I Love You, My Secretary

I Love You, My Secretary
Bab 07



POV Zayn


Hari itu... Aku merasa mentari kembali menyinari hari ku, setelah sekian tahun lamanya mentari ku, nafas ku seolah pergi bersamanya. Namun, kini.. ia datang.


Ia yang selama ini ku rindukan berada tepat di hadapan ku. Bahagia jelas ku rasa, hingga tiada kata kiasan yang bisa melukiskan betapa aku sangat bahagia. Namun ternyata di balik bahagia luka pun turun menyerta.


Ia tak mengingat ku, kami seolah orang asing. Sungguh itu adalah suatu hal yang amat menyakitkan. Bagaimana bisa dia sang pemilik hati justru tak mengingat ku sama sekali? aku yang selama ini selalu mencarinya, namun takdir justru mempertemukan kami saat aku mulai lelah. Seperti gerimis yang membasahi tanah yang mulai tandus, begitu juga harapan ku yang kembali, namun tak membuat ku lega.


Dia Anastasya Putri, wanita yang selalu ada di hati bahkan sejak aku masih anak-anak. Ia satu-satunya wanita yang ku ingin kan, namun ternyata ia tak mengenali ku. Apa sebenarnya aku tak begitu berarti dalam hidupnya? Lalu apa yang harus aku lakukan? apa aku harus berterus terang? Tidak!! itu rasanya sulit mengingat aku yang berhadapan langsung dengannya justru mendadak kelu. Lidah ku rasanya seperti membeku, aku ingin mengucapkan bahwa ku sangat merindukan nya, namun kata-kata itu hanya sampai pada kerongkongan ku saja. Aku benar-benar bungkam di hadapannya. Justru kata-kata ketus lah yang terlontar, padahal sungguh aku tak bermaksud seperti itu.


Pluk


Aku terperanjat kaget saat ku rasa sesuatu jatuh di atas pundak ku.


"Masih memikirkannya, Zayn?" Ucap sebuah suara yang selalu terdengar lembut di telinga ku.


"Bibi, mengejutkan ku," ujar ku sembari menghela nafas dan ku lihat wanita yang masih terlihat cantik di usianya yang tak lagi muda ini tersenyum manis. Senyuman yang mampu menenangkan ku.


Dia adalah bibi ku. Selama ini aku tinggal bersamanya. Ia yang telah memberikan ku pendidikan yang layak hingga aku bisa berada di posisi seperti sekarang.


Jangan tanya orang tua ku! Karana aku pun tak tahu dimana mereka. Yang ku tahu, ibuku menitipkan ku pada bibi Lusi kakak dari ibuku yang tinggal di desa daerah Pangandaran sana. Waktu itu usia ku sekitar 2 tahun, dan sejak saat itu aku tak lagi bertemu mereka. Mereka juga tak pernah mencari ku sampai sekarang usia ku 32 tahun. Entah mereka masih hidup atau justru tinggal nama aku tak peduli.


Bibi Lusi atau yang sering ku panggil Ibu sudah meninggal 1 tahun yang lalu, menyusul paman yang lebih dulu berpulang. Jadi sekarang aku menetap di rumah adik dari Bibi Lusi yaitu Bibi Lisa.


"Kamu sering sekali termenung di balkon seperti ini," ujarnya.


"Apa kamu tak lelah? usia mu sudah terlalu matang, Zayn. Bibi rasa kamu juga sudah mapan. Lalu sampai kapan kamu akan menunggunya yang kamu sendiri pun tak tahu dimana ia berada." lanjutnya lagi.


Sedari 2 tahun terakhir, bibi Lisa memang selalu membahas hal ini. Aku bahkan sampai hafal tiap kata yang akan ia katakan saking seringnya. Setelah berkata seperti itu ia akan menawarkan anak gadis dari teman-temannya atau menyuruh ku menemui mereka walau hanya satu kali.


"Kemarin bibi bertemu Tante Fira, tetangga kita yang pindah 7 tahun lalu itu loh. Ternyata ia sudah menikah lagi dan punya anak sambung seorang gadis cantik. Bibi sempat bertemu dengan dia anaknya sopan dan baik, Zayn. Kamu coba kenalan dulu ya sama dia?" Tambahnya lagi karena aku masih diam memandang Bibi. Apa ku bilang kan, pasti ujung-ujungnya bibi akan menjodohkan ku dengan anak gadis teman-teman nya.


Aku tersenyum kearahnya sebelum menjawab.


"Terimakasih bi, tapi Zayn..."


"Zayn, tak bisa. Hati Zayn sudah terisi satu nama, dan itu tidak akan berubah sampai kapan pun. Hanya padanya Zayn akan mengarungi Bahtera rumah tangga. Hanya padanya Zayn titipan cinta ini." Potong bibi Yesi bahkan ia sudah hafal dengan kalimat yang akan aku katakan membuatku hanya bisa terkekeh.


"Zayn, sudah ribuan kali bibi dengar alasan mu, tapi tak pernah sekali pun kau bawa dia ke sini. Apa kamu tidak lelah menunggu?" Kekuh bibi lagi padahal aku tak mengatakan sampai ribuan kali, mungkin baru seratus.


Aku menarik nafas dalam tak langsung menjawab pertanyaan nya. Keheningan tercipta sesaat karena kami termenung dengan fikiran masing-masing.


Bibi Lisa beranjak meninggalkan ku yang masih betah berdiri di sini. Bibi menyuruh ku istirahat sebelum berlalu meninggalkan ku.


"Dia datang, bi." ucap ku lirih sambil kembali memandang kegelapan malam.


.


.


.


Keesokan harinya aku bangun sedikit siang karena hari ini adalah hari Sabtu. Setelah mengerjakan kewajiban ku sebagai muslim subuh tadi, aku kembali terlelap karena semalam sama sekali tak bisa tidur.


Bayangan kebersamaan aku dan dia saat makan malam dan juga di parkiran cafe tadi malam menari-nari di kepala ku.


"Sarapan dulu, Zayn." ujar paman yang melihat ku hanya meneguk habis susu hangat di meja.


Hari ini aku ingin menemui "Sasya" ku untuk mengajaknya jalan-jalan pagi seperti yang ku bilang di cafe semalam. Walaupun ia bilang hari ini jadwalnya rebahan aku tak peduli.


Sudah ku putuskan aku ingin mendekatinya sebagai Zayn Pranata untuk mengorek apa ia mencintai "Atta". Apapun jawabannya nanti aku akan tetap membuatnya jatuh cinta pada ku.


"Zayn sudah terlambat, paman. Zayn pamit paman, bibi." aku berpamitan pada paman dan bibi dan mencium punggung tangan mereka sebelum pergi.


"Sarapan dulu, Zayn! ini masih pagi! weekend kayak gini kamu mau kemana?" Masih terdengar suara bibi yang memanggil ku untuk sarapan.


"Jemput jodoh!!!" aku menjawab sambil berteriak karena saat ini aku sudah berada di ruang tamu.


Namun sesaat kemudian.


"Ck! katanya mau jemput jodoh, kesiangan lah, tapi duduk juga." cibir paman Heri saat aku berbalik dan duduk di kursi sambil terburu-buru mengoles selembar roti dengan selai kacang.


Aku tersenyum kearahnya. Rencananya sih memang cuma minum susu doang tapi kok perut rasanya masih lapar, jadi terpaksa aku harus memutar arah kembali ke meja makan.


Setelah 4 lembar roti sudah di tangan gegas aku berpamitan lagi pada paman dan bibi yang geleng-geleng kepala melihat tingkah ku. Tipe perut biasa makan mie instan pake nasi ya gini, kalau cuma selembar roti sama susu ngga bakal kenyang.


Jalanan menuju rumah Sasya cukup lancar jadi aku hanya memerlukan waktu sekitar 30 menit untuk sampai di kostannya. Oh iya, Sasya adalah panggilan sayang ku untuk Tasya. Dulu ia punya seekor kucing oren yang ia kasih nama Sasya. Karena menurut ku Tasya itu lucu dan imut sama seperti kucingnya jadi aku selalu mengejeknya dengan nama kucing oren itu dan menjadi kebiasaan sampai sekarang.


Aku berdiri di depan pintu kamar paling pojok di lantai 3. Menurut penghuni kost yang ku temui di bawah ini adalah kamar gadis yang ku cari.


Aku hendak mengetuknya namun urung ku lakukan. Tiba-tiba aku merasa gugup, tangan ku mulai mendingin karena perasaan tak menentu ini. Apa sebaiknya ku urungkan saja?.


Aku benar-benar gugup, alasan apa yang akan aku pakai untuk mengajaknya jalan-jalan? apa harus menggunakan cara lembur lagi? mengingat itu aku jadi tersenyum geli, mana ada orang ngajak dinner dengan dalih lemburan?.


Tok..tok..tok..


Akhirnya, aku memberanikan diri untuk mengetuknya. Sudah jauh-jauh datang kemari kan tak mungkin aku pulang dengan tangan kosong. Paling tidak jika ia tidak mau aku sudah melihat nya hari ini.


satu kali ketukan tak ada jawaban dari dalam. Dua kali masih tak ada jawaban. Seperti nya dia memang benar-benar tidur sepanjang hari.


Ketukan ketiga hendak ku lakukan namun pintu ini akhirnya di buka. Aku tersenyum walau hanya dalam hati.


Aku terpaku melihat sosok di depan ku. Aku mengernyit bingung sekaligus cemas kala mendapati orang yang telah membukakan pintu bukan lah Sasya, tapi seorang laki-laki berperawakan tinggi dan berkulit putih.


Pikiran-pikiran negatif mulai menghantui, apa yang di lakukan seorang pria di kamar seorang wanita? apalagi keadaan nya yang acak-acakan. Laki-laki ini tak mengenakan baju memamerkan tubuh bagian atasnya yang atletis. Ia juga hanya mengenakan celana pendek, rambut hitam nya masih acak-acakan. Seperti nya ia baru saja bangun tidur.


Aku mengamati nya dari atas ke bawah dan ku lakukan itu berulang-ulang membuatnya sedikit risih, mungkin.


"Cari siapa ya? kenapa liatin gue kaya gitu?!" Tanyanya ketus. Mungkin ia tersinggung dengan tatapan ku.


"Oh maaf! gue ngga bermaksud nyinggung Lo. Ini bener kan kamarnya Tasya?"


"Ya," Singkatnya.


Disaat yang bersamaan orang yang sedang aku cari datang dari arah belakang dengan membawa ember kecil di tangan kirinya dan handuk yang ia lilitkan di kepala. Sepertinya ia baru saja mandi, tapi mandi keramas? pagi-pagi setelah satu kamar dengan seorang pria?


Sasya ku? Mandi keramas? dan seorang pria di kamarnya bertelanjang dada?


hah?


Sungguh? apa yang aku pikirkan benar?


.


.


.


Bersambung...