I Love You, My Secretary

I Love You, My Secretary
Bab 06



Jangan lupa kasih Ranucha nya like yah readers tercintah...❤


happy reading🤗🤗


...----------------...


"Feby!!!"


Sebuah suara bariton memanggil dari arah belakang. Tampak seorang laki-laki gagah dengan stelan jasnya berlari menghampiri kami.


"Kenapa sama kamu, Feb?" Ujarnya panik ketika berhasil menyusul kami dan Melihat keadaan Feby yang menyedihkan.


"Aku ngga apa-apa, kak" rupanya laki-laki ini adalah kakaknya Feby. Di lihat dari segi mana pun aku yakin jika Feby ini bukan dari kalangan biasa. Tapi, kenapa perempuan tadi menyerangnya?.


"Tapi kamu terluka seperti ini? Pasti kamu kan yang sudah melukai adik ku!!" Tuduhnya padaku ketika baru menyadari kehadiran ku. Tak sopan sekali menuduh orang tanpa bukti, apa tidak lihat jika kami sedang berjalan bersama apalagi aku juga membantu adiknya berjalan.


Aku menghela nafas jengah. Malas sekali jika harus berdebat.


"Bukan kak, dia yang sudah menolong ku tadi." sanggah Feby sebelum kakaknya menuduh ku lebih jauh lagi.


Sang kakak hanya ber oh ria mendengar penjelasan Feby tadi, tak ada itikad baik nya sama sekali meminta maaf kek atau berterimakasih gitu. Tapi ya sudahlah, untuk apa aku pikirkan.


"Lain kali tuh tanya dulu baik-baik, bang! Tak baik menuduh orang tanpa bukti. Tap, berhubung gue baik, jadi oke lah tak masalah... Gue maafin."


"Cih! siapa juga yang minta maaf." ujar lelaki ini sombong.


"Jangan seperti itu kak, dia ini sudah nolongin Feby, Mba...."


"Tasya." ujarku memotong kata-kata nya ketika ia bingung menyebutkan nama ku.


"Panggil aja gue Tasya ngga usah pake mba. Gue belum terlalu tua." lanjut ku.


"Oke terimakasih bantuannya Sya, untung Lo ada di sana," ucap Feby ramah tidak seperti kakaknya yang sombong.


"Udahlah ayo sekarang kita ke rumah sakit buat ngobatin luka mu ini," iya itu lebih baik dari pada aku harus berlama-lama melihat mukanya yang songong itu.


Mereka berdua akhirnya pergi meninggalkan ku setelah dengan sopan Feby berpamitan padaku. Tidak seperti kakaknya yang sama sekali tak menganggap kehadiran ku.


Aku pun berjalan menuju meja yang tadi ku tempati, namun ternyata pak Zayn tidak ada di tempat. Ku rasa aku terlalu lama di dalam karena insiden tak terduga tadi.


Tapi, sekarang bagaimana? Aku harus mencari pak Zayn kemana? sedang dia tidak ada pemberitahuan sama sekali kemana ia pergi. Yang benar saja kalau aku harus pulang sendiri, kan ngga lucu masa berangkat bareng pulang sendiri-sendiri. Udah kaya jailangkung aja. Eh? Ah pokoknya itu lah.


Di tengah kebingungan ku, ponsel yang tengah ku genggam terasa bergetar menandakan ada panggilan masuk.


Aku memang sepulang kerja selalu mengganti ponselku ke mode getar atau senyap. Karena, jika sedang di rumah bunyi bising dari dering ponsel itu terdengar menganggu.


Ku geser ikon dengan gagang telpon yang berwarna hijau untuk menjawab panggilan tersebut.


"Kamu di mana?" Dari sebarang telpon terdengar helaan nafas sebelum bertanya.


"Saya masih di tempat, pak. Saya di meja tadi tapi bapak tidak ada." yah, penelpon itu pak Zayn. Ku pikir dia akan meninggalkan ku begitu saja nyatanya aku sudah berburuk sangka. Walau tak tau dimana ia berada tapi mendapati nya menayangkan keberadaan ku tandanya ia tak meninggalkan ku begitu saja.


"1 jam aku nunggu kamu di situ. Kenapa tidak angkat telpon ku? Kemana saja? Kenapa lama sekali? Aku mencari mu ke segala penjuru toilet, parkiran, bahkan cafe ini sudah ku pitari lebih dari 3 kali, tapi tidak ada?" Ia mencercaku dengan banyak pertanyaan sampai aku sendiri bingung harus menjawab yang mana dulu.


"Ck! pertanyaan bapak banyak sekali, saya pusing. Sekarang bapak di mana?"


"Pos security!"


"Ngapain bapak di situ?" Tanya ku bingung. Kenapa juga ia di sana, apa bos ku itu sedang menunggu ku sambil main catur?


"Ngopi!" singkatnya seolah membenarkan dugaan ku.


"Aku minta tolong security buat nyari kamu lah!, aku hampir gila nyari kamu ngga ada di mana-mana. Mana hp mu susah sekali di hubungi. Kamu tau ngga aku tuh khawatir banget kamu ke-" pak Zayn terdiam usai berkata panjang lebar, menggantung kalimatnya membuat ku penasaran.


"Ke apa pak?"


"Ahrghh... Lupakan! Ke parkiran cepat! aku tunggu di mobil!!!"


Tut


Setelah berbicara ketus seperti itu panggilan di putus nya begitu saja. Ck! Baru saja ku pikir dia ini perhatian ternyata hanya kebetulan. Dia masih saja aneh, sebentar baik sebentar kejam.


Tanpa membuang waktu aku berjalan cepat mencari mobilnya terparkir. Tak terlalu sulit untuk menemukannya karena dia menyalakan lampu mobil sehingga dari luar aku bisa melihat dengan jelas dirinya yang juga sedang memperhatikan ku.


Ia tak menjawab namun malah membuat jantung ku berdebar tak karuan. Bagaimana tidak, ia menatap ku intens tanpa berkedip. Tentu saja aku merasa gugup apalagi tiba-tiba pak Zayn mendekat kan wajahnya ke arah ku.


"Em, p..pak a..apa yang anda lakukan?" ujar ku gugup. Sungguh aku sangat gugup saat ini. Tubuhku bergetar karena jarak di antara kami yang sangat dekat.


Ia terdiam namun manik matanya masih menatap mata ku dalam. Oh tidak!! Apa dia akan mencium ku seperti yang ada di novel yang tiap akhir pekan selalu ku baca? Atau dia akan menjitak kepala ku karena sudah lancang membuatnya menunggu? Aku gugup, sungguh ini pertama kalinya aku sedekat ini dengan laki-laki selain sepupuku.


Nafasnya semakin terasa mengenai kulit wajah ku membuat aku reflek menutup mata saking gugupnya. Di saat seperti ini entah kenapa tiba-tiba perutku rasanya mulas aku jadi ingin buang angin. Tapi masa harus sekarang? Oh perut sabar ya, jangan dulu banyak bertingkah. seperti nya ciuman pertama ku akan terenggut malam ini.


Aku masih memejamkan mata menunggu apa yang akan dia lakukan hingga terdengar bunyi..


Klik..


Dan tak lagi ku rasakan nafasnya yang terasa hangat menerpa kulit wajahku. Aku mengernyitkan dahi kenapa tidak terasa apa-apa?


"Berhenti berfikir jika aku akan mencium mu!" Suara tegasnya membuat ku reflek membuka mata.


Pak Zayn menatap ku sembari tersenyum penuh ejekan, membuatku semakin merasa malu.


Ck! Lagian sejak kapan sih otak ku ini berpikiran mesum seperti itu. Mau taruh dimana ini muka.


"Ekem, Si..siapa yang berpikiran seperti itu? Lagian bapak apa sih deket-deket gitu sama saya. Bapak pasti yang mau macam-macam tadi kan? Hayo ngaku!"


"Ck! Kamu ini pede sekali. Aku hanya memasangkan seatbelt mu karena, aku ingin cepat pulang!" Ujarnya ketus. Aku langsung melihat ke bawah dan benar seatbelt nya memang sudah terpasang. Ah! Tasya kenapa pikiran mu jauh sekali!.


"Kalau begitu kenapa masih melihat saya?. Cepat jalan kan mobilnya!!" Saking malunya aku sampai tak sadar memerintah pak Zayn dengan nada yang ketus.


"Kamu pikir saya supir mu? Sudah membuat aku menunggu, memerintah seenaknya pula!" ujarnya dingin namun tetap saja ia melajukan mobilnya.


.


.


.


Setelah perjalanan yang cukup panjang dan dalam keadaan yang canggung akhirnya aku sampai di depan kostan yang ku tinggali. Aku sungguh tidak nyaman berada di situasi seperti ini.


Ku hirup nafas dalam-dalam mengisi stok udara di paru-paru setelah mobil pak Zayn tak lagi terlihat. Berada di dekatnya membuat nafas ku terasa sesak. Ini semua gara-gara pikiran kotor yang sempat terlintas. Ck! Memalukan sekali!.


Aku berjalan gontai menaiki satu demi satu anak tangga yang mengantarkan ku pada kamar yang selama ini aku tempati.


Esok adalah weekend orang-orang yang tinggal di sini sebagian libur karena itu di tiap lantai beberapa dari mereka membawa teman untuk menginap. Aku sering mendengar suara-suara aneh tiap malam Minggu atau Sabtu seperti hari ini. Entah apa yang di lakukan mereka yang jelas terdengar sangat menganggu.


Aku tiba di depan pintu kamar ku, aku sedikit mengernyit. Pasalnya, pintu ini kenapa tidak di kunci? Aku benar-benar ingat tadi pagi sudah ku kunci. Tapi kenapa sekarang terbuka?.


Gegas ku buka pintu ini dengan kasar. Aku takut jika ada pencuri. Meski di dalam sini tidak ada apa-apa namun aku masih punya laptop yang amat berharga bagiku. Jika sampai hilang, aku pasti akan merengek pada sepupu ku 40 hari 40 malam. Bukan tentang berapa harga nya barang itu, namun di sana terdapat kenangan yang sampai sekarang tak bisa ku lupakan. Aku belum siap jika kehilangan itu. Aku sudah kehilangan seseorang yang penting dalam hidup ku aku tak ingin kenangannya pun ikut hilang. Karena itu aku selalu menjaga nya dengan sepenuh hati.


Wajah panik ku sirna tatkala melihat siapa yang ternyata sudah membobol pintu kost ku. Seorang laki-laki yang masih mengenakan jas putihnya sedang berbaring santai sambil menonton tv di kasur ku.


Dia menatap ku sekilas memberikan ekspresi yang menjengkelkan. Kemudian kembali fokus pada layar tv yang sedang menampilkan acara talk show tentang kesehatan. Yang membuat ku kesal bukan hanya wajahnya yang polos tanpa dosa itu, melainkan kakinya yang masih memakai sepatu berada di kasur ku.


CK! Dasar dokter tak tau kebersihan!!!


"Kenapa Lo bisa ada di sini?" Tanya ku datar menahan kejengkelan yang bergemuruh di dada.


"Apa lagi? Ya, gue mau nemenin Lo lah!" ujarnya santai bahkan ia sama sekali tak memandang ku. Mengesalkan sekali! padahal aku sama sekali tidak memberi tahunya di mana aku tinggal. Ya meskipun dia juga yang sebenarnya membayar uang sewa temlat ini sih. Tapi kan tak seharusnya dia sampai membobol kamarku juga!.


Ingin sekali rasanya aku tendang lelaki ini keluar dari jendela, namun otak ku ternyata masih waras.


"Lo ngga ada alasan buat ngusir gue, kalau lo berani.. gue pastiin orang tua lo bakal tahu dimana Lo tinggal!" lanjutnya seraya memberikan senyuman penuh kemenangan pada ku.


Ck! Kenapa juga aku harus terlalu terbuka padanya? Menceritakan semua masalah ku padanya dan akhirnya malah seperti ini. Ia selalu menggunakan kelemahan ku untuk mendapatkan apa yang dia mau dari ku.


Huft!! Aku pun tak ada pilihan lain selain Ya sudah lah.


.


.


.


Bersambung...