
Zayn Pov
Setelah adegan peluk-pelukan itu, kini aku dan keluarga Herold tengah duduk menikmati hidangan makan malam. Aku duduk di antara Tuan Abi dan Ibu. Rasanya sungguh menyenangkan sekali impianku selama ini akhirnya terwujud. Walau aku harus menunggu selama puluhan tahun tapi terbayar lunas saat momen kebersamaan yang penuh cinta kasih seperti ini akan mewarnai hariku kedepannya. Ya semoga!.
"Makanlah yang banyak, nak" ucap tuan Robert sambil memberikanku potongan daging steak yang sudah dia potong dari piringnya.
"Iya, nak. Ini! Makanlah yang banyak. Habiskan yah sayang." Ibu pun tak ketinggalan, ia juga meletakan potongan jatah dagingnya padaku. Semua hal ini membuatku tersentuh dan ku rasa aku ingin menagis lagi.
"Ayo dimakan, nak. Kenapa hanya di liat saja? Apa mau ibu suapi?" Aku mengangguk ragu mendengar tawarannya takut membuatnya tak nyaman atau mengira aku adalah anak yang manja. Tapi, aku merindukan saat dimana ia dengan sabar menyuapiku yang tak mau membuka mulut untuk menerima suapannya kala itu. Namun rupanya kekhawatiranku tak menjadi kenyataan, karena ternyata dengan antusiasnya ibu menyodorkan potongan daging itu ke arahku. Dan bisa ku lihat jika matanya pun berkaca-kaca.
Aku memakan daging tersebut dengan pandangan yang tak lepas dari sosoknya, begitu juga dengan ibu. Ia menatapku penuh cinta dan mengusap sudut bi birku dengan penuh kelembutan. Untuk sesaat kami melupakan kehadiaran Tuan Robert dan Tuan Abi jika saja tuan Abi tak mengeluarkan suaranya mungkin kami masih menyelami rasa kerinduan ini.
"Kenapa sejak tadi hanya Kak Zayn yang kalian perhatikan?. Aku seperti tersisihkan sekarang. Di sini masih ada anak mu loh, mah." Keluh Tuan Abi cemberut membuatku dan ibu tersenyum sedangkan tuan Robert hanya menggelengkan kepalanya.
"Maafkan saya, tuan.. Sa-"
"Apa?! kakak panggil aku apa? Kita ini saudara kak jangan panggil aku tuan. Mulai sekarang biasakan panggil aku nama atau adek mungkin." Serunya tak terima karena aku masih terlihat kaku. "Tapi.. Kalau adik kayanya itu terlalu menggelikan.. jadi kakak bisa panggil aku Abi saja" Lanjutnya dan aku pun mengangguk.
"Baiklah mulai sekarang aku akan membiasakannya, Ja" Ujarku tersenyum menggodanya membuat Abi mengerutkan keningnya bingung.
"Ja? Apa itu?" Tanyanya.
"Ja, ya tadi kamu sendiri yang minta untuk ku panggil Abi saja."Jelasku masih menggantung tapi karena Abi adalah pria yang cerdas dengan mudah dia bisa menebak kemana arah pembicaraanku.
"Astaga kakak!! maksudnya tuh panggil aku Abi! A B I bukan saja" Gerutunya kesal dan mengerucutkan bi birnya lucu. Ini adalah kali pertama aku melihat sosok Abi yang pembawaanya sangat manja. Biasanya kami melihat Abi yang berwibawa tapi hari ini aku bahkan sampai tak mengenali sosoknya.
"Iya, nak. Kamu pun jangan sungkan panggil saya papah seperti Abi. Dan jangan sungkan untuk meminta bantuan apa pun itu, termasuk melamarkan sekertaris itu, mungkin" Ujar Tuan Robert sambil menaik turunkan alisnya dan tersenyum jahil menggodaku tentu saja hal itu membuatku sangat malu.
"Loh apa itu maksudnya, pah? Apa Atta sudah punya kekasih?" Tanya ibuku penasran.
"Sudah" Bukan aku atau Tuan Robert yang menjawab melainkan Abi. Ia menjawab dengan nada terdengar kesal membuatku menautkan alisku. Kenapa responnya seperti itu, apa sebenarnya kecurigaanku benar kalau sebenarnya dia juga mencintai Tasyaku?
"Kakak apa tidak ada wanita lain kah selain dia? Bisa stres aku kalau sampai dia jadi kakak ipar ku!" Rengeknya padaku namun sama sekali tak ku gubris aku masih menatapnya lekat.
"Kenapa memangnya? kamu cemburu?"Tanya tuan Robert dan itu mewakili pertanyaanku.
Mendengar pertanyaan dari papahnya, Abi langsung menggelengkan kepalanya dengan cepat. "Aku cemburu?" Sahutnya sambil menunjuk ke arah dadanya sendiri. "Papah... Jangan bercanda!! Walaupun di dunia ini hanya tinggal dia satu-satunya wanita, lebih baik aku menjadi perjaka lapuk dari pada harus bersamanya!" Tukasnya tanpa keraguan. Aku berharap memang seperti itu kenyataanya.
"Kalian ini bicara apa? Kenapa hanya Ibu saja yang tidak tahu apa-apa?" ucap Ibu sambil memandang kami satu persatu dengan wajah bingung.
"Tidak apa-apa, Bu. Iya itu memang benar. Aku memang memiliki seorang kekasih, tapi sepertinya jalan kami masih panjang." ucapku dengan nada tak bersemangat. Ya, mau bagaimana lagi jalan kami memang masih sangat jauh. Ini baru setengah dari perjuanganku. Ke depannya aku harus mencari di mana ayah kandung ku berada dan aku berharap waktu 2 minggu itu cukup aku juga berharap ayahku itu masih bernafas.
Akan ku tanyakan tentangnya nanti saat aku hanya berdua bersama dengan ibuku. Aku masih sungkan untuk menceritakan tentang masalah pribadiku pada tuan Herold.
"oh, seperti itu. Ada apa memangnya? Apa ada masalah nak?" Tanya ibuku.
"Tentu saja ada masalah!. Hubungan mereka kan tidak direstui" sahut Abi cepat tanpa mengalihkan perhatiannya dari makanan yang sedang ia makan. Tentu saja perkataan Abi barusan membuatku bingung. Dari mana dia tahu tentang hal itu? Bukankah selama ini kami tidak pernah membahas masalah pribadi kami di sekitar kantor?
Abi mendongakkan kepalanya menatap satu persatu semua orang, karena kini pandangan kami tertuju padanya. Abi menaikkan sebelah alisnya seolah bertanya kenapa, tapi tak ada satupun kata yang keluar dari mulutnya Mungkin ia sedang menebak apa yang ada dalam pikiran kami.
Abi menghela nafasnya pelan sebelum mulai buka suara. "Oke, aku jelakan! Jadi.. Menurut kakak kenapa aku bisa menyiapkan semua ini tepat di hari ulang tahun mama? Jawabannya hanya satu, aku ingin memberikan mama hadiah yang tak akan pernah bisa ia lupakan. Yaitu bertemu dengan anak kandungnya yang selama ini menghilang. Bagaimana bisa aku mewujudkan impian mama itu? Tentu saja aku mencari tahu semua hal tentangmu, tentang masa lalu mama. Untuk itu aku menyewa beberapa orang untuk mencari keberadaanmu, tapi keberuntungan belum berpihak padaku. Aku mencarimu selama hampir lebih 5 tahun dan alasan kenapa aku membawa kalian untuk mengadakan acara tahunan perusahaan ke daerah Batu Karas waktu itu, tentu saja karena aku tahu kakak tiri ku tinggal di sana." Tutur Abi panjang lebar dan aku hanya bisa menganggukan kepalaku.
"Karena kurangnya informasi dan aku pun melakukannya dengan diam-diam menjadi faktor utama lambatnya aku menemukan fakta ini. Tapi setelah kepulangan kita dari Pantai Batu Karas waktu itu, ayah datang menemuiku dan mengatakan nama lengkap dari kakak tiriku itu. Dan fakta mencengangkan terungkap, papah menyebutkan nama yang dulu diberikan oleh mama untuk kakak tiriku. Dan nama tersebut adalah Zayn Pranata. Sejak saat itu aku menaruh beberapa mata-mata di sekeliling kakak. Maafkan Aku, Aku hanya ingin mencari bukti yang lebih akurat dan kudapatkan bukti itu tepat di hari Kakak dirawat di rumah sakit dan kebetulan rumah sakit itu adalah milik keluarga kami. Jadi bukan hal yang sulit untuk meminta sampel darah kakak untuk dilakukan tes DNA dan hasilnya 99,9% cocok dengan DNA mama." Aku terdiam mencerna setiap kalimat yang Abi ucapkan.
"Karena surat keterangan itu pula, mama yang tadinya tak ingin merayakan ulang tahunnya jadi begitu antusias saat aku mengatakan jika anak yang selama ini di carinya sudah menunggu di tempat ini." Abi mengakhiri ceritanya bersamaan dengan habisnya makanan di piringnya.
Memang beda jika orang kaya sudah turun tangan, apapun bisa mereka lakukan tanpa kesulitan. "seperti itu.. kalau tahu begitu aku tidak akan susah-susah untuk datang ke rumah kalian yang lama." sahutku lesu.
"Memangnya Dari mana kamu tahu alamat rumah lama kami?" tanya Tuan Robert dan aku pun menjelaskan tentang penemuanku di rumah almarhumah ibu Lusi kala itu.
Kami akhirnya banyak bercerita dan aku tahu ternyata ibu pun dulu sempat depresi dan harus mendapatkan perawatan intensif karena begitu merasa bersalah padaku. Aku pun sadar jika ternyata bukan cuma aku yang menjadi korban di sini, ibu pun merasakan hal yang sama.
Dan ini semua terjadi karena Ayahku..
****
Malam semakin larut kami pun memutuskan untuk istirahat. Ibu memaksaku untuk menginap di rumah mereka tapi aku menolaknya dan akhirnya kami semua memutuskan untuk menginap di hotel ini.
"Sini, nak! Biarkan malam ini ibu menemani mu sampai kamu tertidur sambil ibu ceritakan apa yang terjadi di masa lalu." Pintanya saat sudah duduk di sisi tempat tidur. Ibu memintaku untuk merebahkan kepalaku di pahanya dan dengan lembut ibu mulai mengusap suraiku hingga aku meraskan kenyaman yang begitu ku rindukan.
"Tiga puluh dua tahun yang lalu...." Mengetahui aku sudah rileks ibu pun memulai ceritanya dan aku dengan serius mendengarkan apa yang ibu sampaikan.
Zayn pov end
.
.
.
.
.
Bersambung...
...----------------...
🥱 Lu yang di pok-pok sambil di bacain dongeng napa malah Nucha yang ngantuk? Dah lh sampai di sini dulu Nucha mau nyari bantal aja..
🤪 Payah lu Cha.. Nih gua kasih Kopi! Sekarang gua kan orang kaya..
😒 sombongnya.. Liat aja ntar gua bikin lu nangis darah..
Holla hello readers tercintah ❤❤❤ jangan lupa lemparin Nucha like sama giftnya ya. Terimakasih yang sudah menemani perjalanan Tasya juga Zayn sampai sekarang.. Terus dukung karya receh Nucha ini yah man teman 🤗🤗 lophe you pull pokoknya mah..❤❤❤
Happy reading all 🤗🤗