I Love You, My Secretary

I Love You, My Secretary
Bab 95



Dentuman music yang memekakan telinga terdengar begitu riuh. Banyak orang yang berjoget mengerakkan badan mereka mengikuti alunan music yang di putar oleh sang DJ. Laki-laki dan perempuan mereka semua terbuai dengan gemerlapnya dunia malam. Yah, kira-kira seperti itulah gambaran tempat dimana Daniel tengah menghabiskan waktu malamnya. Di temani oleh beberapa wanita berpakaian kurang bahan itu, Daniel duduk di sudut ruangan.


Hari ini ia merasa bahagia karena baru saja memenangkan tender yang di incarnya sekian lama. Untuk merayakan hal tersebut Daniel memilih menghabiskan uangnya untuk meminum minuman berkadar alkohol sedang dan di temani tiga orang wanita penghibur.


"Nyalakan apinya," Pinta Daniel dan dengan sigap salah satu wanita yang duduk di sampingnya menyalakan korek api sesuai permintaan Daniel. Sambil menghirup asap dari benda bernikotin itu, sesekali Daiel menautkan bibirnya pada ketiga wanita itu bergantian.


Di pintu masuk, seorang wanita terlihat mengedarkan pandangannya mencari seseorang yang ingin di temuinya. Yap, wanita itu adalah Celin, dia datang ke sana bukan untuk mabuk tapi mencari keberadaan Daniel.


"Kemana lagi, tuh cowok!" keluhnya. Cellin kemudian melangkahkan kakinya menyusuri tempat itu hingga akhirnya ia menemukan apa yang sedang di carinya.


"Ya ampun, tuh anak katanya mau tobat tapi tangannya ngga mau diem gitu!" Gerutunya kesal saat melihat aksi temannya yang tengah bersenang-senang dengan tiga orang wanita. Lebih kesal lagi saat mereka asik berciuman dan tangan mereka pun asik menjelajah kemana-mana.


Muak dan kesal melihat pemandangan di depannya padahal Cellin pun tak jauh berbeda dengan Daniel. Memang kadang ia tak sadar diri!.


Cellin mendekat dan suara ******* terdengar samar-samar tergulung oleh suara music.


"Daniel!!" Teriaknya dan orang yang di panggil hanya melirik sekilas tanpa menghentikan aksinya yang semakin memanas.


"Daniel!, gue mau ngomong!" Cellin harus berteriak agar suaranya bisa terdengar oleh orang yang dia panggil.


"Ngomong aja!" Sahut Daniel acuh.


"Faster, baby!" suara seorang wanita yang sedang berada di bawah kungkungan Daniel terdengar meracau tak karuan membuat Cellin semakin muak berada di antara mereka.


"Dasar Daniel gila! Apa dia tak punya uang untuk menyewa hotel? Praktek adegan 21+ kok di tempat umum seperti ini?" Gerutu Cellin dengan suara pelan.


"Gue tunggu lo di mobil!" Singkatnya dan Daniel cukup mengacungkan jempolnya sebagai jawaban. Lagi pula bagi Daniel keberadaan Cellin di sana memang menganggu.


****


Di tempat lain, seorang gadis sedang termenung di atas ranjang tempat tidurnya. Pandangannya terlihat kosong. Ia begitu merasa sendirian sekarang, ketakutannya benar-benar menjadi nyata. Ya, gadis itu adalah Disty.


Sudah hampir satu minggu sejak kepergian sang ibu Disty seakan kehilangan arah dan tujuan hidupnya. Hari-hari ia lalui hanya dengan melamun dan melamun. Tak ada saudara, tak ada sahabat yang menemani dan menyemangati di saat terpuruknya saat ini. Bahkan Nakula yang sempat berjanji akan menemaninya apapun yang terjadi nyatanya pergi meninggalkan dia. Begitu pula dengan Tasya yang juga berjanji akan selalu ada untuknya. Kenyatannya tak ada dari mereka yang benar-benar berdiri di sampingnya.


Bicara tentang Nakula tanpa di sadari Disty, kepergian laki-laki itu menyisakan satu ruang hampa di sudut hatinya. Entah di sebut apa, tapi kehilangan sosok Nakula yang selama ini menemaninya begitu menyakitkan. Bahkan rasa sakit itu lebih sakit saat melihat Tasya dan Zayn memamerkan kemesran mereka di depannya.


"Gue tau mungkin ini terlambat.. Tapi, gue mohon kembalilah.. Nakul.. karena.. Aku mencintaimu," Disty tergugu dalam kesendiriannya.


Ya, dia baru saja mengakui perasaannya, bukan hal sulit untuknya mencintai sosok Nakula. Pria lembut, perhatian, tanggung jawab, dan sabar tentu Disty pun tak kuasa menolak rasa yang entah sejak kapan mulai mengakar di hatinya untuk sosok Nakula, yang pasti dia yakin jika itu adalah cinta.


Brak..


Brak..


Brak...


Sedang asik dalam lamunan tiba-tiba jendela kamarnya di ketuk oleh seseorang. Tidak! Itu bukanlah ketukan tapi sebuah gedoran, Disty bahkan sampai terperanjat saking terkejutnya. Jantungnya berdetak begitu cepat seiring rasa takut mulai menguasai perasaannya.


"Masa perampok seberisik itu, apa perampok zaman sekarang minta izin dulu sebelum memulai aksinya?" Disty mencoba berfikir positif namun justru fikiran anehlah yang keluar dari mulutnya. Mungkin karena begitu sering bersama Tasya jadi otaknya pun ikut terkontaminasi.


Perlahan Disty mendekat dan tangan kanannya memegang vas bunga yang ada di meja tepat di samping jendela. Sedangkan tangan kirinya memegang Handsanitaizer, bentuk perlindungan dirinya siapa tahu itu benar orang jahat.


Glek..


Disty menelan salivanya dengan susah payah karena rasanya tenggorokan Disty terasa tercekat. Ia menghembuskan nafasnya perlahan untuk mengusir kegugupannya.


Cklek...


"Arrrgggggghhhh," Pekik Disty bersiap memukulakan vas bunga di tangannya pada sosok laki-laki yang berdiri di sana, tapi usahanya sia-sia karena pergelangan tangannya di tahan dan di cengkram dengan kuat oleh laki-laki itu.


Suasana malam yang gelap dan sepi belum lagi laki-laki itu memakai pakaian serba hitam membuat Disty tak bisa melihat siapa laki-laki itu. Apalagi mulutnya kini di bekap dan dengan cepat orang tersebut menarik tubuh Disty keluar dari kamarnya melalui jendela. Jendela di kamar Disty mempunyai desain yang sama dengan di ruang tamu, yaitu persegi panjang. Dan hanya berjarak sekitar 50 centi meter dari lantai, maka tak sulit saat dia keluar lewat jendela itu.


Disty ingin melawan tapi karena ia belum makan sejak kemarin tubuhnya begitu lemah. Jadi yang bisa di lakukan Disty hanya meronta meski lemah. Dan di saat seperti ini ia menyesali keputusannya yang malah menyiksa dirinya sendiri.


"Emptt.. Emptt," gumamnya.


"Diam! lebih baik kau diam dan ikut saja!" ujar orang itu. Dari suaranya Disty tak mengenali siapa yang membawanya ini.


"Siapa sebenarnya dia? Dan mau di bawa kemana aku? Apa dia hanya sendiri?" pikir Disty ketakutan, karena dalam keadaan seperti itu tak ada kemungkinan baik yang ada hanya ada berbagai kemungkinan terburuk. Meski ia akui sempat terlintas untuk menyusul ibunya, tapi begitu berhadapan dengan sesuatu yang menakutkan seperti ini ada perasaan takut juga ternyata.


Kini Disty berada dalam sebuah mobil bersama pria yang tak di kenalnya, namun ada yang aneh. Jika biasanya adegan culik menculik seperti yang tengah di alaminya saat ini, si penculik akan mengenakan topeng dan berteriak berkata kasar pada target namun yang terjadi pada Disty sedikit berbeda, si penculik justru terlihat acuh padanya dan lagi ia tak memakai topeng.


Dari tempatnya duduk, Disty bisa melihat dengan jelas wajah pria yang membawanya secara paksa tadi karena pria itu duduk di sampingnya di kursi belakang. Sedangkan di depan ada seorang pria lainnya yang fokus menyetir. Tak ada umpatan kasar apalagi bentakan karena di dalam mobil tersebut suasananya justru senyap.


Jadi, apa ini masih bisa di sebut penculikan?


.


.


.


.


.


Bersambung


...----------------...


πŸ˜ͺ Maaf atas keterlambatan update nya man teman. Melawan mood yang sedang tak baik ternyata sulitπŸ™


Btw ada yang merindukan Tasya ngga nih? Mana suaranya?..πŸ˜‚πŸ˜‚