I Love You, My Secretary

I Love You, My Secretary
Bab 58



Nakula POV


Budaya kan like sebelum baca yah guys ❤️❤️❤️


Terimakasih sudah mampir...


Happy reading all ❤️❤️


...----------------...


Kata orang persahabatan antara laki-laki dan perempuan itu tidak ada. Ada kalanya sesuatu yang di namakan "Sahabat" berubah menjadi sesuatu yang di sebut "Cinta". Aku tak percaya awalnya, hingga dia muncul di depanku. Wajah nya yang ayu, serta kepribadian nya yang ceria membuat ku jatuh hati padanya. Ia pun sosok sahabat yang perhatian.


Sayangnya, ia tak menyukai ku. Ia menerima ku sebagaimana ia menerima teman-teman perempuan nya. Dia menyukai orang lain, Zayn Pranata. Aku tahu dan sadar diri memang aku tak ada apa-apanya di bandingkan dia.


Dia adalah GM sedang aku hanya karyawan biasa. Aku pun tak menarik, kacamata selalu menjadi pelindung mataku. Walau aku sudah memakai softlens tetap saja aku masih menutupinya lagi dengan kacamata. Bukan tanpa sebab aku melakukan hal itu, tapi di balik kaca ini aku menyimpan sebuah rahasia.


Sejak hari itu, aku mencoba menjadi sosok yang menyenangkan untuknya. Aku teringat saat awal pertemuan ku dengannya. Saat itu dia yang sedang bercengkrama dengan teman-teman nya, tanpa sengaja menumpahkan minumannya di bajuku. Ia panik dan meminta maaf terus menerus padahal aku pun tak masalah.


Hari-hari berikutnya aku di pindah kan ke kantor pusat, dimana aku malah satu tim dengan nya. Dan dia adalah wanita pertama yang menjadi sahabat ku. Kami semakin dekat dan aku tak tahu rasa ini muncul kapan. Mungkin karena kami selalu bersama, atau mungkin sejak awal aku sudah tertarik dengannya. Entahlah aku sendiri pun tak mengerti. Rasa ini tiba-tiba muncul, tanpa perencanaan sama sekali.


Hari itu, malam berhiaskan bintang yang indah di langit, angin malam bertiup sepoi-sepoi. Aku ingin mengungkapkan perasaan ku padanya. Di saksikan rembulan aku mengucapkan janji untuk selalu menemaninya apapun yang terjadi, walau aku hanya mengucapkannya dalam hati. Karena, belum sempat aku mengutarakan perasaanku dia sudah lebih dulu memulai.


"Mencintai dalam diam itu sakit yah?" Katanya saat itu. Ia memandang jauh ke depan.


"Elo lagi jatuh cinta?" Aku sebenarnya tak siap mendengarkan isi hatinya. Namun, aku lebih tak siap saat melihatnya bersedih.


"Hmm.. Dan rasanya ternyata sesakit ini." Ia mencengkram dadanya sendiri, seolah memang benar-benar merasakan sakitnya.


Aku tahu, seseorang yang dia maksud bukanlah aku.


"Kenapa emangnya? Kata orang cinta itu indah kan? Lalu sakitnya di mana?"


"Akan sangat indah saat cinta yang kita miliki pun berbalas. Tapi, saat orang yang kita cintai tertawa bersama wanita lain yang tak lain adalah cintanya... Itu sangat menyakitkan!" Tuturnya lagi. Aku bisa melihat kesedihan dan kekecewaan dalam matanya. Walau dia sedang tak menatapku, dan hal itu pun melukai perasaan ku.


Dia benar mencintai dalam diam memang sakit. Sesakit itu, tapi aku justru lebih sakit melihat dia sedih seperti ini. Jika menjadi sandaran hatinya aku tak bisa, maka bahuku akan menjadi sandaran kesedihannya.


Aku pun meraih pelan kepalanya dan membawanya ke bahuku. Aku tak bisa memeluknya walau ingin, karena aku tak punya hak apapun. Dia tak menolak hanya diam saja.


"Menangis lah, kalau itu bisa membuatmu lebih baik" Ujarku membuatnya menangis terisak di bahuku. Ia menenggelamkan wajahnya di bahuku, dan aku hanya bisa mengusap lembut bahunya hingga ia merasa tenang.


"Maaf, baju mu basah!" Ujarnya setelah lebih baik.


"Ngga apa-apa. Berbagilah karena itu bisa membuat beban di hatimu berkurang."


"Gue sebenernya iri sama Tasya, dia bisa menaklukkan orang sekaku Zayn. Sedangkan gue hanya bisa memandangnya dari jauh, tanpa berani untuk melihat nya dari dekat. Bahkan dia bisa dekat dengan tuan Abi." Ujarnya lirih.


"Mencintai itu tak salah. Hanya saja memang terkadang cinta datang pada orang yang salah. Pada saat itu Lo cuma punya dua pilihan, berjuang atau lepaskan. Kalau Lo milih berjuang, lakukan dengan ketulusan hingga ia merasakannya. Berjuang bukan berarti Lo harus mendapatkan cintanya juga, melihat dan membuat nya bahagia bukankah itu makna cinta?"


"Kalau Lo milih lepaskan, lepaskan dia dengan ikhlas. Jangan ada dendam saat kamu melepaskan nya, agar tidak ada kata "Kecewa" nantinya. Kalau gue, gue lebih memilih melihat orang yang gue cintai bahagia, walaupun bukan dengan gue. Mungkin kami ngga berjodoh, Sesimple itu. Memang berat, tapi kalau Lo ikhlas, gue yakin ngga ada lagi kata "sakit" yang Lo rasa" Dia terpaku dan sesaat kemudian menyemburkan tawa, hingga membuatku heran.


"Buahahahahah.. Lo ketempelan setan mana?" Katanya malah meledekku. Padahal aku sedang serius.


"Gue kan serius, Ijah!!" Gerutuku kesal.


"Iya deh.. Makasih loh ya, gue ngga nyangka Lo bisa juga bicara bijak kek gitu" Ujarnya masih terkekeh. Walau aku masih memandangnya dengan wajah yang cemberut. Tapi, dalam hatiku ada rasa hangat saat melihatnya tertawa seperti ini.


Adisty Nahrendra walau kamu tidak tahu perasaan ku, tapi aku berjanji akan membuatmu bahagia dan nyaman bersamaku...


.


.


.


Setelah hari itu, kami semakin dekat bukan hanya berdua tapi juga dengan tambahan teman baru, Tasya yang sekarang justru sudah memiliki hubungan dengan atasannya sendiri.


Hari ini aku mengantar Disty pulang seperti biasa, namun entah perasaan ku saja atau bukan. Sejak kembalinya kami dari pantai batu Karas, Disty seperti sedikit berbeda. Ia lebih banyak diam. Tapi, mungkin itu bentuk kekecewaan nya karena cinta yang tak berbalas. Aku bisa maklum, perasaan wanita memang lebih lembut dari pada laki-laki.


Setelah mengantar Disty ke kosannya, aku memarkirkan sepeda motor bututku di parkiran sebuah gedung. Gedung apartemen yang selama ini aku tempati.


Ada beberapa tingkatan di gedung ini, dari yang harganya murah dan sudah pasti fasilitas pun kurang. Ada juga yang menengah dengan harga terjangkau dan fasilitas yang cukup baik. Dan terakhir di lantai atas dengan harga yang mahal dan fasilitas pun tak perlu di tanya.


Aku menekan angka di mana lantai tempatku istirahat berada. Aku menempelkan kartu akses di samping pintu dan menekan beberapa digit tombol hingga pintu berbunyi, "Klik" menandakan jika kunci telah terbuka.


Sebelum tidur aku membersihkan badanku terlebih dahulu, tak lupa aku juga membuka kacamata yang senantiasa bertengger sempurna di pangkal hidung ku. Terakhir aku membuka softlens coklat tua yang ku pakai dan terlihatlah bola mata berwarna biru yang selalu ku sembunyikan.


Setelah tubuh merasa segar, aku segera berbaring mengistirahatkan tubuhku agar besok pagi aku bangun dengan keadaan yang lebih segar.


Rasanya aku baru terlelap sebentar tapi alarm di ponselku sudah terdengar bising menganggu mimpi indah ku. Gegas aku membasuh muka ku, kemudian gosok gigi dan terakhir aku mengambil air wudhu untuk melakukan kewajiban dua rakaat.


Pukul Tujuh pagi aku sudah siap berangkat bekerja. Aku berjalan dengan riang menuju parkiran. Tapi, saat sampai di lobby, aku melihat satpam yang biasa berjaga di samping pintu lobby berjalan tergesa-gesa menuju parkiran bawah.


"Pak!!" Seruku hingga membuat Satpam yang bernama Bejo -tertulis di nametag bajunya- Itu berhenti.


"Iya den"


"Ini ada apa yah, pak? Tumben rame?" Tanyaku sembari mengedarkan pandangan ku ke sekeliling memandangi beberapa orang yang tergesa-gesa menuju ke arah yang sama dengan pak Bejo ini.


"Oh, ini den. Ada mobil yang dari semalam menyala tapi ngga bergerak. Baru tadi pagi teman bapak liat keadaan di dalamnya... ternyata ada seorang laki-laki yang tak sadarkan diri!!" Tuturnya dengan cepat karena ia sedang terburu-buru.


Akhirnya karena penasaran aku pun mengikuti langkah pak Bejo. Semakin dekat dengan tempat yang di tuju, dahi ku kian berkerut karena alis yang ku kernyitkan.


Semakin terlihat jelas sebuah mobil hitam yang memang menyala, sedang di kelilingi beberapa orang. Mobil hitam ini terasa tak asing di mataku. Aku pun mendekat untuk memastikan kecurigaan ku.


Tiba di samping jendela kemudi, aku meletakkan kedua tanganku di samping pelipis dan meletakkannya di kaca mobil yang gelap ini. Mencoba melihat dengan jelas keadaan di dalam nya.


Aku melihat seorang laki-laki menyandarkan kepalanya di stir mobil, kedua tangannya menjuntai lemah ke bawah. Sayangnya kepala orang ini mengahadap sisi kiri, aku jadi tak bisa melihat seperti apa wajahnya.


Orang-orang sudah mencoba mengetuk-ngetuk kaca jendela berharap supaya ia sadar, tapi hasilnya nihil. Aku yang penasaran pun beralih ke sisi jendela yang lain.


Seketika mataku terbelalak saat melihat sosok laki-laki yang terkulai lemah di dalam mobil.


"Pak Zayn!!" Seruku.


Nakula POV end


.


.


.


.


...----------------...


😥 Udah 58 episode tapi gue baru muncul, tege banget lu Cha, padahal gue kan dah nongol dari episode awal. Serasa kaya anak tiri aku tuh...


😁 Yang penting kan lu nongol.. Ikhlasin aja lah, kaya yang lu bilang tadi...


😒 Ngomong mah gampang, sakit tahu Cha.. Devinisi sakit tak berdarah ini...


😝 Lebay lu, dasar wayang..


Holla hello Readers tercintah ❤️❤️❤️ jangan lupa lemparin Nucha jempol, bunga sama kopinya ya, buat ngisi amunisi ini... biar jreng lagi..


Happy reading all ❤️❤️❤️