I Love You, My Secretary

I Love You, My Secretary
Bab 45



Matahari pagi mulai menunjukkan sinarnya, membuat suasana yang tadinya gelap perlahan menjadi terang dan semakin terang. Sebuah kamar tak luput dari pantulan cahaya mentari pagi, membuat seorang gadis yang sedang terlelap dengan nyaman itu mulai terusik.


Gadis itu mengerjapkan matanya beberapa kali, ia meletakan tangannya di depan wajahnya agar cahaya matahari tak membuat matanya marasa silau.


Pergerakan gadis itu ternyata di sadari oleh seorang pria yang sudah menunggunya dari subuh tadi.


"Selamat pagi, putri tidur!" Sapa pria itu hingga membuat gadis yang masih memejamkan matanya itu tersentak kaget dan langsung menoleh ke samping.


Terlihat seorang pria tengah berbaring di bantal yang sama dengannya, ia sudah bangun hanya saja masih menutup matanya yang terasa perih karena perjalanan jauh.


Melihat ada orang lain di ranjangnya, tentu Tasya terkejut dan reflek mendorong pria tersebut hingga keduanya terjatuh kesisi ranjang yang berbeda. Maklum saja ranjangnya kecil hanya muat untuk dua orang.


Brukkk


"Aduh!! Pinggang gue" Keluh laki-laki itu sambil mengusap pelan pingangnya yang terasa sakit. Mendengar keluhan tersebut membuat mata Tasya membola, perlahan ia beranjak dan memastikan kembali bahwa apa yang tadi ia lihat itu bukan mimpi.


"Elo? Kok!" Ujarnya bingung, bersamaan dengan itu pintu kamar di buka oleh Disty yang baru saja menyelesaikan sarapan pagi nya. Disty menatap bingung keduanya.


"Tasya, pak Dokter? Kalian ngapain?" Ujarnya menatap bingung ke duanya. Dimana laki-laki yang tak lain adalah Rizky itu tengah menatap tajam Tasya dari posisinya yang masih terduduk di lantai, karena sudah menendangnya hingga ia terjatuh. Sedangkan Tasya menatap Rizky dengan bingung dari atas ranjang, karena terkejut tiba-tiba laki-laki itu ada di kamarnya.


"Dis, kenapa bisa ada laki-laki tidur di kamar kita?" Ujar Tasya protes.


"Eh, bukannya dia sodara mu ya? Pak Zayn yang bilang!" Ujar Disty bingung.


"Heh!! Adek Lo datang jauh-jauh dari kota dan ninggalin kerjaanya demi buat Lo, tapi kaya gini sambutan Lo ke gue?" Ujar Rizky gemas, ia sudah berdiri dan menekan kedua tangan di pinggangnya, dan tak lupa tatapan tajam ia layangkan.


"Ngapain sih, pulang sono! Ganggu aja deh!" Keluh Tasya tanpa takut akan tatapan tajam dari Rizky yang semakin di buat terbelalak oleh nya. Padahal saat mendapatkan kabar bahwa Tasya terluka, ia langsung meluncur dari Jakarta ke hotel di mana dia berada menggunakan motor kesayangannya, tapi malah seperti ini sambutan yang Rizky dapatkan.


"Waduh, Sya. Jangan galak-galak gitu ngpa. Kasian pak dokter, dia udah jauh-jauh datang ke sini khusus buat Lo doang" Ujar Disty.


"Cuma dia sodara yang songong, Dis! Kesel banget gue, bukannya di tanya sampai jam berapa, udah sarapan belum, cape ngga? Ini malah di tendang. Minggir Lo gue mau tidur!" Keluh Rizky, sembari duduk dan menggeser tubuh Tasya hingga tanpa sengaja tangan Zayn menekan lengan nya yang terluka.


"Akhhhhhh.." Tasya meringis menahan nyeri di lengannya, membuat Rizky bungkam seketika. Ia yang baru saja sampai, melupakan tujuannya untuk menyusul kakaknya itu karena perdebatan tadi.


Tanpa banyak bertanya, Rizky menggulung lengan baju Tasya yang saat itu masih mengenakan kaos putih berlengan pendek hingga terlihat lah sebuah balutan perban di lengannya.


"Ini kenapa?" Tanya Rizky pada Disty. Ia masih kesal dengan Tasya, jadi Rizky tak ingin bertanya pada kakaknya itu.


Disty pun menjelaskan kronologi kejadian yang menimpa Tasya dengan sejelas-jelasnya. Rizky terlihat mengernyit kan dahinya beberapa kali saat Disty menceritakan tentang Peluru yang hampir bersarang di lengan kakaknya dan tunangan kakaknya yang ternyata pemilik hotel itu.


"Jadi... Lo udah ketemu sama calon kakak ipar?" Tanyanya yang tak mendapat kan jawaban dari Tasya. Gadis itu baru ingat tentang insiden semalam yang membuatnya berakhir tak sadarkan diri semalaman. Ia masih kesal jadi enggan menjawab.


Setelah di interogasi, Tasya memutuskan untuk turun ke restoran karena cacing di perut nya terus berteriak meminta di isi. Sedangkan Rizky, laki-laki itu melanjutkan tidurnya karena masih merasa lelah.


Setelah dari restoran Tasya menuju kamar Abi, ia ingin meminta maaf kepada atasannya itu, karena telah membuat kekacauan malam tadi. Pagi ini Tasya belum melihat sosok pacar maupun tunangannya, tapi ia tak ambil pusing. Mungkin mereka masih tidur syukur-syukur kalau Daniel sudah pergi dari sana.


Jujur melihat kemarahan Daniel semalam membuatnya ketakutan. Ia semakin yakin untuk menolak perjodohan mereka. Tapi yang jadi masalahnya sekarang, apa keluarga nya akan menerima begitu saja keputusan yang ia ambil? Sedangkan Tasya ingat betul sang nenek sangat membenci sosok Atta.


"Ah entahlah, gue pikirkan nanti aja" Gumanya bersamaan dengan pintu lift yang terbuka. Tasya melangkah kan kakinya menuju sebuah ruangan dengan nomor yang sudah di beri tahu oleh resepsionis di bawah tadi.


Dengan ragu ia mengetuk pintu tersebut beberapa kali, hingga akhirnya muncul seorang yang dia cari dari balik pintu. Abi mempersilahkan Tasya masuk dan di sini mereka berada.


Tasya duduk di sofa berhadapan dengan Abi. Walau bukan yang pertama kali mereka berduaan seperti ini, tapi tetap saja rasanya canggung sekali. Abi menanyakan kondisi Tasya karena merasa khawatir. Apalagi Abi sampai hari ini belum menemukan siapa dalang di balik insiden yang menimpa Tasya siang kemarin.


"Saya minta maaf, tuan. Karena saya acara tadi malam menjadi kacau. Saya benar-benar menyesal" Ujarnya sambil tertunduk.


Abi menatap Tasya dengan lekat, baru saja ia ingin memanggil Tasya untuk membahas masalah ini, ternyata yang bersangkutan sudah lebih dulu sadar diri. Baguslah! Pikir Abi.


"Jujur saya sangat terkejut sekaligus kecewa. Di awal pertemuan sudah saya tekankan, untuk dapat bekerja di perusahaan saya harus serius dan kompeten. Jangan hanya percintaan saja yang kamu urusi, dan benar kan yang ada di kepala mu hanya ada cinta, cinta, dan cinta!" Ujar Abi datar, tapi sesungguhnya ia kecewa. Entah kecewa karena apa, padahal bukan urusannya kan. Mau karyawannya itu jatuh cinta atau menikah sekali pun. Tapi, kali ini Abi merasa sedikit kecewa. Sedikit loh ya, ngga banyak-banyak.


"Maaf, tuan" Hanya itu yang bisa Tasya ucapakan. Dia ingat betul apa yang di ucapkan Abi saat itu.


Setelah mendapatkan teguran yang cukup panjang, Tasya akhirnya keluar dari kamar Tuan Abi dengan wajah nya yang di tekuk. Sebelumnya Tasya meminta izin satu hari tidak masuk kerja untuk menyelesaikan urusan pribadinya yang sudah menjadi konsumsi publik itu. Abi menyetujui hal tersebut supaya tidak ada lagi masalah kedepannya, apalagi kalau maslah serupa terjadi di ruang lingkup perusahaan.


Tasya tiba di lantai tempat kamarnya berada, ia menyusuri lorong lantai itu dengan kepala yang menunduk. Tanpa ia sadari seseorang berdiri di depannya seolah tengah menghadang jalan Tasya. Karena gadis itu tengah melamun ia tak memperhatikan jalannya.


Benturan kecil antara keningnya dengan dagu seseorang pun menyadarkan Tasya dari lamunannya. Ia mendongakkan kepalanya menatap seorang pria yang wajahnya masih terlihat lebam di beberapa bagian tengah tersenyum manis ke arahnya.


Karena jarak yang hanya beberapa centimeter saja, laki-laki itu tidak menyia-nyiakan kesempatan. Ia merengkuh pinggang Tasya dan membawanya lebih dekat, hingga tak ada jarak dari keduanya. Tasya yang mendapat kan gerakan tiba-tiba dari Zayn pun terkejut.


"Zayn..."


"Kenapa kamu menunduk, Hem?" Tanya Zayn. Jarak yang begitu dekat membuat hembusan nafas Zayn menerpa wajahnya, membuat Tasya semakin terpaku.


"Ah.. Em.. Itu.. Z..Zayn lepasin, ini di tempat umum" Ucap Tasya gugup, wajahnya sudah sangat memerah membuat Zayn gemas. Ini pertama kalinya dia seintim ini dengan lawan jenis. Berada di sekitar Zayn saja membuat jantungnya berdegup tak menentu, apalagi dengan jarak yang sedekat ini. Jantung Tasya seperti hendak meloncat dari tempatnya.


"Jadi kalau di tempat lain, boleh?" Ujar Zayn semakin bersemangat menggoda Tasya. Mendengar pertanyaan itu, Tasya di buat gelagepan seketika.


"Ah itu.. Bu..bukan begitu, tapi.. Tapi Zayn.. Aku ngga nyaman kaya gini, beneran deh" Elaknya sambil menggeliat kan badannya, berharap ia bisa lepas dari pelukan Zayn.


"Sebentar... Biarkan aku merasakan nya sebentar saja" Tasya tertegun mendengar permintaan Zayn yang terdengar sendu itu. Ia memandang lekat wajah Zayn yang tidak lagi tampan itu. Tanpa di duga tangannya terulur untuk mengusap lebam-lebam di wajah kekasihnya itu. Hal itu membuat perasaan Zayn menghangat. Sudut bibirnya terangkat, dan tanpa diduga Zayn mengecup singkat dahi Tasya, membuat gadis itu terkejut.


Dari mata perlahan tapi pasti, Zayn melabuhkan kec*pannya pada kedua mata Tasya, pipi, dan terakhir hidung gadis itu. Sentuhan Zayn membuat Tasya mematung dengan pipi yang sudah memerah, hingga ia tak menyadari Zayn mendekatkan b*b*rnya pada b*b*r kemerahan Tasya yang selalu terlihat menggoda di mata Zayn.


Semakin dekat, Zayn bisa merasakan nafa Tasya yang tertahan. Lebih dekat, Zayn mulai memejamkan matanya begitu juga dengan Tasya. Sedikit lagi dan akhirnya...


Grep....


"Woi!!! Ngapain kalian? Belum muhrim, dosa!!" Sebuah tangan menarik kerah baju kaos bagian belakang yang di pakai Zayn. Hal itu membuat Zayn berdecak kesal. Lain halnya Tasya yang sudah bisa menghirup udara dengan bebas.


"Ah elah, Lo ganggu aja sih!! tidur lagi Sono!" Ujar Zayn membuat Rizky yang menarik kerah baju Zayn itu melotot tidak terima.


"Heh!! Lo jangan macem-macem, mau gue gibeng Lo hah?!!" Zayn reflek menutup telinganya mendengar teriakan Rizky yang tepat berada di sampingnya.


"Berisik!! apa nyicil dulu ngga boleh?" Tanyanya polos.


"Ngga!!" Bukan Rizky yang menjawab melainkan Tasya.


😏 *Sok-sokan nolak, Sya. Padahal tadi kamu nikmatin tuh..


😡 Itu khilaf*!!!


"Kita pulang sekarang, Sya!" Ujar Rizky menarik tangan Tasya.


"Loh.. Kok pulang!! Woy.. Ky! Ah elah malah dia yang ngambek!" Ujar Zayn sambil berlari mengejar dua saudara yang sudah menjauh.


.


.


.


.


.


.


Bersambung...


...----------------...


Bisa dong nya lemparin Nucha, jempol, bunga, sama kopinya.. Ngga papa Nucha ikhlas, beneran deh..😁😁😁


Happy reading ❤️❤️❤️