
Waktu terus berjalan begitu cepat, tak terasa sudah hampir tiga jam dari insiden di laut pagi tadi, seorang gadis yang berparas ayu masih terlelap damai dalam mimpinya. Entah apa itu yang jelas ia tampak sesekali tersenyum dengan mata yang masih setia terpejam.
Di tangan kirinya di pasang selang infus untuk memberi tubuhnya cairan. Di samping kanan gadis itu, Zayn terduduk di kursi yang di sediakan. Tak ia lepaskan genggaman tangannya pada jari-jari lentik itu. Sesekali ia mengusap lembut rambut hitam panjang gadis yang telah mencuri seluruh dunianya. Tak Zayn alihkan tatapannya dari wajah tenang sang kekasih.
"Apa yang sedang kamu mimpikan, sayang? Kau tampak damai hingga tersenyum seperti itu? Apa kau tak ingin bangun dan melihat wajah tampanku?" Ucap Zayn walau tahu tak akan mendapatkan respon dari Tasya, tapi ia tak menyerah untuk menuntun Tasya bangun dari alam bawah sadarnya.
"Hei pacar! Ayolah buka matamu itu, aku merindukanmu. Aku ingin sekali melihat wajah cemberutmu"
"Sayang..." Gumamnya lemah.
Di saat Zayn tengah mengajak Tasya berbicara, pintu ruang VIP itu di buka paksa oleh seseorang dengan setelan jas yang masih melekat rapih di tubuhnya.
Ia masuk begitu saja kala melihat Tasya yang masih terbaring lemah di atas ranjang rumah sakit. Hatinya mulai berkecamuk tak mengerti perasaan apa yang kini tengah dia rasakan. Ada perasaan sakit, kala melihat wajah pucat Tasya. Ia bahkan tak menyadari keberadaan Zayn di sana yang menatap heran atasan meraka itu.
"Tuan..." Sapa Zayn pada atasannya yang lebih muda dua tahun darinya itu.
Seketika itu juga Abi tersentak, ia menoleh menatap Zayn yang memandangnya dengan kernyitan yang tampak jelas di dahinya. Abi kemudian mengedarkan pandangannya ke sekeliling ruangan tersebut, dan dia benar-benar baru menyadari jika ternyata Rico tertinggal di belakangnya atau justru tertinggal di hotel? Abi pun tak tahu pasti.
"Ah! Zayn... Bagaimana keadaannya? Ku dengar dia tenggelam di laut? Bagaimana ceritanya?" Tanyanya tak sabar tentu saja pertanyaan yang penuh rasa khawatir itu membuat dada Zayn memanas. Jika saja dia bukan atasannya sudah pasti Zayn akan membuat perhitungan padanya.
Walau Zayn tahu sikap Abi itu wajar ia memang ramah pada semua orang, tapi sebagai seorang pria ia jelas bisa melihat ada yang lain dari tatapan mata Abi saat melihat Tasya. Mungkin saat ini Abi belum menyadarinya tapi siapa yang akan tahu kedepannya, Zayn hanya berjaga-jaga. Karena itu ia memutuskan merubah rencananya, yang tadinya ia ingin membuat Tasya menyukai sosok Zayn berubah haluan untuk membuat Tasya berdiri beriringan dengan sosok Zayn.
Ia memang sudah memikirkan hal ini saat bertukar pikiran dengan Rizky waktu itu, apa yang di ucapkan dokter muda sekalipun sepupu Tasya memang benar. Ada jalan yang mudah ia justru memilih jalanan yang terjal. Pada akhirnya Zayn menyerah juga.
"Tasya tidak apa-apa, tuan. Hanya sedikit syok, karena Tasya memang tak bisa berenang dan juga sedikit takut dengan air laut" Tutur Zayn menjelaskan apa yang di sampaikan dokter tadi.
Mengetahui Inem baik-baik saja, barulah Abi merasa tenang. Ia menghembuskan nafasnya lega.
"Lalu kenapa dia bisa jatuh, bukannya ia memakai pelampung? Aku dengar Maya yang mendorongnya?"
"Iya, awalnya. Saya juga tak mengerti saat saya lihat ia sudah tak lagi memakai pelampung nya, lebih parahnya lagi ia yang takut air tapi malah nekat Selfi di ujung perahu" Zayn menghela nafas terlebih dahulu sebelum melanjutkan ceritanya. Ia tatap wajah Tasya yang masih pucat.
"Soal Maya... Ya, memang sebelum jatuh saya melihat mereka bertiga tengah menyudutkan Tasya. Tapi, saya tak tahu pasti karena saya pun masih di bawah tak melihat dengan jelas apa yang terjadi. Saya meyakini mereka mendesak Tasya dan mungkin mengatakan sebuah ancaman padanya. Saya tahu Tasya adalah sosok wanita yang tak mudah di tindas. Terbukti saat ia mendapatkan Bullyan dari mereka di toilet. Tapi, yang terjadi hari ini sungguh mengejutkan" Tukas Zayn panjang lebar.
Tak ada yang ia tutupi, walau benci dengan Maya cs tapi ia memang tak melihat secara langsung apa yang terjadi. Saat ia naik ke atas perahu semua sudah terjadi, jadi dia tak bisa menyudutkan mereka bertiga sebelum ada bukti akurat.
Abi terlihat hanya mengangguk saat Zayn menjelaskan detail kejadian tadi. Terasa ada yang mengganjal dari ucapan Zayn, tak biasanya Zayn terdengar meragu dengan ucapannya itu. Zayn di kenal memiliki kecerdasan dan rasa percaya diri yang tinggi, karena itu dia bisa menduduki posisi seperti saat ini di perusahaan. Tapi, kali ini Abi seperti melihat sosok yang lain dari Zayn.
"Apa ada yang kau sembunyikan? Kamu tampak meragu, tak seperti biasanya?" Zayn menggeleng untuk menjawab pertanyaan Abi.
"Tidak ada lagi yang saya sembunyikan, tuan. Hanya saja ada hal yang sampai saat ini menganggu fikiran saya..." Satu alis Abi terangkat saat Zayn dengan sengaja menjeda ucapannya.
"Sebuah peluru melukai lengan atas, Tasya.. Ta-"
"APA!!" Pekik Abi tanpa sadar bahkan sebelum Zayn menyelesaikan ucapnya.
"Apa ini juga ulah Maya? Apa dia membawa senjata juga? Akan ku beri mereka pelajaran berharga!!" Seru Abi benar-benar kesal. Ia merasa lengah karena ternyata karyawannya sendiri membawa senjata seberbahaya itu. Abi tak lagi mempedulikan keadaan sekitar, yang penting Inemnya tak apa-apa, ia kemudian berlalu begitu saja dari ruangan itu. Zayn bahkan sampai ternganga melihat reaksi berlebihan dari Abi. Dan dugaannya semakin kuat saat melihat hal itu.
"Tuan... Tapi, peluru itu hanya sempat menggores lengan Tasya" Ujarnya lemah saat Abi sudah menghilang di balik pintu ruangan tersebut.
Usai kepergian Abi, yang di tunggu-tunggu Zayn akhirnya terjadi. Perlahan Tasya mulai menggerakkan jari jari lentiknya. Awalnya hanya jari tengahnya, lama kelamaan semua jarinya pun ikut menunjukan pergerakannya.
Tentu Zayn sangat bersemangat, ia menekan tombol yang ada di atas nakas samping ranjang pasien tersebut.
"Sayang... Apa kamu mendengar ku? Ayo sayang buka matamu, pelan-pelan" Seru Zayn sangat antusias. Ia dengan semangatnya menuntun Tasya untuk dapat membuka kedua matanya yang sedari tadi tertutup itu.
Perlahan Tasya mulai mengernyitkan dahinya, ia membuka dengan sangat perlahan kelopak matanya. Satu cahaya yang membuatnya merasa silau saat matanya sudah sepenuhnya terbuka. Tasya mengerjapkan matanya beberapa kali untuk bisa menyesuaikan cahaya yang masuk ke dalam matanya.
"Sayang... Akhirnya kau bangun.. Aku merindukan mu. Apa yang kamu rasakan? kamu mau sesuatu?" Tanya Zayn lembut ia membelai rambut panjang Tasya dan mengecup beberapa kali kening Tasya. Ia merasa sangat bahagia.
"Air..." Pintanya lemah, membuat Zayn dengan sigap memberikan apa yang Tasya inginkan.
Tasya menjauhkan kepalnya dari bibir gelas saat merasa tenggorokan sudah tak lagi kering. Bertepatan dengan itu seorang suster datang karena panggilan dari Zayn tadi.
Suster itu menanyakan apa yang di rasa oleh Tasya. Setelah itu suster kembali untuk memanggil dokter yang menangani Tasya.
"Syukurlah akhirnya anda sadar, nona" Ucap sang dokter di sela kegiatannya mengecek mata Tasya menggunakan sebuah senter kecil, mungkin.
"Baiklah selain pusing dan mual apa yang anda rasakan?" Tanya dokter saat sudah selesai dengan pemeriksaan nya.
"Sedikit nyeri di bagian persendian, dok. Saya juga masih merasa lemas sekali" Keluh Tasya dan dokter hanya menagguk faham.
"Baiklah, itu wajar terjadi. Saat anda di dalam air, anda pasti banyak menelan air laut itu. Tapi tak masalah saya akan resepkan beberapa obat Antibiotik untuk membunuh bakteri yang mungkin ikut tertelan. Setelah istirahat yang cukup perlahan mual dan pusing anda akan berkurang" Tutur sang dokter membuat pasangan kekasih itu hanya mengangguk dan tak lupa mengucapkan terimakasih.
"Bagaiman kamu bisa jatuh seperti itu, yank" Tanya Zayn penasaran. Tasya yang di tanya seperti itu pun tampak menggosokkan jari telunjuk di dagunya. Ia mencoba kembali mengingat kejadian itu.
"Waktu itu...
.
.
.
Di hotel karyawan menjadi heboh karena berita tenggelamnya Tasya. Ada yang tampak acuh ada pula yang merasa iba. Tapi, bukan itu saja yang membuat orang-orang tampak kasuk kusuk tak jelas. Mereka melihat Tuan Abi yang biasa di lihat sedikit menyunggingkan senyum saat di sapa, tapi kali ini jangankan senyum melirik pun tidak. Mereka makin penasaran saat Maya Cs di seret paksa oleh beberapa orang keamanan.
"Ada apa ini?"
"Ku rasa kali ini Maya dan dua dayang nya itu akan berakhir"
"Benarkah? Kenapa memangnya?"
"Lo ngga tau? Maya kan yang udah dorong si karyawan baru itu"
"ho'oh.. Pasti sekarang mau di sidang tuh mereka. Atau mungkin bakal di buang di laut"
Gumam beberapa karyawati yang melihat pemandangan langka itu. Sedangkan di ruangan yang tak lain adalah meeting room, tiga perempuan yang tadi sedang menjadi bahan gosip tengah tertunduk lesu.
"Kali ini kalian keterlaluan. Saya tak lagi bisa mentolerir kesalahan kalian. Mulai hari ini-"
Tok... Tok... Tok...
.
.
.
.
Bersambung....