I Love You, My Secretary

I Love You, My Secretary
Bab 62



Luka, siapa yang ingin merasakan nya? Tidak ada satu orang pun yang ingin hidup berdampingan dengan luka, apalagi jika hal itu di torehkan oleh orang terdekatnya. Orang yang harusnya membasuh luka itu dengan kasih sayang, justru dia lah yang paling dalam menorehkan luka itu sendiri.


Zayn adalah salah satunya. Jika dia bisa memilih inginnya dia lupakan saja rasa sakitnya, namun nyatanya tak semudah itu. Kenyataan nya sudah tiga puluh tahun berlalu rasanya masih sesakit itu.


Karena itu ia butuh waktu untuk memantapkan hatinya menerima kenyataan apapun yang terjadi kedepannya. Bukannya Zayn tak serius untuk menerima syarat yang di ajukan nenek Tasya, tapi sekali lagi ia butuh banyak waktu.


Dan kali ini ia sudah siap memulai. Waktunya sudah banyak terbuang karena terlalu larut dalam luka yang masih basah.


"Bi.." Sapanya pada Bibi Lisa setelah cukup lama ia termenung. Mungkin ini saatnya ia memulai pencarian, dan bibinya adalah langkah awalnya.


Bibi Lisa yang sedang memainkan ponsel menolehkan kepalanya saat mendengar keponakan kesayangan nya itu memanggilnya.


"Kenapa, nak? Apa kamu butuh sesuatu?"


"Bi, aku hanya ingin mendengar sedikit kisah..." Bibi Lisa mengernyit menantikan kata selanjutnya yang akan Zayn katakan. Karena, Zayn malah menjeda ucapannya. Ini bukan lah hal yang mudah untuknya, berkali-kali ia menarik nafasnya mencoba menenangkan perasaan tak menentu di hatinya.


Sesak, itulah yang ia rasa saat mengingat sebuah panggilan "Ibu" untuk wanita yang sudah melahirkan sekaligus menelantarkan nya. Zayn bahkan sengaja melupakan nama orang tua kandungnya. Hal itu ia lakukan agar suatu saat nanti rasa sakit yang masih jelas di rasakan nya berangsur-angsur pulih seiring dengan memory bersama orang tua kandungnya menghilang dari ingatan.


Sayangnya, kenyataan tak sesuai harapan. Ia memang melupakan nama dan wajah orang tua kandungnya. Tapi, rupanya sakit yang tertinggal di hatinya tak kunjung hilang.


"Cerita apa, Zayn?" Tanya bibi Luzi saat melihat Zayn malah melamun dan bukannya melanjutkan ucapannya. Lagi, Zayn menarik nafas nya dalam-dalam sebelum berbicara seolah berat sekali untuk mengucapkan kata itu.


"Ibu..." Lirihnya.


Sang bibi yang mendengar ucapan Zayn sontak terkejut. Ini keajaiban, tak biasanya Zayn menanyakan ibu kandungnya. Tak bisa di pungkiri, betapa bahagianya Bibi Lusi saat mendengar hal ini. Ia bahkan sampai ingin mengetes kan air matanya.


"Dia sosok adik yang manis" Ujarnya. Mengenang kembali saat-saat ketika ia masih bersama dengan kakak dan adiknya.


"Siapa nama ayah dan ibuku? Bagaimana wajahnya?" Pertanyaan Zayn sontak membuat bibi Lisa terkejut. Tapi, sesaat kemudian ia tersenyum. Bibi Lisa memaklumi jika keponakannya ini melupakan orang terpenting dalam hidupnya.


"Ibu mu bernama Lenny.. Lenny Agustin dan ayah mu... Baron. Yang bibi dengar Ayah dan ibumu sudah lama berpisah."


"Ya, Zayn pun tahu itu. Dari buku diary yang Zayn temukan di rumah ibu Lusi ada seorang laki-laki yang mencari Zayn tepat setelah Zayn memutuskan untuk tinggal bersama bibi. Benar begitu?" Akhirnya ada kesempatan Zayn menanyakan soal beberapa barang yang di temukannya saat menggeledah kamar ibunya.


Mendengar itu, bibi Lisa lagi-lagi tersenyum. Inilah yang di inginkan nya, sudah sejak lama ia tahu tentang barang-barang yang ada di sana. Namun, selalu urung ia katakan pada keponakan nya karena Zayn selalu menolak walau hanya baru menyebutkan kata "Ibu kandung" jadi, bibi Lisa tak bisa berbuat banyak. Karena masalah ini pula hingga membuatnya jatuh sakit hari itu.


"Ya, tapi setahu bibi itu bukan ayah mu."


"Ya, Zayn tahu, Ibu dengan jelas menulis kan kalau laki-laki itu adalah cinta pertama... Ibu" Lagi-lagi Zayn masih sedikit kaku ketika membahas masalah ibunya.


"Setahu bibi, Lenny dan suaminya yang tak lain adalah laki-laki itu tinggal di Jakarta tapi di daerah mananya bibi tidak tahu. Karena kami sudah lama tak pernah bertukar kabar." Zayn terdiam mendengar penjelasan bibinya. Tidak ada titik pastinya, tapi tak apa setidaknya ia sudah tahu kemana akan mencari.


"Itu... Ibu.. Lalu dimana... Ayah?" Zayn bertanya dengan nada yang getir. Sungguh setiap mengucapakan atau mendengarkan kata Ayah dan Ibu hatinya merasa sakit. Seolah ada pisau tajam yang menyayat hatinya.


"Entahlah, kami pun tidak tahu... Tapi, mungkin ibumu tahu" Zayn terdiam, jadi ia harus mencari satu persatu, ya? Seperti nya ini tak semudah yang di bayangkannya.


"Lalu apa Bibi punya foto mereka?" Gelengan kepala dari sang bibi membuat Zayn mengembuskan nafasnya kasar. Hanya sedikit informasi yang dia dapatkan, lalu dia mulai dari mana?


"Kapan terakhir bibi bertemu dengan mereka? dan di mana?" Kini Zayn sudah seperti detektif yang sedang mengintrogasi tersangka.


"Mungkin sepuluh tahun yang lalu atau malah lima belas tahun yang lalu? bibi pun lupa dan dimana nya.. Hemm" Bibi Lisa tampak sedikit mengernyit mencoba mengingat sebuah memory.


Mata Zayn seketika terasa memanas dan ia yakin sebentar lagi pasti cairan bening akan keluar dari pelupuk matanya. Tapi, belum sempat air matanya keluar pintu ruangannya di buka oleh seorang dokter.


"Wah.. Siapa ini?" Ujar sang dokter saat memasuki ruangan Zayn.


"Ngga nyangka seorang Zayn Pranata, sang pejuang cinta bisa juga tumbang." Ledek dokter itu hingga membuat Zayn mendecakkan lidahnya sedangkan sang bibi hanya bisa menatap bingung keduanya.


"Kalian sudah saling kenal?" Tanyanya karena dari tadi bibi Lisa seperti tak di anggap. Seketika dokter muda yang tak lain adalah Rizky itu tersenyum ke arah bibi Lisa tak lupa ia juga menyalami tangan bibi dari Zayn itu.


"Mengesalkan sebenarnya tapi memang seperti itu kenyataannya, tante. Aku bisa apa?" Ujarnya tampak sedih membuat Zayn mendelikan matanya.


"Gue juga ngga sudi kenal sama Lo" Ketus Zayn.


"Oh baiklah. Mulai sekarang jangan harap Lo bisa bebas berduaan sama Tasya" Ujar Rizky menyeringai dan tentu saja hal itu membuat Zayn terbungkam.


"Ck!! Mengesalkan sekali, seandainya lo bukan sepupu Tasya sudah pasti bakal gue lempar ke luar jendela" Gerutu nya membuat Rizky terkekeh geli. Mudah sekali membungkam pria di depannya ini.


"Sebelum Lo ngelempar gue ke luar.. Lo lebih dulu gue suntik pingsan."


"Terserah lah! cepat periksa keadaan gue, hari ini juga gue pengen pulang" Rizky sebenarnya tak berniat memerikasa keadaan calon sepupu iparnya itu, karena bukan dia dokter yang menangani Zayn. Rizky hanya melihat keadaan Zayn atas perintah Tasya. Gadis itu sebelum pergi rupanya berpapasan dengan nya di lobby rumah sakit. Hingga di sini lah kini Rizky berada.


.


.


.


.


.


.


Bersambung....


...----------------...


😝Bentar Zayn... Lu pulangnya Minggu depan aja.. Kasih kesempatan dulu buat Daniel nikung di perempatan sana..


😣 Nucha.. Lu itu pro ke siapa sih sebenarnya?


🤔 Gimana ya? Lu kan ngga pernah ngasih gue kopi.. Lu kemaren ngasih bunga juga malah bunga raflesia yang Lo kirimin ke rumah gue..


Holla hello Readers tercintah ❤️❤️❤️ jangan lupa lemparin Nucha jempol nya yah... coret-coret di kolom komentar juga boleh banget kok..


Terimakasih sudah mampir 😊😊


Happy reading all ❤️❤️