
Di sebuah rumah yang tidak luas tapi begitu nyaman, karena terdapat beberapa pohon rindang di halaman rumah tersebut. Seorang wanita tengah menangis tersedu-sedu di bawah kaki seorang wanita tua. Dia adalah nenek Anita, di belakangnya ada dua orang laki-laki berbadan kekar dan berwajah sangar.
"Tolong beri saya sedikit waktu lagi, Bu!" Ujar Wanita itu mengiba, namun nenek Anita sama sekali tidak peduli. Ia menyeret seorang anak perempuan dari wanita tersebut sebagai jaminan. Tangis ibu dan anak itu terdengar pilu. Siapa saja yang mendengarnya pasti akan merasa iba tapi, hal itu tidak berlaku untuk nenek tua itu.
"Kau bisa mengambilnya, saat kau bisa mengembalikan uangku" Ujar nenek Anita kemudian ia melenggang pergi begitu saja masuk ke dalam rumahnya, tanpa menghiraukan raungan seorang ibu yang memohon kebaikan hatinya. Dengan kasar ibu itu di usir oleh dua bodyguard nenek Anita.
Seperti itulah kehidupan nenek dari Tasya, sang lintah darat yang tak mengenal belas kasih. Tapi, tak ada yang berani melawannya begitu juga seorang wanita yang melihat hal tersebut dari balik jendela.
Wanita yang tak lain adalah ibu Tasya menatap iba seorang ibu yang harus berpisah dengan anak gadisnya. Ia seperti melihat dirinya dan sang anak. Akankah nasib nya juga sama dengan ibu itu? Karena cepat atau lambat ia pun akan berpisah dengan sang anak. Entahlah ia merasakan hal yang buruk akan terjadi, mengingat bahwa sang anak akan tinggal jauh darinya bersama orang asing. Namun, lagi-lagi ia tepis.
Sebagai orang tua apa lagi seorang ibu, ia hanya bisa mendoakan sang anak agar mendapatkan kebahagiaan dalam tiap langkah hidupnya.
Berasal dari keluarga yang serba kekurangan, belum lagi dia yang yatim piatu dan hanya tinggal bersama ibu tirinya, membuat Ibu atau mamah Tasya tak bisa melawan. Walau jauh dalam lubuk hatinya, ia sama sekali tidak setuju pertukaran harta berkedok perjodohan ini di lakukan, tapi sekali lagi dia tidak bisa berbuat apa-apa.
"Ngomong-ngomong Tasya... Kemana anak itu? sudah sampai mana dia? Kenapa sampai sekarang belum juga ada kabar?" Gumamnya berkali-kali melihat ponsel, kemudian mengalihkan pandangannya ke arah jam dinding, lalu melihat ke jalanan menunggu sang anak kesayangan yang katanya akan pulang tapi tak kunjung muncul. Belum lagi Tasya sama sekali tidak memberi kabar. Memang kebiasaan buruk!
"Aaaaa" Terdengar sebuah teriakan dari dalam rumah, mengalihkan perhatiannya dari kerisauan tentang anak gadisnya. Mama Tasya beranjak dari kamarnya mencari sumber suara yang mengejutkan itu.
Tidak sulit untuk menemukan sumber suara itu, karena hal seperti ini bukan sekali dua kali ia saksikan. Ibaratnya kekerasan dan kekejian ibu mertuanya itu adalah makanan sehari-hari, jadi bukan hal baru jika rumahnya ramai. Bukan ramai karena suara canda tawa anak-anak mereka, melainkan ramai karena jerit kesakitan dari para sandara.
Mama Tasya sampai pada sebuah gudang yang terpisah dari rumah utama, ia bisa melihat seorang anak kecil mungkin usianya baru delapan tahun itu sedang menangis tersedu-sedu, karena mendapatkan kekerasan fisik dari bodyguard sang mertua.
Walau sudah terbiasa, tetap saja hatinya terasa di iris melihat penyiksaan di depan matanya. Sebagi seorang ibu, hatinya merasa sakit. Tapi, sekali lagi ia tak berdaya.
"A..ampun..!!" Ujar sang anak terbata. Darah segar keluar dari sudut bibirnya, karena sang bodyguard menampar pipi anak itu dengan sekuat tenaga. Anak perempuan itu tidak pingsan saja sudah bersyukur, saking kerasnya tamparan itu.
"DIAM!!! AKU BILANG, DIAM!!" sentak bodyguard yang badannya paling besar.
Merasa tak kuat melihat hal itu, mama Tasya pergi dari tempat menyakitkan itu.
Tak lama kemudian ia kembali, dan para bodyguard sudah pergi entah kemana. Mama Tasya duduk di samping tubuh anak perempuan itu yang terlihat bergetar hebat. Anak itu menenggelamkan wajahnya di antara lutut kecilnya. Hingga anak itu tak menyadari kehadiran mama Tasya.
"Nak.." Anak perempuan itu terkejut dan langsung beranjak menjauh dari mama Tasya. Tubuh kecilnya kembali menggigil ketakutan menatap wajah mama Tasya dengan air mata yang bercucuran membasahi pipinya.
"Tidak apa-apa.. Jangan takut!" Ujar mama Tasya lagi lembut, ia beranjak sedikit dari tempat nya duduk menghampiri si anak perempuan.
"Tidak... Tidak... ampun!! Jangan dekati Dinda! Dinda ngga nakal!" Ujar anak itu menggelengkan kepalanya takut.
"Sttt Dinda... nama kamu Dinda? Jangan takut ya.. Tante di sini mau ngobatin luka kamu. Nih lihat!" Mama Tasya mengangkat mangkuk yang berisi air dingin dan handuk di dalamnya.
"Ampun!!" Ujar anak perempuan yang bernama Dinda. Terlihat sekali bahwa anak ini sangat ketakutan. Jika saja ia punya uang banyak, sudah pasti ia akan menolong membebaskan anak malang ini. Sedih sekali rasanya melihat anak kecil di perlakukan bak tahanan hina.
"Tidak apa-apa.. Ini Tante bawakan kamu makanan. Kamu makan dulu ya! Walaupun sisa tapi ini masih enak kok" bujuknya lagi.
"Dinda.. Di... Dinda.. Bo..boleh makan?" Ucap anak itu takut-takut.
Mama Tasya tersenyum dan menganggukkan kepalanya.
"Boleh, kamu habiskan ya.. Jangan lama-lama! Nanti ketahuan om galak lagi!" Anak itu mulai mendekat ia memasukkan suapan pertama ke mulut nya. Terlihat senyum tulus dari bibir anak itu yang terluka. Walau makanan sisa tadi malam tapi anak itu tetap saja memakan makanan tersebut dengan lahap. Hingga dalam sekejap saja piring tersebut telah kosong.
"Pintar.. Sekarang Tante obatin ya luka Dinda!" Anak itu hanya mengangguk. Dengan hati-hati dan telaten Mama Tasya mengompres luka memar itu kemudian memberikan obat merah dan juga pil pereda nyeri untuk anak itu. Dia berjanji untuk membebaskan anak malang itu sebelum ia pergi dari gudang tersebut.
Ternyata nenek Anita sedang mencarinya, beruntung ia sudah selesai dengan anak itu hingga nenek Anita tidak menaruh curiga padanya. Jika hal itu terjadi sudah di pastikan bukan hanya dirinya yang berada di dalam masalah tapi juga anak itu.
"Dari mana saja kau?" Tanyanya.
"Aku baru saja mengambil buah mangga di halaman belakang" Mama Tasya menunjukan keranjang berisi mangga yang sebelumnya sudah ia siapkan agar terbebas dari pertanyaan mertuanya.
"Ah itu.. Di ruang tamu, calon cucu mantu sudah menunggu. Temui dia dan bawakan minuman dingin untuknya." Ujar nenek Anita kemudian berlalu untuk menemani calon ladang uang nya itu.
Setelah Ibu mertuanya tak lagi terlihat, mama Tasya baru bisa bernafas lega. Tak lama kemudian ia pun menghampiri calon menantu nya itu dan membawakan apa yang di perintahkan oleh sang ratu.
"Loh nak Daniel! Sendirian?" Tanyanya saat sosok Daniel sudah terlihat di matanya. Daniel yang di panggil, segera beranjak menerima nampan yang di bawa calon mertua nya kemudian menyalami tangan mama Tasya, tak lupa ia juga memberikan senyuman termanisnya.
"Iya, Tante. Mamah sama papah titip salam"
"Oh iya, bilang salam balik dari Tante dan om ya"
"Iya, Tante"
"oh iya, ayo di minum dulu, Niel. Pasti kamu lelah kan habis perjalanan jauh dari Jakarta ke sini kan butuh waktu berjam-jam" Ujar mama Tasya ramah.
Kini ketiga orang yang sedang duduk di sofa ruang tamu itu, sama-sama sedang memainkan sebuah drama. Tidak ada yang tahu maksud dan niat dari hati ketiganya, hanya mereka dan Tuhan yang tahu apa yang sedang ada dalam benak mereka.
"Sebenarnya saya tadi dari hotel yang ada di Batu Karas, tante. Nengokin calon istri" Jelas Daniel membuat mama Tasya terkejut. Ia memang tidak tahu alasan Tasya pulang hari ini, jadi wajar saja jika mama dan nenek Tasya itu terkejut.
"Loh! Tasya kok ngga ke sini malah nginep di hotel?"
"Loh, apa Tasya tidak bilang apa-apa?" Dua wanita beda generasi itu hanya menggeleng sebagai jawaban.
"Perusahaan tempatnya bekerja sedang mengadakan sebuah acara tahunan, dan kebetulan hotel yang di sewa itu hotel punya papah" Jelas Daniel.
"Pantas saja tiba-tiba dia bilang mau pulang! coba kalau tidak ada acara di perusahaan nya itu pasti sampai sekarang dia belum mau pulang!" Timpal nenek Nita yang sedari tadi hanya menyimak.
"Tapi, Niel.. Berarti kamu udah ketemu sama Tasya?" imbuhnya.
"Udah, nek. Bahkan dari dua Minggu yang lalu di hotel milik sepupu Niel waktu itu"
"Tapi kalau udah ketemu, kenapa kalian ngga datang bareng ke sini?"
"Itu-" Belum sempat Daniel menjawab pertanyaan dari calon ibu mertuanya itu terdengar salam dari arah luar, di susul salam yang lain pertanda bukan hanya satu orang tamu.
"Assalamualaikum.." Ujar suara menggelar Tasya memenuhi ruang tamu tersebut.
"Assalamualaikum.." ujar dua laki-laki di belakangnya.
.
.
.
.
.
Bersambung...
...----------------...
Ayo... Ayo... lemparin Nucha jempol nya dong sekalian sama kopi dan bunganya.. Ikhlas lpasti Nucha, beneran deh..
Udah double up nih..