I Love You, My Secretary

I Love You, My Secretary
Bab 14



Hari berganti begitu cepat, tak terasa mentari sudah menampakkan sinarnya. pertanda mahluk hidup yang menikmati indah cahayanya siap memulai hari. Tak terkecuali aku sendiri yang sudah sibuk berkutat dengan berbagai alat masak.


Mengetahui sang majikan begitu baik rasanya aku tak perlu menjaga image di depannya. Tak peduli ia akan marah atau tidak nantinya ketika melihat bahwa barang-barang nya telah ku pakai. Nyatanya selama ini dia tak pernah marah, paling cuma bertanya. "Kamu memakai barang-barang saya lagi?" kata-kata andalannya.


Setelah bersih membersihkan selesai, aku beralih ke dapur hendak membuat sarapan untuknya.


Hari ini aku harus masuk lebih awal dari hari kemarin, karena ada beberapa hal yang harus ku selesaikan pagi ini juga.


Beberapa saat kemudian aku sudah selesai dengan pekerjaan di dapur, bertepatan saat Tuan Abi turun dari kamarnya. Ia memandang ku sesaat kemudian ia menarik kursi untuknya duduk.


"Kau membuat sarapan lagi?" Tanyanya.


"Iya, tuan. Saya buatkan khusus untuk anda," Ujar ku dengan senyum yang tak lepas dari wajahku.


Tuan Abi memicingkan matanya memandang ku. Entah apa yang dia pikirkan sekarang. "Kau membuat ini untuk ku? apa ada sesuatu yang kau ingin kan?" tebaknya dan itu benar. Aku memang menginginkan sesuatu darinya. Karena ia berhasil menebaknya aku jadi tersenyum malu-malu.


"Hehehe. Bisakah tuan memberi saya tumpangan lagi?" Lumayan kan hemat ongkos, naik mobil mewah pula.


"Ya sudah," Tanpa pikir panjang tuan Abi langsung menyetujui permintaan ku. Betapa senangnya aku, Tuan Abi memang sangat baik. Bahkan ia tak mempermasalahkan makanan yang ada di kulakasnya menghilang.


"Terimakasih tuan,"


"Hem.. Saya ada banyak kerjaan di kantor, bisa kau simpan saja sandwich ini di kotak makan? Saya sarapan di mobil saja,"


Dengan senang hati aku melakukan perintahnya. Aku juga membawa untuk diriku sendiri.


Kami akhirnya berangkat bersama lagi. Seperti hari kemarin Tuan Abi tak lagi mempedulikan kehadiran ku, ia hanya terfokus pada laptopnya. Tak masalah sih, toh jarak dari apartemen ke kantor tak terlalu jauh. Jadi, aku tak terlalu bosan.


Ingin mengajak asisten Tuan Abi berbincang tapi ternyata pak Rico jauh lebih datar dari Pak Zayn. Aku jadi sedikit segan dengannya.


Tak lama kemudian kami sudah sampai di kantor. Semua pasang mata yang berpapasan dengan kami, menatap ku dengan tatapan yang sulit ku artikan. Hal seperti itu sudah dari hari ke dua ku dapatkan, tepatnya ketika aku dan tuan Abi mengobrol di depan lift nya.


Aku tak peduli apa yang di fikiran orang-orang, asal mereka tak mengganggu saat aku sedang bekerja maka apa yang mereka katakan dan lakukan aku tak mau tau.


Tiba di ruangan, aku langsung membuka komputer untuk menyelesaikan laporan sebelum jam sepuluh nanti. Beberapa menit kemudian pak Zayn muncul dengan wajah datarnya.


Aku mengetuk pintu ruangannya, setelah mendapat izin dari dalam aku memutar gagang pintu dan melangkah masuk.


"Pukul sepuluh nanti anda ada jadwal untuk meninjau lokasi di daerah Z, pak," Ujarku menyampaikan jadwalnya hari ini.


"Apa hanya ke daerah Z?"


"Iya pak,"


"Ya sudah,"


Setelah mengatakan hal tersebut, aku pun keluar dari ruangannya setelah sebelumnya membungkukkan sedikit badan tanda hormat padanya.


***


Pukul sembilan tiga puluh tepat aku dan pak Zayn keluar dari lift hendak menuju daerah Z. Sebuah daerah di pinggir kota. Perusahaan kami tengah membuat sebuah taman lengkap dengan danau buatan. Tugas itu di limpahan seluruhnya pada pak Zayn.


Tiba di lobby, aku menunggu pak Zayn yang sedang mengambil mobilnya di parkiran. Tak lama kemudian yang di tunggu akhirnya muncul. Aku melangkah dengan tergesa-gesa karena waktu yang sudah mepet, namun tiba-tiba...


Bruk


"Auhhh,"


Aku kehilangan keseimbangan dan terjatuh tepat di samping pintu mobil pak Zayn. Insiden kecil ini membuat beberapa orang yang kebetulan sedang berada di luar pun menatap ku heran tanpa mau membantu.


Aku meringis merasa sakit pada lutut dan telapak tangan terlebih karena tatapan mata orang-orang membuat ku malu bukan kepalang. Tak hanya luka yang ku dapat tapi sepatu kesayangan ku pun jadi jebol karena insiden ini.


Malang sekali nasib ku pagi ini.


"Kenapa malah duduk di sini? kalau mau piknik tuh di taman bukan di jalanan kaya gini," Ujar pak Zayn tak lebih dari sebuah ledekan. Aku memicingkan mata menatapnya kesal.


"Piknik dari Hongkong! Saya jatuh pak! bukannya nolongin malah ngeledek!" Sahutku ketus sampai lupa pada siapa aku bicara sekarang.


Benar saja ia melotot mendengar jawabanku barusan.


"Berani kamu bicara seperti itu pada saya?" Ujarnya seketika membuatku tersentak menyadari ucapanku yang salah.


"Hehehe... kelepasan pak," Ucapku seraya tertawa sumbang.


Aku kemudian berdiri dengan sedikit tertatih karena sepatu yang tak lagi layak di pakai. Pak Zayn agaknya melihat kesusahan ku, ia menghembuskan nafasnya kasar namun tak ada sepatah kata pun yang keluar dari mulutnya. Ia justru membuka pintu samping kemudi dan menarik tangan ku untuk duduk di sana.


Karena masih kesal aku mengikuti saja apa yang ia lakukan. Setelah aku duduk dengan posisi menyamping, pak Zayn mengambil sesuatu di laci mobilnya. Sebuah kotak P3K.


Ia mengambil sebuah kapas dan membubuhkan sedikit alkohol di sana. Ia kemudian berjongkok di depan ku dan mulai membersihkan luka di lutut.


Perbuatannya ini berhasil membuatku tercengang tak percaya. Seorang Zayn Pranata yang tampak acuh mau susah-susah membantu bawahannya membersihkan luka? apa aku mimpi, atau justru dia yang masih tidur?


Setelah di bersihkan, pak Zayn kemudian menempelkan plester luka di sana. Selesai dengan lutut ia beralih pad telapak tangan sebelah kanan ku yang terluka. Hal yang sama ia lakukan.


Sesaat aku terpaku dengan tindakannya, hingga tanpa sadar pandangan ku tak beralih darinya. Aku pun tak menyadari kalau ia sudah selesai dengan pekerjaannya.


Pletak !


Aku memandangnya dengan sinis karena ia tak merasa bersalah sama sekali.


"Jaga pandangan mu!!, kamu akan jatuh cinta jika melihat ku seperti itu," Tukasnya percaya diri berhasil membuatku menganga. Memang benar aneh orang ini.


Aku geleng-geleng kepala melihatnya begitu juga dengan diriku, bisa-bisanya mata ini melihatnya seperti itu.


"Terimakasih sudah mau menolong saya, pak. Tapi kita harus pergi sekarang,"


"Kamu memerintahku?" Tanyanya ketus, dan aku tak peduli.


Aku memalingkan wajah dan membenarkan posisi dudukku, tak lupa aku juga memasang seatbelt di depannya. Sepertinya aku sudah kehilangan sopan santun di depan seorang atasan. Bod* amat lah aku sudah terlanjur malu.


Masih terdengar dia mendecakkan lidah seraya memandangku sinis sebelum ia memutari mobil untuk kembali duduk di belakang kemudi siap untuk melanjutkan perjalanan.


Mobil akhirnya melaju dan berbaur dengan kendaran lain.


Di tengah perjalan pak Zayn tiba-tiba menghentikan kendaraan nya di depan sebuah toko. Aku mengernyit bingung sebab bukan di sini tujuan kami.


Pak Zayn turun dan membukakan pintu untuk ku.


"Turun!!" Singkatnya dan aku mematuhi perintahnya tanpa protes meski masih bertanya-tanya.


Saat memasuki toko yang ternyata menjual berbagai jenis sepatu dan sandal aku mulai mengerti maksud dari laki-laki aneh ini.


"Kenapa bapak bawa saya ke sini?" Tanya ku polos, membuat pak Zayn mendecakkan lidahnya.


"Ku pikir kamu bukan lagi anak SD. Tanpa harus di jelaskan pun harusnya kamu tau kenapa kita kesini," Ujarnya ketus. Dasar ngga bisa apa sekali-kali lembut dikit kalo bicara dengan perempuan. Heran deh! Pantesan sampai sekarang masih jomblo pasti belum apa-apa perempuan bakal kabur kalau sikapnya seperti ini.


Itu sih yang ku dengar dari karyawan lain tentangnya.


"Iya saya tau, maksudnya kenapa bapak bawa saya kesini? bapak mau beliin saya sepatu?"


"Iya, cepat pilih!bKita sudah banyak membuang waktu gara-gara sikap ceroboh mu,"


Walaupun terlihat dingin dan juga ketus ternyata dia pengertian. Seketika senyumku pun langsung mengembang dengan sempurna mendengar ia yang akan membayarnya. Lumayan kan aku tak perlu mengeluarkan uang untuk mengganti sepatu ku yang jebol ini.


"Ada yang bisa saya bantu, tuan, nona?" sapa salah satu pelayan laki-laki membuat kami berdua menoleh ke arahnya.


"Saya mau cari sepatu flat shoes simpel dan nyaman pastinya,"


"Oh ada. Mari ikut saya," Ujarnya ramah.


Kami pun mengikuti pelayan laki-laki ini yang membawa kami masuk lebih dalam ke dalam toko hingga kami tiba di salah satu sudut yang banyak berjejer rapih berbagai bentuk sepatu yang ku inginkan.


Mata ku berbinar senang, aku mulai memperhatikan satu demi satu sepatu yang menarik di mataku. Pilihan ku jatuh pada sepatu flat shoes dengan model yang simpel berwarna hitam.


Aku menunjukan sepatu pilihan ku pada sang pelayan, namun sayang ternyata nomor sepatu yang ku inginkan tidak ada. Sedikit kecewa tapi mengingat aku tak punya banyak waktu, akhirnya dengan berat hati aku memilih lagi yang lainnya.


Lagi-lagi aku harus kecewa karena tak ada satu pun sepatu yang cocok dengan ku. Hal itu tentu saja membuat pak Zayn kesal.


"Ya ampun! Tinggal pilih juga, lama banget sih," Gerutunya, namun aku tak perduli.


Karena tak sabar akhirnya pak Zayn meninggalkan ku begitu saja. Dasar laki-laki tak peka, harusnya dia kan menyarankan yang lain dengan di tambah sedikit bujukan ini malah main ninggalin aja.


"Nih," Ujar seseorang yang sedang ku rutuki dalam hati. Aku yang sedang berdiri di depan rak, terperanjat kaget mendengar suaranya.


"Pakai ini saja! nungguin kamu milih bisa semakin terlambat nanti," Ujarnya seraya langsung berjongkok di hadapanku dan memakaikannya pada kakiku dengan sangat hati-hati.


Untuk sesaat aku kembali tertegun, bukan karena sikapnya yang manis tapi karena ia memakaikan high heels berwarna hitam di kakiku.


"Loh pak saya ti-,"


"Stttt.. diam dan jangan protes! Kita sudah sangat terlambat. Jangan sampai gara-gara kamu kinerja saya jadi menurun," Ucapnya memotong ucapan ku.


"Tapi pak, sa-,"


"Diamlah... Ayo,"


Ia bahkan tak memberi ku kesempatan untuk menjelaskan jika aku tidak bisa memakai benda ini. Saking terburu buru nya atau apa Pak Zayn juga menarik tangan ku agar mengikuti langkahnya yang lebar setelah sebelumnya membayar sepatu yang ku pakai.


Sungguh tak peka sekali.


Beberapa kali aku nyaris terjatuh, namun ia sama sekali tak mau menghentikan langkahnya. Bahkan ia tak menengok ke belakang hingga kami tiba di samping mobil.


Punya bos yang tidak peka memang harus punya banyak stok sabar.


'Sabar Sya... Lo butuh, jadi jangan protes. Toh ini cuma buat hari ini' gumam ku dalam hati mencoba menyemangati diri.


.


.


.


Bersambung....