilnya. Setelah menghubungi Tasya, Zayn meletakan kembali ponselnya di atas dasbor mobilnya, namun karena ia tak melihat ada lubang mobilnya sedikit berguncang dan ponselnya pun jatuh. Ia meraba-raba di bawah mencari ponsel namun tangannya tak kunjung menjangkau apa yang dia cari hingga terpakasa Zayn harus mengganti fokusnya untuk melihat keberadaan si ponsel.
Sayangnya, tepat saat Zayn menunduk..
Bruukkk...
Seseorang lewat di depan mobilnya hendak menyebrang tanpa menengok kanan, kirinya dan tabrakan pun tak dapat terhindarkan.
"Astagfirulloh," Zayn syok dengan apa yang baru saja terjadi. Ini pertama kalinya dia menabrak seseorang, maka ia segera turun dari mobil untuk melihat keadaan orang yang baru saja ia tabrak.
"Celin?" Ucapnya saat melihat seorang wanita yang terkapar di jalan dengan darah yang bercucuran dari kepalanya. Rupanya orang yang di tabrak Zayn adalah Celin. Entah bagaimana ceritanya dia lagi-lagi bisa bertemu dengan wanita itu dan dalam keadaan yang selalu kurang tepat.
"Ada kecelakaan! Ada kecelakaan!" teriak orang-orang membuat Zayn tersadar dari lamunanya.
"Anda yang menabrak nona ini, tuan! Jangan lari, anda harus tanggung jawab!" Ujar salah satu bapak dan di iya kan oleh beberapa orang yang mengerubungi Celin.
"Saya akan tanggung jawab, jadi tolong bantu saya untuk mengangkatnya ke dalam mobil saya. Bisa, pak?" Tanya Zayn tenang.
Tak lama kemudian Zayn kembali melajukan kendaraannya, namun kali ini bukan untuk menemui Tasya melainkan untuk membawa Celin ke rumah sakit terdekat.
Beberapa menit kemudian Zayn sudah tiba di pelataran rumah sakit, ia berteriak memanggil dokter untuk memberikan pertolongan pada Celin. Dari raut wajahnya terlihat jelas bahwa Zayn sangat khawatir karena apa yang menimpa Celin adalah salahnya. Kalau saja ia menepikan mobilnya sebentar sekedar untuk menelfon pasti kecelakaan ini tak akan terjadi.
"Semoga tak terjadi apa-apa padanya. Kalau sampai terjadi sesuatu yang buruk, aku pasti akan sangat bersalah," gumam Zayn di depan ruang UGD. Ia berjalan mondar mandir karena begitu resah. Ia bahkan meninggalkan ponselnya yang masih tergeletak di mobil saking paniknya.
Beberapa saat kemudian pintu UGD terbuka dan seorang dokter keluar dari dalam. Dokter itu langsung di todong pertanyaan oleh Zayn.
"Bagaimana keadaan Celin, dok?" tanyanya.
"Anda keluarganya?"
"Saya sahabatnya,"
Mendengar jawaban Zayn, dokter itu tersenyum sambil mengangguk. "Alhamdulilah, pasien tak ada luka serius. Mungkin karena terlalu syok makannya dia pingsan," Jelas sang dokter membuat Zayn bisa bernafas lega.
"Tapi, saya melihat kepalanya berdarah-darah, dok. Apa itu tidak apa-apa?" Tanyanya lagi dan kembali dokter itu tersenyum sebelum menjawab pertanyaan Zayn. Meyakinkan Zayn lewat senyumannya. "Tak apa, memang benturan melukai sedikit kepalanya. Tapi, dari hasil CT SCAN di kepalanya semuanya baik-baik saja," jelas dokter itu lagi dengan sabar.
"Apa saya sydah bisa melihatnya, dok?"
Setelah Zayn mengurus semua admistrasi rumah sakit dan Celin pun sudah di pindahkan ke kamar rawatnya dengan fasilitas VIP pastinya, Zayn menjenguk Celin dan menunggu dengan sabar hingga Celin tersadar dari tidur lelapnya.
Tentu saja Zayn melakukan hal itu sebagai bentuk dari tangung jawabnya karena sudah membuat Celin berakhir di rumah sakit seperti itu. Namun, satu hal yang ia lupakan karena terlalu fokus dengan apa yang dia lihat di depan matanya. Dia melupakan janji yang di buatnya sendiri dengan Tasya. Ya, Zayn melupakannya.
Lama menunggu Celin tak juga membuka matanya, Zayn merasakan kantuk yang begitu berat. Berkali-kali ia menggelengkan kepalanya untuk tetap terjaga namun akhirnya ia tertidur juga dengan kepala yang bersandar di lengannya yang saling bertumpu pada sisi ranjang pasien.
Tepat saat Zayn sudah terlelap, Celin perlahan membuka matanya dan seringaian terbit di bibirnya. Ia menatap Zayn dengan lekat. Tak lama kemudian seorang pria masuk ke kamar rawatnya. Ia menunduk hormat pada Celin sebelum memberikan laporan.
"Ini ponsel milik tuan Zayn, nona," ujar pria itu memberikan ponsel Zayn yang sudah di ambilnya dari mobil Zayn.
Celin tersenyum sambil meraih benda persegi itu. "kerja bagus," ucapnya memuji kinerja dari orang suruhannya. Sejak kedok Disty terbongkar, Celin mencari lagi seseorang yang bisa menguntit kegiatan Zayn dan juga Tasya. Tentu saja semua yang terjadi adalah rencananya. Sebenarnya yang terjadi hari ini sedikit melenceng dari sekenarionya. Karena, sebenarnya Celin hanya akan sedikit menabrakkan dirinya pada mobil Zayn dan berpura-pura cidera, kemudian memainkan drama agar Zayn tertahan di sampingnya. Tak di sangka ia tertabrak sunguhan.
"Tak masalah sedikit berkorban. Kau sudah lakukan apa yang ku suruh?" Tanya Celin lagi pada pria itu. "Ya, nona. Saya juga pastikan jika tuan Zayn sudah meminum air yang sudah saya capur obat tidur sebelumnya. Tapi, nona.. Tuan Daniel sejak pagi tadi ponselnya tidak aktif," Jelas pria itu membuat Celin mendengus kesal.
"Ck! Dia memang tak bisa di andalkan! lalu siapa yang mengurus wanita itu?"
"Mereka masih dalam perjalanan, nona," jelasnya lagi.
"Baiklah. Sekarang ayo kita selesaikan permainan ini, Bim,"
"Baik, nona,"
Dan Celin mengambil beberapa gambar dirinya dan juga Zayn. Sekedar berciuman tak lebih, lagi pula ia tak berselera dengan orang yang sedang tak sadarkan diri, apalagi tempatnya tak mendukung.
Di tempat lain.. Tidak! maksudnya di rumah sakit yang sama namun berbeda ruangan, Abi dan Rico sedang terdiam memandangi seorang gadis yang sedang terbaring lemah di rumah sakit itu.
"Lain kali, kau harus berhati-hati saat berkendara, Co. Apalagi dalam keadaan hujan. Lihatlah kamu menabrak orang. Apalagi orang itu? Astaga! Bagaimana bisa orang yang kau tabrak wanita aneh itu?" ujar Abi menyugar rambutnya frustasi.
Yup, yang menabrak Tasya adalah Rico. Setelah berpisah dengan Zayn, rupanya Abi mendapatkan telfon dari rekan bisnisnya agar meeting di hari senin di majukan hari ini. Sayangnya karena kurang waspada Rico malah menabrak Tasya yang termenung di tengah jalan. Jadilah mereka berakhir di rumah sakit.
"Maaf, tuan. Saya benar-benar tak melihat ada sekertaris Tasya," ujar Rico dengan sangat menyesal.
"Ya sudah, untung dia tak apa-apa, hanya cidera sedikit di kakinya. Kau sudah telfon kakak? Aku rasa dia ada janji dengan kak Zayn," Tanya Abi.
"Sudah, tuan. Tapi, nomor tuan Zayn sedang tidak aktif jadi saya menelfon sepupu sekertaris Tasya. Dia sedang dalam perjalanan." Jelas asisten Rico dan benar pintu ruang rawat Tasya di buka dan sosok yang baru saja di sebutkan Rico muncul dengan menggandeng seorang gadis yang amat Abi kenal.
"Angel! Kamu!"
.
.
.
.
Bersambung...