
"Sepeda! Good afternoon, handbody!" Seru Zayn mengelegar membuat para asisten rumah tangga yang sedang bekerja bahu membahu membersihkan mansion kediaman keluarga Herold mengrenyit bingung mendengar seruan Zayn yang terdengar aneh.
Nyonya Lenny turun menyambut anaknya dengan antusias, karena sudah 2 bulan Zayn tak mau ditemui oleh siapapun. Termasuk ibu dan juga bibinya, hanya Abi yang senantiasa berada di samping Zayn. Meski awalnya dia pun di tolak, tapi bukan Abidzar namanya jika tak bisa mendapatkan apa yang dia inginkan. Kecuali untuk masalah percintaan Abidzar memang kurang beruntung.
"Wah! ada apa ini, anak ibu tumben sekali mampir ke sini? Sepertinya kau sedang bahagia, Ta?" tanya sang Ibu setelah melepaskan pelukannya dari Zayn. Sedangkan Zayn yang digoda ibunya seperti itu pun hanya tersenyum.
"Ibu! Atta ada kabar bahagia!" serunya dengan mata yang berbinar. "Tapi di mana Papa dan Abi? kita bicarakan sama-sama dengan mereka, bu"
Nyonya Lenny membawa Zayn menuju gazebo yang ada di belakang mansion keluarga Herold. Kebetulan tuan Herold dan Abi ternyata ada di sana sedang bersantai, karena hari ini adalah hari minggu.
Setelah basa-basi bertanya kabar, Zayn mengatakan maksud kedatangannya pada keluarganya itu. "Atta ingin meminta Restu pada ibu dan papa juga padamu Abi. Atta ingin menikahi Tasya, secepatnya!" tukasnya mantap membuat semua orang mematung dan tak lama kemudian tuan dan nyonya Herold tersenyum haru, karena akhirnya anak pertama mereka akan menikah.
Sedangkan Abi? Jangan tanyakan dia saat ini yang pasti bibirnya pun senantiasa tersenyum dan mengucapkan selamat pada sang kakak, tapi matanya tak bisa berbohong dia begitu terpukul dengan kenyataan ini. Hatinya merasakan sakit yang luar biasa hingga membuat dadanya sesak.
Abi sudah menduga Jika cepat atau lambat pasti mereka akan menikah. Sejatinya dia pun sudah mempersiapkan hatinya, tapi tetap saja ia masih merasakan sakit yang amat sangat. Rasanya hatinya kini di hujam ribuan anak panah, sakit sekali.
Abi pun pamit dari sana karena ada pekerjaan yang mendesak, katanya.
"Ya Allah.. Rasanya sakit sekali. Kenapa jatuh cinta seperti ini rasanya? Orang bilang, cinta itu membuat hari kita bahagia dan berwarna tapi kenapa yang ku rasa justru hanya kesuraman? Dimana bahagianya? Cintaku bahkan di pukul mundur sebelum sempat ku berjuang!" gumam Abi dalam hatinya.
Setelah kepergian Abi yang tiba-tiba, semua orang terdiam merasa heran dengannya. Namun tidak dengan Zayn, karena ia tahu betul saat ini Abi pasti sedang merasa terluka karena pengakuannya barusan.
Perasaan Zayn sendiri kini campur aduk, antara senang dan juga tak nyaman. Ia bahagia karena merasa menang dari Abi, namun di satu sisi dia pun merasa tak enak pada adiknya itu. Entahlah mungkin Abi terlalu baik hingga Zayn tak tega membuat adiknya sakit hati.
"Oh iya, Atta juga ingin memberitahu kalian jika selain mendapatkan menantu.. Kalian juga sebentar lagi akan menjadi seorang kakek dan nenek!" ujar Zayn memecahkan kesunyian yang ada.
Tentu saja orang tua Zayn langsung syok dibuatnya. "Apa kau bercanda, nak?" tanya Tuan Herold tak percaya.
"Atta serius Pah. saat ini Tasya sedang mengandung anak kami 2 bulan. Maafkan Atta jika perbuatan kami mencoreng nama baik keluarga papa, tapi sungguh Tasya tak bersalah. Semua ini murni salah Atta yang merusak Tasya. Jadi jangan membencinya!" jelas Zayn.
"Kenapa bisa terjadi?" tanya Nyonya Lenny dan Zayn pun menjelaskan apa yang terjadi di malam itu tanpa ada yang di tutupi.
Tuan Herold pun mengerti meski di hatinya merasa kecewa, tapi ia bersyukur karena yang Zayn nodai adalah wanita yang tepat. Jika saja saat itu Zayn tak bisa menahan hasratnya mungkin akan lain lagi ceritanya.
Ya, setiap musibah pasti akan selalu ada hikmah dibaliknya.
***
Abi menepikan mobilnya pada sebuah Cafe. Ia memesan cappucino ice coffee pada seorang waiters yang menghampirinya. Karena Abi merasa hatinya saat ini sangat panas, ia berharap dengan meminum Ice cofee tersebut hatinya akan kembali mendingin.
Abi duduk sendirian di samping jendela Cafe tersebut melihat banyaknya kendaraan yang berlalu lalang di jalanan kota siang itu. Sambil menunggu pesanannya, Abi membuka ponsel dan membuka galeri. Tanpa sadar tangannya menscrol banyak gambar yang tersimpan di galeri ponselnya tersebut dan mengklik satu-satunya foto wanita di sana. Ia menatap sendu foto wanita yang sedang tersenyum ceria, namun sesaat kemudian ia tersentak.
"Ya ampun! Kenapa aku malah buka foto Inem?" gumamnya setelah tersadar dengan apa yang dia lakukan.
Ya, foto yang dilihat Abi adalah foto Tasya. Di mana foto tersebut diambil saat Tasya perform di Pantai Batu Karas saat lomba menyanyi waktu itu. Di dalam foto tersebut Tasya sedang tertawa bahagia karena mendapatkan saweran dari Abi.
Mengabadikan setiap kontestan dan momen di acara tersebut adalah hal yang wajar yang tak wajar adalah, kenapa Abi hanya menyimpan foto Tasya sedangkan foto kontestan yang lain tak ada yang Abi simpan, bahkan melirik pun tidak pernah.
Pesanan Abi pun datang dan ia dengan buru-buru meminum minuman tersebut, bahkan sang waiters yang belum sempat berbalik badan pun dibuat heran. Namun sesaat kemudian Abi tersentak dan menyemburkan minumannya mengejutkan sang waiters dan para pengunjung lainnya.
Byurrrrr
"Kau gila ya!" bentak Abi pada sang waiters, membuat waiters tersebut ketakutan sekaligus heran.
"Kenapa kamu memberiku minuman ini?!" bentaknya lagi membuat sang waiters tersebut semakin tak mengerti.
"Maaf tuan, tapi ini memang minuman pesanan anda. Anda memesan cappucino ice coffee kan?" ujar sang waiters tersebut membela diri, membuat Abi bertambah kesal.
"Kau jangan mengada-ada! jelas-jelas saya pesan Americano Ice coffee, bukan Cappucino!" ujar Abi tak mau kalah dan perdebatan pun tak bisa dihindari.
Abi tetap pada keyakinannya jika ia tak memesan minuman tersebut, begitu pula dengan sang waiters yang tak mau disalahkan. Hingga akhirnya perdebatan itu didengar oleh sang manajer Cafe.
Abi terdiam dan mulai mengingat apa yang dia katakan dan sesaat kemudian ia pun tersentak.
"Astaga! gila! ini benar-benar gila! bagaimana bisa aku justru memesan minuman kopi kesukaannya! Kau pasti tertawa melihat kebodohanku ini kan, Nem. dan kau tahu.. semua ini salahmu! Argghhh.. Sial!" umpat Abi.
Ternyata tanpa sadar ia memesan minuman kopi kesukaan Tasya, dan ia Jadi terlihat seperti orang bodoh sekarang.
"Bagaimana, Tuan?" Tanya sang Manager membuyarkan lamunan Abi.
"Ya, aku yang salah. Maafkan aku, Nona. Aku lupa, karena aku baru kali ini mencoba minuman ini aku terkejut. Sekali lagi maafkan aku!" ujar Abi tulus mengakui kesalahannya. Untung saja Abi bukanlah CEO yang arogan dan mempunyai gengsi yang tinggi jadi Ia tak malu mengakui kesalahannya dan masalah itu pun dapat berakhir dengan damai.
"Ya Tuhan.. Apa yang sedang kulakukan? Kenapa yang kulakukan hari ini semuanya selalu tentangnya? Bahkan minuman pun aku memesan seperti yang biasa dia pesan, huftt.." Abi kembali bermonolog dalam hatinya.
Hatinya saat ini benar-benar kacau, bahkan niat hati ingin mendinginkan hati dan pikiran pun malah membuatnya semakin terpaut.
"Hey my jodoh! Apa anda merindukan saya, tuan?" tiba-tiba Abi kembali tersentak saat mendengar suara yang begitu dia rinduka dan dia semakin terkejut saat wanita yang membuatnya seperti orang bodoh, sedang duduk di depannya sambil memangku dagu dengan satu tangannya. Tasya menatap Abi dengan senyum jahil yang selalu ia tunjukkan saat bertemu dengan Abi.
"Kau.. kau disini?" Ujar Abi gugup. Ia selalu terpesona dengan senyuman itu.
"Seandainya aku sadar lebih awal jika hatiku telah memilihmu, mungkin akhirnya akan berbeda," gumam Abi sambil memandangi wajah Tasya yang sedang tersenyum dan tampak berseri.
"Ya, kenapa memangnya? Bukankah sudah saya katakan.. saya adalah jodoh anda, tuan. Kita sekarang mungkin tak sengaja ketemu di sini, tapi siapa tahu suatu hari nanti kita bisa bertemu di depan penghulu kan?" imbuhnya lagi membuat Abi mengerengitkan dahinya karena ia masih ingat Tasya pernah mengatakan hal tersebut.
"Kau sudah mempunyai kekasih pun masih dengan percaya dirinya mengklaim aku sebagai jodohmu! Dasar sinting!" Kecam Abi membuat Tasya yang berada di depannya cemberut.
Prangggg
Prangg..
Gumpranggggg...
Tiba-tiba Abi mendengar keributan di samping mejanya seperti benda jatuh. Karena terkejut, Ia pun reflek menoleh dan memang benar seorang pelanggan menyenggol gelas tersebut hingga benda itu jatuh dan pecah.
Abi menggelengkan kepalanya dan kembali mengalihkan pandanganya melihat ke kursi yang ada di depannya. Tapi alangkah terkejutnya dia saat sosok Tasya sudah pergi dari sana.
Abi mengedarkan pandangannya mencari sosok Inemnya, tapi dia tak menemukannya dan sesaat kemudian baru dia sadari ternyata...
"Aku hanya berhalusiansi!" gumam Abi sendu dalam hatinya.
"Kau sungguh membuatku gila!!" serunya frustrasi. Setelah itu, ia pergi meninggalkan Cafe tersebut tanpa mempedulikan tatapan orang-orang yang memandangnya aneh.
"INEM.. INEM.. INEM.. INEM LAGI!! DASAR PENGANGGU!!!" Teriak Abi saat sudah berada di dalam mobil.
.
.
.
.
.
Bersambung...
...----------------...
🤧 Wah, Bi.. Ternyata kau menghianati cinta kita.. kau tega!!