
Zayn Pov
Aku berjalan dengan tergesa-gesa setengah berlari menyusuri lorong rumah sakit. Aku mendapat kabar dari tetangga jika Bibi pingsan di depan gerbang setelah berbelanja sayur.
Aku panik, takut terjadi sesuatu dengannya. Aku bahkan sampai membatalkan beberapa agenda penting hari ini. Paman dan bibi adalah keluarga ku satu-satunya, aku tidak ingin terjadi sesuatu dengan mereka.
Aldo sedang ada pemotretan di daerah Bandung, sedangkan paman pasti belum kembali. Paman bekerja sebagai guru di SMA tempat sekolah ku dulu. Paman bilang akan ada rapat para guru sepulang sekolah, karena itu ponselnya tidak bisa di hubungi.
Ruangan demi ruangan aku lewati, akhirnya aku menemukan kamar rawat bibi. Aku berlari menghampirinya. Wajah cantiknya terlihat pucat, bibi yang biasa selalu ceria kini terlihat lemah. Di hidungnya terpasang selang oksigen pun tangannya yang selalu mengusap kesedihan kami kini harus terpasang selang infus. Aku sungguh tidak tega melihatnya seperti ini.
Matanya masih terpejam tampak damai tapi justru membuatku cemas. Ku genggam tangan kanannya, tak terasa air mata menetes dari pelupuk mataku. Aku tahu mungkin ini berlebihan tapi, hidup tanpa orang tua dan hanya ia yang mau menerima kehadiran ku membuatku takut kehilangannya.
Keadaanya yang seperti ini membuatku teringat dengan ibu. Ibu yang membesar kan ku seorang diri.
"Permisi, tuan" Sapa sebuah suara di sampingku, membuatku tersentak. Aku tidak menyadari orang lain di sini, karena terlalu fokus pada keadaan bibi yang masih terbaring lemah.
"Anda keluarga pasien?" Tanya dokter yang menyapaku tadi.
"Iya, dok. Bagaimana keadaan Tante saya?"
"Beliau hanya kelelahan, dan tekanan darahnya sangat rendah. Mungkin beliau sedang banyak tekanan. Saya sarankan agar beliau lebih di perhatikan yah, tuan. Istirahat yang cukup dan ini resep obat yang harus anda tebus" Ujar dokter panjang lebar.
Tertekan? Setahu ku bibi tidak punya masalah yang berat. Atau mungkin ia tidak mau anak-anaknya tahu? sebenarnya apa yang sedang bibi fikirkan Sampai drop begini.
"Terimakasih, dok" Ucapku, dokter mengangguk dan pamit keluar setelah memberiku resep obat yang di tulisnya.
Tak lama setelah dokter pergi, pintu ruangan kembali di buka. Paman masuk dengan wajah paniknya.
"Apa yang terjadi, Zayn? kenapa bibimu bisa sampai di sini?" tanyanya panik.
"Dokter bilang bibi hanya kelelahan, paman. Jadi, paman jangan khawatir"
"Huft... Akhir-akhir ini bibimu sering sekali melamun. Entah apa yang di fikirkannya, bibimu sama sekali tidak mau terbuka dengan paman. Paman bahkan sesekali melihatnya menahan tangis kala malam" Ujar paman.
Ini memang seperti yang di katakan dokter, memang ada yang sedang mengganggu fikiran bibi. Tapi, ia sama sekali tidak mau membebani keluarganya.
Hingga malam menjelang bibi belum juga siuman, dan ini sungguh membuat kami cemas.
"Eugh..."
Suara lenguhan bibi membuat aku dan paman yang sedang terduduk lesu di Sofa segera beranjak menghampirinya.
"Bibi"
"Sayang..."
Kami memanggilnya dengan serentak, namun agaknya yang di panggil masih betah dalam alam bawah sadarnya. Ia masih saja terpejam enggan untuk bangun atau sekedar menyahuti sapaan kami.
"Sayang..." panggil paman lagi berharap jika mendengar suaranya bisa membuat bibi terbangun. Dan benar saja, tangan bibi sedikit demi sedikit mulai bergerak-gerak, membuat kami semakin semangat untuk menuntutnya kembali sadar.
Perlahan kelompok mata yang tadinya tertutup mulai terbuka, manik mata kecoklatan miliknya terlihat. Sesekali bibi masih mengerjapkan matanya mungkin untuk menyesuaikan cahaya yang masuk ke matanya.
"Sayang... kau bangun?" Tanya paman dengan tangan yang senantiasa menggengam erat tangan bibi. Pemandangan yang sungguh luar biasa indah, di usia mereka yang tidak lagi muda aku masih bisa melihat cinta yang begitu besar di mata mereka. Sungguh membuatku iri.
Apa ayah dan ibuku juga bahagia? Apa mereka menemukan cinta sejatinya?
Aku menggeleng kan kepala pelan untuk mengusir fikiran yang tiba-tiba muncul. Untuk apa aku memikirkan mereka, sedangkan mereka yang katanya orang tuaku saja tidak pernah mencari ku. 30 tahun berlalu tapi sakitnya masih amat terasa, seolah luka yang masih basah. Padahal sudah lama sekali berlalu namun aku seolah tak mau berdamai dengan masa lalu.
Bagaimana bisa aku berdamai, sedangkan kenangan itu masih tergambar jelas di ingatanku. Saat dimana ibu kandungku sendiri menyerahkan ku pada orang lain dan pergi begitu saja dan sama sekali tidak lagi menengok ke belakang. Aku membencinya, sangat membenci manusia bernama.... Ayah dan Ibu.
"Zayn...." Sentuhan lembut di tanganku membuatku tersentak kaget. Rupanya aku tengah melamun. Ku tatap wajah bibi yang tampak pucat dan lemah,namun ia tetap mencoba tersenyum kearah ku. Senyuman yang sangat menenangkan. Andai senyuman itu dari... ah sudahlah.
"Bagaiman keadaan bibi? mana yang sakit? bibi mau sesuatu? biar Zayn ambilkan" Tanyaku penuh kelembutan. Aku sangat mencintainya dialah orang tuaku.
"Apa sih.. bibi sama sekali ngga ngerepotin Zayn. Bib kan jugai tanggung jawab Zayn"
Bibi tersenyum lembut mendengar jawabanku, senyuman yang mampu menularkan pada orang yang melihat.
"Terimakasih.... Zayn"
.
.
.
Setelah memastikan bibi kembali istirahat, aku memutuskan untuk pulang mengganti pakaian kerja yang dari tadi pagi ku pakai.
Aku kembali berjalan menuju parkiran, tapi perhatianku teralihkan kala melihat sosok yang sangat ku kenali sedang berjalan masuk ke area rumah sakit bersama seorang pria.
Tanpa di perintahkan, kakiku melangkah dengan sendirinya hendak menyusul Sasyaku. Yah, dia Tasya yang sedang berjalan dengan sepupunya. Penasaran apa yang akan dia lakukan di rumah sakit seperti ini , apalagi ia nampak sekali acak-acakan.
Sasya dan Rizky berjalan beriringan tanpa menyadari kehadiranku. Beberapa ruangan tampak ia lewati hingga aku berhasil menyusulnya tepat berhenti di depan sebuah ruangan.
Sasya tampak terkejut kala tangannya berhasil ku gapai. Begitu juga dengan Rizky tak kalah terkejutnya melihatku yang tiba-tiba ada di samping mereka.
"Lo kenapa, Sya? muka Lo kenapa?" Tanya ku khawatir melihat keadaanya. Pipinya tampak memerah, sudut bibirnya mengeluarkan sedikit darah seperti terkena tamparan. Tapi siapa yang berani melakukan ini padanya?
"Loh, pak... Anda di sini?" Tanyanya tanpa menjawab pertanyaanku.
"Ck, ini kenapa? siapa yang berani menyakiti Lo kayak gini? Bilang sama gue Sya, biar gue kasih dia pelajaran setimpal" ucapku menahan geram. Sejujurnya aku ingin sekali marah, berani sekali orang itu menyakiti Sasya seperti ini. Aku tidak akan rela kulitnya tergores sedikitpun, lihat saja apa yang akan ku lakukan nanti.
"Ngga apa-apa kok, pak. Cuma salah paham sedikit." ujarnya, tapi aku mana mungkin percaya melihat bagaimana luka yang ada padanya.
"Tadi dia itu di kroyok cewek kurang kerjaan. Mungkin Lo tau, soalnya kejadiannya di tempat kerja kalian" Ujar Rizky berhasil mendapatkan pelototan maut dari Sasya.
"Apa?" Tanyanya kala melihat raut kurang mengenakan dari sepupunya itu.
"Dasar baskom" cibir Sasya.
Baskom?
"Ember kali" Ralat Rizky tapi tak di pedulikan oleh Sasya, perempuan itu justru melengos begitu saja meninggalkan kami.
"Eh... Woy... Malah di tinggal. Di kira dia tau apa ruangannya di mana" Gerutu Rizky kemudian ikut berlalu meninggalkanku sendirian yang masih termenung.
Satu kantor? siapa sebenarnya mereka? Jangan bilang ini kerjaan trio ulet. Jika benar ini sudah keterlaluan. Pasalnya bukan sekali dua kali mereka melakukan hal yang sama, dan masalahnya aku yakin pasti tidak jauh-jauh dari Tuan Abi.
Aku juga pernah bekerja menjadi staf biasa bersama trio ulet, jadi aku tahu sekali dengan perangai mereka. Fans fanatiknya tuan Abi.
Aku harus pastikan jika apa yang ku pikirkan ini benar. Tapi...
"Loh... kemana mereka?" Gumamku kala menyadari ternyata aku masih berdiri sendiri di sini dan parahnya aku ternyata kehilangan mereka.
.
.
.
.
Bersambung...