
2 bulan kemudian....
Seorang wanita sedang menatap pantulan dirinya di cermin dengan tatapan yang datar. Ia mengenakan gaun berwaran merah maroon. Seorang pria masuk dan menyapanya.
"Bagimana menurut nona? Apa masih ada yang kurang?" tanyanya dan sang wanita hanya menatapnya dengan datar kemudian mengeleng pelan.
"Tidak, ini sudah sangat bagus. Terimakasih," ucapnya.
"Baiklah. Kalau begitu biar karyawan saya bantu anda melepaskan gaun ini. Atau anda ingin berfoto dulu, nona? Mungkin anda akan menujukan pada calon suami anda?"
"Tidak perlu. Tolong bantu aku buka gaun ini saja," pintanya dan pria tadi pun undur diri tak lama kemudian dua orang wanita masuk dan membantu si wanita tadi melepaskan gaun pengantin pesanannya.
Dia akan menikah minggu depan namun raut wajahnya sama sekali tak memancarkan rona bahagia. Wajahnya justru terlihat mendatar.
Sebenarnya apa yang keputusannya ambil ini adalah benar? Kenapa dia tampak meragu?
Setelah berganti baju, wanita itu masih mematung di depan cermin. Lama ia melakukan hal itu hingga tanpa sadar tangannya mengelus perut ratanya. Ada sedikit senyum di bibirnya, namun buru-buru wanita itu tersadar dan segera keluar dari ruang ganti.
Hari ini dia melakukan fiting baju sendiri tanpa di dampingi calon suami atau keluarganya.
Sebelum masuk ke dalam taksi online yang dia pesan, ia menghembuskan nafasnya kasar. Namun tak ada sepatah kata pun yang dia keluarkan.
Sementara itu di apatemen, Zayn terlihat begitu kacau. Sejak kejadian malam itu, Zayn benar-benar kehilangan Tasya. Wanita itu hilang bak di telan bumi.
Sudah kesana kemari ia mencari. Tapi, tak kunjung ia temukan keberadaan kekasihnya. Bahkan dia sudah berkali-kali mendatangi kediaman orang tua Tasya, tapi di sana tak ada tanda-tanda kehadiran gadis pujaannya. Pun ia selalu bertanya pada Rizky, namun pria itu bungkam dan tak mengatakan apapun padanya.
"Lupakan Tasya. Dia sudah memilih jalannya sendiri!" tukas Rizky pada suatu hari. Mungkin ia jengah dengan desakan dari Zayn yang tak pernah membiarkannya istirahat dengan tenang.
"Aggghhhhh.. Kamu di mana sih sayang? Apa kamu tak ingin aku bertanggung jawab? Kenapa kamu malah lari? Apa kamu tak lagi mencintaiku? Apa aku begitu menakutkan hingga kamu tak mau lagi melihatku?!" teriaknya frustasi. Ia melempar apa saja yang di lihat oleh matanya.
Dalam keadaan kacau seperti ini, Zayn sama sekali tak akan melibatkan keluarganya. Biar dia yang menghadapi masalahnya sendiri, maka dari itu Zayn memutuskan untuk tinggal di apartemennya.
Apartemen yang selalu rapih itu kini berantakan karena Zayn terus saja membanting barang apa saja yang ada di sana sebagai bentuk kekesalannya. Untungnya, dia masih waras tak sampai melukai dirinya sendiri. Namun, karena kegalauannya ini hidupnya kini berantakan. Makan dan tidur tak teratur, pekerjaan terbengakalai, mandi pun sudah jarang. Untung saja atasannya yang tak lain adalah adiknya itu memahami kondisi sang kakak. Maka Abi memberikan Zayn ruang untuk menenangkan fikirannya.
Di tempat lain, Abi mendapatkan sebuah undangan yang mana membuat dirinya langsung syok.
"A.. Apa-apaan ini? Apa dia sedang main-main?bagaimana dia bisa melakukan ini?" ujarnya begitu geram, tanpa sadar dia mermas undangan itu hingga menjadi kusut. Rahang Abi mengeras menandakan jika dia benar-benar kesal. Pada saat itu Rico masuk hendak memberikan Abi berkas namun, pemandangan di depannya membuat Rico penasaran sekaligus heran dengan raut wajah bosnya.
Rico sudah bekerja dengan Abi saat pertama kali pria itu menjabat menjadi manager hingga sekarang Abi berada di titik ini. Tak pernah sekalipun Rico melihat Abi sekesal ini.
Abi adalah sosok pemimpin yang ramah, tenang namun tegas. Maka akan terasa aneh jika tiba-tiba Abi terlihat begitu kesal. Dulu saja saat Tasya banyak melakukan kesalahan Abi paling-paling hanya mengomel tanpa mengeluarkan uratnya tapi kali ini.
"Kau baca saja sendiri!" Abi melemparkan undangan yang tak lagi berbentuk itu tepat ke wajah Rico saat ia menanyakan apa yang terjadi pada Abi. Mendapatkan perlakuan kurang sopan dari Abi tak membuat Rico tersinggung. Ia tetap stay cool dan mengambil undangan tersebut yang terjatuh. Dahinya mengrenyit saat dengan jelas ia membaca pengirim dari undangan tersebut.
"The Wedding, Daniel Wirasena Abraham and Anastasya Putri," lirihnya.
"Ini? Ini undangan dari sekertaris Tasya, tuan?"
"Iya! Gil* kan tuh cewek? Sudah mati-matian kak Zayn memperjuangin dia, bahkan kakak sampai rela buka luka lamanya tapi balasan dia apa? Kalau akhirnya dia nikah juga sama Daniel, untuk apa dia malah kasih kak Zayn harapan palsu?" Gerutu Abi kesal.
"Saya mengerti perasaan anda, tuan. Tapi, dari pada marah-marah di sini lebih baik anda tenangkan Pak Zayn, mungkin undangan ini juga sampai padanya."
"Ya, kamu benar. Huft.. Ini lah yang bikin aku malas kenal dengan yang namanya cinta. Sudahlah cuma buang-buang waktu, tapi akhirnya malah hanya jagain jodoh orang," Gerutu Abi sebelum meninggalkan ruangannya.
"Mendingan juga jomblo!" ucapnya dalam hati.
Tak jauh berbeda dengan Abi, Zayn pun menadapatkan undangan tersebut. Dunianya seakan runtuh melihat dengan jelas nama yang terpampang di sana. Ia terduduk dengan pandangan yang kosong menatap lembar tersebut.
Rasa sakit di hatinya begitu dalam hingga ia pun bingung harus seperti apa mengutarakan isi hatinya. Rasa marah, kesal, kecewa, cemburu, sedih, semuanya menjadi satu hingga ia bingung mana yang harus dia lakukan.
Zayn hanya terus mematung menatap undangan tersebut. Sungguh, Zayn tak menyangka jika akhirnya akan seperti ini. Apa selama ini cintanya tak cukup membuat Tasya melihat dirinya? Apa selama ini ketulusan yang dia berikan tak berarti untuk Tasya? Apa selama ini kebersamaan meraka tak ada nilainya untuk perempuan itu? Kenapa dia begitu tega? Apa salahnya? Apa kurangnya? Apa maksudnya semua ini?
Banyak sekali pertanyaan yang bersarang di dalam benaknya tapi tak satupun mampu ia keluarkan karena meski ia berteriak sekali pun tak ada yang mampu menjawabnya.
"Tuhan, apa memang benar seperti ini akhirnya? Kenapa rasanya sangat sakit, Tuhan? Sungguh Engkau yang tau seperti apa rasa cintaku untuknya, kan? Tapi kenapa Kau jauhkan dia dariku? Apa selama ini semua yang ku lakukan masih tak cukup membuktikan cintaku untuknya di mata-Mu, Tuhan? Aku hanya sekali melakukan kesalahan, kenapa Kau buat aku sesakit ini? Jika dia bukan untukku, kenapa Kau buat rasa cinta ini sebegitu besarnya? Kau bahkan tak mengizinkan ku untuk memperbaiki salahku padanya. Kau memutuskan memisahkan kami. Apa Engaku sedang mempermainkan perasaanku, Tuhan? Apa Kau senang aku kesakitan seperti ini? Apa Kau bahagia?"
"Kau sudah memisahkan ku dengan Ayah dan ibuku. Seolah belum cukup Kau juga memisahkan ku dengan wanita yang begitu aku cintai? Apa seperti ini Takdir ku, Tuhan!!"
Tes..
Tes..
Tes..
Air mata Zayn menetes begitu deras seiring isi hati yang ia keluarkan. Sakit hatinya membuat Zayn tak bisa berfikir dengan jernih dia bahkan terus menyalahkan Takdir Tuhannya. Ia seolah lupa bahwa rencana-Nya lah yang terbaik. Kesakitan di hatinya karena untuk kesekian kalinya di tinggal oleh orang terkasihnya membuat dia lupa segalanya.
Ibunya..
Ayahnya...
Ibu sambungnya...
Dan sekarang ketika dia kembali mendapatkan kasih sayang keluarganya dia justru harus menukarnya dengan cinta yang selama ini ia tunggu bertahun-tahun lamanya.
Bukankah itu lucu?
.
.
.
.
.
Bersambung...